PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Kehancuran dua Markas


__ADS_3

Dilain sisi, Buyung Upiak merasakan dadanya seperti di himpit beban berat. Pandangannya gelap, napas sesak serta seluruh kepala terasa sakit. kemudian pada saat itu, dua kali dia menyemburkan darah dari mulutnya.


Yang berfungsi dari indra dia saat ini hanyalah telinganya, jadi dalam keadaan seperti itu dia masih bisa mendengar suara para bawahannya menyebut 'Pimpinan Buyung Upiak, apa kau baik-baik saja?'


Tentu saja tidak sedang baik-baik saja, bodoh sekali pikir orang tua itu. Jika saat ini dia memiliki sedikit saja tenaga dalam, orang tua itu berniat membunuh semua bawahannya. Ikut mati ke alam baka. Alasannya hanya satu, harta yang dia simpan di markas miliknya, tidak boleh ada satupun yang menguasainya. Sebuah keinginan konyol.


3 menit dia menahan rasa sakit yang teramat sangat, tapi ajalnya belum juga tiba. Takdir seperti sedang ingin menyiksa tubuhnya sebelum dia benar-benar mati. Tiga menit itu seperti 3 jam baginya.


Tapi kemudian sayu-sayu dia mendengar rentak kaki kuda yang bergemuruh, datang mendekat dan berteriak menyuarakan pertempuran.


Pasukan Chandrak yang lainkah? Pikirnya, bukankah dia sudah mengalahkan 4 desa dibawah pimpinan pria itu?


Tidak beberapa lama setelah mendengar suara gemuruh kuda itu, Buyung Upiak kehilangan kesadarannya.


Sungsang Geni mengepung pasukan itu dari segala penjuru, menunjukkan kekuatannya yang besar kepada musuhnya.


Pemuda itu juga tidak segan-segan melepaskan aura membunuh yang luar biasa pekat, pada semua orang prajurit Kelelawar Iblis yang masih hidup.


“Si-siapa kalian?” Tanya salah satu prajurit itu, mereka meraih senjata apapun yang bisa digunakan untuk melawan.


“Kami akan menguasai tempat ini!” Sungsang Geni tidak mengurangi sedikitpun aura membunuhnya, membuat semua orang menjadi ketakutan. “Sekarang siapa pemimpin kalian?”


Prajurit yang berjumlah kisaran 200 orang lagi, menunjuk Buyung Upiak yang sudah tergeletak tidak sadarkan diri di tanah, barang kali saat ini sudah mati.


Sungsang Geni melirik sesaat, kemudian dia tersenyum kecil. “Tempat ini sekarang menjadi milik Bayangkara, siapapun yang ingin melawan silahkan maju. Aku siap membunuh kalian semua, dan asal kalian tahu srigalaku saja bisa menghabisi kalian semua.”

__ADS_1


Panglima Ireng menggeram bangga ketika Sungsang Geni memuji dirinya, kemudian dia mengendus beberapa kali, lalu menunjukkan taringnya yang tajam.


Salah satu dari 4 orang terkuat dibawah pimpinan Buyung Upiak maju dua langkah ke depan. Tiga temannya yang lain sudah tewas, jadi dia yang mengambil alih pasukan yang tersisa.


Orang itu sangat bodoh, karena dia yang paling kuat saat ini, jadi ingin menunjukkan kekuatannya pada Sungsang Geni.


“Orang Asing,” dia berkata angkuh. “Meski aku sedang terluka seperti ini, tapi tidak masalah...”


Perkataan pria itu berhenti seketika kemudian jatuh tersungkur di tanah dengan darah yang bersimbah. Dia tidak sempat menyadari, sebuah kerikil kecil melayang dengan kecepatan tinggi baru saja menghancurkan batang lehernya.


Sungsang Geni menaikkan alis, kemudian menoleh ke arah Cempaka Ayu yang belum menurunkan telunjuknya. “Dia terlalu banyak bicara,” ucap Gadis itu kesal.


“Yah, kau benar.” Sungsang Geni melirik Mahesa kemudian tersenyum kecil, lalu kembali menatap 200 prajurit yang terpojok di tengah-tengah. “Kalian sudah lihat, kami bisa menghabisi kalian dengan hanya kerikil kecil. Jadi sekarang aku beri kalian 2 pilihan, tinggalkan tempat ini, atau tetap disini menjadi budak?”


Semua orang terdiam tidak bersuara, mereka jelas lebih memilih untuk meninggalkan tempat ini, tapi Sungsang Geni kemudian melanjutkan ucapannya.


“Kami tidak akan memberi tahu mereka, benarkan teman-teman?”


“Benar sekali, kami akan menutup mulut dengan rapat.” Para prajurit itu mulai membuka mulutnya.


Empu Pelak terkekeh kecil, kemudian berjalan dengan perlahan mendekati rombongan itu. “Jika kalian pergi itu artinya kalian harus mati, tapi jika kalian tetap disini kalian akan menjadi budak? Mana yang kalian pilih?”


Tidak membutuhkan waktu lama, semua orang mengatakan siap menjadi budak, kecuali hanya beberapa orang yang cukup bodoh melarikan diri dari tempat itu. Mereka sekitar 20 orang, berlari tunggang langgang menuju hutan di belakang Markas.


Sungsang Geni hanya menggelengkan kepala, kemudian memberi isyarat kepada Cawang Wulan untuk menghabisi mereka. Gadis itu tidak membantah, dia melompat pada bangunan paling tinggi di markas itu.

__ADS_1


Dari tempat ini dia bisa melihat 20 orang itu berjarak 200 meter dari ujung mata panahnya. Begitu cepat hampir tidak bisa dilihat, 20 anak panah lepas secara beriringan tepat di bagian otak kecil mereka.


Setelah melakukan hal itu, Cawang Wulan segera turun dan mengarahkan mata panahnya pada salah satu prajurit yang paling ketakutan diantara yang lain. “Larilah jika kalian mampu, aku ingin lihat apakah kaki kalian lebih cepat dari mata panahku.”


Seketika pula, 180 prajurit Kelelawar Iblis menjatuhkan semua senjata. Mereka serentak ingin menjadi budak, daripada mati tentunya.


Sungsang Geni mendesah napas lega, hari ini dia tidak harus membunuh semua orang ini. Kemudian dia berjalan masuk kedalam markas kecil, diiringi dengan Mahesa dan Empu Pelak.


Sementara itu tugas pertama para budak adalah membantu para prajurit mengumpulkan mayat di padang rumput yang letaknya di belakang markas kecil. Belum ada keputusan, apakah mayat-mayat mereka akan dibakar atau dikuburkan.


Sungsang Geni menemukan sebuah ruangan yang menyimpan semua harta rampasan. Jumlahnya tidak kalah banyak dengan harta yang tersimpan di dalam ruangan Buyung Upiak. Ada lebih dua peti koin emas, dan lebih banyak lagi perhiasan.


“Ini pasti harta yang berhasil mereka rampas dari para warga.” Sungsang Geni bergumam pelan, sambil meraup segenggam koin emas yang tidak berarti di matanya. “Kita akan menguburkan semua harta ini, mungkin suatu saat nanti bisa berguna.”


Mahesa tidak membantah, dia setuju dengan hal itu. Saat ini memang tidak terlalu berharga, tapi ke depannya harta bisa menjadi senjata untuk menguasai suatu wilayah.


Kemudian mereka bertiga menyusuri sebuah lorong kecil dan sedikit pengap. Sungsang Geni bisa mendengar suara teriakan dari dalam lorong itu, dugaannya mengatakan itu adalah para tahanan.


Ketika di ujung lorong, sebuah pintu besi yang dirantai dengan gembok besar menghadang langkah kaki. Mahesa dengan pukulannya menghantam pintu itu hingga hancur.


Ada banyak pria tua yang mereka temui di dalam ruangan itu, dan hanya beberapa yang muda. Hampir tidak ada wanita di sana, kecuali dua nenek tua.


Sungsang Geni kemudian buru-buru menemui salah satu budak tahanan, “Dimana para wanita kalian sembunyikan?”


“Kami tidak menyekap mereka tuan,” Salah satu budak memberanikan diri menjawab pertanyaan pemuda itu. “Semua wanita dikirim ke markas cabang, “

__ADS_1


Sungsang Geni menampar pintu markas dengan keras, membuat pintu itu langsung saja retak dan hancur. Dia tahu apa yang direncanakan Kelelawar Iblis, ingin menghabiskan semua pribumi di dataran Java dan menggantinya dengan Ras Negri Sembilan.


Hai-hai masih suka baca PDM? Yuk dukung terus dengan memberi vote sebanyak-banyaknnya, minggu kemarin rank PDM anjlok banget, siapa tahu minggu ini ada yang berkenan menaiknnya. Tapi gak maksa lo, nanti ada yang nyinyir, bilang author pengemis.


__ADS_2