PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Geni vs Londro


__ADS_3

“Aura apa ini? Kenapa tubuhku menjadi sangat ketakutan?” Prama Londro bahkan merasakan sesak nafas sekarang.


Dia berusaha berdiri meski seluruh sendinya lunglai dan pada akhirnya pria cungkring itu bisa mengendalikan tubuhnya, menyelimuti diri dengan tenaga dalam.


Prama Londro tampaknya bisa mengatasi ketakutannya tersebut. Dipermalukan seperti ini membuat dirinya naik pitam, untung saja tidak ada yang melihat wajah menyedihkannya tadi.


Dia kembali mengeluarkan pedang lainnya, memasang kuda-kuda dan melesat cepat menyerang Sungsang Geni. Teknik pedang bayang bertemu dengan teknik awan berarak, tidak terlalu buruk.


Sungsang Geni bisa mengimbangi setiap serangan berkekuatan besar yang mengarah padanya, sementara dia menyelipkan dua atau tiga tebasan mematikan.


Prama Londro menghunuskan pedang, kemudian berputar ke samping berusaha menekan Sungsang Geni dengan tusukan. Pemuda matahari itu tidak tinggal diam, dia menyambut serangan bertubi-tubi dengan gerakan lentur dan cepat.


Percikan cahaya dan suara dentingan terdengar di tengah hutan, akibat dari pedang yang ber-adu. Meski demikian, Sungsang Geni menyadari serangan Prama Londro begitu berat dan kuat.


“Terima ini!” teriak Prama Londro, menebaskan pedang yang diiringi 4 bayangan pedang besar melesat menuju Sungsang Geni.


Serangan yang sangat cepat untuk teknik jarak jauh, Sungsang Geni nyaris saja terluka dengan serangan itu.


Teknik pedang bayangan nampaknya unggul di segala jarak, teknik itu memiliki beberapa jurus kuat untuk jarak dekat tapi jarak jauh tentu saja adalah bidangnya.


Dua bayangan Prama Londro tercipta, menyerang Sungsang Geni dengan pola tak menentu.


Sekarang Sungsang Geni harus berada di posisi bertahan, sedangkan Prama Londro menyerangnya dengan jurus-jurus lebih kuat.


Meski hanya bayangan tapi kekuatan mereka tidak kalah dari Prama Londro. Ini seperti Sungsang Geni menghadapi 3 orang Prama Londro secara bersamaan. Teknik yang benar-benar merepotkan.


Prama Londro berusaha menebas kepala Sungsang Geni, serangan pertama dan kedua dapat dihindari dengan mudah, tapi Sungsang Geni tidak menduga serangan ke tiga pria itu.

__ADS_1


Sebuah tipuan kecil, berhasil mengecoh Sungsang Geni dan pada akhirnya satu tebasan pedang mendarat di dadanya. Sungsang Geni mundur 5 langkah ke belakang, dia memperhatikan darah yang menetes di bagian dadanya.


“Apa itu sakit?” sindir Prama Londro, tertawa kecil sambil memainkan mata pedang energinya, “Ini baru 2 bayangan yang aku kerahkan, bagaimana jika dengan mengerahkan 4 bayangan? Jangan dijawab! Aku ingin mengimbangi kekuatanmu, hanya dengan 2 bayangan saja.”


Sungsang Geni menghela napas berat, beberapa saat dia tersenyum kecil dan ini tidak membuat Prama Londro senang.


“Senyum dan sorot matamu itu sangat ku benci anak muda!” ucap Prama Londro.


“Kau akan menyesal menyerangku hanya dengan setengah kemampuanmu!” ucap Sungsang Geni, lantas mulai melayang di udara.


Bersamaan dengan itu, Sungsang Geni sedikit lebih banyak mengerahkan energi api pada pedangnya, membuat cahaya kuning semakin memancar terang.


Dan setelah itu, setelah Prama Londro mulai menyurutkan senyum di bibirnya atau setelah satu daun kering jatuh tepat di antara Sungsang Geni dan Prama Londro, pemuda matahari itu tiba-tiba melakukan serangan cepat.


Jurus murka dewa angin berhasil menebas 2 bayangan yang berada di depan Prama Londro.


Serangan itu tidak berhenti di situ saja, Sungsang Geni mengepakan sayap tak kasat matanya lebih cepat lagi, meningkung tajam pada sela batang pohon dan menebas dada Prama Londro dua kali lebih kuat dari yang dia alami.


“Apa itu menyakitkan?” Sungsang Geni menyindir Prama Londro kemudian tertawa kecil, “Jangan dijawab! karena aku tahu jawabannya. Sudah kubilang, jangan bertarung hanya dengan setengah tenagamu!”


Wajah Prama Londro terlihat murka, dia menjilat darahnya sendiri sambil mengeraskan rahang dan kepalan tangannya.


Pria itu lantas menunjuk Sungsang Geni dengan sorot mata tajam berusaha mengoyak keberanian Sungsang Geni tapi pemuda itu tidak sedikitpun gentar.


“Akan aku perlihatkan kekuatanku yang sebenarnya!”


Prama Londro nampaknya tidak peduli lagi, jika harus membawa pemuda itu hidup-hidup menghadap Sriyu Kuning. Dia menyampingkan tugasnya, karena terlanjur di kuasai dengan amarah yang meluap.

__ADS_1


Kemudian dia melakukan gerakan aneh, tapi nampaknya Sungsang Geni sudah pernah melihat jurus itu sebelemunya.


Jurus terkuat dari pedang bayangan yang pernah di gunakan Yunirda, dan jika tidak salah maka akan keluar naga sesaat lagi.


Dugaan Sungsang Geni benar, dari pedang Prama Londro bergumpal energi bertekanan kuat berwarna bening, setiap detik energi itu membentuk sosok ular naga besar yang meliuk-liuk di sekitarnya.


Tekanan dari naga itu tentu lebih kuat dari naga yang dimiliki Yunirda. Apa lagi kali ini naga tersebut adalah energi yang berasal dari tenaga dalam bukan dari kegelapan seperti yang dimiliki Yunirda.


Tekanan itu bahkan terasa hingga ratusan meter jauhnya, dan tentunya hingga ke Padepokan Cabang Utara dan Cabang Selatan.


Di sisi lain, Sungsang Geni tidak berniat lari dari serangan itu. Dia juga penasaran dengan kekuatan pedang energi yang baru dimilikinya, jadi dia mengeluarkan seluruh energi api pada serangan kali ini.


Pedang milik Sungsang Geni bercahaya terang, menyilaukan bagi siapapun yang melihatnya. Bahkan Sungsang Geni nampak hilang ditelan cahaya.


Aura panas tiba-tiba terasa hingga ratusan meter pula, membuat ratusan orang yang merasakan aura tersebut terpaksa melindungi diri dengan tenaga dalam jika tidak maka seakan dekat dengan tungku perapian.


“MURKA NAGA BAYANGAN!” teriak Prama Londro, kemudian naga yang tercipta tebang meliuk-liuk cepat menuju Sungsang Geni.


“Tarian dewa angin!” sungsang Geni menghentakkan kaki kanannya, dan seketika dia lenyap seperti anak panah lalu tiba-tiba telah berada tepat di mulut naga milik Prama Londro, “Neraka penyucian!”


Benturan dua kekuatan besar bergema di dalam hutan, tekanan berat dan hawa panas tampak saling mendominasi, mengharuskan pendekar-pendekar yang memiliki 1 garis jule mengeluarkan keringat dingin.


Sedangkan para pendekar muda yang setingkat pilih tanding, sudah mulai berjatuhan karena tidak sadarkan diri. Beberapa orang bahkan mulai bersembunyi di balik-balik dinding rumah, atau juga masuk di bawah kolong meja.


Pramudhita yang merasakan tekanan itu, terbang cepat menyusul Sungsang Geni. Panglima Ireng memberi isyarat bahwa Sungsang Geni sedang bertarung, tapi dia tidak percaya bahwa itu adalah kekuatan pemuda asing itu.


Pramudhita berpikiran, Sungsang Geni sedang dibantu oleh seseorang, mungkin Tabib Nurmanik. Namun dia heran sebab Tabib Nurmanik tidak memiliki aura panas seperti ini.

__ADS_1


“Lagipula, aku tidak yakin Sriyu Kuning akan membiarkan Sungsang Geni lolos!” gumam Pramudhita, "Aku harus membantunya jika hal itu terjadi..."


beberapa saat kemudian mata Pramudhita terkejut setelah mengetahui kenyataannya, bahwa cahaya terang di depannya berbenturan dengan seekor naga bayangan. “Itu adalah Sungsang Geni, kekuatan macam apa yang dimilikinya?”


__ADS_2