
Setelah perjalanan satu hari lamanya, pada akhirnya Surasena telah berhasil tiba di ujung tebing. Ada lebih dari seribu orang telah mati saat ini karena sambaran petir, dan mungkin ada lebih dari 10 ribu hewan telah berubah menjadi setengah mahluk kegelapan. Bukan hanya itu, ribuan bidang hutan menjadi debu karena ulah petir.
"Sekarang bagaimana cara kita membuka gerbang itu?" Salah satu prajurit kembali terpekik. "Gerbangnya tertutup dan...Ahkkk..." petir baru saja membunuh dirinya.
Semua orang memasang wajah penuh harap ketika melihat sebuah gerbang batu berdiri kokoh di seberang tebing. Namun tidak ada yang tahu bagaimana membuka gerbang itu, kecuali jika Mahesa memiliki satu keberuntungan dengan meniru cara Sungsang Geni.
Ya mungkin saja akan berhasil.
"Cawang Wulan panah tungku perapian yang berada di sana!" Mahesa menunjuk pada kabut yang menyelimuti tungku perapian. "Tunggu, gunakan api untuk memanahnya, usahakan tungku perapian menyala!"
Cawang Wulan mengangguk tanda mengerti. Tungku perapian sebenarnya tidak terlihat dengan jelas, karena kabut yang menyelimuti hampir setengah bagian Gerbang Zambala. Tapi Cawang Wulan memiliki mata yang bagus, dia tidak kesulitan menemukan tungku perapian.
Wush...wush...wush...gadis itu melepas tiga panah api, kemudian sekali lagi dia menyerang membuat tungku perapian menyala. Ketika tungku itu menyala, dengan perlahan kabut yang menutupi Gerbang Zambala tersibak, seperti tirai.
"Bagaimana selanjutnya?" Wira Mangkubumi tidak melihat tanda-tanda gerbang itu terbuka.
Hingga akhirnya, getaran kecil terasa mengguncang bumi. Dari dalam gerbang Zambala mengintip cahaya putih pada celah-celah yang terbuka.
"Gerbangnya terbuka! Gerbangnya terbuka!" riuh suara para manusia menggema.
Tidak butuh waktu lama, gerbang terbuka sepenuhnya. Sekarang mereka bisa melihat energi seperti riak air yang membatasi dunia luar dan dunia di dalam gerbang.
"Cepat masuk!" Teriak Mahesa. "Gunakan ilmu meringankan tubuh kalian, itu adalah tempat yang paling aman saat ini."
Bak burung walet, seluruh manusia melompat ke seberang tebing, menuju kilauan cahaya di tengah gerbang Zambala. Lenyap, setiap orang yang masuk kedalam gerbang itu hilang bak batu di telan oleh lubuk di sungai.
__ADS_1
"Sekarang tinggal giliran kita!" Mahesa menatap pada belasan teman-temannya. "Tataplah sekali lagi alam ini, barangkali kelak setelah kita keluar malah menjadi neraka."
Semua orang menelan senyum pahit, tentu saja ini sudah mirip seperti neraka bumi.
"Aku berharap Geni bisa membalikkan keadaan..."Ratih Perindu memeluk tubuh Siko Danur Jaya, kemudian keduanya masuk ke dalam Gerbang Zambala. Dan hilang.
"Kami percaya denganmu Geni." Mahesa memasang wajah penuh harap, kemudian semua orang masuk kedalam Gerbang Zambala.
Yang terakhir masuk adalah Wira Mangkubumi, jelas dia adalah orang yang paling berharap adik iparnya selamat dan dapat mengembalikan dunia ini seperti sedia kala. "Hiduplah, dan jangan mati..."
***
Sungsang Geni belum menunjukkan kemunculannya, sedangkan waktu sudah tidak ada yang tahu lagi apakah saat ini telah malam atau masih siang. Semuanya gelap gulita, dan hanya ada kilatan ungu yang tahu-tahu telah menghancurkan ribuan pohon dan merubah hewan menjadi mahluk setengah kegelapan.
Tapi raut wajah mahluk itu menjadi buruk setelah dia merasakan aura panas menggelora keluar dari dalam telaga yang dipenuhi oleh cairan magma panas.
"Pemuda itu?" Asura tidak percaya, energi panas itu berasal dari dalam telaga.
Magma beriak-riak seperti sungai, kemudian menciptakan ombak yang menjilat tepi tanah. Beberapa waktu kemudian, ledakan terjadi tepat di tengah telaga magma, bersama dengan sosok mahluk kuning terang yang bergerak cepat ke arah Asura.
Panas dari mahluk itu tiada terkira, hanya dengan kibasan tangannya membuat Asura terpukul mundur ratusan depa jauhnya, menghantam ratusan batang pohon dan mendarat tepat di tubuh Gunung.
"Tidak mungkin!" Asura hampir tidak percaya dengan pandangannya saat ini. "Bagaimana bisa kau?"
Sepenuhnya tubuh Sungsang Geni memancarkan cahaya emas kemerahan yang sangat terang, lagi panas membara. Di belakang tubuhnya, terpasang dua sayap berkilauan mirip seperti sayap burung elang hanya saja sedikit lebih lebar dan panjang.
__ADS_1
Tidak ada yang tersisa dari tubuh Sungsang Geni kecuali kilauan cahaya terang. Bahkan langit malam yang dipenuhi awan gelap tidak bisa meredupkan cahaya terang itu. jikalah masih ada satu orang manusia yang tinggal di atas tanah Java, tentulah dia akan melihat kilauan cahaya itu meski berada sangat jauh.
Sungsang Geni mengangkat dua tangan di atas dadanya, kemudian hal yang membuat Asura geram telah terjadi. Energi ungu yang tersebar di langit malam dari bola energi mulai terkumpul secara perlahan-lahan.
Bersamaan dengan hal itu, kilatan-kilatan petir mulai lenyap dari atas langit. Hingga akhirnya sekarang diantara dua telapak tangan Sungsang Geni, seluruh energi kegelapan telah kembali lagi menjadi bola energi berwarna keungan. Hanya saja ukuran yang sebelumnya sebesari roda kereta, sekarang hanya sebesar kepala.
"KAU!" teriak Asura, tidak bisa menahan tindakan Sungsang Geni yang meremas bola energi itu hingga hancur menjadi abu. Hancurnya bola energi itu menciptakan ledakan besar, gelombang kejut menyapu benda apapun di sekitarnya.
Tidak tahan lagi dengan tindakan Sungsang Geni, Asura melaju dengan cepat memberikan banyak serangan. Tapi tidak ada yang berhasil melukai pemuda itu, bahkan hanya satu goresan kecil sekalipun.
Sekuat apapun Asura menyerang dengan senjata, kepalan tinju, dan juga energi kegelapan, serangan itu seperti terhalang satu jengkal dari tubuh Sungsang Geni. Mata Sungsang Geni begitu tajam, hampir saja membuat Asura mati kutu, meski hanya tatapan saja.
"Kau...kau tidak mungkin bisa menghancurkan rencana besarku." Asura mulai menyadari jika Sungsang Geni adalah lawan yang sangat tangguh. "Tidak tidak...kau...aku tidak ingin kembali."
"Tempatmu jelas bukan di sini..." Sungsang Geni membuka suara, nadanya begitu sahaja tapi terdengar seperti guntur.
Setelah mengatakan hal itu, Sungsang Geni menepuk pundak Asura sekali saja, membuat mahluk itu terpental ratusan depa jauhnya. Sebelum dia mendarat di permukaan tanah, Sungsang Geni sudah berada tepat di belakangnya, memberikan satu tepukan lagi, lagi dan lagi.
Tubuh Asura terpental jauh, kemudian terpental lagi, membuat darah busuk sekarang menyelimuti seluruh tubuhnya. Pekikan keras jangan ditanya lagi. Sungsang Geni saat ini seperti bisa menaklukkan 10 orang Asura dengan mudah.
Tubuh Asura hendak meregenerasi luka, tapi kecepatan regenerasinya masih kalah dibandingkan kecepatan serangan Sungsang Geni. Hanya dalam beberapa menit saja, Asura sudah kehilangan satu lengan kanannya, dan sekarang satu lengan kirinya.
Sungsang Geni mencengkram leher Asura dan membawanya terbang tinggi dan menembus awan gelap. Rupanya setelah menembus awan matahari masih bersinar terang saat ini, bahkan tepat di atas kepala mereka.
"Dunia ini tidak akan berubah meski kau berusaha menyelimutinya dengan kegelapan." Sungsang Geni menatap sang surya yang bersinar terang.
__ADS_1