PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Hujan Jarum


__ADS_3

Melihat Ki Lodro Sukmo, Gerahang Jegar berniat menghadapi pak tua itu. Menurutnya Ki Lordro Sukmo Harus Bertanggung jawab atas kematian saudaranya, Gerahang Petak. Namun sebelum dia melangkah pergi, seseorang meluncurkan jurus seperti sebuah patukan yang amat kuat mengenai batang lehernya.


Serangan itu membuat dia tertahan sejenak, tangannya mencengkram batang leher yang perih lagi sakit.


Gerahang Jegar mendapati Bangau Putih telah berdiri di hadapannya, dengan jurus bangau yang baru saja mendarat di batang leher pria itu. Setelah beberapa menit, Gerahang Jegar menggerak-gerakkan lehernya, kemudian terdengar suara krek dari setiap ruas tulang leher.


“Aku ingin kau melawanku saja.” Bangau Putih berkata datar.


“Kau!” Gerahang Jegar menahan nada suaranya, emosinya benar-benar berada dipuncak. “Baiklah, aku akan menghabisimu terlebih dahulu baru kemudian membunuh pak tua jahanam itu.”


Setelah berkata demikian, Gerahan Jegar melepaskan sebuah pukulan telapak tangan ke arah Bangau Putih. Mendapat serangan itu, sesepuh dari perguruan Macan Putih tidak tinggal diam. Dia berkelit ke samping, energi berbentuk tapak itu hanya melewati tubuhnya tanpa sempat mengenai.


Momentum serangan Gerahan Jegar tidak berhenti sebelum akhirnya mengenai hampir 20 orang di belakang Bangau Putih. 20 orang itu terpental jauh laksana kapas diterpa angin.


Tidak puas dengan hal itu, Gerahang Jegar melayang ke udara beberapa depa tingginya bersama dengan hal itu dia melepaskan serangan lain.


Bangau Putih melompat ke belakang beberapa langkah, dua tiga serangan Gerahang Jegar hanya mengenai tanah tepat di depan Bangu Putih. Tanah itu berlubang seukuran tapak manusia mengeluarkan asap tipis.


“Kau licin seperti belut...” Gerahang Jegar kesal bukan kepalang, dia mengeraskan rahangnya menahan emosi tapi serangan yang dia lakukan sama sekali tidak mengenai lawannya.


Gerahang Jegar menoleh sesaat ke arah Ki Lodros Sukmo, terlihat pak tua itu sedang bertarung sengit menghadapi Nyai Siwang Sari bersama dengan Darma Cokro. Tidak jauh dari pertarungan mereka, terlihat pula Ki Alam Sakti memainkan pedangnya dengan sangat apik berhadapan dengan Jaka Balabala.


Guru Sungsang Geni itu dibantu oleh Lakuning Banyu sebagai penyumbang serangan jarak jauh.


“Kemana arah pandanganmu?” Bangau Putih melompat gesit, dengan jari tangan menyerupai paruh bangau. Dan, dia berhasil mendaratkan serangan sekali lagi tepat di bagian kening Lawannya.


Dua tiga langkah Gerahang Jegar terpundur, kepalanya menjadi merah dan sesaat lagi akan sedikit benjol tepat di keningnya. Dia mencengkram kepala dengan mata melotot, nyaris keluar dari kelopaknya.


“Kenapa kau selalu saja lengah?” Bangau Putih tersenyum bangga, tapi sebenarnya pak tua itu tahu jika dua serangan barusan hampir tidak berpengaruh terhadap Gerahang Jegar kecuali hanya nyeri.


Andaikan itu adalah pendekar Pilih Tanding atau paling tinggi pendekar yang baru saja memasuki Tanpa Tanding, pastilah sudah lumpuh. Bangau Putih yakin telah menggunakan cukup banyak tenaga dalam pada dua serangan yang dia lakukan.


Setelah merasakan kepalanya terasa membaik, Gerahang Jegar memasang kuda-kuda sedikit aneh. Ya dia membungkuk sedikit, dengan telapak tangan berada di samping tubuh, dengan jari dalam keadaan terbuka lebar.


Belum tahu apa yang akan dilakukan pak tua itu, hingga akhirnya gelombang kejut berbentuk telapak tangan manusia raksasa bergerak cepat kearah Bangau Putih. Pak tua itu segera menyilangkan dua tangannya di depan kepala, bermaksud menahan serangan itu.


Gelagar...suara ledakan terjadi, tubuh Bangau Putih melayang beberapa saat di udara sebelum akhirnya terhempas kasar di sebatang pohon besar, hingga pohon itu tumbang menimpa puluhan orang.


“Uhuk...uhuk...” Bangau Putih batuk kecil bercampur darah merah, dadanya baru saja seperti dihantam benda berat. Untuk beberapa saat pak tua itu tidak dapat melihat dengan jelas, pandangannya menjadi sedikit buram.


Ketika beberapa menit kemudian, dia hendak berdiri dari tempatnya tibat-tiba serangan berbentuk telapak tangan manusia meluncur kembali ke arahnya.


“Celaka...” Bangau Putih hanya berkata lirih.


Dua detik lagi sebelum serangan itu mengenai tubuhnya, selarik cahaya putih kuning terjun dari atas langit. Kemudian ledakan besar terjadi, bahkan cahaya seperti kilatan dua kali terlihat di lokasi kejadian.


Seseorang rupanya baru saja menyelamatkan nyawa pak tua itu. Gerahang Jegar menjadi kesal, serangan tadi berhasil di halau oleh lawannya.

__ADS_1


“Apa...Kau...?” Bangau Putih berkata tertahan setelah mengetahui siapa gerangan yang telah menyelamatkan nyawanya barusan. “Sabdo Jagat.”


Sesepuh perguruan Lembah Ular itu masih tidak bergeming dari tempatnya semula, rupanya dia terpundur hampir 4 depa jauhnya ketika menahan serangan Gerahang Jegar. Dan nyala cahaya energi tadi rupanya berasal dari tongkat penghancur gunung di tangannya.


“Pusaka yang luar biasa kuat...” Gerahang Jegar terkejut setelah mengetahui tongkat yang digunakan Sabdo Jagat adalah satu dari 5 pusaka terkuat, dia juga memperhatikan tanah yang dia pijaki, saat ini berbentuk siring dangkal karena tubuhnya sempat terpundur beberapa depa pula.


Setelah beberapa saat barulah Sabdo Jagat menoleh kearah Bangau Putih. “Apa kau baik-baik saja?”


Bangau Putih tidak menjawab, wajahnya terlihat lebih merah dari sebelumnya. Tentu saja, semua orang tahu bahwa Bangau Putih kerap kali menghina Sabdo Jagat beserta perguruan Lembah Ular, tapi hari ini ternyata pria itu malah menolong nyawannya.


“Sesepuh Bangau Putih, kita lupakan sengketa yang terjadi selama ini antar kita berdua. Itu tidak ada gunanya, bukan?” Sabdo Jagar mengulurkan telapak tangannya. “Mari kita hadapi musuh bersama-sama.”


Masih terlihat ragu, akhirnya Bangau Putih menyambut uluran tangan Sabdo Jagat.


“Kita beri pelajaran orang itu, karena sudah macam-macam dengan kita...” Berkata Bangau Putih dengan senyum masam.


Di kejauhan, Jelatang Biru terdiam sesaat. Dia menyaksikan bagaimana Sabdo Jagat bersikukuh membantu Bangau Putih , padahal dia sendiri sudah melarangnya. Tapi sepertinya, keputusan Pemimpin dari Perguruan Lembah Ular itu tidak salah.


“Kemana arah pandanganmu?” Salah satu prajurit level tanpa tanding mengayunkan pedangnya ke arah Jelatang Biru.


Belum sempat pedang itu mengenai lehernya, tiba-tiba orang itu jatuh tersungkur di kaki dengan wajah biru dan mulut berbusa.


“Seharusnya akulah yang mengatakan kalimat itu.” Jelatang Biru menarik jarum yang tertancap tepat di dada lawannya. “Kemana arah pandanganmu?”


Tidak jauh dari Jelatang Biru, tanah terus saja bergetar kuat akibat dari kapak besar Gentar Bumi yang menghantam tanah. Ada banyak sekali liang tercipta, menguburkan puluhan orang ke dalamnya.


“Menunduk!” Guru Tiraka berteriak, seketika Gentar Bumi merebahkan tubuhnya dan hampir saja dua pedang menyabet batang leher pria itu.


Seketika prajurit Kelelawar Iblis pucat pasi melihat Gentar Bumi mengayunkan kapak besarnya tepat di pundak mereka berdua. Lalu sesuatu yang tidak ingin dilihat orang terjadi, tubuh dua orang itu terbelah dua.


“Lain kali jangan terlalu mengerikan...” Guru Tiraka membersihkan bajunya yang ternoda dengan cipratan darah. “Kau harus menahan tenagamu, sedikit saja.”


Gentar Bumi tersenyum kecil, tapi pada saat yang sama sebuah gadah cukup besar menghantam tubuh pria itu hingga melayang cepat dan menghantam puluhan orang.


Salah satu dari Wakil Komandan Kelelawar Iblis tersenyum kecil, dia berbadan gendut dengan baju sedikit kekecilan. Sehingga bagian perutnya tidak bisa ditutupi dengan pakaian. Hal lain yang mencolok dari wakil komandan itu adalah, gincu merah yang ada di bibir tebalnya.


Selain gincu merah, dia juga menggunakan anting besar dan selendang kuning yang hampir tidak bisa melilit pinggangnya.


Tidak lain dia adalah salah satu Wakil dari Komandan Jaka Balabala. Ada empat orang wakil Komandan dan kesemuanya mengenakan pakaian wanita.


“Begalang Watu...Seranganmu barusan tidak cukup kuat.” Tiba-tiba seorang pria lain dengan pakaian yang sedikit mirip dengan temannya muncul entah dari mana. “Lihatlah! Dia masih bergerak dan masih hidup. Kau mungkin harus mengganti gadahmu dengan golok.” Setelah berkata demikian pria yang datang tiba-tiba itu tersenyum genit bak wanita penggoda.


Begalang Watu terlihat kesal, terbukti dari ujung garis bibirnya yang sedikit turun. Lantas pria banci itu mengayunkan sekali dua kali gadah besarnya. Lima detik setelah dia melakukan hal itu, pria itu memukul satu mayat yang tergeletak di depannya.


Alhasil mayat itu melayang kearah Gentar Bumi yang masih kesulitan menjaga keseimbangan tubuhnya. Baru pula dia dihantam dengan gadah besar, kali ini Gentar Bumi melayang lagi beberapa saat karena hantaman dari mayat. Dan kini terhempas pada setumpukkan mayat.


Pria malang itu tidak sanggup menutup mulutnya, napasnya terdengar terpenggal-penggal. Kapak besar miliknya terlepas, dan ada darah merah keluar dari lubang hidungnya.

__ADS_1


“Gentar Bumi!” Terpekik keras Guru Tiraka, wanita itu segera menghambur menuju sahabatnya tapi sial sekali, seorang pria baru saja menabruk tubuhnya hingga dia jatuh tersungkur di tanah.


“Jelatang Biru...?” Guru Tiraka terbelalak melihat hampir tiga puluh orang di dekatnya mati mengenaskan. Jikalah Jelatang Biru tidak menabruk tubuh wanita itu, tentulah dia yang akan mati mengenaskan saat ini.


“Rupanya seranganmu tidak cukup akurat...” Kali ini Begalang Watu mengejek temannya yang baru saja melepaskan sabetan energi dari jari tangan. “Jaka Luruhilo, jarimu memang kuat tapi lihatlah! Kau tidak mengenai sasaran.” Sekarang Begalang Waktu tersenyum kecil bak wanita penghibur.


Jaka Luruhilo adalah orang yang datang tadi tiba-tiba entah dari mana asalnya. Dia adalah wakil Komandan yang memiliki ilmu yang cukup merepotkan. Bagaimana tidak, ilmu pria itu memungkinkan penggunanya dapat menghilang. Ilmu halimunan.


Bukan hanya itu, sabetan jari tangan pria itu seperti pedang pusaka. Gelombang energi akan terbentuk dari sabetannya, dan mampu melukai organ dalam lawan yang dikenai. Di Negri Sembilan, ilmu itu dinamakan Tebasan Jari Iblis.


Tebasan Jari Iblis sebenarnya tidak memiliki jangkauan yang jauh, hanya sekitar 3 depa dari penggunanya. Jika lewat dari tiga depa, kekuatan Tebasan Jari Iblis akan berkurang. Semakin dekat jarak lawan, semakin kuat pula ilmu Tebasan Jari Iblis, begitu juga sebaliknya semakin jauh jarak lawan semakin lemah pula ilmu kanuragan itu.


Tapi pintarnya Jaka Luruhilo, dia mempelajari ilmu Halimunan membuat dia bisa mendekati lawannya dengan mudah. Dan ketika dia berada pada jarak yang sangat dekat, Ilmu Tebasan Jari Iblis akan mencabut nyawa lawannya.


“Apa kau baik-baik saja?” Jelatang Biru bertanya pada Guru Tiraka.


“Aku tidak terluka, tapi Gentar Bumi dalam masalah...” Guru Tiraka memandang sosok manusia yang terkapar di tumpukan mayat, masih terlihat bernapas tapi mungkin keadaannya mulai kritis. “Kita harus menolongnya dengan cepat.”


Jelatang Biru menarik tubuh Guru Tiraka, setelahnya mereka berdua secepat mungkin meninggalkan dua Wakil Komandan banci yang memiliki kemampuan luar biasa hebat.


“Kalian mau kemana?!” Berteriak Jaka Luruhilo. “Kalian masih berada pada jangkauan seranganku, sebaiknya berhati-hati!”


Baru saja dia berkata demikian, pria itu menebaskan lima jari kanannya. Kemudian dua larik cahaya kuning keluar dari jari pria banci itu dan hampir saja mendarat di tubuh Guru Tiraka jika bukan karena Jelatang Biru menahannya dengan tenaga dalam.


Tubuh Jelatang Biru terpental beberapa depa, tapi masih bisa menyeimbangkan tubuhnya. Dia masih berdiri, meski saat ini seluruh tangannya terasa keram dan sakit.


“Cepat kau selamatkan Gentar Bumi!” Jelatang Biru berkata pada temannya. “Aku akan menahan mereka berdua disini...”


“Jangan bodoh!”Potong Guru Tiraka. “Kau bisa jadi mayat melawan mereka berdua. Sudah cukup Perguruan Lembah Ular kehilangan orang-orang hebat, aku tidak ingin kehilangan sahabat-sahabat lagi.”


Jelatang Biru terdiam mendengar hal itu. Dia menyadari mungkin kekuatan dirinya tidak akan cukup untuk melawan satu saja di antara dua lawannya. Tapi apa yang harus mereka lakukan saat ini? Kondisi Gentar Bumi dalam keadaan kritis, jika terlambat menyalurkan tenaga dalam pada pria itu, nyawanya pasti akan melayang.


“Apa kalian berdua sudah menyerah?” Bertanya Jaka Luruhilo dengan tawa genitnya. “Jika kalian tidak ingin kehilangan kawan,kenapa kalian tidak mati bersama dirinya.”


“Ya....ya...” menyahut Begalang Watu sambil mengayunkan gadah besarnya. “Kau bisa saja...aw...”


Pria banci itu terpekik beberapa saat, dia meraba lehernya kemudian menemukan satu jarum kecil telah menancap. “Permainan kotor seperti ini, siapa yang melakukannya?”


“Aw...” Kali ini Jaka Luruhilo terpekik pula, dia kemudian mencabut satu jarum kecil yang tertanam di lehernya. “Dasar pengecut jahanam, tunjukkan nyalimu! Lawan kami!”


Dua menit kemudian tidak ada yang terjadi lagi. Jelatang Biru menaikkan alis matanya, keningnya sedikit berkerut. Hanya ada satu orang yang memiliki jarum seperti dirinya, Siko Danur Jaya.


Jelatang Biru menyapukan pandangan, mencoba mencari keberadaan murdinya tapi tiba-tiba matanya menangkap puluhan Prajurit Kelelawar Iblis berjatuhan tanpa tahu sebab musabanya.


Semua orang mulai menghentikan pertarungan beberapa saat. Saat ini prajurit Kelelawar Iblis merasakan seperti sedang dihujani dengan jarum-jarum kecil dari atas, jadi mereka semua mendongak ke langit.


Tidak terlihat apapun di atas langit malam, tapi kemudian mereka mendengar suara deruan halus seperti anak panah yang dilepaskan dari busurnya, hanya saja suaranya lebih halus lagi.

__ADS_1


Tik..tik..tik...jarum-jarum kecil menancap di tubuh prajurit Kelelawar Iblis. Beberapa waktu kemudian, semua orang yang terkena serangan aneh itu mengalami kejang-kejang dengan mata mendelik ke atas dan mulut terbuka penuh busa putih.


“Ini racun! Ini Racun!” Suasana di Kelelawar Iblis Menjadi panik dalam seketika. “Bersembunyi! Jangan sampai terkena racun berbisa, tidak...AHKK...”


__ADS_2