
Sungsang Geni bermalam di rumah Ki Demang. Rumahnya tidak terlalu besar, ada banyak celah lubang setiap sisi dinding rumah pak tua itu. Ketika Sungsang Geni menatap langit, bintang-bintang mengintip dari atap yang bocor.
Di ruangan sempit, Panglima Ireng tidur memanjang, menopang kepala di atas dua kaki depan. Di sebelah srigala itu, Sungsang Geni duduk bersila. Rupanya selain Ki Demang, masih ada lagi penghuni rumah itu, Istrinya dan seorang gadis kecil.
Gadis itu bukanlah anaknya, bukan pula keluarga dekat, dia adalah anak dari tetangga Ki Demang, yang meninggal beberapa bulan yang lalu. Mulai hari itu, Ki Demang merawat gadis cilik itu seperti halnya putri kandung sendiri.
Berwajah bulat, dengan lesung pipi menghiasi sudut bibirnya, terlihat sangat manis Sekali. Ketika Sungsang Geni menoleh ke arahnya, gadis cilik itu menyodorkan sepotong singkong rebus.
“Gadis cantik, paman tidak butuh singkong rebus milikmu.” Berujar Sungsang Geni. “Kau makanlah dengan lahap...”
Wajah Ki Demang terlihat risau, ya sudah barang tentu. Sungsang Geni hanya dilayani dengan segelas air putih dengan rasa hambar. Tiada makanan lain yang layak untuk diberikan pada pemuda asing yang baru saja menyelamatkan gadis-gadis belia di desanya.
Singkong Rebus milik gadis kecil adalah satu-satunya makanan yang tersisa di rumah ini, dan dia malah dengan senang hati berniat memberikan makanan itu kepada Sungsang Geni.
Ada banyak hal yang di ceritakan Ki Demang kepada pemuda matahari itu. Mulai dari sejarah singkat kerajaan Tumenang hingga berakhirnya kejayaan kerajaan itu. Tidak sedikit dia menyinggung sikap Pangeran Miksan Jaya yang gugur di medan pertempuran.
“Miksan Jaya belum mati, Ki Demang...” ucap Sungsang Geni, menyeruput air putih hambar dari cawan bambu. “Dia masih hidup, dan saat ini sedang berjuang bersama dengan Surasena untuk merebut kembali tanah Java.”
Wajah Ki Demang beserta istrinya terlihat tidak begitu percaya dengan perkataan Sungsang Geni, tapi mereka tidak berani menyinggung pemuda itu. Untuk sesaat dua suami istri saling bertatap muka dengan penuh tanda tanya.
“Ma'afkan kami, tuan pendekar. Mungkin Pangeran Miksan Jaya yang kau maksud bukan Miksan Jaya dari negri ini,” menimpali pula istri Ki Demang.
Sungsang Geni tersenyum kecil, “Tentu saja dia adalah orang yang sama dengan Miksan Jaya yang kalian maksud, baru tempo hari kami bertemu, dia bersama dengan pengawal setianya, Nyai Bidara, Bukan?”
__ADS_1
Tidak banyak orang tahu mengenai Nyai Bidara di luar kerajaan Tumenang, kecuali jika orang itu cukup mengenal perempuan berwajah angker itu.
Kepercayaan Ki Demang sedikit besar, sebab hilangnya Miksan Jaya bersama dengan Nyai Bidara.
Sungsang Geni menjelaskan secara garis besar mengenai pemuda itu, dan pada akhirnya Ki Demang menjadi sedikit terkejut.
“Aku amat bersyukur jika rupanya Pangeran Miksan Jaya masih hidup, biarlah untuk saat ini dia berada di luar sana, nyawanya akan diburu di dalam Negri ini.” Wajah-wajah tua renta itu menjadi sedikit lebih ceria dari sebelumnya. “Ini adalah berita gembira setelah sekian lama kami tersiksa di tempat ini.”
“Aku akan pergi ke Kadipaten Ujung Lempung besok pagi, aku akan memberikan kabar ini kepada Adipati Lingga.” Ki Demang kemudian meminta istrinya untuk menyiapkan alas agar Sungsang Geni bisa berbaring di lantai papan, tampaknya hari sudah malam. Obrolan mereka sudah berlangsung cukup lama semenjak petang tadi. “Istirahatlah tuan pendekar, tapi sekali lagi kami mohon ma'af kami tidak memiliki kasur yang empuk untuk tuang pendekar.”
“Ki Demang terlalu berlebihan, kami sudah biasa tinggal di atas pohon atau di bawah pohon besar. Tempat ini sudah lebih dari cukup untuk kami berdua.”
“Gerr...gerr...” Panglima Ireng sempat menjawab di sela-sela dengkurannya.
Suara jangkrik malam berdesir, memekakkan telinga Panglima Ireng. Ya, setidaknya ada suara binatang di tempat ini, menunjukkan jika tanah belum tercemar oleh racun.
Di luar rumah Ki Demang, 9 tahanan meringkuk menggigil di bawah pohon besar. Warga telah melucuti semua pakaian mereka, sehingga udara malam pasti akan merasuk kedalam kulit hingga tulang sumsum mereka.
Seharusnya dengan cara seperti ini, mereka menjadi sedikit jera atau setidaknya menjadi sadar bahwa Kerajaan Tumeneng saat ini dalam kekacauan besar.
***
Esok harinya, ketika matahari mulai terbit terdengar suara riuh di dapur rumah Ki Demang. Sungsang Geni membuka matanya, mendengar bahwa Ki Demang baru saja keluar rumah untuk meminjam beras atau apapun yang bisa di masak untuk pagi ini.
__ADS_1
Karena takut jika ketahuan oleh Sungsang Geni, pak tua itu pergi subuh-subuh. Sungsang Geni hanya tersenyum pahit, dia mengintip dari celah dinding berlubang memperhatikan pak tua itu mendatangi satu rumah ke rumah yang lain.
Cukup memakan beberapa waktu, Ki Demang telah kembali dengan wajah berseri-seri. Dia meminta sumbangan seluruh warga ditempat itu hanya untuk menjamu tamunya. Sungsang Geni tahu persis niat baik Ki Demang.
Terlihat ada dua pucuk jagung tua, satu wadah mungkin berisi beras dan ada dua singkong. Ketika dia mendekati rumah, Ki Demang memelankan jalannya, membuka pintu perlahan.
“Pak, akhirnya kita mendapatkan makanan untuk menjamu pendekar muda,” ucap istri Ki Demang.
“Hustt...jangan keras-keras, nanti dia bangun. Beruntung sekali semua warga mau memberi satu genggam besar untuk kita.”
“Syukurlah, jagung keringnya buat kita saja, nanti nasinya untuk tuan pendekar.” Istri Ki Demang ditemani anak angkatnya mulai sibuk menyiapkan beberapa peralatan dapur, sementara Ki Demang telah keluar lagi dari dalam rumah, untuk menimba air di sumur.
Mereka pikir Sungsang Geni tidak mengetahui hal itu, padahal telinga pemuda matahari itu bahkan bisa mendengarkan seekor sayap mengepakan sayapnya.
Akhirnya datang pula pagi hari, cahaya matahari terlihat remang karena awan hitam menutupinya. Tapi demikian, tiada pernah hujan di tempat ini kecuali tepat di lahan subur di sekitar Kerajaan Tumenang saja.
“Aku sudah makan lebih dahulu, ketika tuan pendekar sedang tidur.” Ki Demang memberi alasan ketika Sungsang Geni mengajaknya makan. “Kau makanlah dengan lahap, seorang pemuda harus lebih banyak makan dibanding kami orang tua.”
Sungsang Geni hanya tersenyum kecil, tapi dia tidak mungkin mengecewakan niat baik Ki Demang. Jadi dengan berat hati, pemuda itu menyuap nasi di atas piring hingga habis. Panglima Ireng hanya menggeram kecil, jelas saja tiada daging di depan matanya, membuat nafsu makan srigala itu berkurang.
“Apakah nasinya nikmat?” tanya gadis cilik berwajah manis.
“Benar, nasinya sangat nikmat, kau pasti membantu dalam menanaknya bukan?” Sungsang Geni membelai pipi gadis kecil itu dengan tangan kanannya yang hitam. “Paman akan menggantinya, lebih banyak lagi sehingga kau tidak akan kelaparan.”
__ADS_1