
Sebuah tebasan pedang sangat kuat berhasil menumbangkan pohon besar yang menjadi sarang Siluman. pohon besar yang bukan hanya menjadi rumah, tapi juga menjadi kebanggaan kaum siluman kera tumbang menimpa pohon-pohon di sekelilingnya.
Suara gemuruh pohon dan retakan ranting patah bersatu dengan suara pertarungan Sungsang Geni dan Siluman Kera itu.
Sebelumnya Sungsang Geni melepaskan Teknik pedang bayangan, jurus bayangan menyapu bulan, tapi serangan itu tidak mengenai sasaran. Siluman kera sangat mudah menghindari serangan itu.
Meski memang sangat kuat, tapi jurus bayangan menyapu bulan terkesan cukup lambat jika dibandingkan teknik pedang awan berarak. Serangan ini efektif jika digunakan untuk menghancurkan benda dan bukan manusia atau siluman.
Tapi tentu bukan itu tujuan Sungsang Geni, dia sengaja menumbangkan batang pohon agar Siluman Kera itu tidak bisa bergerak leluasa dan memanfaatkan dahan-dahan untuk menyerang dan bergerak.
Ketika pohon besar itu tumbang, rupanya terlihat lebih banyak lagi tulang yang menumpuk di dalamya. Namun kali ini hanya tulang tengkorak, yang dipajang dan menjadi hiasan setiap ruangan mereka.
Beberapa tempat tidur juga terbuat dari susunan tengkorak manusia dan binatang, dengan gumpalan rambut sebagai alas pembaringan. Baunya tentu saja cukup menyengat, bahkan Panglima Item harus menjauh beberapa puluh meter dari tempat itu.
Selang beberapa menit, dua kera yang dihadapi Pramudhita terbunuh seketika ketika mencoba melarikan diri dari serangan pria itu. Tubuh salah satu mahluk itu terpotong menjadi dua bagian, sementara yang satunya lagi terpenggal.
Di sisi lain, Cempaka Ayu sudah menyelesaikan pertarungannya. Gadis itu menarik kembali semua cakram yang berterbangan, dan menyimpannya pada jepit rambut yang menghias indah di kepala.
"Rupanya jepit itu adala senjata?" Sungsang Geni tidak percaya.
Melihat rumah kebanggaannya roboh, tatapan bengis sang siluman tertuju kepada Sungsang Geni. Gigi taringnya mulai menyembul dari balik bibir, sedangkan bola mata menyala merah darah seperti hendak mengoyak keberanian.
“Kalian semua harus mati.” Ucapnya.
“Ya...Aku setuju, tapi...” Sungsang Geni menatap Siluman itu, “tidak hari ini, dan tidak ditanganmu.”
Pertarungan sengit kembali terjadi, beberapa kali senjata siluman itu mengarah ke leher Sungsang Geni dan beberapa kali pula hendak menikam jantunnya. Namun tidak ada satupun dari serangan bertubi-tubi itu yang sempat mengenai tubuh pemuda itu.
__ADS_1
“Bisikan dewa angin, api penyucian.” Sungsang Geni menciptakan satu luka di wajah mahluk itu ketika ada celah terlihat, kemudian dia memberinya satu lagi jurus cukup kuat. “Angin badai, kobaran api.”
Dua jurus yang dia gunakan akhirnya berhasil melumpuhkan pergerakan siluman kera. Mahluk tersebut tersungkur di atas potongan pohon rumahnya, dia mencengkram perutnya berusaha menahan buraian jeroan yang mencoba keluar.
“Akh...!” mahluk itu meringis, darah segar membasai mulutnya, membuat bulu-bulu coklat yang memenuhi seluruh tubuhnya berubah menjadi warna merah. "Aku adalah raja Kera, Rakadinara. Kalah ditangan manusia?"
Sekekali pandangan mahluk itu mulai buram, dia tahu tidak akan sanggup lagi bertahan hidup tapi jiwanya masih menolak untuk mati. Pada detik-detik akhir riwayatnya, mahluk itu mencengkram jantungnya yang berwarna ungu.
“Apa yang akan kau lakukan ?” tanya Sungsang Geni.
“Aku tidak ingin mati disini, aku belum siap untuk bertemu dengan akhirat.” Mahluk itu lantas menyerahkan jantungnya yang masih tersambung dengan urat-urat kepada Sungsang Geni. “Di dalam jantungku ada mustika siluman kera dan kekuatan, jika dia memakannya maka kematianku tidak akan sia-sia.” Mahluk itu menatap Panglima Ireng yang berdiri jauh dibalik pohon besar.
“Kenapa aku harus mempercayaimu? Kau adalah siluman, dirimu penuh tipu daya.”
“Uhuhk...uhukk...” mahluk itu kembali memuntahkan darah segar. “Kau cerdas manusia, tapi sayang semuanya sudah terlambat.”
Seketika cahaya keunguan terang bersinar dari mustika atau mungkin jantung. Sungsang Geni lantas menyilangkan tangannya pada ledakan besar yang tiba-tiba.
Pada saat sebelum ledakan, Cempaka Ayu berniat menyusul Sungsang Geni tapi Pramudhita menarik tubuhnya dan membawanya berlari untuk berlindung di balik batang-batang pohon.
Melihat keadaan di sekelilingnya telah rata dengan tanah, Cempaka Ayu segera berlari untuk mencari keberadaan Sungsang Geni.
“Geni! Geni!” Cempaka Ayu berteriak keras.
Sungsang Geni belum terdengar menyaut panggilan gadis itu. Namun tiba-tiba Panglima Ireng melolong keras, dia menemukan pemuda itu lebih cepat dari semua orang disana.
“Geni?” Pramudhita mengangkat tubuh Sungsang Geni yang sudah kehilangan bajunya, beberapa luka terlihat menggores bagian dada. “Geni sadarlah, apa kau baik-baik saja?”
__ADS_1
“Yah...aku baik-baik saja.” Sungsang Geni berkata berat, dia batuk kecil sekekali sambil meraba tubuhnya. “Aku tidak menyangka ledakan mustika itu sekuat ini, sial. Tubuhku terasa ngilu.”
Belum sempat Sungsang Geni berangkat dari tanah, Cempaka Ayu menubruk tubuhnya dengan khawatir. “Sukurlah kau baik-baik saja, Geni...”
Pemuda itu tersenyum kecil, sementara dia meletakkan telapak tangannya di pundak Cempaka Ayu. “Satu masalah sudah selesai, sebaiknya kita beristirahat dulu disini. Seluruh tubuhku terasa sakit untuk melanjutkan perjalanan.”
***
Ke esokan harinya, mereka ber empat akan melanjutkan kembali perjalanan meninggalkan lokasi markas siluman kera. Setelah matahari menyapu lokasi disana, rupanya tidak ada lagi yang tersisa, kecuali beberapa serpihan kayu dan tulang belulang.
“Geni, aku tidak bisa menemani perjalanan kalian untuk sekarang!” ucap Pramudhita. “Aku harus kembali ke alam Lelembut, berada di alam manusia dengan waktu cukup lama akan melemahkan diriku.”
“Aku mengerti, lagipula sekarang tidak ada lagi musuh yang perlu kau khawatirkan lagi.”
“Pergilah ke arah barat, setelah dua hari kau akan melihat jalan setapak. Dari sana, kau mungkin hanya membutuhkan waktu 3 hari atau lebih untuk tiba di wilayah kerajaan Swarnadwipa,” ucap Pramudhita.
“Ternyata kau tahu banyak mengenai jalan?”
“Tidak-tidak, aku hanya di beri tahu oleh Resi Irpanusa sebelum menemui dirimu,” kilah Pramudhita.
Setelah mengatakan hal demikian, Pramudhita hilang dari pandangan. Cempaka Ayu mengedipkan matanya beberapa kali, hanya untuk meyakinkan diri bahwa pengelihatannya tidak salah.
Sungsang Geni tersnyum kecil, kemudian melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu lebih dahulu, diiringi dengan Panglima Ireng baru kemudian diiringi oleh Cempaka Ayu. Semenjak lenyapnya siluman kera, tidak terasa lagi energi siluman di lokasi hutan rimba.
Sekarang mereka dapat melihat puncak gunung Kerakatau berada tepat di sisi kanan mereka, cukup dekat. Namun rute perjalanan tidak melintasi puncak gunung, hanya menyisir sisi lembah.
Di sepanjang perjalanan hanya buah-buahan yang mereka makan, sebab tidak ada lagi hewan buruan yang berhasil ditangkap ole Panglima Ireng. Nampaknya memang tidak ada lagi hewan yang hidup semenjak siluman kera itu menguasai tempat ini.
__ADS_1
Kecuali menemukan beberapa burung kecil dan sekawanan tupai yang melompat-lompat kegirangan tanpa rasa takut lagi. Hal ini membuat Panglima Ireng benar-benar kesal.
“Bertahanlah sebentar Ireng...kau akan menemukan makanan setelah kita melewati pegunugan ini.” Sungsang Geni tertawa kecil sembari memberi sekeping roti kering yang tersisa di dalam buntelan bekalnya.