PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Menguasai Istana10


__ADS_3

“Bodoh! Bodoh kalian semua!” berteriak Prajamansara dari pintu kereta.


“Paduka Raja, kami akan turun tangan,” ucap Malake Tige, tidak membutuhkan persetujuan dari Prajamansara, pria itu segera melompat dari atas kudanya, melangkahi beberapa kepala prajurit dan hampir mendaratkan tendangan ke tubuh Sungsang Geni.


“Tidak sabaran, sama seperti biasanya.” Malaka Due terkekeh kecil, menyusul pula di iringi oleh Malaka Lime.


Sungsang Geni mundur beberapa langkah ke belakang, memperhatikan tiga lawannya dengan mata tajam tanpa berkedip. Di belakang pemuda itu, ada ratusan prajurit mengacungkan tombak dan golok, tapi tidak ada yang berani menyerang.


Malaka Tige menegak arak dalam kendi besar sampai habis. Lantas melempar kendi itu ke arah Sungsang Geni. Mendapat aliran tenaga dalam besar, kendi itu sekeras batu karang, meluncur cepat dan berdengung.


Hanya saja, menyerang pemuda matahari dengan kendi tidak akan berhasil, meski Malaka Tige harus menggunakan seratus kendi bersamaan. Ketika Sungsang Geni membelah kendi dengan pedang, tombak panjang bermata dua meluncur dari potongan kendi, nyaris mengenai dada Sungsang Geni.


Pemuda itu sempat menghindar, mundur satu langkah dan menangkis dua tiga serangan yang dilakukan Malaka Tige. Baru saja menarik napas, satu bola berduri hampir saja mengenai kepala pemuda itu.


Bola berduri berderu, menghantam permukaan tanah hingga membentuk retakan cukup besar.


“Kau memiliki gaya bertarung yang cukup baik?” Malaka Lime tertawa, kemudian menarik bola berduri yang terkait rantai. Bola berduri terlihat cukup berat, sebesar kepalanya sendiri dengan duri-duri tajam berwarna biru.


Dan hal yang paling membuat Sungsang Geni cukup takjup dengan pria berbusung besar di depannya adalah, kakinya tidak benar-benar menyentuh tanah. Tepatnya berdiri di ujung-ujung rumput pendek, sangat ringan sekali tubuhnya, dengan badan sebesar itu.


Belum pula habis memperhatikan pria gendut di depannya, tiba-tiba di antara kedua orang itu melesat satu pria pendek dengan dua pedang sebagai senjatanya. Geraknya cukup gesit, permainan pedangnya cukup mumpuni.


Sungsang Geni harus mengeluarkan beberapa gerakan sulit untuk menghadapi pria itu. Bahkan jurus bisikan dewa angin dapat ditahan dengan mudah, menandakan dia memiliki ilmu pedang yang cukup tinggi.


Pada kesempatan, pria itu melepaskan satu tusukan ke arah batang leher, Sungsang Geni bisa menghindarinya, tapi dia memutar tubuh dengan cepat, melepaskan satu tusukan lagi dengan tangan kiri dan berhasil.

__ADS_1


Sungsang Geni terkena tusukan tepat di lengan kanannya, membuat dia terpundur satu langkah ke belakang. Baju lengan kanannya terkoyak sebesar ibu jari, memperlihatkan kulit hitam mengkilat.


Tiada darah keluar dari lengan itu, membuat Malaka Due cukup terkejut. Dia jelas sudah menggunakan tenaga dalam pada setiap tusukannya. Lengan kanan Sungsang Geni sekeras baja, mungkin lebih keras lagi. Andaisaja bukan di lengan kanan, tentulah saat ini pemuda itu sudah terluka.


“Hem...kau memiliki tubuh yang cukup keras?” menggaruk kepala Malaka Due.


“Keras dan tidak bukan masalah, bola berduri akan menghancurkan tubuhnya!” berteriak Malaka Lime dari belakang, dua detik setelah dia berkata bola berduri meluncur cepat. Sungsang Geni menghadang laju bola berduri dengan pedang energi, tapi tubuhnya masih terpukul mundur beberapa depa.


Malaka Tige menunjukkan permainan tombak yang sangat apik sebelum menyerang, dia memutar tombak itu dengan mudah, ke atas dan ke belakang, kemudian melompat tinggi dan hampir saja mengenai tubuh Sungsang Geni.


Mata tombak tertancap di tanah, menciptakan ledakan besar pada bagian tersebut. Dua ledakan lain kemudian menyusul dari dalam tanah, tepat di telapak kaki Sungsang Geni jika pemuda itu tidak segera melayang di udara.


“Belum mati ya?” tanya Malaka Tige. “Tentu saja, kau belum boleh mati sebelum bisa memuaskan kami bertiga.”


“Ya..ya...ya...” Terkekeh Malaka Lime, perut sebesar gentong bergoyang-goyang. “Kau boleh mati setelah kami yang mengizinkan.”


Semua orang jelas merasakan aura panas itu, beberapa prajurit level rendah tidak kuasa menahannya, sehingga memutuskan melarikan diri ke dalam hutan, mungkin akan mencari air. Beberapa yang masih bertahan tidak dapat bergerak bebas, tenaga dalam yang terbatas membuat mereka kesulitan mengatur antara harus melindungi tubuh atau menyerang Patih Siruyu Citro.


Wajah Tiga Pendekar Iblis Dari Malaka menjadi sedikit buruk.


Setelah melepas aura panas, Sungsang Geni menyerang Malaka Due lebih dahulu. Dia yang menggunakan pedang dan merobek lengan baju kanannya. Cukup terkejut Malaka Due, kecepatan Sungsang Geni dua kali lipat dari sebelumnya.


Senjata mereka akhirnya bertemu, menciptakan gelombang kejut bertekanan besar dan dentingan suara. Daun dan ranting beterbangan di sekitar mereka, udara menjadi sedikit lebih kencang dari sebelumnya.


Sungsang Geni menebaskan pedang dengan tenaga dalam cukup besar. Sayangnya serangan itu berhasil di halau oleh pria kecil alias Malaka Due, tapi tubuhnya terpental puluhan depa dan dan menghantam beberapa prajurit yang ada disekitar.

__ADS_1


Belum berdiri tegap Malaka Due, Sungsang Geni sudah berada di depan matanya. Gerakan yang luar biasa cepat, serangan tebasan bertubi-tubi di tangkis oleh Malaka Due dengan sedikit kesulitan.


Ketika melihat sedikit celah, pemuda matahari itu mengangkat pedang tinggi berniat menebas pundak Malaka Due. Mata pria kerdil menjadi terbelalak tak percaya, dengan reflek dia meletakkan dua pedang di bahu, mencoba menahan serangan Sungsang Geni.


Tingg....


Suara dentingan Pedang beradu terdengar, kemudian gemuruh angin menghempas apapun di sekitar mereka. Semua orang menjadi kesulitan untuk melihat di balik debu, daun dan ranting yang bertebaran. Apa gerangan yang telah terjadi?


“Malaka Due?!” teriak pria berperut besar alias Malaka Lime.


Butuh beberapa waktu agar suasana menjadi sedikit lebih tenang.


“Apa?” Malaka Tige terpekik melihat temannya tertanam sedalam paha. Sungsang Geni masih mencoba menebas pundak pria itu, sebaliknya dengan sekuat tenaga Malaka Due mencoba menahannya.


Pada keadaan seperti itu, Sungsang Geni tersenyum kecil mengarahkan satu tendangan keras ke dagu lawannya. Kepala Malaka Due terdongak ke atas, darah keluar bersama dengan serangan itu, dan pada saat yang sama tubuhnya keluar dari dalam tanah. Terangkat satu depa dari tanah, Sungsang Geni berniat menebas tubuhnya.


Tapi sebelum hal itu terjadi, satu tombak bergerak cepat menyerang dirinya kemudian bola berduri datang dari langit. Sungsang Geni mundur dengan cepat, sehingga tombak dan Bola Berduri hanya menikam tanah sampai merekah.


Malaka Tige meraih tubuh Malaka Due dengan cepat, membawanya menjauhi Sungsang Geni. Sementara itu, Malaka Lime memainkan bola berduri untuk menyibukkan pemuda matahari tersebut.


Kesempatan membunuh Malaka Due sedikit tertunda untuk sementara. Sungsang Geni melayang dan melompat di gundukan tanah yang sedikit lebih tinggi, memandang tiga lawannya dengan tajam.


Sementara itu ratusan orang tidak berani mendekati pemuda beraura panas tersebut. Mereka pucat pasi, tidak berniat melanjutkan serangan tapi Patih Siruyu menganggap ini adalah kesempatan terbaik untuk mendekati Prajamansara.


“Pe...pemuda itu, di...dia...”

__ADS_1


“Jangan banyak bicara.” Malaka Tige mengingatkan Malaka Due. “Aku akan mengobati luka dalammu, tenanglah!”


Note: Kondisi kesehatan author sedang bermasalah, jadi tidak bisa up dua capter. Semoga akan baik-baik saja esok harinya.


__ADS_2