PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
MENYATU


__ADS_3

Banduwati mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya, sebuah pedang pendek yang ber aura gelap. Pedang kutukan yang sangat hebat. Bahkan lebih berat dari energi yang dipancarkan oleh Banduwati itu sendiri.


Beberapa menit kemudian, pertarungan kembali dilanjutkan. Sungsang Geni telah mencapai batasannya, jadi setiap serangan yang dia keluarkan lebih mudah untuk dihindari dan kurang bertenaga. Setiap detik tempo serangan pemuda itu semakin lambat, dan mudah untuk dibaca.


Sungsang Geni tidak sanggup untuk mengeluarkan jurus tingkat tingginya, jurus tingkat tinggi membutuhkan gerakan yang rumit dan lentur, dan Sungsang Geni tidak sanggup lagi bergerak seperti itu.


Dia melepas aura panas yang tersisa di dalam lengannya, kemudian cahaya api mulai menyelimuti pedang watu kencana. Kekuatan ini adalah satu-satunya yang tertinggal di dalam tubuh pemuda itu, dan jika serangan ini tidak berhasil, maka kemungkinan menang sangatlah kecil.


Banduwati mundur 3 langkah setelah merasakan aura panas mulai mengintimidasi dirinya, bersamaan dengan aura itu luka di bahunya juga semakin sakit, darah yang keluar juga semakin deras.


“Sebenarnya pusaka apa yang digunakan pemuda itu?” ucap Banduwati kesal, sambil sekekali menunjukkan ringisan di wajahnya.


“Tarian dewa angin, Neraka Penyucian.” Sungsang Geni bergerak cepat, melancarkan serangan dengan segenap kemampuan.


Secepat kilat Sungsang Geni telah berada dibelakang Banduwati, dengan pedang berlumuran darah.


“Ini tidak berhasil...” Sungsang Geni berkata lirih.


Banduwati memegangi lengan kirinya, serangan Sungsang Geni barusan tidak sepenuhnya gagal. Pemuda itu mengincar leher Banduwati, tapi tempo serangannya tidak cukup cepat dan hanya berhasil menebas tangan wanita itu saja.


“AHKKKKk!” Banduwati berteriak kesakitan, dia tidak percaya serangan pemuda itu masih berhasil memberinya cacat seumur hidup. Padahal dia sudah cukup yakin dapat menahannya, tapi rupanya jurus itu jauh lebih kuat dari yang dia duga.


“Setan Alas! Akan aku balas semua perbuatanmu dengan sangat menyedihkan, akan aku buat hidupmu seperti didalam neraka sebelum ajal menjemputmu!” Teriakan dan makian keluar dari mulut Banduwati.


Sungsang Geni menoleh ke arah wanita itu dengan senyum pahit, dia menyadari telah menaruhkan segalanya pada serangan itu, tapi rupanya tidak berhasil.


“Hanya sebatas ini...?” Batin Sungsang Geni, “Ahk....”


Tanpa diduga, Banduwati melakukan serangan balasan. Sebuah tebasan kuat akhirnya mendarat di lengan kanan Sungsang Geni, lengan dimana energi matahari berada.

__ADS_1


Banduwati berniat menanggalkan lengan itu dari bahu Sungsang Geni seperti yang dilakukan pemuda itu terhadapnya, tapi ternyata lengan pemuda itu hanya terluka kecil dan menimbulkan keanehan.


“Apa yang terjadi denganku?” tanya Sungsang Geni, memandangi darah yang menetes seperti magma yang panas.


Lengan itu tidak pernah terluka sebelumnya, tidak ada benda yang bisa menggores bahkan hanya kulit luarnya saja. Jadi melihat darah merah yang panas, Sungsang Geni menjadi sangat terkejut.


“Ini belum berakhir anak muda!” ucap Banduwati, lalu melakukan ratusan sayatan di tubuh Sungsang Geni.


Sungsang Geni hampir tidak bisa mengatakan apapun saat ini, seluruh tubuhnya terasa pedih dan nyeri. Dia bahkan tidak dapat merasakan beberapa bagian jari di kakinya, mungkin sudah banyak urat yang putus.


Dia yakin sekarang mungkin ada sekitar 20 luka di tubuhnya, dan sialnya ada satu atau dua luka yang terasa di bagian pelipis mata. Darah mulai membanjiri tubuhnya, Sungsang Geni sekarang dapat mencium bau amis dari darahnya sendiri.


Namun tiba-tiba.


“Apa ini ? Apa yang terjadi dengan pedang watu kencana?” Sungsang Geni menjadi panik.


Pemuda itu sangat terkejut melihat pedang watu kencana bergerak sendiri, lalu menyerap seluruh darah panas yang keluar dari lengan kanannya. Tapi tentu bukan itu yang membuat Sungsang Geni khawatir, tapi hal lain yang dilakukan pedang watu kencana.


“Apa yang kau lakukan? Hentikan! Hentikan itu! kau membuat lenganku menjadi sakit!” Rintih Sungsang Geni sambil menariknya, tapi pedang watu kencana terlihat tidak peduli, dan mungkin tidak akan pernah peduli.


“TIDAKKKK!” Sungsang Geni berteriak kesakitan, membuat suaranya terdengar oleh siapapun yang berada di wilayah itu.


Mendengar teriakan itu, Cempaka Ayu tersentak. Dia bergegas kembali untuk menemui Sungsang Geni, dengan wajah yang luar biasa panik. “Geni!”


Bukan hanya Sungsang Geni, Banduwati nampaknya juga merasa ketakutan setelah melihat perbuatan pedang itu. Luka di lengannya yang telah diikat dengan baju, terasa lebih sakit melihat pemandangan itu.


“Pedang itu, apa dia berusaha masuk kedalam tubuhnya?” Banduwati segera mundur 3 langkah dari sana, dia kemudian melepaskan pukulan energi dengan sangat kuat, karena berpikir mungkin inilah saatnya untuk menghabisi Sungsang Geni, yang sudah tidak berdaya.


Ledakan besar terdengar sekali lagi, menciptakan kepulan asap dan membuat cekungan besar di permukaan tanah. Banduwati cukup yakin, serangannya kali ini bisa membunuh Sungsan Geni. Tapi lagi-lagi ternyata tidak, serangan itu bahkan tidak menggores Sungsang Geni.

__ADS_1


Ada semacam energi tak kasat mata yang melindungi Sungsang Geni saat ini.


“Apa pedangnya melindungi pemuda itu?” tanya Banduwati keheranan, “Jika dia melindunginya, lalu kenapa di berusaha mem....”


Mata Banduwati melotot sakit terkejutnya, sekarang dia menyadari sesuatu. Pedang itu bukan ingin membunuh Sungsang Geni atau juga melahap darah panas di lengan kanan pemuda itu, tetapi sesuatu yang lain.


“Dia ingin menyatu dengan lengan itu?” ucap Banduwati, “Aku tidak pernah mendengar sebuah pusaka menyatu dengan tuannya, tapi aku yakin, pedang itu berusaha menyatukan diri dengan lengannya. Ini gawat!”


Setelah melahap banyak darah, tiba-tiba saja pedang itu bersinar terang. Menyilaukan mata, sementara Sungsang Geni sudah tidak sadarkan diri. Pemuda itu sudah pingsan 2 menit yang lalu, karena tidak tahan dengan rasa sakit yang diderita.


Cempaka Ayu menatap Sungsang Geni dengan mata berkaca. Dia berusaha mendekati pemuda itu tapi energi bening menghalanginya, lagi pula cahaya terang membuat dia kesulitan untuk memastikan kondisi Sungsang Geni.


“Apa yang harus aku lakukan?” gumam Cempaka Ayu.


Cahaya terang menyilaukan beberapa saat kemudian redup dan menghilang, tapi penghalang bening yang melindungi Sungsang Geni tidak ikut lenyap.


Banduwati masih dapat melihat serpihan pedang watu kencana di dekat Sungsang Geni, tapi dia merasakan sesuatu berubah dengan tubuh pemuda itu. Energi Sungsang Geni mendadak kembali bergelora.


“Bukan pedangnya yang bergabung dengan pemuda itu, tapi roh yang bersemayam di dalam pedang itu.” Banduwati terlihat panik.


Namun sekarang kepanikan itu berubah menjadi ketakutan, setelah melihat tubuh Sungsang Geni melayang dengan mata masih terpejam. Tubuh itu terus naik, di atas awang-awang hingga sesuatu mulai keluar dari lengan itu.


Cahaya kuning kemerahan menjalar dari lengan kanannya, membentuk sebuah pedang kuning dengan energi yang sangat tenang. Pemuda itu masih terpejam, dan kesempatan ini segera dimanfaatkan Banduwati untuk menyerang lebih dahulu.


Serangan tusukan lebih kuat dari sebelumnya sekarang melesat kejantung Sungsang Geni, tapi pemuda itu tidak bergerak sedikitpun. Sekitar 5 jengkal serangan Banduwati terhenti dan tidak dapat dilanjutkan.


Pada saat yang sama, Sungsang Geni membuka matanya. Mata yang bercahaya kuning kemerahan, yang membutakan mata Banduwati saking tajamnya.


“Itu tadi menyakitkan!” pemuda itu tersenyum, “Hem... Apa kau memiliki permintaan terakhir, Komandan Kelelawar Iblis, Banduwati?"

__ADS_1


Jangan lupa dukung author dg like dan vote. Malam terakhir rank voting, semoga masuk 20 besar. Aamiin.


__ADS_2