PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Prahara Swarnadwipa 5


__ADS_3

Minak Singo tentu saja ketakutan, dia tidak mengenal ada orang bisa melepaskan pedang juga mengendalikannya semudah pemuda yang berada tepat di hadapannya, menatap dengan tajam.


dia berjalan mundur dan mencengkram beberapa akar yang bisa menarik tubuhnya untuk menjauhi Sungsang Geni secepat mungkin. Tidak bisa, tubuhnya terlalu sulit untuk di gerakan dengan rasa sakit yang menyiksa tepat di dalam perutnya.


Pakaiannya sudah terkoyak ketika tubuhnya melayang di udara barusan, menunjukkan goresan tepat di bagian betisnya yang putih.


Minak Singo tidaklah sekuat para Pangeran dari kerajaan lain, dia lemah dalam ilmu bela diri. Bahkan jika dia sesat di dalam hutan, tidak sampai 2 hari dia akan mati mengenaskan. Dimakan binatang buas, atau mati kelaparan.


Satu-satunya yang berharga dari Putra Mahkota Kerajaan Sembilan itu hanyalah otaknya yang licik. Tapi di dunia ini, satu otak pintar akan lebih berharga di banding 100 pendekar hebat.


“Si...siapa kau?” Minak Singo berkata gagap. “Kenapa kau menyerangku, apa kau ingin melawan kami dari Kerajaan Sembilan?”


Di tendang sepotong ranting oleh Sungsang Geni, lalu ranting itu melaju cepat dan menancap tepat di pinggir telinga Minak Singo, membuat ikat kepalanya putus dan mengurai rambut panjangnya yang keriting.


“Aku adalah pejuang dari Surasena, kau mengenal tempat itu?” Sungsang Geni mencengkram kerah baju Minak Singo lalu melemparkannya ke sisi lain. “Negri yang kau hancurkan bersama Kelelawar Iblis. Sekarang Negeriku dalam kehancuran, tapi tidak kusangka aku menemukan dirimu di tempat ini. Apa ini kebetulan? Tidak, kekalahan dirimu hari ini adalah takdir.”


Minak Singo berusaha berdiri setelah pemuda itu melemparnya sangat jauh. Jaraknya sekarang mungkin 50 meter dan ini adalah kesempatan baik untuk melarikan diri, tapi tidak. Baru sekejap dia membalikkan badan, Sungsang Geni sudah berada lagi di depannya, seolah kemanapun dia menghadap hanya ada pemuda itu.


Tendang keras mendarat tepat di wajah pangeran itu, mematahkan hampir 3 tidak tapi 4 gigi depannya.


“Am...ampuni aku...” dia memelas diri.


Sementara itu, Senopati Legam berniat membantu junjungannya tapi sesuatu tiba-tiba membuatnya ketakutan.


Desiran aura dingin yang menusuk tengkuk belakangnya. Ketika dia berniat memastikan hal apa yang berdiri di belakangnya, pukulan keras membuat kepalanya terasa di hantam palu puluhan kilo.

__ADS_1


Pramudhita masih menggendong bayi mungil di pelukkannya, sambil memperhatikan Senopati Legam yang sujud tepat di hadapannya. Tapi ketika pria itu berniat memberi perhitungan sekali lagi, Senopati itu melompat kuat dan mendarat di antara Wira Mangkubumi dan Saylendra.


“Aku akan membunuh mereka berdua!” ancam Senopati Legam mengarahkan mata pedang di leher Wira Mangkubumi. “Jangan macam-macam, aku tidak menggertak saja. Jika selangkah saja kau bergerak maju, nyawa pria ini akan hilang!”


Minak Singo menunjukkan senyum kecil, ketika Sungsang Geni dan Pramudhita tidak bergerak sedikitpun. Dia berpikir, bahwa tindakan Senopati Legam begitu cerdas.


Minak Singo berusaha berdiri, menepuk-nepuk pakaiannya yang lusuh. Lalu berjalan mendekati Sungsang Geni dengan sedikit sombong. “Apa kau tidak mendengar perkataannya?” dia mengancam.


“Jangan dengarkan! Biarkan mereka membunuhku, selagi Putraku selamat dia akan menjadi Raja seterusnya.” Wira Mangkubumi berkata.


Satu tendangan keras mendarat di wajah Wira Mangkubumi dengan keras. “Diam!” bentak Senopati Legam.


Sungsang Geni menatap Senopati Legam nyaris tanpa berkedip, ketika dia melihat celah, pemuda itu melepaskan pedang energi dan menanggalkan pedang pria itu beserta dengan tangannya juga.


Darah menciprat wajah Wira Mangkubumi, sementara Senopati Legam berteriak kesakitan sambil menyaksikan tangannya tergeletak di depan matanya. “Tidak mungkin....” di meratap.


“Kalian prajurit tidak berguna...” Minak Singo berniat memberi perhitungan kepada seluruh prajuritnya, tapi pikirannya tidak menemukan kesempatan untuk melakukan hal itu. Jika dia bisa hidup saja sudah sebuah keberuntungan.


Sungsang Geni kembali mengerahkan pedang energi, memutuskan rantai yang melilit tubuh Saylendra. Pada saat yang sama, ketika tubuh raja itu nyaris jatuh ke tanah, Menantunya berusaha sekuat tenaga untuk menangkapnya.


“Yang Mulia Raja!” Wira Mangkubumi memperhatikan pria tua itu yang rebah di atas tubuhnya. “Apa anda baik-baik saja, Yang Mulia Raja?”


Terdengar batuk kecil dari mulut Saylendra sebagai sahutan, bersamaan dengan darah bercampur liur yang menetes dari mulutnya yang terluka pada bibir atas dan bawah.


Keesokan harinya, keadaan Saylendra belum pulih sepenuhnya tapi dia sudah bisa membuka mata dan membuka mulut ketika sang Istri, Rindang Sari memberikan makanan. “Perlahan Kakang! Ini minumlah dengan hati-hati.”

__ADS_1


Mengelilingi tempat tidur Saylendra, terlihat beberapa Tabib, Hulubalang dan juga Wira Mangkubumi. Tidak nampak Sungsang Geni di sana, itu benar. Sungsang Geni dan Cempaka Ayu telah kembali ke penginapan setelah membawa Minak Singo beserta bawahannya masuk ke dalam penjara bawa tanah.


Minak Singo harus berada di dalam sana menunggu Saylendra memutuskan hukuman apa yang akan dijatuhkan, tapi biasanya adalah hukum gantung di tempat umum.


Saylendra tidak peduli lagi dengan status Minak Singo sebagai Putra Mahkota Kerajaan Sembilan, dia yakin rencana itu memang sudah di atur oleh pemimpin Kerajaan itu sendiri.


Panglima Ireng terlihat lebih gendut dari terakhir kali mereka melihatnya, Surailarang memberi daging bakar dan beberapa jenis daging lain setiap waktu. Ketika berjumpa dengan mereka berdua, Srigala itu menggeram pelan terlihat menggerutu.


“Kau semakin subur ya, Ireng?” Sungsang Geni menepuk kepala Srigala itu beberapa kali. “Kau tidak marah karena aku meninggalkanmu?”


“Gerr...gerr...”


“Tidak, tidak, masalah di sini sudah selesai.” Sungsang Geni duduk di salah satu kursi pekarangan belakang. “Kita akan kembali ke Surasena besok siang, semua masalah di tempat ini baiknya kita serahkan kepada Swarnadwipa itu sendiri. Tugas kita mencegah Minak Singo sudah selesai.”


“Geni, aku dengar dari para tabib mengenai dirimu!” Cempaka Ayu meletakkan secawan air di atas meja. “Apa itu...maksudku apa kau yakin kita akan meninggalkan tempat ini besok siang? Kau tidak ingin tinggal ditempat ini sedikit lebih lama?”


Sungsang Geni menyeruput air sebelum menjawab, memang ada rasa untuk tinggal di tempat ini sedikit lebih lama, tapi niat itu tidak ingin di indahkannya. “Surasena lebih membutuhkan aku daripada Swarnadwipa. Aku tidak akan menunda waktu lagi.”


Setelah beberapa saat, Surailarang membawa seorang pria tinggi dengan rambut klimis dan kumis tipis. Bajunya sangat longgar, dengan celana sedikit cingkrang hingga menunjukkan betis kakinya yang lanjai.


“Geni?” pria itu bertanya, sedikit tidak percaya jika pemuda di depannya adalah putra dari Rindang Sari.


“Benar” jawab pemuda itu.


“Aku adalah pejabat kerajaan, Ratu Rindang Sari memintamu untuk datang menemui mereka.”

__ADS_1


maaf ya man teman, kalo tulisannya sedikit berantakkan dan juga telat. Author gak terlalu sehat, suka sakit perut.


__ADS_2