
“Dimana aku bisa menemukanmu?” tanya Mahesa, menghentikan langkah Sungsang Geni yang berniat pergi meninggalknanya.
Sungsang Geni tesenyum, “Kereta kuda kerajaan Majangkara,” jawabnya.
Lalu Sungsang Geni segera melayang menuju jalur Kelabang.
Beberapa saat kemudian Sungsang Geni tiba dikereta kuda, suasana tidak seramai sebelumnya.
“Geni, dari mana saja kau?” Dewangga terlihat panik setelah hampir 2 jam Sungsang Geni tidak kunjung kembali.
“Hanya bertemu dengan seorang teman. ” Sungsang Geni tersenyum penuh makna.
“Geni, kami mendengar suara pertempuran dari arah hutan. Mungkin dua orang yang mempunyai ilmu yang hebat.” Gadhing berkata, “Suara pertempurannya membuat jalur kelabang menjadi panik.”
“Pangaran Dewangga, sebaiknya kita juga melanjutkan perjalanan, kita suda terlalu lama ditempat ini.” Durada memberi saran, sedari tadi dialah yang paling khawatir akan pertarungan dipinggir hutan itu.
Beberapa orang masih terlihat lalu lalang di Jalur Kelabang, membuat Dewangga menjadi kesal.
Baru tiga langkah kaki kuda berjalan, tiba-tiba kereta kuda berhenti. Kuda yang ditunggangi Muksir dan Kantu mengangkat kaki depannya, hampir-hampir membuat penunggangnya jatuh kebelakang.
“Siapa kau setan alas! Berani-beraninya menghentikan perjalanan kami!” Durada memaki pria itu, dia sangat marah dan berniat memberi pelajaran kepadanya.
“Benarkah ini kereta kuda Kerajaan Majangkara?” Pria itu bertanya yang tak lain adalah Mahesa.
Dia secepat mungkin mengobati lukannya lalu bergegas mencari Sungsang Geni. Nasib baik dia masih sempat menyusul Sungsang Geni.
“Memang benar, Apa yang kau inginkan ?” Dewangga keluar dari kereta kudanya, dan segera mencabut pedang pusaka ditangannya.
“Tunggu!” ucap Sungsang Geni, “Dia adalah sahabatku, dia akan ikut mengawal perjalanan kita.”
“Geni aku tidak setuju, dia bukan berasal dari Kerajaan Majangkara.” Gadhing berkata tidak senang.
“Perkenalkan namanya Mahesa seorang pendekar hebat, dia memiliki pukulan yang sangat kuat.” Sungsang Geni membujuk Dewangga, “Dia pasti membantu diperjalanan kita.”
“Jika dia memang kuat, kenapa ditubuhnya ada jaitan luka, dan sepertinya terlihat baru?” Bantah Gadhing.
__ADS_1
“Tuan, aku bukanlah teman pemuda ini, aku adalah budaknya, dia telah membeliku dari pedagang budak, dan luka ini kudapatkan karena berniat melawannya dipinggir hutan.” Mahesa kemudian membuka bajunya, dan terlihat lilitan kain perban diseluru tubuhnya.
Gadhing tidak mampu berkata, mereka telah membicarakan perihal pertempuran dipinggir hutan yang membuat Jalur Kelabang bergetar seperti terjadi gempa, dan ternyata itu ulah Sungsang Geni dan pria didepannya.
Sama halnya dengan Gading, Durada hanya menelan ludahnya, dia telah berani menghardik pria itu, dan nyatanya kekuatannya hampir setara dengan Sungsang Geni.
“Mahesa, apa yang kau katakan, kau bukanlah budaku, Kau itu adalah temanku.” Sungsang Geni segera merangkul pundaknya lalu menghadap kepada Dewangga, “Percalah padaku pangeran Dewangga, aku akan bertanggung jawab.”
Mendengar ucapa Sungsang Geni, Dewangga hanya menarik napas panjang lalu menyetujui permintaan Sungsang Geni.
“Tapi jika dia membuat masalah, aku sendiri yang akan memenggal kepalanya.” Dewangga menebaskan pedangnnya pada angin.
Sungsang Geni tersenyum penuh makna, bahkah jika harus berlatih 10 tahun lagi, Dewangga tidak akan mampu menebas bahkan hanya kuku Mahesa.
***
Setelah beberapa hari, tidak ada kendala dijalan, membuat perjalanan mereka cukup cepat.
Akhirnya rombongan Sungsang Geni tiba pula di wilayah Kerajaan Tombok Tebing, merupakan kerajaan yang paling dekat dengan Kerajaan Surasena.
Kerajaan Tombok Tebing, banyak melahirkan pendekar hebat yang menjadi prajurit di Kerajaan Surasena, oleh karena itu Tombok Tebing sering juga disebut kota pendekar.
Sebagai imbalan telah mengirim prajurit hebat, Kerjaan Tombok Tebing dibebaskan dari kewajiban membayar upeti yang diberlakukan oleh kerajaan Surasena.
Salah satu prajurit yang hebat adalah Karang Dalo, yang bertugas menjadi salah satu senopati di Kerajaan Surasena, membuat hubungan Surasena dan Tombok Tebing semakin akrab.
“Durada, kita akan mencari penginapan, tapi tidak perlu terlalu bagus, cari saja dipinggiran desa. Kerajaan Majangkara tidak memiliki hubungan baik dengan Kerajaan Tombok Tebing.” Ucap Dewangga, “Kita juga harus menyamarkan identitas kerajaan kita!”
“Baiklah pangeran, hamba mengerti maksud anda,” jawab Durada.
Setelah cukup lama menyusuri jalan di pinggiran Kerajaan, akhirnya mereka menemukan penginapan Cempaka Putih yang cukup besar meski terletak dipinggir Kerajaan.
Setelah melakukan pembayaran terhadap kamar yang dipesan, akhirnya mereka segera menuju kamar masing-masing. Perjalanan mereka yang sangat jauh, membuat semuanya tertidur pulas selain Sungsang Geni.
Sungsang Geni menghampiri seorang gadis pelayan yang masih muda, mungkin umurnya 18 tahunan.
__ADS_1
Dia memesan tempat makan dilantai dua karena cukup sepi.
Dari lantai dua, Sungsang Geni melihat jauh ke cahaya hijau yang jauh, merupakan lampu pelita bangunan istana Tombok Tebing.
“Berapa jauh tempat ini menuju pusat kerajaan Tombok Tebing?” tanya Sungsang Geni.
“Setengah hari jika ditempuh berjalan kaki, tuan akan tiba di Istana Kerajaan Tombok Tebing.” Jawab gadis pelayan itu, kemudian meletakan segelas kopi, dan sepiring makanan kering.
“Jika hendak menuju kerajaan Surasena, kira-kira berapa lama lagi? ” Sungsang Geni menghirup kopinya.
“Oh, jika tuan hendak kesana, butuh 7 hari lagi jika ditempuh dengan berjalan kaki.” Gadis pelayan itu cukup ramah, mungkin karena pengaruh aura api matahari, “Putra mahkota dari kerajaan Tombok Tebing juga telah lama pergi ke Surasena.”
“Kalau boleh tahu, apakah gerangan yang membuat pangeran pergi ke Surasena?” Sungsang Geni mulai penasaran dengan perkataan gadis pelayan.
“Katanya sih, ada acara lamaran atau pernikahan, saya juga kurang tahu tuan.”
Namun sebelum Sungsang Geni bertanya lebih jauh, keributan terjadi dilantai bawah, dua kelompok orang yang baru saja tiba nampaknya sedang memperdebatkan sesuatu.
Beberapa diantaranya terlihat mengenakan pakaian kebesar kerajaan, dan beberapa yang lain mengenakan pakaian ala pendekar.
Namun yang pasti adalah, mereka semua memiliki aura membunuh yang pekat.
Setelah cukup lama, akhirnya kedua kelompok itu sepakat untuk berdamai, mereka menaiki lantai dua, dimana Sungsang Geni berada.
Seorang Pemuda berumur sektiar 22 tahun dikawal oleh 2 orang pria duduk di dekat Sungsang Geni, pemuda itu mengenakan baju berwarana hijau yang bermotif merpati dibagian dada.
Kedua pengawal yang bersamanya mengeluarkan aura membunuh yang pekat, Sungsang Geni mengetahui setidaknya mereka berdua berada pada level pendekar pilih tanding.
Kemudian satu lagi kelompok datang, mereka hanya berdua saja, dari caranya mereka bukanlah anggota kerajaan manapun, namun Sungsang Geni dapat memastikan kekuatan dua orang itu jauh diatas dua orang yang mengawal pemuda kerajaan.
“Pangeran Widura?” Gadis pelayan telah membawa berbagai makanan dan minuman yang banyak, “Ini pesanan anda!”
“Kalau saya jadi pangeran, saya tidak ingin makan ditempat ini, apa tidak malu ya?” pemuda yang datang terakhir berbicara dengan temannya.
“Ya, kalau pangerannya miskin, terpaksa, mau bagai mana lagi?” Timpal temannya.
__ADS_1
Mendengar ucapan itu, orang yang disebut sebagai pangeran, segera berdiri dan naik pitam.
“Apa yang kalian berdua katakan?”