PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Keputusan Sungsang Geni


__ADS_3

“Mari masuk ke dalam!” Lakuning Banyu mengajak semua Sesepuh untuk kembali melanjutkan diskusi mereka.


Tidak ada kursi yang bisa diduduki Sungsang Geni di dalam ruangan itu, semua kursi sudah pas dengan jumlah sesepuh dan petinggi Kerajaan.


“Geni, silahkan duduk di kursiku!” Mahesa meminta pemuda itu untuk duduk, tapi Sungsang Geni menolaknya. Dia hanya berdiri sementara semua pasang mata memandangi dirinya tanpa berkedip, seolah tidak percaya dengan keberhasilan pemuda itu.


Cempaka Ayu tidak berniat masuk ke dalam ruangan itu, dia tidak suka berdebat dengan orang-orang keras kepala. Jadi gadis itu sudah pergi lebih dahulu bersama Panglima Ireng menuju tenda perguruan Lembah Ular.


“Aku akan membagi dua kelompok para pendekar beserta prajurit kerajaan.” Lakuning Banyu mulai menandai dua lingkaran pada kertas lebar di depan meja bundarnya. “Sekitar 200 pendekar harus mengawal perjalanan rakyat ke dataran Swarnadwipa, mencukupi dan melindungi hampir 5000 rakyat kita. Tenang saja, setelah kita berada di perbatasan, mereka akan memenuhi semua kebutuhan rakyat.”


Lakuning banyu tidak mengerti kenapa Swarnadwipa mau melakukan hal itu, tapi dia yakin ini ada kaitannya dengan Sungsang Geni.


Lakuning Banyu menunggu beberapa saat, jika saja ada orang yang membantah ucapannya, tapi rupanya semua terlihat setuju saja kemudian dia melanjutkan.


“Kelompok kedua akan tetap berada di sini, membangun benteng pertahanan dan menyiapkan pasukan sebaik mungkin, menyiapkan ranjau juga strategi bertahan.”


Sekali lagi Lakuning Banyu terdiam untuk beberapa saat, menunggu jika saja ada orang yang tidak menyetujui keputusannya. “Apa kalian semua setuju?”


“Sepertinya kita tidak memiliki pilihan lain kecuali apa yang anda usulkan,” Darma Guru berujar, terlihat paling setuju di antara yang lainnya.


Tapi ada pula beberapa orang yang meragukan rencana itu. Sungsang Geni dan Mahesa.


“Aku akan menambahkan satu kelompok lagi!” Sungsang Geni menambah usulan.


Lakuning Banyu menaikkan alisnya, tapi rupanya semua orang juga melakukan hal yang sama.


“Katakan apa maksudmu, anak muda?” Ki Lodoro Sukmo bertanya namun nadanya sedikit mengejek. “Apa kau memiliki rencana yang lebih baik dari Yang Mulia Raja?”


“Tidak, rencanaku tidak sebaik Raja Lakuning Banyu, malahan terdengar sedikit gila.” Sungsang Geni mengalihkan pandangannya ke arah Mahesa, kemudian kembali menatap Lakuning Banyu. “Aku ingin sebuah pasukan..,.. aku akan memimpin perlawanan.”


Gelak tawa Ki Lodro Sukmo bergema bak di dalam goa, “Apa kau pikir hanya karana kau berhasil menaklukkan pegunungan Kerakatau, maka kau sedikit besar kepala? Semua orang bisa melakukannya?”

__ADS_1


“Lalu kenapa kau tidak melakukannya?” Mahesa berdiri dari tempat duduknya, dia sudah cukup sabar hingga sejauh ini tidak mendaratkan tinjunya pada orang tua itu. “Dari awal kau adalah orang tua yang paling bermulut besar di sini. Tapi apa yang kau lakukan? Tidak ada!”


Mendengar perkataan itu, Ki Lodro Sukmo naik pitam, dia berdiri seketika lalu melepaskan aura membunuh yang tertuju ke pada Mahesa.


“Aku ingin tahu apa kekuatanmu sehebat mulutmu?” orang tua itu berucap.


Aura membunuh Ki Lodoro Sukmo merayap hingga terasa oleh beberapa pendekar hebat di tenda Perguruan.


“Ki Lodro Sukmo, hentikan perbuatanmu,” ucap Ki Alam Sakti. “Kau membuat pertemuan ini menjadi tidak nyaman.”


Ki Lodro Sukmo terlihat tidak begitu peduli dengan peringatan Ki Alam Sakti. Dia sudah melatih tenaga dalamnya hingga saat ini menyamai guru Sungsang Geni itu.


Jadi ketika dia memang harus bertempur dengan Ki Alam Sakti, dia sudah sangat siap, menurutnya.


“Hentikan semua ini!” Darma Cokropun melepaskan aura membunuh. “Sudahku bilang, jika kalian memang ingin bertarung maka lawan kalian adalah aku!”


Selalu saja seperti ini, semua orang saling melepaskan aura membunuh dan mencoba saling mengintimidasi. Biasanya ketika hal seperti ini terjadi, Darma Cokro memang selalu menantang siapapun untuk bertarung melawannya.


Sungsang Geni memilirik ke arah Mahesa, kemudian memberi isyarat untuk tidak melanjutkan perbuatannya. Pria itu masih terlihat kesal, tapi akhirnya dia menuruti perintah pemimpin Tombok Tebing itu.


“Kenapa kau kembali duduk?” Ki Lodro Sukmo kembali memanasi. “Kau takut?”


Sekejap semua aura membunuh di tempat itu lenyap, berganti aura panas yang luar biasa. Lakuning Banyu, yang tidak memiliki banyak tenaga dalam sangat kesulitan untuk bernapas.


Semua orang melihat kearah Sungsang Geni yang menatap tajam mata Ki Lodoro Sukmo.


“Aku tidak menyukaimu, orang tua,” ucap Sungsang Geni, “Saat ini aku sangat ingin mengayunkan pedangku, tapi beruntung di tempat ini ada Eyang Guruku. Jadi nyawamu masih ada hingga saat ini.”


Semua orang hanya terpaku menatap pemuda itu, tidak ada yang memberi komentar meski mungkin ada ganjalan di pikiran mereka. Ada yang terlihat takut, tapi ada pula yang terlihat ingin menjajal ilmu kanuragannya.


Sungsang Geni kemudian menarik semua aura panas miliknya, kemudian menundukkan kepala memberi hormat kepada Lakuning Banyu. “Yang Mulia Raja, diberi atau tidak aku akan membawa semua orang yang ingin mengikutiku ke medan perang.”

__ADS_1


“Aku akan mengikutimu.” Mahesa berujar. “Begitu juga dengan prajurit yang tersisa di Tombok Tebing.”


Setelah mengatakan hal itu, Sungsang Geni memberi hormat tiga kali kepada Eyang Gurunya. “Ma'af Eyang Guru, ini adalah pilihanku.”


Ki Alam Sakti hanya tersenyum kecil, orang tua itu mengetahui sifat muridnya lebih dari siapapun. “Pilihanmu itu adalah takdirmu, Muridku.”


Kemudian dia segera pergi dari tempat itu di ikuti oleh Mahesa, meninggalkan kedongkolan besar di hati Ki Lodro Sukmo.


Lakuning Banyu memang tidak mengizinkan, tapi juga dia tidak melarang. Setelah dia pikir kembali, usul yang di katakan oleh Sungsang Geni memang ada benarnya. Namun resikonya tentu saja sangat besar.


***


Sungsang Geni berada di wilayah Tombok Tebing, ada sekitar 100 orang pendekar yang akan mengikuti pemuda itu keluar dari tembok ini.


Mahesa murka bukan kepalang melihat hampir 300 prajurit yang tersisa memutuskan untuk tetap berada ditempat ini. 'Mereka benar-benar pengecut.'


“Tapi kalian harus tahu, setelah kita keluar dari tembok ini maka tidak ada lagi jalan untuk kembali.” Mahesa mengingatkan para bawahannya, termasuk Senopati Rerintih dan juga Senopati Dirga.


“Kami sudah siap dengan semua resikonya, Patih Mahesa.” Dirga mencabut pedangnya sedikit sebagai tanda kebulatan tekat.


Kemudian ada beberapa orang lagi mendekati tenda itu.


“Aku akan ikut bersamamu!” Empu Pelak terkekeh kecil saat mengatakannya. “Aku tidak ingin mati di tempat ini, aku lebih baik mati ketika bertempur.”


Sungsang Geni tersenyum kecil melihat keadaan pria itu, dia menundukkan kepala untuk memberi penghormatan, tapi orang tua itu menepiskan tangannya. “Kau adalah pimpinan kami saat ini, tidak perlu ada formalitas lagi.”


“Geni, kami akan ikut pula bersama denganmu.” Cempaka Ayu telah membawa 2 temannya yang lain, Siko Danur Jaya dan Ratih Perindu. Tidak! bukan dua tapi tiga, Panglima Ireng juga harus diperhitungkan.


“Hanya ada 100 orang lebih.” Mahesa tersenyum pahit, ketika dia mengetahui lebih banyak pengecut di Tombok Tebing.


“Tidak masalah, lebih baik membawa 100 orang pemberani daripada 10 ribu orang pengecut.”

__ADS_1


__ADS_2