
Surailarang menyewa sebuah bangunan yang cukup besar untuk tiga orang manusia, memiliki halaman belakang yang cukup lebar untuk meletakkan Panglima Ireng. Meski bangunan itu tidak begitu mewah dari pada penginapan di sebrang jalan, tapi letaknya cukup dekat dari rumah makan atau pusat keramaian.
Dari sini, mereka sudah melihat Istana menjulang tinggi dengan puluhan menara-menara yang di jaga hampir 6 orang prajurit. Istana yang besar nan gagah, berwarna kuning terang yang mungkin di lapisi dengan emas.
Meski sudah terlihat di depan mata, tapi untuk memasuki Istana bukanlah perkara yang mudah. Ada banyak penjaga, bahkan mereka meletakkan beberapa ekor binatang seperti harimau dan macan kumbang di titik-titik tertentu.
Pemuda yang barusan berjumpa dengan Cempaka Ayu terlihat memasuki Istana Swarnadwipa, beberapa pelayan terlihat sibuk menyambut kedatangan Pangeran Negri Sembilan itu.
Sungsang Geni jelas melihatnya, dia menarik napas berat kemudian segera berlalu ke dalam kamar yang ditunjukan oleh Surailarang.
“Tuan pendekar istirahatlah dengan nyaman!” Surailarang membuka pintu kamar lalu menyilahkan pemuda itu masuk.
“Rumah siapa ini, bukannya di lingkungan Istana tidak boleh mendirikan bangunan?” Sungsang Geni tampak heran.
“Ini adalah rumah salah satu pejabat kerajaan yang kebetulan kenalanku. Tapi dia dan keluarganya tidak tinggal disini, dia tinggal di dalam Istana. Dia sengaja membuat rumah ini, jika saja ada kerabat yang menjenguk dirinya.”
“Jadi yang disana juga rumah pejabat?” Sungsang Geni menunjuk deretan bangunan berbaris rapi.
“Ya, itu adalah bangunan bagi pejabat dan prajurit yang memiliki jabatan tinggi.” ucap Surailarang.
Sungsang Geni tidak berniat melanjutkan percakapan, hatinya yang kesal membuat pemuda itu berniat merebahkan tubuhnya diatas pembaringan yang terlihat cukup nyaman.
“Kalau begitu saya tinggal dulu, tuan Pendekar.” Surailarang lantas menutup pintu kamar Sungsang Geni.
Di sisi lain, Cempaka Ayu terlihat sangat risau semenjak kejadian di kolam tadi. Dia beberapa kali berusaha memejamkan mata, tapi wajah kesal Sungsang Geni selalu mengganggu pikirannya.
“Dia benar-benar marah soal itu?” ucap Cempaka Ayu sambil sekekali menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Padahal aku melihat wajahnya didalam kolam jodoh, tapi dia menjadi salah sangka.”
Gadis itu berdiri, lalu duduk kemudian merebahkan badan setelah beberapa menit dia kembali berdiri. Entah sampai kapan dia melakukan hal itu berulang-ulang, yang jelas dia tidak bisa duduk dengan tenang saat ini.
Setelah beberapa lama, terdengar suara gedoran pintu mengejutkan dirinya.
__ADS_1
“Siapa?” Cempaka Ayu bertanya, seraya merapikan pakaiannya.
“Ini aku, apa kau punya sedikit waktu?”
Mendengar Suara Sungsang Geni diluar sana, wajah gadis cantik itu menjadi tegang. Kepalanya diliputi dengan sejuta tanda tanya saat ini.
Masih dengan perasaan tidak menentu, Cempaka Ayu membuka pintu kamarnya. Sungsang Geni tersenyum kecil melihat gadis itu, kemudian tanpa berkata apapun segera menarik tangan Cempaka Ayu menuju bangunan yang menjual segala jenis makanan.
Meski masih diliputi perasaan tidak menentu, tapi wajah Cempaka Ayu mendadak sumringang menyadari Sungsang Geni bahkan tidak melepaskan genggaman di telapak tangannya.
“Bibi, apa makanan terbaik di tempat ini?” ucap Sungsang Geni bertanya pada nenek tua yang sibuk melayani pembeli.
“Kalian pasti bukan dari negri ini?” tanya Nenek itu. “Duduklah! aku akan menyiapkan bubur jamur paling enak untuk kalian.”
Sungsang Geni memilih duduk di dekat jendela yang terbuka lebar, sementara Cempaka Ayu duduk tepat di hapannya. Suasana jalanan masih penuh sesak oleh para pejalan kaki, tapi tidak menghilangkan keindahan Istana yang menjulang tinggi.
“Geni, aku tidak bermaksud untuk....”
“Lupakan saja hal itu!” ucap Pemuda itu sambil tersenyum manis. “Kau tidak melakukannya dengan sengaja bukan? Jadi lupakan saja hal itu, aku tidak ingin waktu sempit yang kita miliki dipenuhi dengan pertengkaran.”
Tidak beberapa lama, bubur jamur yang di tawarkan nenek pelayan datang. Dua mangkuk besar bubur jamur, beraroma harum menggugah selera.
“Semoga kalian menyukainya.” Nenek Pelayan lantas pergi meninggalkan mereka berdua, kembali melayani para pembeli yang mulai tidak sabar.
Baru dua atau tiga suap mencicipi bubur jamur, Sungsang Geni menangkap obrolan tidak mengenakan yang berasal dari lantai dua bangunan ini. Pemuda itu bahkan terdiam beberapa saat untuk memastikan telinganya tidak salah.
“Cempaka! Aku rasa akan ada keributan besar di Istana ini.”
***
Sekitar 15 prajurit dari kerajaan lain sedang berkumpul di lantai atas rumah makan. Mereka sedang berbisik-bisik, membicarakan topik penting yang membahas tentang penculikan Cucu Saylendra.
__ADS_1
Salah satu dari mereka memiliki jabatan sebagai Senopati, bersenjata tombak panjang dengan pakaian yang dipenuhi dengan rantai-rantai sebagai zirah melindungi tubuhnya. Senopati itu memiliki tenaga dalam sebesar 2 jule, atau setingkat pendekar tanpa tanding dengan 4 cakra yang telah terbuka.
“Pangeran Minak Singo telah memasuki Istana Kerajaan.” Salah satu dari prajurit itu berbisik pelan, nyaris tidak terdengar. “Pesta rakyat akan diadakan esok hari, tapi Pangeran Minak Singo belum memberikan perintah untuk bergerak. Bagaimana menurut anda Senopati Legam?”
Pria yang dipanggil Senopati Legam belum menjawab, dia masih berpikir cukup keras. Kemudian dia menoleh ke beberapa sisi ruangan itu, lalu berkata pelan. “Jika Pangeran Minak Singo tidak memberikan kita perintah, maka kita akan bergerak sendiri.”
“Resiko ketahuan sangat besar, Senopati?” salah satu prajurit berkata.
“Yang kau katakan benar, tapi aku punya cara lain.” Senopati Legam lantas tersenyum kecil, di ikuti dengan yang lain.
Namun tanpa mereka sadari, Seorang pemuda telah menguping semua pembicaraan itu tanpa ketahuan. Sungsang Geni buru-buru menyelesaikan makannya, kemudian mengajak Cempaka Ayu kembali lagi menemui Surailarang.
“Tuan pendekar, kenapa tuan sudah kembali?” Surailarang yang baru saja akan memejamkan mata seketika terkejut bukan kepalang.
“Ada orang yang akan menculik cucu Saylendra.” Sungsang Geni berbisik pelan.
Baik Cempaka Ayu dan Surailarang tiba-tiba terkejut mendengar perkataan pemuda itu. di saat penjagaan seketat ini, hanya orang bodoh yang mau menculik cucu seorang penguasa.
Keraguan jelas terlihat di wajah Surailarang, bagi pria itu tidak akan ada orang yang cukup gila meski di beri upah satu peti emas untuk menculik anak singa dari indukya, tidak akan ada!
“Geni, kenapa tiba-tiba kau mengatakan hal itu?” tanya Cempaka Ayu, wanita itu juga tampak meragukan Sungsang Geni.
“Aku mendengarnya sendiri, dari mulut Senopati yang bernama Lagam.” Sungsang Geni lantas menceritakan segal hal yang dia dengar di lantai dua ketika mereka sedang menyantap makanan.
“Mereka dari negri Sembilan.” Surailarang mengelus dagunya. “Kenapa mereka berniat menculik cucu Raja Saylendra?”
“Mereka berniat mengkambing hitamkan salah satu kerajaan, dengan begitu akan terjadi perperangan.” Sungsang Geni berkata dengan penuh keyakinan.
“Meminjam tangan orang lain untuk menghilangkan noda darah ditangan sendiri.” Cempaka Ayu mulai mengerti maksud dari perkataan Sungsang Geni.
“Bahkan lebih parah dari itu, mereka ingin menghancurkan dua kerajaan sekaligus.” Sungsang Geni tersenyum sinis. “Taktik yang cukup hebat!”
__ADS_1
Note: Ini adalah char terakhir sebelum terjadi perperangan besar antara Pasukan yang dipimpin Sungsang Geni dengan pasukan Kelelawar Iblis dan sekutunya. Cahar ini adalah pengantar, jadi harap tidak jenuh membacanya.
Jika diperkirakan, cerita ini sudah setengah jalan. Harap untuk selalu mendukung PDM dengan cara apapun, author menghargai setiap dukungan kalian.