
“Sungguh, aku bukan musuh kalian.” Ucap Sungsang Geni masih mengangkat tangan. “Aku adalah pengembara yang baru saja melewati tempat ini. Percayalah aku bukan orang jahat.”
Salah satu yang terlihat sebagai pemimpin rombongan itu menatap bawahannya beberapa saat, kemudian menyarungkan pedangnya tanpa menurunkan kewaspadaan. “Siapa namamu anak muda?”
“Sung...” Sungsang Geni tidak melanjutkan ucapannya, dia menjadi bingung sebab wajahnya sudah berubah dari Sungsang Geni yang dahulu.
Jika saja ternyata ada orang yang mengenal wajah dirinya dahulu, dan mendapatkan wajahnya sekarang sudah berbeda maka dia pasti dituduh pembohong.
“Kenapa kau diam anak muda?” timpal salah satu teman mereka. “Katakan siapa namamu?”
“Aku dijuluki sebagai Jaka Geni, benar itulah namaku,” ucap Sungsang Geni, dia menunggu beberapa lama siapa tahu mereka tidak percaya.
“Namamu mirip dengan raja Tombok Tebing yang hilang setahun lalu.”
“Bukankah namanya Sungsang Geni?” sanggah temannya lagi.
“Yang kau katakan benar, lagipula dia mungkin sudah lama mati ketika berhadapan dengan komandan Kelelawar Iblis, bukan?” ucap yang lainnya. “Sangat disayangkan pemuda sehebat dirinya gugur lebih dahulu dari pada kita.”
“Kisanak...” ucap Sungsang Geni. “Bolehkah saya tahu kenapa banyak desa terbakar, sebelumnya saya juga menemukan satu desa terbakar dari arah sana.”
“Sebenarnya kau ini berasal dari mana anak muda?” timpal pimpinan kelompok itu. “Sudah semenjak 8 bulan yang lalu Kelelawar Iblis menyatakan diri sebagai penguasa semua kerajaan dari dataran Javadwipa.”
“Apa?” sungsang Geni jadi sangat terkejut mendengar perkataan pria itu.
Dari informasi yang diberikan pria itu, Sungsang Geni mengetahui gambaran situasinya saat ini. Dan itu tidak membuat dirinya tenang.
8 bulan yang lalu, Kelelawar Iblis menyerang sisi timur dataran Javadwipa dari wilayahnya Surasena. Pada awalnya pasukan Surasena, dibantu dengan serikat pendekar berhasil bertahan 10 hari di sana.
Namun tanpa diduga, ketika Surasena dan Serikat Pendekar menggiring pasukan Kelelawar Iblis menuju pantai, bala bantuan mereka datang dan berhasil mengalahkan hampir 1000 pendekar di pihak Surasena.
Rupanya tanpa diduga, Kelelawar Iblis memiliki sekutu dari dataran Malaya. Itu adalah bala tentara yang sangat besar, yang terdiri hampir 500 pendekar tanpa tanding yang memimpin armada besar terdiri dari 100 kapal.
Bahkan Surasena beserta Serikat Pendekar tidak bisa mengumpulkan 100 saja pendekar tanpa tanding saat ini.
__ADS_1
Keadaan diperparah dengan pembrontakan 5 kerajaan dibawah kekuasaan Surasena. Salah satu dari kerajaan itu pada akhirnya diketahui sebagai otak yang menciptakan kelompok Kelelawar Iblis.
Lima kerajaan yang tersisa dibawah kekuasaan Surasena akhirnya hancur hanya dengan waktu 8 bulan saja, termasuk kerajaan Majangkara dan Tombok Tebing. Mendengar hal itu Sungsang Geni menjadi cemas.
“Bagaimana keadaan Ki Alam Sakti dan pangeran Dewangga?” tanya Sungsang Geni.
“Mereka dikabarkan selamat, tapi Ki Alam Sakti mendapatkan luka yang cukup berat.” Jawab mereka, membuat seluruh rahang Sungsang Geni keras saking marahnya.
Para pemimpin kerajaan akhirnya meminta perlindungan kepada Lakuning Banyu sebagai pimpinan tertinggi mereka. Sedangkan jabatan raja berganti posisi menjadi adipati.
Tentu saja tidak ada yang mau menurunkan jabatan raja menjadi adipati, tapi tidak ada pilihan lain. Dibanding bergabung dengan Kelelawar Iblis lebih baik mereka bergabung dengan Surasena.
Pria itu melanjutkan ceritanya. Semenjak penyerangan besar-besaran yang dilakukan Kelelawar Iblis, Surasena dan Serikat Pendekar terpaksa bertahan di sisi barat dataran java.
Mereka tidak bisa melanjutkan pelarian, sebab terhalang dengan terjalnya medan pegunungan kerakatau. Bagi pendekar tingkat tinggi, melalui medan tersebut bukan perkara sulit tapi Surasena juga membawa ribuan rakyat yang tersisa bersama mereka.
“Jadi kalian memang sengaja membakar setiap perkampungan agar tidak di manfaatkan oleh Kelelawar Iblis?” ucap Sungsang Geni.
“Benar sekali, ini adalah perintah dari Raja Lakuning Banyu.”
Dataran Suarnadwipa dan dataran java terhalang oleh pegunungan krakatau, yang diapit oleh lautan dalam. Jika permintaan Lakuning Banyu di terima oleh raja penguasa dataran Suarnadwipa maka kemungkinan bertahan melawan Kelelawar Iblis terbuka lebar.
Tapi sejauh ini mereka sebenarnya tidak begitu banyak mendapakan informasi mengenai dataran itu. Sekarang tinggal berharap, setidaknya mereka mau membantu pengungsian rakyat Surasena.
Sungsang Geni menarik napas dalam setelah mendengar perkataan pria itu. bagaimanapun ini adalah situasi yang sangat krisis, sudah puluhan ribu orang yang tewas. Ini bukanlah penaklukan lagi, tapi ini adalah pembantaian. Tapi penaklukan memang berkawan dengan pembantaian.
Sungsang Geni mengepal erat telapak tangannya, menahan marah. Jikapun dia masih bertahan 1 tahun yang lalu, situasinya tetap akan sama. 500 pendekar tanpa tanding yang mereka bawa bukanlah hal yang yang bisa dianggap remeh.
“Jadi kalian semua adalah serikat pendekar?” tanya Sungsang Geni.
“Benar anak muda. Misi kami adalah membawa sebanyak mungkin rakyat menuju tempat pengungsian.”
“Berapa lama kira-kira dari sini ke tempat pengungsian?”
__ADS_1
“3 Bulan lamanya, mengingat mereka semua adalah rakyat lemah.”
Sungsang Geni menarik napas lagi dalam-dalam, 3 bulan bukan waktu yang singkat. Bagaimana dengan makanan dan air. Hanya mereka yang kuat yang bisa bertahan selama 3 bulan dalam perjalanan.
“Apa semua wilayah sudah kalian ungsikan semuanya?”
“Ini adalah 3 desa terakhir yang kami bawa.” Ucap Pria itu. “Jumlahnya mungkin sekitar 500 orang. Sedangkan rombongan ketiga, sepertinya beberapa hari lagi akan memasuki wilayah aman. Kemudian disusul rombongan lain, hampir 100 rombongan total keseluruhannya.”
“Anak muda, kami akan segera pergi. Jika kau ingin selamat sebaiknya bergabung dengan kami.” ucap orang-orang tersebut.
Sungsang Geni menerima tawaran prajurit dari serikat pendekar itu. Meski secara garis besar orang-orang tersebut sudah memberi informasi, tapi Sungsang Geni masih membutuhkan lebih banyak lagi berita.
“Ketika perang, informasi lebih berharga dari nyawa manusia!” gumam Sungsang Geni. "Lagipula, eyang guru sedang membutuhkan bantuanku."
Jika dugaan Sungsang Geni benar, pasukan Kelelawar Iblis sekarang sedang merayakan pesta kemenangan. Mereka tidak akan menyerang untuk beberapa bulan kedepan meski mereka mengetahui perjalanan para pengungsi.
Mungkin saja hanya ada prajurit-prajurit rendahan yang bertugas mengacaukan pengungsian.
Sungsang Geni yakin, mereka berniat membiarkan semua orang berkumpul baru kemudian menyerang tanpa tersisa.
Ini seperti memberi harapan palsu bagi rakyat Surasena. Seperti mengumpulkan seluruh gabah dalam lesung, kemudian menumbuknya. Kelelawar Iblis membiarkan semua orang berkumpul, kemudian menghancurkan tanpa tersisa.
"Dengan pasukan sebesar itu." ucap Sungsang Geni, "aku yakin mereka akan melakukan serangan terakhir tanpa tersisa."
Jika Kelelawar Iblis bisa menghancurkan kekuatan Surasena pada saat puncaknya, maka mau tidak mau seluruh rakyat yang tersisa akan berkecil hati dan pada akhirnya berpihak kepada kelelawar iblis.
“Mereka tentu tidak akan membunuh semua rakyat?” Gumam Sungsang Geni. “Mereka butuh penonton untuk menyaksikan kekuatan mereka. Lagipula raja macam apa yang tidak memiliki rakyat?”
“Jaka Geni!” Salah seorang dari mereka menawarkan tumpangan kuda. “Naiklah denganku! Jarak antara kita dengan barisan pengungsian cukup jauh.”
“Terima kasih Kisanak.” Pemuda itu tersenyum kecil.
Mereka kemudian segera berlalu menuju barat. Rentak kaki kuda bergemuruh, melewati perkampungan yang telah ditinggal semua penduduknya. Sungsang Geni sama sekali tidak menyangka, Kelelawar Iblis bahkan melakukan pembantaian besar-besaran.
__ADS_1
Jika menurut teman-teman cerita ini cukup layak, maka bantu author memperjuangkan. Shere jika kalian memiliki kesempatan, like dan coment.