PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Sumbu Pelita


__ADS_3

Suara rentak kuda mulai mendekat, wanita dengan satu anak itu mungkin saja saat ini yang masih hidup. Berarti semua orang sudah tewas dibelakangnya. Jelas ini bukan harapan semua orang di ngri itu. Ini adalah hal yang tidak di duga sama sekali.


Jikalah bisa memilih tentu saja mereka lebih memilih Surasena, tapi sebagai rakyat mereka hanya patuh pada pemimpin. Tidak banyak yang bisa mereka lakukan sebagai rakyat jelata, bodoh dan miskin. Kebijakan ada ditanan raja dan pejabatnya.


Hampir saja wanita itu tersandung batu dan jatuh, tapi tiba-tiba ada satu tangan menarik tubuhnya dengan cepat. wanita itu hampir terpekik jika bukan telapak tangan itu menutup mulut mereka dengan sekuat tenaga.


“Hussttt...” suara orang itu memberi isyarat untuk diam. Beberapa saat dua kuda tiba di tempat mereka.


Wanita itu sadar, rupanya orang yang telah menarik tubuhnya ke dalam celah batu tertutup semak belukar adalah seorang pria. Prajurit tepatnya.


“Jangan berbicara!” bisik pria itu.


Wanita itu mengangguk tanda mengerti kemudian mengisyaratkan putri kecilnya untuk diam. Sang Buah hati mengangguk, lalu membenamkan kepalanya di pelukan sang ibu.


Tidak lama kemudian dua penunggang kuda berhenti, memperhatikan semua setiap sisi di tempat itu.


“Tetaplah di sini!”! prajurit Surasena itu mengacak pelan rambut gadis kecil, setelah itu dengan cepat, prajurit itu melompat dan berhasil menusukan pedang tepat pada bagian leher kelompok Kelelawar Iblis, dia bergerak lebih cepat lagi dan kali ini satu lawannya berhasil dilukai meski tidak sempat membunuhnya.


Dengan cekatan, pria itu mengambil satu kuda yang tiada lagi empunya. Dia berniat mengejar satu lawannya yang terluka parah, tapi tidak jadi. Dia memutuskan untuk pergi dengan ibu serta anaknya ke Surasena, melaporkan semua yang terlah terjadi di Negri ini.


“Naiklah cepat!” perintahnya.


Dengan tergesa-gesa, wanita itu naik ke punggung kuda sedangkan putrinya berada di bagian depan. Mereka melaju minggalkan negri itu dengan cepat. Nasip baik mereka masih sempat bertemu dengan prajurit Surasena.


“Jangan menoleh kebelakang!” ucap prajurit itu. “Kita akan tiba di Surasena 10 hari kedepan, kuatkan diri kalian! Ini benar-benar buruk, musuh mulai menggila.”

__ADS_1


***


Pada waktu yang sama, Sabdo Jagat di dalam ruangannya sedang menghadapi latihan berat yang diberikan Sungsang Geni. Menghimpun energi alam. Selama dua hari ini, dia tidak keluar dari dalam kamarnya.


Guru Tiraka dan Jelatang Biru, di beri tahu agar tidak ada satu orangpun yang boleh mengusik latihannya. Itu adalah perintah Sungsang Geni langsung.


“Mahapatih, bagaimana dengan Sabdo Jagat?” tanya Jelatang Biru setelah pemuda matahari itu keluar dari ruangan paman gurunya.


Sungsang Geni tersenyum kecil, tampaknya sudah mulai biasa mendengar siapapun di Negri ini memanggilnya dengan sebutan Mahapatih. “Paman guru mulai memasuki tahap pengenalan dengan energi alam, ini adalah perkembangan yang bagus. Aku berharap setidaknya lima hari kedepan, dia sudah berhasil menguasai energi itu. Aku sudah menjelaskan semuanya, sekarang tinggal dia bagaimana menjalani laku prihatin ini.”


“Syukurlah kalau begitu...” Guru Tiraka tersenyum kecil.


“Apakah kalian ingin belajar...”


“Oh, tidak...tidak...” ucap Jelatang Biru. “Kami tidak mungkin sanggup melakukan hal itu, kami akan melatih tenaga dalam saja.”


Pemuda itu pergi menemui Wira Mangkubumi di bangunan lain, bangunan yang dikhususkan bagi sekutu Surasena. Tidak banyak prajurit yang mengawal bangunan itu, semua prajurit Swarnadwipa sudah disatukan dengan Surasena, dan berlatih keras di halaman belakang.


“Kakang Wira?” sapa Sungsang Geni, memberi hormat pada saudara iparnya itu.


“Geni...” Wira tersenyum kecil, buru-buru menyembunyikan sesuatu ke dalam kerah bajunya.


“Kakang...tidak masalah, jika kau merindukan ponakanku, itu adalah hal wajar.” Pemuda itu duduk di dekat Wira Mangkubumi.


Wira Mangkubumi tersenyum pahit, jelas saja dia menyimpan sesuatu yang berkaitan dengan putranya dan juga sang istri, sebuah liontin cantik dari batu mulia. Beberapa hari ini, entah kenapa pria itu selalu berpikir untuk pulang ke rumah.

__ADS_1


Sebagai seorang suami dan juga ayah, dia rindu akan pulang. Entahlah akan bernasib apa dirinya 30 hari kedepan? Seolah sekarang adalah waktu-waktu terakhir dia berada di dunia ini.


Sungsang Geni bisa melihat ada linangan air mata membasahi pipinya, tapi buru-buru diseka.


“Kakang! Dengarkan aku, jika kau ingin pulang, aku tidak akan memaksa...” ucap Sungsang Geni. “Bagaimanapun ini bukan tanggung jawabmu. Jangan kau bebani dirimu!”


Menarik nafas berat, Wira Mangkubumi menatap Sungsang Geni. “Geni, bagaimana aku bisa kembali ke Swarnadwipa meninggalkan bencana bersama dengan dirimu. Aku sudah bersumpah dan berjanji dengan istriku, akan selalu bersama dengan dirimu. Lebih dari itu, setelah melihat betapa sengsaranya negri ini, aku tidak akan mundur. Tentulah hal wajar jika aku merindukan rumah, tapi tanggung jawab seorang ksatria lebih dari itu.”


Pemuda matahari itu tentu saja mengerti keadaan emosi kakak iparnya. Pasti saja pria itu tidak akan kembali lagi ke Swarnadwipa sebelum urusan ini selesai. Negri Swarnadwipa akan tercoreng karena hal itu.


“Kakang...aku berharap kau tidak menghadapi orang-orang yang memiliki kemampuan kuat, carilah lawan yang seimbang!”


Wira Mangkubumi hendak membantah, tapi tidak jadi setelah melihat ada air mata menetes dari ujung mata pemuda matahari itu.


“Jika kau...” ucap Sungsang Geni tidak mau mengatakan 'mati' kepada Wira, “Aku tidak punya wajah untuk bertemu dengan istri dan anakmu. Karena itu, kau harus hidup apapun yang terjadi.”


Wira Mangkubumi tidak kuasa menahan haru, jadi dia segera memeluk tubuh Sungsang Geni dengan sangat erat. “Geni, aku berjanji tidak akan mati...tidak akan...”


Berpaling pandangan Wira Mangkubumi ke ufuk timur, kabut hitam dan awan gelap terlihat semakin dekat. Pergerakan Kelelawar Iblis seperti teror yang membuat semua orang di dalam Markas ini kesulitan memejamkan mata.


Setiap kilatan ungu yang terjadi di sana, para prajurit merasakan bulu kuduk mereka berdiri. Takut jelas saja, tapi saat ini tidak ada tempat di tanah ini untuk melarikan diri. Tiada lagi tempat bersembunyi.


“Kakang...dimana ada kegelapan di sana ada cahaya,” ucap Sungsang Geni melepaskan pelukannya, menyeka air mata kemudian berpaling ke ufuk timur pada gelapnya suasana di sana. “Kegelapan boleh saja datang, tapi cahaya tidak mungkin hilang.”


“Aku selalu percaya pada perkataanmu, Geni.” Wira Mangkubumi berdiri meraih tombak emas yang sebenarnya tiada memiliki tuah yang kuat.

__ADS_1


“Dan aku juga mempercayai semua orang di tempat ini.” sambung Sungsang Geni. “Jika musuh adalah kegelapan yang menakutkan, maka setiap orang di tempat ini adalah cahaya pelita yang menyinari.”


'Benar,' pikir Wira Mangkubumi. 'Tapi kau adalah bara api, kau adalah sumbu pelita. Boleh jadi pelita padam. Asalkan sumbu masih ada, pelita akan kembali menyala.'


__ADS_2