PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Sayembara


__ADS_3

Pada saat yang sama ketika Pramudhita sedang menyelidiki Raja Renggolo, puluhan pendekar dan beberapa orang hebat lainnya mulai berdatangan.


Kedatangan para pendekar tentu ada hubungannya dengan sayembara yang sebentar lagi akan di umumkan oleh Saylendra sendiri di halaman belakang Istana Swarnadwipa. Mengenai sayembara apa yang akan dilakukan, tidak ada orang yang mengetahuinya dengan pasti.


Beberapa orang berharap sayembara itu berupa pertarungan, dengan begitu mereka akan menjadi terkenal setelah mengalahkan beberapa pendekar yang terlihat sangat kuat.


Sungsang Geni dan Cempaka Ayu mengikuti barisan panjang ketika belasan prajurit mengarahkan para pendekar untuk masuk melalui sebuah gerbang yang terbuka besar. Namun Panglima Ireng tidak bisa ikut, jadi Surailarang terpaksa menjaga srigala itu.


“Apa semua orang ini akan mengikuti sayembara?” tanya Cempaka Ayu.


“Entahlah! Beberapa orang terlihat sangat kuat!” Sungsang Geni tidak begitu peduli mengenai sayembara atau apapun jenisnya, satu-satunya yang dia pedulikan adalah Pangeran Minak Singo. Tapi dengan mengikuti sayembara, peluang dia bisa masuk dan bertemu raja Saylendra terbuka lebar.


Setelah beberapa saat kemudian, mereka telah tiba di sebuah halaman luas di belakang Istana. Kemudian seorang raja gagah yang usianya mungkin 50 tahunan bersama istrinya keluar dari dalam Istana di iringi oleh belasan prajurit bersenjata lengkap.


“Hormat kami semua, Yang Mulia Raja Saylendra!” semua orang membungkukkan badan.


“Terima kasih atas kedatangan kalian semua, para pendekar-pendekar hebat.” Ucap Saylendra. “Aku akan memberi tahu mengenai sayembara apa yang telah aku atur untuk kalian.”


Kemudian seorang pria berjalan dari belakang Raja Saylendra, membuka sebuah kertas dan membacanya dengan suara lantang.


Sayembara ini bukan sebuah pertarungan antara satu atau dua orang untuk berdiri di atas puncak kemenangan. Sayembara ini, mengenai obat yang perlu di dapatkan untuk penyembuhan Ratu Rindang Sari.


Semua dataran Swarnadwipa sudah tahu bahwa Sang Ratu memiliki penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh siapapun selama 8 tahun terakhir. Penyakit yang belum pernah terjadi sebelumnya, hingga tabib terhebat sekalipun kesulitan menemukan obat yang mujarab untuk menyembuhkan penyakit itu.


Ratu Rindang Sari akan mengalami sakit kepala yang luar biasa hebat ketika hari beranjak malam. Pada saat itu, seluruh tubuh sang ratu akan melebam berwarna merah. Penyakit ini akan berlangsung selama satu jam setiap harinya, dan akan kembali membaik setelahnya.

__ADS_1


Awalnya sakit di kepala Rindang Sari tidak begitu parah, tapi 3 bulan terakhir penyakit itu sangat menyiksa Sang Ratu. Beberapa kali Saylendra menemukan Rindang Sari tidak sadarkan diri di dalam kamarnya, dengan hidung mengeluarkan darah.


Namun beberapa minggu terakhir, seorang tabib sekaligus pedagang dari Negri Bambu yang merupakan kampung halaman Rindang Sari memberi petuah untuk mengambil tumbuhan yang hidup di tengah bukit dimana semua orang bisa melihat pohonnya tapi tidak bisa melihat daunnya.


Saylendra telah mengerahkan orang-orang hebat untuk mencari kebenaran mengenai hal itu, dan ternyata tumbuhan yang dimaksud adalah sebatang pohon kelapa yang tingginya tidak terkira lagi.


“Pohon itu dijaga oleh siluman lebah, kami menyebutnya silanglang.” Juru Bicara itu lalu mengepalkan telapak tangannya. “Ukuran setiap lebah sebesar tinju anak kecil, memiliki racun berbisa yang bisa membunuh satu ekor gajah hanya dalam 3 kali sengat.”


“Jadi kami hanya perlu mengambil buah dari pohon itu saja?” salah satu pendekar bertanya tampak begitu percaya diri.


“Tidak semudah itu, tuan pendekar. Setelah kau memasuki wilayah siluman itu, maka segala jenis ilmu kanuragan tidak dapat digunakan, kalian akan kehilangan Tenaga Dalam kalian selama berada disana.”


“Omong kosong macam apa ini?” beberapa pendekar bergumam pelan.


“Jadi kita akan menggunakan kekuatan fisik melawan para siluman lebah itu?”


“Tapi tenang saja!” Juru bicara Saylendra tersenyum kecil. “Aku tahu ini sangat sulit, tapi aku yakin kalian para pendekar memiliki kemampuan yang lebih hebat dan memiliki otak yang cerdas. Bagi siapapun yang berhasil mendapatkan buah kelapa itu, raja Saylendra akan mengangkat dia menjadi Adipati di wilayah kadipaten kekuasaannya.”


“Benarkah?”


“Ini adalah tawaran yang sangat menarik.”


“Kalau begitu jelaskan aturannya?” salah seorang dari puluhan pendekar melangkah kedepan, dia dengan bangga sekali menunjukkan otot-ototnya yang besar. “Aku memiliki fisik yang sangat kuat, jadi Yang Mulia Raja katakan apa aturannya?”


“Tidak ada aturan dalam sayembara ini.” Saylendra berkata sambil merangkul pundak Ratu Rindang Sari. “Kalian boleh melakukan apapun untuk mendapatkan obat itu, berkelompok atau menggunakan peralatan perang.”

__ADS_1


***


Satu jam kemudian, semua pendekar pergi dari halaman belakang menuju hutan yang dimaksud oleh Saylendra. Dari Istana ini butuh waktu 2 jam bagi mereka untuk tiba di sana.


Sekarang yang tersisa hanya Sungsang Geni dan Cempaka Ayu, mereka berdua belum bergeming dari tempat semula.


Sedari tadi Sungsang Geni hanya menatap Ratu Rindang Sari dengan sayu, entah kenapa dia merasakan sesak di dadanya ketika melihat wanita itu?


Dibanding dengan wanita lain, wajah Rindang Sari memang terlihat lebih pucat meski para dayang kerajaan sudah meriasnya. Tapi hal yang menarik adalah, raut wajah serta kulit ratu itu tidak sama dengan wanita kebanyakan.


Tentu saja, itu karena Rindang Sari berasal dari Negri Bambu yang memiliki kulit lebih putih dari kulit wanita Swarnadwipa atau pula di Java. Letak Negri Bambu di sebelah utara dataran Swarnadwipa, butuh menyebrangi lautan untuk tiba di tempat itu.


Sebuah Negri makmur yang sudah lama memiliki hubungan kerja sama dengan Swarnadwipa hingga akhirnya Saylendra menikahi putri bungsu dari pemimpin Negri itu. Untuk pertama kalinya, Saylendra melihat hujan berwarna putih bersih yang dikenal sebagai salju.


Baik Saylendra dan Istrinya beserta seluruh prajurit kerajaan menatap Sungsang Geni yang terpaku di tempatnya, sementara Cempaka Ayu beberapa kali menyadarkan pemuda itu tapi tidak berhasil.


“Pendekar muda! Pendekar Muda!” Salah satu prajurit mendekati Sungsang Geni dengan wajah marah. “Aku harap kau segera mengikuti pendekar yang lain! Dan jangan menatap Ratu Rindang Sari dengan tatapan tidak sopan seperti itu?!”


Sungsang Geni tidak menjawab, dia kemudian melangkah pelan mendekati Saylendra dan Rindang Sari yang posisinya sedikit lebih tinggi.


“Hormat hamba Yang Mulia!” Sungsang Geni membungkukkan tubuh, cukup lama membuat beberapa orang memasang raut wajah heran.


“Siapa namamu anak muda?” tanya Rindang Sari seraya mendekati Sungsang Geni dengan dada berdebar.


“Kami utusan dari negri Surasena dari dataran Java.” Sungsang Geni tersenyum kecil.

__ADS_1


Mendengar perkataan itu, membuat seluruh prajurit tertawa kecil tidak percaya. Tidak ada orang yang bisa melintasi pegunungan kerakatau, dan tidak ada pula kapal yang bisa berlayar dari Swarnadwipa ke dataran Java ataupun sebaliknya.


“Apa kau sedang membual anak muda?” salah satu dari pengawal Rindang Sari meletakkan pedangnya di leher Sungsang Geni.


__ADS_2