
Ada lebih seribu pasukan Kelelawar Iblis berusaha masuk kedalam tembok melalui gerbang. Tapi sejauh ini tidak ada kesempatan bagi mereka. Di dalam gerbang, formasi mirip seperti kura-kura, prajurit menahan gerbang dari dobrakan.
Formasi itu sebenarnya bukan diperuntukan untuk menahan gerbang. Formasi itu digunakan untuk memancing lawan masuk ke dalam formasi yang mirip lingkaran dan dibantai bersama-sama.
Sementara itu formasi elang adalah para pemanah yang menghujani lawan dari atas tembok. Bukan hanya panah, mereka menghujani musuh dengan tombak-tombak besar.
Sejauh ini musuh belum berhasil masuk ke dalam Markas, hingga tiba-tiba di pihak musuh muncul manusia tinggi besar berlari dengan cepat seperti gajah. Bukan, tapi seperti gorila. Ukuran tubuh pria itu jelas dua kali lebih tinggi dari ukuran manusia normal.
Dia memiliki otot besar yang berurat-urat. Dengan pelindung baja terletak di bagian bahunya, pria itu menghantam gerbang hingga bergetar hebat.
Dum...dum...dum...pria itu memiliki kekuatan setingkat tanpa tanding. Jika tidak, mustahil dia bisa menggegerkan gerbang hanya dengan bahunya.
“Bunuh orang itu!” teriak Mahesa. “Jatuhkan dia apapun yang terjadi, karena jika tidak gerbang akan....”
Belum usai pria itu berkata, gerbang terbelah menjadi dua. Serpihan gerbang bahkan memiliki tekanan tinggi sehingga formasi kura-kura di balik gerbang berantakan setengah bagian.
“AHHKKKK!” Pria kekar itu berteriak, memperhatikan ribuan prajurit yang sudah bersiap menyambut kedatangan dirinya. “Aku akan menghancurkan pilar bangunan kalian!”
“Ini tidak baik, dia harus dihentikan!” Mahesa melompat cepat dari atas tembok Markas, menghadang pria itu. Luar biasa tinggi dan besar, Mahesa hanya setinggi perut dirinya.
Dengan tatapan bringas dia berlari bagai **** terluka ke arah Mahesa. Dengan tubuh sebesar itu, langkah kaki pria besar itu terlihat lambat tapi sebenarnya sangatlah cepat.
"Dia seperti kuda hitam yang membuka jalan bagi pasukannya."
Dengan kepalan tinju yang hampir sebesar paha Mahesa, dia menyerang dengan brutal. Mahesa terpental puluhan meter dan merusak formasi kura-kura yang dia bangun. Tubuhnya seperti baru saja dihantam beban berat.
__ADS_1
Berdiri dengan dada sedikit sempit, Mahesa melirik ke arah ribuan pasukan di belakang pria raksasa yang mulai merusak dan menyerang apapun di depan mata mereka.
“Sangkar Burung!” teriak Mahesa menginstruksikan agar para prajuritnya menghadang gelombang musuh yang menyusul melewati pintu gerbang, dan membiarkan musuh yang telah masuk untuk diserang bersama-sama.
Di atas tembok Sabdo Jagat belum bereaksi, kecuali memberi perintah untuk menghujani lawan yang akan memasuki pintu gerbang. “Jangan biarkan siapapun masuk ke dalam gerbang, sebelum pasukan Mahesa berhasil membunuh lawannya!” perintah Sabdo Jagat.
Sekarang meski rencana mereka tidak berjalan dengan lancar, tapi sekitar 2 ribu musuh yang masuk kedalam gerbang sudah dikepung dari beberapa sisi. Setidaknya ada lima sisi yang jumlahnya hampir seribu orang setiap sisinya.
Mahesa masih berpikir, jika pasukan miliknya gagal menghabisi mereka semua. Maka bangunan utama yang berada 150 meter dari mereka akan hancur berkeping-keping. Ini adalah halaman depan markas, dan hanya tempat ini yang paling bagus untuk berperang.
Dari atas gerbang tidak terlalu ada ruang bagi kedua pasukan itu. Tentu saja, sekarang didalam tembok Markas penuh sesak dengan pertarungan. Sementara itu Sabdo Jagat masih sibuk menghalangi barisan susulan yang mencoba masuk ke dalam tembok.
Mahesa sekali lagi beradu pukulan dengan pria besar yang diyakini sebagai wakil komandan itu. Dan jika tebakannya benar, pria inilah yang telah melemparkan banyak pohon ke arah Surasena.
“Rasakan ini!” teriak Mahesa melompat sedikit dan berhasil mendaratkan kepalan tinju di arah dagu lawannya. Kepala pria kekar itu terdongak sesaat, berniat menyerang balik tapi Mahesa segera berkelit menghindar.
Pria kekar hampir jatuh ke tanah, tapi lutut kirinya menahan agar hal itu tidak terjadi. Dua kali pukulan menghantam pipi kirinya, dan itu membuat satu giginya tanggal.
Tapi serangan ke tiga miliki Mahesa berhasil ditangkis dengan telapak tangan. Mahesa tersentak, sedikit terkejut karena kepalan tangannya tidak bisa ditarik.
“Cuih..” pria itu meludahkan gigi, tersenyum sinis sebelum menghempaskan Mahesa seperti mahluk tak berharga.
“Tubuh dewa perang!” ucap Mahesa mencoba melindungi tubuhnya.
Pria itu menyudahi aksinya dengan melempar tubuh Mahesa cukup jauh, hampir 50 depa. Dan itu berhasil menyapu sebaris prajurit Surasena. Mahesa berhenti setelah dua jengkal lagi akan menghantam tiang sebuah bangunan.
__ADS_1
“Hah...” Dia mendesah berat, tubuhnya terasa mati rasa untuk sesaat. Jika bukan karena tubuhnya yang sangat keras, pastilah saat ini pria itu sudah muntah darah. “Boleh juga, tapi akan kubalas kau!”
Mahesa menghentakkan kaki, kemudian berlari secepat mungkin ke arah lawannya. Pria itu mengeraskan rahang, dan dia menemukan ancang-ancang yang cukup baik. Kepalan tinju pria itu berhasil memasuki pertahanan lawannya, membuat Tubuh pria besar itu terpental dengan keras.
Hampir saja tubuhnya menghantam ratusan prajaurit Surasena yang menghadang pintu gerbang.
“Pukulan yang keras!” Salah satu prajurit di atas tembok Surasena terkejut bukan kepalang setelah mendapati pria besar keluar dari tembok Markas. Lawan Mahesa masih melayang puluhan depa, hingga jatuh berguling dan menghantam ratusan prajuritnya.
Terbentuk siring seukuran dirinya sepanjang hampir 50 depa. Di ujung siring itu, pria besar meringis kesakitan. Tidak menyangka ada manusia kerdil yang berhasil menghajar dirinya sampai begitu parah.
Di dalam Markas, Mahesa bisa melihat lawannya masih hidup. Seperti telah kerasukan setan, pria itu berlari dengan cepat, melangkahi ribuan orang yang sedang bertarung di dalam Markas, melewati celah gerbang yang terbuka lebar.
Satu pukulan kembali mengenai wajah pria itu hingga kepalanya tertanam cukup dalam di permukaan tanah. “Rasakan ini! rasakan ini! rasakan ini!” pekik Mahesa sambil tak henti-hentinya menghantam kepala musuhnya.
Getaran yang terjadi akibat pria itu cukup terasa. Bahkan dalam radius 5 depa, banyak prajurit Kelelawar Iblis mengalami gempa besar. Mereka kesulitan berdiri dengan benar.
“Dia lebih gila dari yang terlihat!” ucap Sabdo Jagat. “Tapi...”
Pria itu menghentikan ucapannya setelah satu orang lagi pria besar datang dari ujung mata, berlari dengan cepat seperti badak. Sasaran pria itu jelas adalah Mahesa. Tidak tahu apakah mereka itu adalah sama-sama raksasa, tapi yang jelas mereka berdua terlihat sangat mirip.
“Tongkat Penghancur Gunung!” Sabdo Jagat berteriak, lalu melompat dari tembok markas seperti kilatan petir.
Dentuman energi terdengar memekakkan. Tongkat penghancur gunung berhasil menghajar leher pria besar itu, membuatnya terpukul mundur sejauh 30 depa. Pria itu menghantam hampir seratus orang prajurit Kelelawar Iblis, menciptakan siring besar akibat hentakkan telapak kakinya yang besar.
“Rupanya kau memiliki kembaran?” maki Mahesa setelah menghentikan serangan. “Dasar..Oh...ahkkk...” Mahesa terpekik sesaat, tiba-tiba pria besar yang dihajarnya berhasil memberikan pukulan tepat di kantong menyan.
__ADS_1
Sabdo Jagat terkejut, tentu saja akan terasa sangat sakit. Itu adalah bagian pria yang paling rawan, tidak bisa dibayangkan bagaimana rasa sakitnya dihajar oleh pria raksasa?