
Setelah 3 hari berjalan , dan berhenti hanya sebentar saja untuk mengistirahatkan semua binatang di beberapa sungai dangkal. Mereka akhirnya sudah melihat pesisir pantai yang di ucapkan Brewok Hitam.
Perjalanan yang membutuhkan waktu 7 hari penuh pada akhirnya dipotong menjadi 3 hari. Itu seperti perjalanan pendekar yang baru memiliki dasar ilmu meringankan tubuh.
Derik roda gerobak sudah mulai meninggalkan jalan tanah, dan memasuki permukaan berpasir. Dari sini, mungkin hanya beberapa ratus meter lagi mereka akan tiba di pinggir pantai dengan jalan sedikit dipenuhi dengan karang yang berpasir.
“Jaka Geni, sebentar lagi kita akan tiba di pesisir pantai. Biarlah aku yang memimpin jalan sebab ada jalan yang tidak terlalu berpasir!” Brewok Hitam mendekati Sungsang Geni.
“Kalau begitu paman Brewok berjalanlah lebih dahulu!” Sungsang Geni menyilahkan pria itu memimpin jalan di depan Panglima Ireng.
Perjalanan ini hampir membuat seluruh isi perut Sungsang Geni keluar, padahal dia tidak masalah ketika menaiki kapal, tapi entah kenapa menaiki gerobak dia malah muntah beberapa kali.
“Gerobak buruk srigala gila...Gerobak buruk srigala gila...” Sungsang Geni menyanyikan syair setiap kali dia memiliki kesempatan, dan diikuti oleh alunan petikan kecapi Bentara.
“Syair yang begitu menyayat hati,” gumam para pengungsi.
Setelah beberapa menit, mereka akhirnya berhenti di bawah-bawah pohon kelapa. Sungsang Geni keluar dari gerobak dengan tertatih-tatih, dia berjalan merangkak dan bersender di salah satu pohon palem.
Suasana sejuk dengan semilir angin laut adalah pemandangan pertama baginya. Untuk orang yang terbiasa hidup diatas bukit dan gunung, pemuda itu sangat terpukau dengan ombak-ombak putih yang bekejar-kejaran.
“Sebaiknya kita istirahat cukup lama disini!” ucap Sungsang Geni. “Semua orang butuh istirahat, termasuk juga para binatang itu.”
Brewok Hitam mengangguk tanda setuju, tapi sebelum dia membalikkan badan, Sungsang Geni meminta dirinya beserta yang lain untuk menjatuhkan setiap kelapa muda.
“Kita sudah lama berjalan, sebaiknya sedikit bersantai.”
Panglima Ireng mendekati pemuda itu, kemudian tidur sedemikian rupa agar kepala Sungsang Geni bisa bersandar di tubunya. Sangat nyaman, Sungsang Geni mengelus kepala binatang itu beberapa kali berniat memejamkan mata, tapi kedatangan Pramudhita mengejutkan dirinya.
“Paman kenapa kau datang disaat yang tidak tepat?” ucap Pemuda itu kesal. “Lagipula aku tidak pernah memanggil dirimu.”
Pramduhita tertawa cekikikan, “Kau sudah lupa, perjanjian kita bukalah tuan dan budak, tapi sebagai teman. Karena itu aku bebas keluar masuk ke alam manusia.”
__ADS_1
Sungsang Geni tidak berniat berdebat lebih jauh. Kepalanya masih terasa pusing, membuat pemuda itu memejamkan matanya, sementara Pramudhita tidak kalah terkagum-kagum melihat hamparan laut luas.
“Apa itu adalah danau? Luas sekali dan kenapa suaranya menderu?” gumam Pramudhita.
“Itu dinamakan laut.” Jawab Sungsang Geni sambil memejamkan mata, “ Dan yang menderu itu dinamakan ombak. Pemandangan seperti ini tidak akan ditemukan di atas gunung semeru”
“Kau cerdas sekali padahal juga hidup diatas pegunungan.”
“Aku baru saja mengetahuinya dari paman Brewok.” Sungsang Geni tersenyum kecil setelah melihat wajah kesal Pramudhita.
Setelah berbincang cukup lama, Pramudhita terbang melayang memandangi lautan dari jarak dekat. Dia laksana burung camar yang terbang mencari ikan-ikan kecil untuk dimakan.
Setelah hampir 30 menit dia seperti itu, pria kekar tersebut kemudian terbang mendekati Sungsang Geni dengan sangat cepat sementara ada riak air yang mengiringi pemuda itu di belakang sana.
“Geni ternyata ada bangsa lelembut di dalam lautan!” ucap Pramudhita setelah mendaratkan kaki tepat di hadapan Sungsang Geni. “Dan dia terlihat sangat marah.”
“Apa?” Sungsang Geni segera terjaga, dia menatap lautan yang bergelombang besar dengan bayangan hitam berada di dalam perairan. “Cepat menjauh dari pantai, sekarang!”
Sungsang Geni melayang, lalu mendarat di ujung ombak membuat celana yang dia kenakan basah. Pramudhita juga mengikutinya sementara Panglima Ireng mulai terlihat sangat gusar.
“Geni, bukannya aku tidak bertanggung jawab tapi waktuku sudah habis, jadi kuserahkan mahluk itu kepadamu!" Setelah Mengatakan hal itu, perlahan tubuh Pramudhita hilang seperti lenyapnya asap diterpa angin.
“Tunggu....” Sungsang Geni menggelengkan kepala ketika Pramudhita kembali menjadi wujud halusnya. “Sekarang kau datang membawa masalah paman.”
“Hahaha...aku yakin kau bisa menghadapi mahluk itu.”
Ucapan Pramudhita ketika kembali dalam bentuk mahluk halusnya tidak dapat didengar oleh telinga Sungsang Geni. Tapi sebaliknya suara Pramudhita terdengar di kepalanya, seperti sesuatu yang berbisik.
Beberapa menit kemudian, riak air tadi menjadi sebuah gelombang cukup besar kemudian sesuatu seperti suara benda bernapas terdengar. Perlahan sosok mahluk itu menampakkan dirinya.
Tingginya mungkin lebih dari pohon kelapa, dengan tubuh sebesar roda kereta. Bermata hijau dengan gigi-gigi taring tajam dan tanduk seperti rusa. Berwarna hitam gelap, dengan sisik yang sebesar telapak tangan manusia dewasa.
__ADS_1
“Ini... adalah si...siluman naga...” Brewok Hitam berkata terbata-bata.
Beberapa binatang berniat berlari jika bukan tali rotan yang melilit leher mereka terikat dengan batang kelapa.
“Apa kau berniat memata-matai kami?” Suara naga itu bergema, membuat gelombang laut semakin besar dan mulai menjilat akar-akar pohon kelapa.
“Tidak, kami hanya istirahat di pinggir pantai...”
“Tapi kenapa orang yang berada di dekatmu, terbang melintasi Istana kami?”
Yang dimaksud dengan naga itu adalah Pramudhita. Bukan mustahil mahluk itu bisa melihat Pramudhita, karena mereka berdua sama-sama bangsa lelembut.
“Aku memang sengaja lewat di atas Istanamu, karena ku pikir hal itu bukan masalah.” Pramudhita menjawab perkataan Naga itu. “Tapi jika itu adalah salah, maka aku minta ma'af.”
“Aku tidak mempercayai, lelembut yang berteman dengan manusia!” ucap naga itu, mencoba mendekati Sungsang Geni dan menunjukkan gigi-gigi tajam miliknya.
“Jadi apa yang kau inginkan?” Sungsang Geni kali ini memasang wajah serius.
“Raja yang menguasai pantai ini menginginkan nyawa semua manusia yang kau bawa sebagai tebusannya. Kalian harus menjadi budak di alam kami.”
“Kembalilah ke alam lelembut, dan kita bertarung sampai mati.” Pramudhita berkata geram.
Dengan wujud naga seperti ini, Sungsang Geni mengetahui bahwa umur siluman itu mungkin lebih tua dari siluman yang pernah dia temui. Mungkin sudah ribuan tahun, sedangkan umur Pramudhita baru 50 tahun. Itulah kenapa dia bisa mewujud menjadi seekor naga, bentuk terkuat dari para siluman ular.
“Geni apakah aku harus pergi menuju kerajaannya, dan memenggal kepala rajanya?” Ucap Pramudhita, alasan Pramudhita tidak bisa menghadapinya karena dengan mewujud menjadi naga, maka mahluk itu berada di alam manusia.
“Jika saja sekarang malam hari, aku akan menghadapi mahluk ini.” Sambung Pramudhita kesal.
“Aku mengerti paman, aku yakin kau bisa mengalahkan naga ini jika kalian sama-sama di alam lelembut. Tapi sekarang masalahnya, dia tidak akan kembali ke alam lelembut, sebelum membunuh semua orang. Karena itu...”
Sungsang Geni mengeluarkan sebilah pedang sedangkan tubuhnya mulai terangkat beberapa meter hingga sejajar dengan moncong mahluk itu. “Aku akan memberimu sedikit pelajaran, ular bertanduk yang sombong.”
__ADS_1
Dah gini dulu, yg ada point gih ngevote sana. Jiahahaha.