
Setelah beberapa hari menempuh perjalanan, akhirnya tiba pula rombongan Sungsang Geni di depan Istana Swarnadwipa. Tidak ada kesulitan berarti selama melakukan perjalanan, karena memang Surailarang memiliki banyak kenalan di pos-pos penjagaan.
Sungsang Geni benar-benar terpana dibuatnya, dia berdiri diatas kursi kusir kuda sambil memandangi sungai luas dan jernih serta sebuah Istana megah berdiri di atas tebing yang tidak terlalu tinggi.
Dari sini, kereta kuda meniti jembatan hitam yang lebarnya dua kali dari jalan utama. Sebenarnya ada dua jembatan, yang satu untuk menghubungkan antar wilayah, sedangkan yang satunya lagi untuk menuju Istana Swarnadwipa.
Di bawah jembatan terdapat banyak kapal-kapal besar pedagang yang menepi di sebuah dermaga yang letaknya sedikit ke hulu jembatan.
Dari bendera yang berkibar diatas tiang pengintai, nampaknya mereka adalah pedagang yang berasal dari negri tetangga, jumlah mereka mungkin puluhan.
“Luar biasa,” Cempaka Ayu membuka jendela kereta, kemudian mengeluarkan kepalanya sambil menikmati semilir angin dengan tatapan berbinar-binar.
Situasi jembatan penuh sesak dengan orang-orang berjalan kaki, atau kereta kuda yang mengangkut berbagai macam muatan. Kereta Sungsang Geni berjalan lambat saat ini, di iringi kereta-kereta lain di belakangnya.
Sekarang gerbang Istana berwarna emas terbuka lebar, menyambut setiap orang yang masuk ke dalamnya. Sudah semenjak satu pekan terakhir, gerbang Istana tidak pernah di tutup agar rakyat Swarnadwipa bebas keluar masuk ke dalam wilayah Istana.
Ketika kereta kuda memasuki Istana Kerajaan, mereka melihat ada banyak pedagang yang berjejer di sepanjang halaman atau juga jalan yang luasnya tiada terkira. Mereka berteriak-teriak, sambil menawarkan barang-barang mereka pada setiap orang yang lewat.
“Semuanya ada di sini?” Sungsang Geni bergumam kecil. “Mulai dari makanan, sampai perlengkapan perang.”
“Ya, Raja Saylendra mengundang semua pedagang untuk memeriahkan pesta ini.” Surailarang menjawab pertanyaan Sungsang Geni.
Ada banyak kereta dorong, yang ditarik oleh manusia berjejer rapi di sebelah kanan jalan Istana. Menurut Surailarang, dengan membayar satu keping emas mereka akan membawamu mengelilingi Istana Kerajaan.
Kereta kuda tetap berjalan pelan, dia tidak bisa bergerak cepat atau punggung beberapa orang akan menjadi pijakan kuda. Tapi tidak masalah, Cempaka Ayu dan Sungsang Geni bisa menikmati pasar Istana ini dengan leluasa.
“Tunggulah sebentar!” ucap Surailarang, dia menghentikan kereta kuda lalu memanggil salah satu pedagang makanan. “Bawakan padaku makanan paling enak yang kau miliki!”
Setelah berkata demikian, pedagang wanita itu membawa hampir sekeranjang makanan berbagai macam jenis, kemudian Surailarang menyerahkan satu koin emas kepada wanita itu.
“Ambillah makanan ini! menyenangkan jika melihat keramaian sambil mengunyah.” Surailarang tertawa kecil.
Setelah cukup lama berjalan, mereka menemukan sebuah bundaran dengan tiga patung manusia berdiri gagah yang seluruhnya terbuat dari emas. Patung Keluarga Kerajaan Swarnadwipa.
__ADS_1
Di sekeliling bundaran, terdapat kolam ikan warna-warni yang lumayan luas dimana pemuda-pemudi melempar koin dengan mata terpejam.
“Kenapa mereka melakukan hal itu?” tanya Cempaka Ayu penasaran.
“Itu di namakan kolam cinta, dengan melempar satu koin perunggu kau bisa meminta dewa kasih sayang menunjukkan siapa jodohmu.”
“Aku ingin melakukannya!” ucap Cempaka Ayu.
“Benarkah? ”
“Tentu saja, pinjamkan aku koin perunggu Paman!”
Surailarang kemudian menghentikan kereta kuda. Dia lalu pergi kesalah satu pedagang yang memberi jasa pertukaran uang perak dengan koin perunggu. 10 koin perak akan ditukar dengan 1 koin perunggu. Hanya di negri ini, koin perunggu lebih bernilai daripada koin perak.
Beberapa saat kemudian, Surailarang kembali lalu menyerahkan satu koin perunggu kepada Cempaka Ayu. Gadis itu bahagia bukan main, dia lantas berlari ke tepi kolam, dengan mata terpejam lalu melemparkan koin ditangannya.
“Ah...aku tidak percaya hal semacam ini.” Sungsang Geni turun dari kerta kuda kemudian berjalan untuk melihat-lihat tanpa peduli dengan kolam cinta yang diucapkan Surailarang.
“Jangan khawatir, aku akan segera kembali!” Suara Sungsang Geni terdengar sayu sebab dia sudah cukup jauh meninggalkan Surailarang.
Dilain sisi, Cempaka Ayu membuka matanya kemudian memperhatikan kolam seperti yang pemuda-pemudi lain lakukan. Cukup lama di menjongkokkan tubuh, tapi sosok orang yang mungkin menjadi jodohnya tidak terlihat di dalam kolam.
Pemuda-pemudi di sebelahnya tertawa bahagia, mungkin karena jodoh yang diharapkannya adalah orang disamping mereka, tapi ada pula yang menangis lalu bertengkar.
“Aku tidak melihat bayangan jodohku?” Cempaka Ayu mulai merasa kesal.
“Kau harus melempar koin dengan perasaan senang!” Seseorang tiba-tiba berada tepat disamping gadis itu, berwajah tampan, bertubuh besar tinggi serta mengenakan pakaian mewah. Terlihat seperti seorang pangeran. “Ma'afkan aku karena mengganggu dirimu gadis cantik.”
“Oh, tidak masalah...” Cempaka Ayu terasa canggung.
Gadis itu berusaha kembali melihat bayangan jodohnya di dalam kolam, tapi kakinya nyaris tergelincir sehingga pemuda tadi menarik lengan tangannya lalu tubuhnya mendarat tepat di pelukan pemuda itu.
Kejadian itu membuat semua orang menatap mereka berdua. Beberapa orang memuji kecantikan gadis itu, beberapa yang lain memuji wajah tampan sang pemuda.
__ADS_1
“Itu seperti Pangeran Minak Singo dari Kerajaan Sembilan.” Salah seorang gadis mengenali wajah pemuda itu.
“Ternyata lebih rupawan dari lukisan wajahnya.”
Cempaka Ayu kemudian tersentak, dia segera melepaskan dekapan Pangeran Minak Singo kemudian merapikan pakaiannya. “Terima kasih karena anda telah menyelamatkan aku.”
Pangeran itu tersenyum kecil, dia hendak mengatakan sesuatu tapi lidahnya sedikit kelu hingga akhirnya suara seseorang mengejutkan dirinya.
“Yang mulia, kita tidak bisa terlalu lama disini, kita harus menemui sang Raja.” Seorang pria tampak seperti pengawal mengingatkan tuannya.
“Baiklah, aku mengerti,” ucap Minak Singo, dia kemudian menatap Cempaka Ayu beberapa saat sebelum pergi. “Kita akan bertemu lagi, aku pastikan itu.”
Cempaka Ayu tidak menjawab, dia hanya membalas dengan anggukkan kepala. Setelah pemuda itu masuk kedalam kereta kudanya, gadis itu kembali menatap kolam untuk melihat bayangan jodohnya.
Namun alangkah terkejut dirinya, setelah melihat ada sosok bayangan yang menatap dirinya dari jauh dengan senyum pahit. Wajah jodohnya? Ya, dan sekarang suasana hati pemuda itu mungkin menjadi buruk.
Cempaka Ayu mendongakan kepala buru-buru, menemukan Sungsang Geni menatap dirinya dengan wajah kesal dari seberang kolam.
“Se...sejak kapan kau berada di sana?” Cempaka Ayu berkata terbata-bata.
“Ya...sejak kau berada dalam pelukan pemuda gagah itu.” jawab Sungsang Geni datar. “Apakah wajahnya yang kau lihat di dalam kolam?”
“Apa?”
“Kalau begitu selamat, kau akhirnya menemukan jodohmu.” Sungsang Geni kemudian melangkah menemui Surailarang dengan kesal.
“Bagaimana, apa kau menemukan sesuatu yang kau cari?” Tanya Surailarang.
“Ya,” ucap Sungsang Geni masih sempat tersenyum kecil. Tidak beberapa lama kemudian, Cempaka Ayu telah kembali, dia hendak berkata sesuatu kepada Sungsang Geni, tapi pemuda itu membuang muka dari wajahnya.
“Paman, kita lanjutkan perjalanan!” Sungsang Geni berkata pelan setelah Cempaka Ayu memasuki kereta kuda. “Dia sudah menabuh genderang perangnya.”
“Perang?” Surailarang bingung tujuh keliling. “Perang apa yang anda maksud tuan?”
__ADS_1