
Kepergian Cempaka Ayu membawa angin lega bagi Sesepuh Surasena, setidaknya untuk saat ini mereka terhindar dari amukan Dewi Bulan yang ada di dalam tubuh gadis itu. Ketika sosok Cempaka Ayu hilang ditelan gelap malam, beberapa wakil Komandan Kelelawar Iblis secepat kilat melarikan diri dari tempat itu.
Tapi sayangnya usaha mereka segera di hentikan oleh Darma Cokro dan putranya Benggala Cokro. Setelah mendapat serangan bertubi-tubi dari Cempaka Ayu, sekarang mereka tidak berdaya menghadapi pendekar Surasena.
“Tolong ampuni kami...” mereka semua tampak memelas.
“Kalian semua sudah membawa derita ke negri kami, pantaskah kami mengampuni kalian?” Darma Cokro mengangkat pedang Naga Emas.
“Kami berjanji akan pergi dari tempat ini, sungguh...tak akan kami mengusik ketentraman negri ini lagi.”
“Aku memaafkan semua dosa kalian...”
Wajah beberapa wakil komandan tampak sumringang untuk beberapa saat, tapi tidak setelah raut wajah Darma Cokro berubah bengis dan memerah.
“Namun, kalian harus meminta maaf kepada semua orang yang telah kalian bunuh” Pria itu mengerahkan sekuat tenaga untuk menyerang. “Di Alam Baka.”
Teriakan para wakil komandan memecah kesunyian malam, Darma Cokro tidak akan berbelas kasih terhadap lawannya. Baginya semua perkataan manis hanya omong kosong belaka. Satu-satunya yang pasti adalah hutang nyawa dibayar nyawa.
Di sisi lain, Sungsang Geni menjadi lebih sibuk dari sebelumnya. Melawan Dua Komandan bersamaan rupanya memang menguras banyak energi. Dia sudah membunuh Nyai Siwang Sari sebanyak tiga kali, memenggal kepalanya bahkan memotong tubuhnya menjadi dua bagian. Namun semua yang dilakukan pemuda itu tidak berhasil membunuh wanita itu.
Kali ini dia baru saja melepaskan jurus tarian dewa angin api penyucian. Serangan itu berhasil menanggalkan kepala Nyai Siwang Sari untuk kedua kalinya.
“Percuma saja pemuda bodoh!” Tertawa terbahak-bahak kepala wanita itu yang tergeletak di permukaan tanah, matanya berkerlit-kerlit kemudian dengan cepatnya melompat lagi ke batang leher dan sembuh seperti sedia kala. “Seratus kalipun kau melakukan hal itu, aku tidak akan mati.”
__ADS_1
Sungsang Geni kesal bukan kepalang, rasanya ingin sekali mengupat panjang pendek. Bagaimana tidak, karena ilmu yang digunakan Nyai Siwang Sari dia telah mengeluarkan banyak sekali energi.
Pada saat yang sama, ketika kepala Nyai Siwang Sari baru saja tersambung, Jaka Balabala menghempaskan angin badai ke arah Sungsang Geni. Membuat pemuda itu melayang cukup jauh dan hampir tenggelam di dalam laut.
Sepuluh detik setelah Sungsang Geni di serang, tiba-tiba terlihat cahaya pelita berwarna putih mendekati mereka bertiga. Kecepatan laju terbang benda itu bukanlah level pendekar tanpa tanding.
Semakin dekat benda itu, semakin dingin pula rasanya udara di sekitar mereka. Bukan hanya dingin, ombak laut menjadi sedikit lebih ganas dan bibir pantai menjadi lebih tinggi dari sebelumnya.
“Apakah dia manusia?” Bertanya Jaka Balabala.
“Kita tidak tahu benda apa itu, tapi sebaiknya kau bersiap, mungkin saja itu adalah bantuan yang datang untuk menolong pemu...”
Belum selesai perkataan Nyai Siwang Sari, sebuah benda dengan luar biasa cepat menghantam tubuhnya hingga melayang dan tertancap tepat di puncak gunung kecil.
“Nimas!” Jaka Balabala berpaling sesaat kearah Nyai Siwang Sari, tapi sebelum dia sempat menoleh ke arah benda putih yang bergerak mendekat, tubuh pria itu terpental puluhan meter jauhnya karena terkena hantaman benda keras, rupanya batu besar.
“Jaka Balabala, apa yang kau lakukan? Cepat hancurkan kayu ini...!” rintih Nyai Siwang Sari, satu hal yang harus diketahui meski pengguna ilmu rawa rontek tidak dapat dibunuh, tapi mereka masih dapat merasakan sakit ketika luka.
Jaka Balabala belum menjawab, tubuhnya tertanam beberapa jengkal di dalam tanah berbatu. Baru setelah dia beranjak berdiri, pria banci itu segera memasang raut wajah pucat pasi. Tepat di hadapannya, sekitar satu jengkal wajahnya dengan Dewi Bulan yang bermata putih.
“Apa...!” perkataan Jaka Balabala seakan terhenti di tenggorokan, dia hanya bisa menelan ludah pahit sebelum tamparan keras menghabisi tiga gigi depannya yang tersisa.
“Nimas...dia...dia...!”
__ADS_1
“Kau berbicaralah dengan jelas, aku tidak bisa mendengarkan perkataanmu!”
Karena tempat Jaka Balabala berada di sisi berbeda, Nyai Siwang Sari tidak bisa mendengar dan melihat situasi saat ini.
Kemudian wanita itu mendengar suara hempasan, kemudian dentuman, ledakan beberapa saat kemudian dia mendengar suara jeritan.
“Jaka, apa yang terjadi?” Wanita itu menggerutu, dia berusaha mencabut pasak kayu di tubuhnya tapi benda itu tidak bergeming, seolah dialiri dengan energi yang tidak biasa.
Setelah berusaha cukup lama, akhirnya pasak kayu hancur berkeping oleh sebuah benda. Rupanya tubuh Jaka Balabala sendiri yang baru saja menghantam pasak kayu tersebut hingga hancur.
Dua kakak beradik itu terhempas kasar dipermukaan tanah. Tubuh Jaka Balabala mengeluarkan banyak darah hitam. Tentu saja dari mulutnya darah lebih banyak keluar, karena 3 gigi depannya yang lepas.
“Dewi Bulan, Nimas...” Jaka Balabala mengisyaratkan. “Dia ada di belakangmu...”
Nyai Siwang Sari belum memahami perkataan Jaka Balabala, hingga dia menoleh ke belakang. Sama seperti adiknya, wanita itu menelan ludah pahit. Tengkuknya terasa dingin, dan entah kenapa Komandan Kelelawar Iblis itu menjadi sedikit ketakutan.
Cempaka Ayu alias Dewi Bulan memperhatikan luka di tengah perut Nyai Siwang Sari yang saat ini berangsur-angsur pulih. Dan untuk beberapa saat, akhirnya tepat di tengah perut pada bagian baju yang robek, kulit putih mulus Nyai Siwang Sari telah kembali seperti sedia kala.
“Oh, jadi kau orang yang lepas dari belenggu maut?” Cempaka Ayu berkata datar, kerlitan matanya tidak berubah masih saja bersinar putih tanpa ada pupil. “Dunia penuh misteri, semua orang merasakan mati, tapi kenapa ada mahluk lepas dari cengkraman maut. Tidak adil, padahal setiap hidup ada kematian, lantas kenapa kau demikian istimewa wahai wanita?”
Nyai Siwang Sari tidak menjawab, tepatnya tidak tahu harus menjawab apa saat ini. Dia memang tidak pernah melihat sosok Dewi Bulan secara langsung, sebelum hari ini kecuali ciri-ciri yang dikatakan oleh Topeng Beracun.
“Pantas saja, paduka Raja menginginkan kekuatan Dewi Bulan.” Bergumam kecil Nyai Siwang Sari. “Kekuatannya memang mengerikan, setelah energi kegelapan menyelimuti tubuh ini, aku masih merasakan ketakutan.”
__ADS_1
“Kau bergumam kecil, tapi tidak menjawab pertanyaanku.” Cempaka Ayu berkata berat, pertanyaannya jelas tertuju kepada Nyai Siwang Sari. “Lancang, lancang sekali kau mengabaikan aku.”
Baru pula selesai mengatakan hal itu, gemuruh laut tiba-tiba terdengar memekakkan. Sungsang Geni yang sekarang masih melayang di atas permukaan laut, sedikit mengalami kesulitan untuk menyeimbangkan tubuhnya. “Cempaka, apa kau masih berada di dalam sana?”