PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Kesembuhan yang Sulit


__ADS_3

Hari ini Sungsang Geni mendaki dataran tinggi yang penuh dengan warna-warni bunga. Ada banyak bunga matahari, mawar dan beberapa bunga liar yang tidak di ketahui jenisnya oleh pemuda itu.


Tepat di tengah dataran tinggi, sebuah gubuk sederhana berdiri cukup cantik. Terlihat sangat nyaman ditempati dengan dekorasi bunga-bunga rambat menghiasi dindingnya. Sementara itu, asap gubuk mengepul menembus atap ilalang. Menandakan Saraswati dalam keadaan baik-baik saja.


Panglima Ireng berlari riang di antara batang-batang bunga, ada banyak kelinci berkeliaran di sana. Membuat serigala betina itu, tidak khawatir dengan lapar selama mereka berada di tempat ini.


“Aku tidak percaya kau berhasil menemukan pemuda ini!” ucap Saraswati, memeluk erat tubuh muridnya, kemudian melirik ke arah Sungsang Geni. “Selamat datang di rumah baru kami, Geni. Silahkan masuk!”


“Ini sangat nyaman, aku tidak percaya kalian menata dataran ini dengan begitu indah, seolah ini adalah surga di tengah kelamnya negri ini.” Pemuda itu mengumbar senyum kecil, tapi tidak lama dia melirik ke arah lain. “Hei Ireng, domba itu peliharaan tuan rumah, jangan kau takuti mereka!”


“Gerr...gerr...” Panglima Ireng menjauhi kandang domba dengan raut wajah kesal. Tunggu saja pikirnya, akan ada masa memakan domba.


“Cempaka Ayu ada di dalam, mari masuk...” Saraswati membawa pemuda itu masuk ke dalam gubuk, sementara itu, Wulandari tetap di luar. Selain karena tempat itu cukup sempit, gadis itu tidak akan mengganggu proses penyembuhan Cempaka Ayu.


“Beginilah kondisnya saat ini,” ujar Saraswati, “Aku sudah berusaha sekuat mungkin, siang dan malam mencoba menyalurkan tenaga dalam, tapi seperti yang kau lihat.” Saraswati menunjukkan ada banyak memar hitam di sekujur tubuh Cempaka Ayu. “Mula-mula ruam hitam hanya satu, tapi sekarang ada banyak ruam hitam di tubuhnya.”


Sungsang Geni bersegera memeriksa nadi Cempaka Ayu, begitu lemah. Bukan hanya itu, dari caranya gadis itu bahkan kesulitan untuk bernafas saat ini.


Tanpa menunggu lama, Sungsang Geni meletakkan telapak tangan Kanannya tepat di kening Cempaka Ayu. Mencoba mengalirkan energi api matahari. Pedar cahaya kuning kemerahan keluar dari telapak tangan pemuda itu, mengalir seperti akar-akar kecil dan masuk ke dalam kening Cempaka Ayu.


Sesaat tidak terjadi apapun kepada gadis itu, hingga tiba-tiba tubuhnya mengejang dengan mata mendadak terbuka lebar. Hal yang cukup membuat Saraswati terkejut adalah, mata putih gadis itu.


Semakin deras aliran energi yang masuk ke dalam tubuhnya, semakin besar pula reaksi yang ditunjukan oleh tubuh gadis itu. Hingga tiba-tiba ledakan cahaya terjadi, dengan begitu cepat. Saraswati terpental keluar dari gubuk bersama dengan Wulandari, sementara itu bagian depan dan belakang dinding gubuk berlubang besar, atap gubukpun ikut terangkat.


Saraswati terseok di rumpun bunga matahari, sementara Wulandari berada tidak jauh darinya. Hanya saja gadis itu mendarat tepat di tubuh Srigala hitam besar. Butuh beberapa saat bagi dua orang itu, untuk menguasai diri.

__ADS_1


“Apa yang terjadi guru?” tanya Wulandari.


Saraswati tidak menjawab, pandangan wanita itu masih tertuju di dalam gubuk. Debu menghalangi pandangannya.


“Tunggulah di sini!” perintah wanita itu. “Aku akan melihat kondisi Geni?”


Dengan batuk kecil Saraswati menyibakkan debu yang masih menutupi pemandangannya di depan pintu gubuk. Namun setelah cukup jelas, dia bisa melihat sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri seketika.


“Apa yang terjadi?” wanita itu menutup mulutnya, seakan tidak percaya. Di depan matanya, Cempaka Ayu sedang mencekik batang leher Sungsang Geni. Cahaya putih beraura dingin mulai merayap dari tubuh gadis itu, sementara Sungsang Geni tidak bergeming. Masih mengalirkan banyak energi matahari.


Beberapa menit kejadian itu terpampang jelas di depan matanya, hingga cahaya putih berangsur-angsur padam. Tubuh Cempaka Ayu jatuh lagi ke atas pembaringan usang yang sudah retak di banyak bagian. Mata putihnya kembali tertutup rapat.


Sungsang Geni menyudahi tindakannya, dengan nafas tidak beraturan. Peluh membanjiri seluruh tubuh pemuda itu.


“Ini lebih berat dari yang kuduga,” ujar Sungsang Geni.


“Apa yang terjadi?” tanya Wulandari, buru-buru menaiki tangga gubuk.


Sungsang Geni mendesah nafas berat. “Aku sudah banyak menggunakan energi matahari, tapi seperti yang kalian lihat, itu tidak berhasil. Ini lebih buruk dari yang kuduga?”


“Maksudnya?”


“Cempaka Ayu terjebak di suatu tempat, sementara itu tubuhnya dikendalikan oleh kekuatan Dewi Bulan. Ini cukup buruk, jika dia tidak cukup kuat, atau tidak bisa mengambil alih kembali kesadarannya....”


“Apa yang akan terjadi?”

__ADS_1


Sungsang Geni tidak ingin mengatakan Cempaka Ayu akan mati. Tapi dia cukup sadar, jika kesadaran Cempaka Ayu tidak kembali, itu artinya Dewi Bulan yang akan mengambil alih tubuh gadis tersebut. Tapi sayang sekali, tubuh lemah Cempaka Ayu tidak cocok untuk kekuatan Dewi Bulan. Itu artinya, tubuh gadis itu mungkin akan hancur.


Sungsang Geni sudah berusaha keras, dengan mengerahkan banyak energi matahari, dia bahkan hanya bisa menyembuhkan luka fisiknya saja.


“Kondisinya akan baik-baik saja, mungkin selama satu minggu kedepan...” Sungsang Geni berkata lirih, terlihat jelas wajahnya diliputi rasa bersalah, penyesalan atau mungkin beban.


“Setelah satu minggu berlalu, apa yang akan terjadi kepada gadis itu?” tanya Saraswati.


“Memar di sekujur tubuhnya akan kembali terjadi, bukan hanya itu karena tadi aku telah mengalirkan energi panas ke dalam tubuhnya, itu seperti sebuah penjara bagi Dewi Bulan. Kau tahu, seperti apa tindakan seseorang yang berhasil keluar dari penjara?”


“Dia akan memberontak?” sambung Wulandari.


“Benar, dan itu akan semakin membuat tubuh Cempaka Ayu terluka.”


Sungsang Geni melirik sekali lagi tubuh Cempaka Ayu yang terbaring lemas di pembaringan, dengan tatapan sayu pemuda itu kemudian turun dari gubuk. Berjalan menuju ujung dataran tinggi.


“Geni!” pekik Wulandari.


“Biarkan dia sendiri!” Saraswati mengingatkan gadis itu. “Dia butuh berpikir saat ini, mungkin sekarang dia juga butuh menghimpun energi. Kita tidak bisa melakukan apapun sekarang, semuanya hanya tergantung apakah Cempaka Ayu bisa kembali sadar atau tidak.”


Wulandari memasang wajah lesu, ada air yang menetes dari matanya. Entah kenapa dia merasakan sakit di bagian dada Apakah karena Sungsang Geni begitu perhatian kepada Cempaka Ayu? Atau mungkin pula karena dia begitu simpati terhadap luka yang diderita gadis tersebut? Entahlah, ada banyak beban yang mengisi dadanya.


Semua perasaan bersatu padu,membuat luka di dalam hati terasa begitu pedih. Gadis itu turun dari gubuk yang kini penuh dengan lubang. Berjalan ke sisi berlawanan dengan Sungsang Geni. Di belakang gadis itu, Panglima Ireng berjalan pelan mengiringi.


“Gerr...gerr...” srigala itu mengenduskan moncong hitamnya, membelai lembut wajah gadis itu di pinggir dataran tinggi yang menjorok sedikit ke lembah hijau.

__ADS_1


__ADS_2