PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Penawaran


__ADS_3

“Apa? Aku tidak mungkin menjadi budakmu?!” pekik Pramudhita.


Sungsang Geni memberikan tawaran yang membuat Pramudhita nyaris saja muntah darah. Bagaimana tidak, pemuda itu sambil tersenyum kecil mengatakan bahwa Pramudhita bisa saja keluar ke alam manusia dengan satu syarat. Menjadi budak.


“Paman...Bukankah kau menginginkan pergi ke dunia luar. Ini adalah satu-satunya cara.” Goda Sungsang Geni, dia merubah ekspresi wajahnya sedemikian rupa agar terlihat meyakinkan Pramudhita.


“Kami bisa keluar kapanpun jika kami mau!” bantah Pramudhita kesal.


“Ha? Dengan menjadi hewan bukan?” timpal Sungsang Geni. “Tapi kekuatan kalian akan hilang setelah menjelma menjadi hewan, bukankah jadi percuma punya kekuatan tapi tidak bisa menggunakannya?”


“Rayuanmu tidak akan mempan pemuda sialan.” hardik Pramudhita hingga mengeluarkan urat di sepanjang lehernya, tapi Sungsang Geni malah tertawa cekikikan.


“Lagipula, sebenarnya tidak ada kata budak itu hanya penyebutan saja. Bukan sesuatu yang penting. Setelah melakukan perjanjian, kau akan tetap menjadi temanku dan bukan budakku.” Sekali lagi Sungsang Geni tersenyum manis. “Bagaimana apa kau mau menerima tawaranku, Paman?”


Pramudhita berpikir cukup lama, membuat kerutan di keningnya bertambah dan urat-urat seperti cacing dibalik kulit menampakkan diri.


Sungsang Geni memang memberi tawaran yang sangat menggiurkan. Pramudhita bisa melihat dunia manusia dengan syarat menjadi bawahan, melalui sebuah mantra ikatan atau perjanjian.


Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pria itu. Perjanjian ini bukan sesuatu hal yang tidak memiliki resiko.


Hal pertama yang harus diperhatikan adalah, Pramudhita hanya bisa dilihat mata telanjang manusia pada saat malam hari saja hingga waktu matahari terbit dari timur.


Yang kedua, pada saat siang hari pria itu hanya bisa menampakkan diri selama 1 jam saja, setelah lewat satu jam tubuh pria itu akan kembali menjadi mahluk halus tak nampak oleh mata.


Namun demikian, meski tubuhnya tidak kasat mata, Pramudhita masih bisa melakukan apapun dengan catatan kekuatannya hanya dapat digunakan sebanyak 20% saja.


Tapi setelah tubuhnya kembali nampak di mata manusia, dia bisa mengeluarkan seluruh potensi kekuatannya, dan tentu saja itu bisa terjadi pada saat malam hari atau siang hari selama 1 jam.


Kekuatan 20% Pramudhita sebenarnya setingkat pendekar tanpa tanding dengan 1 cakra yang terbuka. Itu sudah lebih dari cukup untuk menghajar beberapa puluh pendekar kelas tanding.


Sebenarnya tawaran Sungsang Geni lebih menarik hati ketimbang dia keluar ke alam manusia dengan mewujud menjadi seekor binatang. Pramudhita bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi binatang.

__ADS_1


“Satu-satunya yang menghalangi adalah, kalimat menjadi budak.” Ucap Pramudhita, menoleh ke arah Sungsang Geni dengan kesal.


“Tidak tidak! Kata itu hanya ada dalam kitab ini saja.” Sungsang Geni menunjuk kitab pedang bayangan. “Tapi sebenarnya itu hanyalah ungkapan saja, sebuah kiasan. Kita berdua akan terhubung sebagai teman, apa kau mengerti maksudku Paman?”


“Tentu saja aku mengerti!” ucap Pramudhita.


Sungsang Geni memiliki alasan khusus kenapa memilih Pramudhita sebagai lelembut yang terikat dengannya. Itu karena mereka sudah saling mengenal dan memahami.


Sebenarnya melakukan tapa berata di dalam tanah selama 49 hari, adalah syarat agar manusia bisa masuk ke dalam dunia lelembut. Sedangkan Sungsang Geni sudah masuk lebih dahulu, jadi hal itu tidak perlu lagi dilakukan.


Konsepnya adalah, ketika manusia melakukan tapa berata maka dia akan masuk ke dalam alam lelembut dan bertemu dengan mereka di sana.


Orang tersebut harus mengalahkan raja ataupun pemimpin lelembut yang ditemuinya, agar mereka bisa patuh dan akhirnya membuat perjanjian atau ikatan dengan manusia.


Bisa saja melakukan ikatan dengan lelembut yang tidak memiliki kemampuan hebat, tapi pertanyaannya adalah apa gunanya?


Sungsang Geni menyadari tidak banyak bangsa lelembut yang sekuat Pramudhita, jadi itulah mengapa dia memilih pria kekar itu.


“Paman, aku menunggu keputusanmu?” ucap Sungsang Geni sambil menopang dagu memperhatikan Pramudhita yang berjalan mondar-mandir tampak berpikir.


Pramudhita pada akhirnya menarik napas berat, “Baiklah aku setuju, dengan satu syarat tidak ada kata budak dan tuan?”


“Sependapat.” Sungsang Geni tersenyum kegirangan.


***


Setelah malam jum'at kliwon dan purnama tepat di atas kepala. Ritual ajian ciung wanara akan segera di lakukan oleh mereka berdua.


kedua orang itu duduk bersila di tengah halaman rumah, dimana tubuh bermandikan cahaya rembulan.


Diantara mereka tepat di atas tanah, ada tulisan mantra yang dibuat Sungsang Geni menurut petunjuk kitab pedang bayangan yang dia baca.

__ADS_1


Sungsang Geni merapalkan ajian ciung wanara untuk beberapa saat. Setelah selesai, tiba-tiba angin di sekitar mereka mendadak menjadi kencang, menerpa dedaunan dan kerikil batu.


Sungsang Geni menyayat ibu jarinya hingga darah keluar cukup banyak. Setelah itu dia meletakkan ibu jarinya tepat diantara kedua alis Pramudhita. Cahaya merah tiba-tiba keluar menyelimuti pria kekar itu sementara tubuhnya bergoncang hebat.


Tapi bukan hanya tubuh Pramudhita, tubuh Sungsang Geni juga mengalami hal yang sama. Bahkan pemuda matahari itu mulai melayang beberapa jengkal dari permukaan tanah.


Ritual itu berlangsung selama 5 menit lamanya, dan selama itu juga situasi di sekitar mereka mendadak menakutkan. Setelah ritual selesai, Sungsang Geni dan Pramudhita menarik napas dalam kemudian menghembuskan secara perlahan.


“Dengan ini aku dan paman sudah memiliki ikatan perjanjian.” ucap Sungsang Geni.


Pramudhita sebenarnya tidak merasakan sesuatu yang berbeda setelah melakukan ritual tersebut. Dia meraba-raba seluruh tubuhnya, dan benar tidak ada yang berubah.


“Paman? Sekarang seluruh isi kitab pedang bayangan sudah aku pelajari. Kecuali penyerapan energi alam.”


“Kenapa? Apa yang terjadi dengan teknik yang satu itu?” ucap Pramudhita dia sedikit heran mendapati wajah Sungsang Geni yang terlihat kesal.


“Teknik menyerap tenaga alam tidak bisa dilakukan di alam gaib,” sambung Sungsang Geni. “Tapi itu bukan masalah, aku sudah meringkas catatan mengenai kitab itu dan selebihnya ada didalam pikiranku.”


“Apa kau sudah akan kembali ke duniamu?” tanya Pramudhita lagi.


“Bukan aku paman, tapi kita berdua.” Sungsang Geni tersenyum kecil sambil mengelus dagunya. “Kita harus menemui Resi Irpanusa meminta petunjuk jalan keluar dari tempat ini.”


Setelah hari mulai beranjak siang, Sungsang Geni dan Pramudhita segera menemui Resi Irpanusa di kediamannya.


Kedatangan mereka berdua disambut baik oleh semua orang yang telah menunggu di halaman rumah pimpinan Padepokan itu.


Resi Irpanusa sebenarnya sudah mengetahui niat kedatangan Sungsang Geni dan Pramudhita tersebut, jadi dia sudah lebih dahulu menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan sebagai bekal perjalanan mereka.


“Hormat saya Guru...” Sungsang Geni membungkukkan badan. “Kedatangan kami berdua kesini...”


“Aku sudah mengetahui keinginan kalian berdua.” potong Resi Irpanusa seraya tersenyum kecil. “Kalian akan berniat pergi sekarang, Bukan?”

__ADS_1


Berikan senyum dan like terbaik kalian.


__ADS_2