PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Telah Berubah


__ADS_3

“Tidak mungkin...apa yang terjadi padamu?” Mahesa benar-benar terkejut mengetahui Gadis yang merubah wujudnya menjadi Lalatah Sari dan juga membunuh Raja Cakra Mandala adalah orang yang selama ini dia cari.


Gadis itu tersenyum kecil, menikmati keterkejutan Mahesa yang merupakan kekasihnya. Dulu, bukan kekaksih sekarang, karena Gadis itu telah membuang sisi manusianya bersamaan dengan hatinya.


Nama gadis itu ialah Welasari, gadis yang dicari Mahesa setelah kehancuran Perguruannya, dan juga satu-satunya wanita yang dikabarkan masih hidup.


“Kau menguasai ajian Mali Rupa, ilmu hitam nan sesat?” Ratap Mahesa, tidak menduga pertemuannya dengan kekasihnya itu, tidak berjalan sesuai harapannya, dan malah bersimpangan jalan. “Apa yang membuatmu melakukan semua ini, bertahun-tahun aku berusaha mencarimu, menemukan keberadaanmu, tapi kenapa...?”


“Kenapa?” Welasari balik bertanya, tapi jelas ucapanya hanya sindiran belaka, “Mereka menangkapku, para Kelelawar Iblis. Menjadikan diriku sebagai anggotanya, pasukan kuat.”


Mengatakan hal itu, Welasari terlihat sangat bangga, dia beberapa kali memperlihatkan energi yang keluar dari telapak tangannya, menunjukan kepada Mahesa betapa kuatnya dia saat ini.


“Dan setelah aku bergabung dengan mereka yang dulu kita kira penjahat, ternyata aku menyukainya, Kelelawar Iblis akan jadi penguasa di dunia ini, apa kau tidak lihat kenyatannya?” Sambung Welasari.


“Kau menyukai mereka, yang telah membunuh keluarga kita, kampung halaman kita? Dimana Welasari yang dulu kukenal?”


“Tidak, Sayang...Welasari yang dulu telah hilang, gadis kecilmu yang dulu lemah sekarang telah berubah.”


Setelah berkata begitu, Welasari menyerang Mahesa tanpa ragu. Mahesa tidak dapat melawan dirinya, tidak cukup keberanian untuk menghilangkan nyawa satu-satunya orang yang tersisah dari kenangannya. Jadi dia menerima semua serangan Welasari tanpa membalas.


Disaat bersamaan, Barakuna yang berniat membantu malah dihadang 4 orang yang lainnya. Membuat situasi menjadi sulit.


Sebelumnya keempat orang itu jadi takut melihat kemampuan Mahesa, tapi ketakutan mereka tidak berlangsung lama menyadari Mahesa tidak berkutik dihadapan Welasari.


“Pukuluan Dewa Perang.” Welasari melepas energi berbentuk tinju, Mahesa terhempas di dinding reruntuhan bangunan, menciptakan gempa kecil.


Jika bukan karena ajian pengeras kulit, Mahesa telah luka dalam mendapati serangan dari Welasari yang bertubi-tubi.


“Welasari, sadarlah!” pekik Mahesa.

__ADS_1


Tapi peringatan pemuda itu, hanya dibalas dengan lebih banyak lagi pukulan di tubuhnya.


Dilain sisi, Barakuna ditendang keras dibagian perut dan dilempar keluar dari reruntuhan, membuat pria banci itu terhempas di bebatuan, dengan darah mengalir dari mulut dan hidungnya.


“Aghk...” Barakuna tersedak darahnya sendiri, dia harus menanggung rasa sakit dan terbakar pada perutnya.


Keempat orang itu, tidak membiarkan Barakuna lega menghirup napas, mereka keluar dari reruntuhan dan kembali menyerang Barakuna. Pria banci itu, tidak dapat menahan lukanya, jadi dia merelakan sebuah energi gelap yang sekarang mendekatinya dengan cepat.


Blas...dor...Energi itu tidak sempat mengenai tubuhnya, meledak sebelum membunuhnya.


Sesosok pemuda saat ini berada di depan Barakuna, dengan jubah yang terlihat menawan dan sebilah keris ditangannya yang memancarkan energi bening, menangkis energi hitam itu dengan mudah.


Barakuna hanya terjelit, dia tidak bisa berkata apapun saat ini, aura hangat menjulur keseluruh tubuhnya membuat pria banci itu terasa tenang.


Disisi lain, keempat orang anggota kelelawar iblis merasakan panas yang luar biasa, membuat mereka terasa dipanggang ditungku perapian.


“Anak muda, siapa kau berani ikut campur urusan kami!” salah satu dari mereka ber empat memberanikan diri untuk bertanya.


Namun tidak diduganya, energi yang keluar dari keris itu, terpaksa memotong leher keempat orang itu secara bersamaan. Energi yang besar, terus melaju hingga memotong beberapa pohon yang menghadangnya.


Empat kepala menggelindig bak kelapa yang jatuh ketanah, dengan mata terjelit. Dari leher yang menyembur darah, energi iblis keluar perlahan dan kemudian lenyap ditelan angin.


“Aghkkk....” Barakuna tersedak nafasnya sendiri, tubuhnya memaku beberapa saat seakan enggan untuk digerakan. Pikirannya campur aduk saat ini, kekuatan pemuda didepannya tidak dapat diukur dengan logika. Baru saja dia merasakan ketenangan berada didekat Sungsang Geni, tapi sekarang brubah menjadi ketakutan.


Disisi lain, Sungsang Geni juga merasakan hal yang sama, dia juga terkejut beberapa saat. Dugaannya mengatakan keris panca dewa melipat gandakan tenaga dalamnya 5 kali, atau mungkin 10 kali.


‘Menggunakan senjata level tertinggi memang sangat berbeda, ” gumam Sungsang Geni, ‘aku berniat merobek saja mulut mereka, tapi tak kusangka malah...sudahlah biarkan saja para budak iblis ini mati.’


“Paman banci, apa kau baik-baik saja?” Setelah beberapa saat, akhirnya Sungsang Geni berbalik badan dan menanyakan kondisi Barakuna yang terlihat tidak baik-baik saja. “Oh, ma’af kurasa tidak.”

__ADS_1


“Terima kasih atas bantuanmu, pemuda gagah.” Barakuna menampakan wajah pucat ketika pemuda matahari itu mendekatinya, ia berniat berdiri lalu berlari menjauh, tapi niatnya tak kesampaian sebab tubuhnya sama sekali tidak dapat digerakan.


“Jangan paksakan dirimu, paman Banci. Tunggulah disini, aku akan kedalam menemui Mahesa.” Sungsang Geni lantas melayang, menuju reruntuhan bangunan. Dia lewat jalan atas, yang tidak lagi ber-atap.


“Apa dia manusia? Tidak...dia dewa kematian.” Barakuna bergidik memandangi 4 kepala yang terjelit kearahnya.


Setelah tibanya dia disana, Sungsang Geni terkejut mendapati Mahesa memuntahkan darah. Pukulan Welasari nampaknya berhasil menerobos pertahanan pemuda berkulit keras itu. tapi ada yang salah.


“Mahesa tidak berniat melawan wanita itu, dia bahkan terlihat pasrah untuk dibunuh.” Gumam Sungsang Geni di atas reruntuhan.


Sungsang Geni terlihat kesal dengan sahabatnya itu, meski gadis yang dilawan Mahesa mengeluarkan energi kegelapan, tapi harusnya Mahesa masih cukup kuat untuk membunuhnya.


“Matilah sekarang...!” teriak Welasari kemudian menggunakan jurus tapak dewa perang


Sungsang Geni mengenali jurus itu, jurus terkuat yang digunakan Mahesa untuk melawannya di pinggir hutan Jalur Kelabang. Meski Welasari belum menyempurnakan jurus itu, tapi dengan energi kegelapan nampaknya jurus itu cukup berbahaya.


“Wanita ini, kekasih Mahesa.” Ucap Sungsang Geni.


Pemuda matahari itu tidak berniat ikut campur masalah sepasang kekasih, tapi menyadari aura Welasari mengandung kegelapan, dan juga nyawa temannya seperti sedang di ujung tanduk, Sungsang Geni melepaskan uara api matahari membuat Welasari merasa kepanasan.


“Aku merasakan aura hitam dalam tubuhmu, aku tidak mengerti apa yang telah terjadi dikehidupanmu yang lalu, tapi dosamu akan ditebus dengan kematian.” Sungsang Geni melayang mendekati Mahesa, tapi aura api yang membara membuat Welasari berteriak histeris.


“Geni, aku...aku.” Mahesa mungkin ingin mengatakan ‘tolong jangan bunuh kekasihku’ tapi perkataan itu tidak sanggup dia ucapkan, mengingat dosa Welasari tidak mungkin diampuni.


“Teman, meski kita membiarkannya hidup, dia tidak akan kembali kepada...kita.” Sungsang Geni tidak tahu harus mengatakan kalimat seperti apa agar sahabatnya itu tidak tersinggung, “lihatlah tempat ini! dipenuhi dengan mayat. Dia akan kembali membunuh para gadis perawan demi ilmu sesatnya. Jadi...biarkan jiwanya menebus dosanya!”


Mahesa merasakan berat hati, tapi perkataan Sungsang Geni tidak dapat dibantahnya. Dia mengangguk pelan, merelakan sahabatnya itu melakukan sesuatu seperti seharusnya.


“Putra Surya...” Welasari memanggil Sungsang Geni, namun suaranya terdengar parau dan berbeda. Suara seorang pria, yang serak lagi berat, “Jadi kau mulai menunjukan keberadaanmu, musuh bebuyutanku? kau pikir bisa melindungi Surasena dari kehancuran? Ramalan aggung, mengatakan Surasena akan hancur menjadi dataran gersang.”

__ADS_1


“Jadi sekarang aku berbicara denganmu, Topeng Beracun?”


__ADS_2