PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Bandit


__ADS_3

**Sebenarnya bukan tanpa alasan kenapa Swarnadwipa mengadakan patroli. Isu yang beredar hingga ke telinga Raja, mengatakan bahwa ada sekelompok orang yang merencanakan penculikan cucu Saylendra.


Belum diketahui sejauh ini apa motif beberapa orang tersebut, tapi yang jelas hal itu membuat keamanan di Swarnadwipa diperketat. Jika saja Sungsang Geni tidak memiliki lencana pemburu, maka mungkin mereka saat ini telah menjadi tawanan.


Setelah berjalan cukup jauh, Sungsang Geni menghentikan laju kuda di depan rumah makan yang hampir semua warna di tempat itu berwarna kuning.


“Kita akan bermalam ditempat ini.” Sungsang Geni berkata, sambil menggiring kuda ke halaman samping rumah makan itu.


“Gerr....” Panglima Ireng menggeram pelan.


“Kau harus tetap didalam, aku akan membawa makanan untukmu.”


Kemudian Sungsang Geni bersama Cempaka Ayu maniti tangga pendek, lalu menemui seorang pelayan yang sibuk menghitung kepingan perak dan emas. Wajah pria itu kecil, tapi memiliki bola mata besar.


“Kisanak, kami membutuhkan makanan dan tempat duduk kosong.” Cempaka Ayu menyodorkan satu keping emas.


“Satu keping emas?”Pria itu mengangkat alis, “1 keping emas sama dengan 100 keping perak, dan 100 keping perak hanya untuk makanan satu orang saja. Beri aku dua keping emas untuk kalian berdua!” pria itu tersenyum kecil.


Pedagang ulung, setelah melihat gerobak besar yang mereka bawa, pedagang itu bisa menaksir bawah kedua tamunya adalah orang yang cukup kaya, dan harga untuk orang kaya sedikit berbeda meski dengan menu yang sama.


“Kenapa mahal sekali, Paman?” Cempaka Ayu merasa jengkel.


“Jika kalian berjalan selama 3 hari, kalian akan menemukan sebuah rumah makan lagi.” Pria itu balik menatap Cempaka Ayu kesal. “Pergilah dari sini, dan belilah makanan di rumah makan itu.”


Cempaka Ayu hampir berniat menyumpal mulut pemilik Rumah Makan, tapi Sungsang Geni menepuk pundaknya sambil tersenyum kecil.


“Baiklah paman, berikan kami makanan!” Sungsang Geni lantas menarik tangan Cempaka Ayu dan duduk di salah satu tempat yang sedikit lebih sepi, menghadap ke arah gerobak angkut.


Setelah menunggu beberapa lama, makanan yang dipesan akhirnya tiba pula. Dua ekor bebek panggang, serta sayur mayur dan buah-buahan.


“Tunggulah disini, aku akan memberikan makananku untuk Ireng.” Sungsang Geni kemudian membawa sepiring bebek panggang untuk diberikan kepada Srigala itu.

__ADS_1


Tidak beberapa lama, dia kembali dengan piring yang sudah kosong. Beberapa orang melihat gerak-gerik di dalam gerobak angkut, guncangan kecil dan suara hendusan, tapi tidak ada yang mempermasalahkan hal itu.


“Aku melihatmu tidak pernah memakan daging?” Cempaka Ayu meletakkan nasi di piring Sungsang Geni. “Apa kau tidak menyukainya?”


“Benar, aku tidak menyukai daging semenjak seluruh cakraku terbuka.” Sungsang Geni hanya mengambil sayur bayam. “Aku mengetahui pikiran semua orang bahkan memahami perasaan binatang, setelah itu apa menurutmu aku akan memiliki nafsu makan terhadap daging?”


Cempaka Ayu tersenyum kecil kemudian menyodorkan semangkuk sayur jamur miliknya, lalu meletakkan lagi beberapa sayur di piring Sungsang Geni.


'Seiring kekuatan besar yang dia miliki, pada dasarnya semakin sempit pula kebebasan hidupnya.' Batin Cempaka Ayu bergumam, namun tiba-tiba Sungsang Geni langsung menggelengkan kepala.


“Aku tidak mempermasalahkan ini, aku tidak keberatan.”


Jarak 5 meja makan, tepatnya di bagian sudut pula, berkumpul beberapa orang pendekar dengan golok-golok terselip di pinggang. Salah satu dari mereka memiliki tenaga dalam setara pendekar pilih tanding, yang berbisik kecil kepada teman-temannya.


“Rumah makan ini tempat semua orang berkumpul setelah melakukan perjalanan melelahkan, aku yakin mereka memiliki banyak uang untuk diberikan sedikit kepada kita.”


Temannya yang satu menimpali sambil melirik pada pemilik Rumah Makan yang sibuk menghitung emas dan perak, “Kita bisa beli beberapa wanita malam dengan uang itu.”


Setelah itu semuanya berdiri, berjalan mendekati pemilik rumah makan lantas menepuk meja dengan kuat.


“Aku mohon berikan semua uang yang kau miliki sebagai pertukaran nyawamu!” salah seorang pemuda dari kelompok itu berkata keras.


Pemuda itu sebenarnya orang baru di dalam kelompok itu, reputasinya sebagai tukang copet membuat pimpinan para bandit itu tertarik untuk mengajaknya bergabung.


“Bukan seperti itu caranya.” Salah seorang pria yang sudah cukup lama dalam dunia perbanditan berkata, “Akan aku tunjukkan bagaimana caranya merampok yang benar.”


Setelah mengatakan hal itu, dia lantas menarik golok dan mengayunkan dengan cepat, nyaris saja memotong tangan pemilik warung jika bukan lemparan sebiji kacang mengenai lengan kanannya. Serangan dia tidak berhasil mengenai sasaran, tapi sudah cukup membuat pemilik warung terkencing kencing.


“Siapa yang melempar biji kacang tadi?” pria itu spontan memandangi setiap tamu yang sudah berhenti makan karena takut.


“Sudah...sudah, lupakan masalah biji kacang.” Pimpinan bandit terlihat bijaksana. “Sekarang serahkan saja seluruh uang yang kau miliki!” dia menatap pemilik Warung, sementara semua orang menjerit histeris lalu berhambur keluar.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama, warung makan itu menjadi sepi pelanggan menyisakan dua orang lagi yang masih duduk menyantap makanan diatas meja.


Melihat ketenangan dua orang itu, mengusik perasaan sang bandit. Tidak biasanya ada orang yang masih tetap tenang setelah mereka memberi gertakan.


“Ini...ini seluruh uang yang aku miliki!” pemilik warung menyodorkan sekantong besar uang yang sangat banyak. “Tapi aku mohon jangan bunuh, jangan bunuh...”


“Bapak!” seorang gadis menghambur keluar setelah melihat ayahnya.


“Rupanya kau punya anak gadis yang sangat cantik,” pimpinan bandit menjilat bibirnya beberapa kali sambil sekekali menelan air liur. “Biarlah aku mencicipi tubuh mulusnya untuk beberapa hari...”


“Jangan...jangan, kalian boleh saja mengambil semua uang yang aku miliki asalkan jangan...” Pria itu berlari mendekati anak gadisnya tapi tangan besar sang bandit menarik kerah baju belakangnnya, “jangan sakiti anakku....”


“Hah...? aku tidak akan menyakiti gadis itu, tapi sebaliknya kami berikan dia...”


Pria itu tidak berhasil melanjutkan ucapannya, setelah satu kacang mendarat kasar tepat di rahangnya yang keras, membuat dia terhempas di meja makan hingga berhamburan.


Dia meringis kesakitan, menatap sosok wanita yang baru saja menyerangnya dengan biji kacang, dan sekarang serangan kedua kembali menghantam bola matanya.


“Ahkkk!” Pria itu meringis kesakitan, sementara Cempaka Ayu tersenyum sinis memandangi dirinya.


“Kurang ajar, rupanya kau hendak mencari kematian!” salah satu bandit yang lain menghunus golok besar.


Bersamaan dengan itu, pemilik warung makan segera berlari menghampiri anak gadisnya kemudian memandangi Cempaka Ayu dengan rasa bersalah. “Ma'afkan aku tuan pendekar karena mempermainkan harga kepada kalian berdua, tapi sekarang aku harap belas kasihan kalian untuk menolong kami.”


Cempaka Ayu menatap pemilik warung penuh makna, “Tidak usah merengek seperti bayi kecil! Aku akan menghajar semua orang ini bukan karena dirimu tapi demi anak gadismu.”


Note: Panglima Ireng meskipun sudah mengecil dari ukuran sebelumnya, tapi ukuran tubuh aslinya sebesar harimau benggala, lebih besar dari srigala pada umumnya. Dia membutuhkan satu ekor ayam setiap harinya. Lain cerita jika berhari-hari tidak makan, dia bisa menghabisakan 5 ayam sekaligus.


Ada yang bertanya bagaimana rupa Sungsang Geni? Pertanyaan ini membingungkan, tapi jika kalian adalah pria maka berkacalah! Muka Sungsang Geni mirip seperti bayangan di dalam kaca.


Lalu thor bagaimana rupa Cempaka Ayu? Ya, dia mirip seperti ibu dari anak-anak kalian.

__ADS_1


Salam imajinasi tanpa batas, mari tertawa di tengan pandemi ini, Jiahahaha jiahaahahah. Uhuk uhuk, jiahahah**.


__ADS_2