PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Hasil dari Latihan


__ADS_3

Cempaka Ayu tersadar dari tidur lelapnya, masih mencoba mengumpulkan kesadaran tapi perasaan gadis itu mendadak tak karuan setelah menyadari semalaman panjang dia tertidur lelap menyender di pundak Sungsang Geni.


Cempaka Ayu bergegas menjaga jarak, dia melirik Sungsang Geni kemudian melambaikan telapak tangannya ke wajah Sungsang Geni yang masih terpejam. Hanya untuk memastikan pemuda itu sudah bangun atau belum.


“Kau tidak perlu melakukan itu!” Sungsang Geni membuka matanya, “Astaga, dengkuranmu tadi malam membuat aku tidak bisa tidur.”


Wajah Cempaka Ayu mendadak merah, dengkuran? Tidak pernah ada yang memberi tahu, jika tidurnya mendengkur.


Sekarang dia terlihat sangat malu, hampir-hampir tidak bisa menggerakan tubuhnya karena kaku. Gadis itu hanya tertunduk dengan bibir digigit, dan batin mengumpat serapah pada dirinya sendiri.


‘Dengkuran?’ pekik batin Cempaka Ayu, ‘Ya tuhan, apa yang kulakukan?’


“Yah, mau bagaimana lagi, sekarang hari sudah pagi.” Sambung Sungsang Geni, pemuda itu menggeliat beberapa kali kemudian beranjak berdiri, “Sebaiknya kau segera kembali, paman Sabdo akan mencarimu! Aku akan mencoba trik yang kau sampaikan, kuharap hari ini aku bisa menguasai ilmu...”


Belum selesai Sungsang Geni berkata, Cempaka Ayu dengan wajah tertunduk mendadak berdiri mengejutkan Sungsang Geni. Kemudian berlari kecil tanpa mengucapkan satu patah katapun kepada pemuda itu.


“Oh! kau sudah mau pergi?” ucap Sungsang Geni, tapi Cempaka Ayu tidak menoleh kearahnya dan berlari lebih kencang lagi, “Padahal dia bisa terbang, kenapa memilih berlari? Aneh sekali.”


Cempaka Ayu memasuki gubuk Sabdo Jagat dengan wajah merah, meski tidak membanting daun pintu tapi perangai buruknya mulai terlihat. Sabdo Jagat tidak berniat mengusiknya, wajah merahnya sudah lebih dari cukup untuk menunjukan bahwa perasaan gadis itu sedang buruk.


“Apa mereka baru saja bertengkar?” Terka Sabdo Jagat, “Benar-benar pasangan yang serasi!”


Disisi lain, Sungsang Geni kembali melanjutkan latihannya. Hari ini dia harus menguasai ilmu itu meski hanya dasarnya saja. Jadi segala metode yang telah didapatkannya akan dia coba satu persatu.


Mula-mula pemuda itu kembali menyalurkan tenaga dalam pada kakinya, seperti petunjuk Sabdo Jagat. Merasakan hawa dingin, dan mengendalikan energi itu untuk mengangkat tubuhya. Tapi sial, lagi-lagi pemuda itu tidak dapat mengangkat tubuhnya.


Kali ini dia memilih opsi kedua, dia berdiri tegak dengan mata terpejam. Seperti yang dikatakan Cempaka Ayu, bayangkan jika dia memiliki sayap seperti burung. Sungsang Geni merasakan aliran tenaga dalamnya, berjalan seperti air dan bergumpal di tulang belikat.

__ADS_1


Sensasinya sekarang terasa sejuk, dia kemudian menyalurkan lebih banyak tenaga dalam.


Perlahan, energi itu membentuk jalur baru seperti urat tubuh manusia, lalu terus menjalar membentuk rangka sebuah sayap.


Sungsang Geni sedikit gembira, dia menyadari bisa melakukan ini dan sebentar lagi dia bisa membentuk sayap tak kasat matanya.


Pemuda itu memfokuskan pikirannya lebih dalam lagi, menikmati aliran tenaga dalam pada setiap detak jantungnya yang sekarang terdengar jelas di telinga. Dan...


Berhasil, pemuda itu bisa menciptakan sebuah sayap tak kasat mata. Dan bagian terkahir, dia harus mencoba sayap itu. Butuh cukup waktu bagi Sungsang Geni untuk menggerakkan energi berbentuk sayap agar mau mengepak.


“Bagaimana bisa Cempaka Ayu menggerakan energinya semudah itu!” Gumam Sungsang Geni, “fokus...fokus...”


Akhirnya sayap itu berhasil mengepak, membuat tubuh Sungsang Geni mendadak terangkat beberapa jengkal. Pemuda itu begitu riang, jadi dia berusaha membuat gerakan sayap lebih cepat lagi.


“Fokus...foukus, AW....!” dia membentur dahan kayu yang berada di atasnya, membuat pikirannya buyar dan sayap itu hilang.


Perlahan tubunya sekarang mulai terangkat, ini tidak sama dengan Jubah Kilatan Naga yang tidak menggunakan tenaga dalamnya. Pikiran Sungsang Geni pada saat menggunakan jubah kilatan naga tidak terbagi seperti saat ini.


Setelah berhasil melayang beberapa meter dari permukaan tanah, Sungsang Geni mencoba peruntungan dengan terbang seperti burung. Dan tanpa diduga oleh siapapun, dirinya sekarang mulai terbang seperti elang.


Memang cara terbangnya sedikit berbeda dengan beberapa orang kebanyakan, tapi Sungsang Geni tidak begitu peduli. Dia dengan senyum bahagia, mulai terbang mengelilingi pemukiman Lembah Ular, dengan sekekali berteriak.


Semua orang yang melihat tindakannya penuh dengan tanda tanya, tapi Sabdo Jagat yang menyadari sesuatu, tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


“Cempaka Ayu?” ucap Sabdo Jagat, “apa kau yang mengajarinya?”


Cempaka Ayu menatap Sungsang Geni dengan wajah terpukau, “Indahnya!”

__ADS_1


“Bukan itu yang kutanyakan, kau ini!”


“Oh, ma’af kakang. Aku memang mengajari trik yang kugunakan, tapi tidak kusangka hasilnya lebih dari yang kuduga.” jawab Cempaka Ayu dengan wajah tersipu malu.


Seingat Cempaka Ayu, dia bahkan tidak bisa melakukan gerakan seperti yang dilakukan Sungsang Geni. Gerakan Sungsang Geni nyaris seperti burung elang yang berburu mangsa, menukik dan menikung tajam.


Dan gadis itu, dengan cakra ajna yang telah terbuka sempurna, dapat melihat sayap tak kasat mata yang di ciptakan Sungsang Geni lebih besar dari sayapnya.


“Jadi begitu? Dia memiliki imajinasi yang sangat besar, dan menerapkannya pada segala tindakannya!” Gumam Cempaka Ayu, “Satu hal yang sulit aku kuasai, meski ke tujuh cakra ku telah terbuka.”


“Pemuda itu, dia bisa memanfaatkan kelebihannya untuk disalurkan pada hal yang berbeda!” Sabdo Jagat berkata pelan, setidaknya itulah penjelasan yang sedikit masuk akal untuk mengungkapkan diri Sungsang Geni.


Sungsang Geni menikung tajam, dia terbang cepat menuju bukit batu yang menjadi tembok alami antar pengungsi Lembah Ular dengan Kelelawar Iblis. Dia mendarat pada puncak bukit yang paling tinggi.


Sekarang dia mengetahui, bahwa permukaan bukit yang menghadap Perguruan Lembah Ular ternyata jurang yang sangat terjal. Hampir mustahil ada yang bisa menaiknya tanpa menggunakan ilmu meringankan tubuh.


Dan jarak antara dirinya sekarang dengan dasar jurang, mungkin sekitar 200 meter jauhnya, atau mungkin lebih. Pendekar yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang masih rendah akan kehabisan tenaga dalam sebelum mencapai puncaknya.


“Jadi karena ini, Kelelawar Iblis belum melakukan penyerangan!” gumam Sungsang Geni.


Jauh di depan matanya, hamparan luas lembah berumput yang menghijau hampir sejauh 1 km.


Disisi kiri bukit adalah jalur hitam yang sekarang tertutup bebetauan. Dan jauh di sisi kanan, sebuah sungai terbentang luas dan deras, yang jatuh menciptakan air terjun besar.


Karena air terjun itu, tidak ada yang bisa sampai ketempat ini kecuali mereka memutar jalan untuk menghindarinya, dan tentunya masih harus menyebrangi sungai yang ber arus deras. Sungsang Geni tidak berpikir kelompok Kelelawar Iblis mau melakukan hal itu, mereka pasti lebih memilih melewati Jalur Hitam.


Di ujung mata, Sungsang Geni bisa melihat bangunan tembok runtuh. “Itu pasti Perguruan Lembah Ular!” ucap Pemuda itu dengan yakin. “Tidak, karena sekarang tempat itu menjadi markas Komandan Kelelawar Iblis.”

__ADS_1


__ADS_2