PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Perang Besar 9


__ADS_3

Sungsang Geni maju paling pertama dan berlari secepat kilat. Semua pasukan yang berada di hadapannya tidak bisa membendung energi yang keluar dari dalam pedang. Seperti sapuan angin yang bertekanan tinggi, bahkan seratus orang prajurit yang berada pada level puncak pilih tanding, tidak kuasa menahan serangan tersebut.


Sekitar 100 kuda meringkih, melayang seperti kertas bersama dengan penunggangnya. Langkah mereka kembali lagi ke tempat asal. Sungsang Geni seperti kuda hitam yang tidak terkalahkan, melaju mengalahkan semua rintangan.


Pedang bercahaya di tangannya menderu. Tapi demikian, prajurit Kelelawar Iblis tetap maju dengan rapi, tanpa gentar menghadapi pemuda itu.


Beberapa saat kemudian, pasukan yang lain sudah tiba setelah ¼ barisan depan musuh luluh lanta oleh Sungsang Geni sendiri. Sabdo Jagat adalah orang pertama yang sampai di tempat Sungsang Geni.


“Geni, kau maju terus ke depan. Jangan buang-buang energi, lawanmu ada disana!” ucap Sabdo Jagat menunjuk Topeng Beracun yang tersenyum kecil di atas gajah berbulu.


Sungsang Geni segera paham, jadi dia berniat terbang untuk melawan pemimpin musuhnya. Tapi niat pemuda itu segera urung, setelah puluhan prajurit berpakaian perang lengkap muncul dan menghalangi.


Puluhan prajurit itu bukanlah level biasa. Sungsang Geni bisa merasakan setidaknya mereka telah berada di puncak pendekar tanpa tanding, bahkan salah satu dari mereka yang mungkin adalah wakil komandan telah mencapai pendekar level iblis.


“Sebelum bertemu dengan sang penguasa, kau harus berhadapan dengan kami!” ucap salah satu dari hampir tiga puluh prajurit tersebut.


Semuanya mengenakan topi dari anyaman rotan, dengan jubah perang berbahan keras dan lentur.


Jadi ini adalah pasukan yang telah disiapkan oleh Topeng Beracun untuk menghadapi Surasena. Mahesa bergidik setelah merasakan beberapa orang diantara 30 prajurit tersebut memiliki kekuatan lebih hebat dari pada dirinya.


Sungsang Geni mengeraskan rahang, kemudian bergerak cepat menghadapi 30 orang tersebut, tapi sebelum dia berhasil melakukan satu serangan. Dua orang datang dengan kecepatan luar biasa, membuat pemuda itu terpukul mundur hingga mendarat kasar di tembok Markas Petarangan.


Sungsang Geni meludah ke tanah beberapa kali. Air liur sudah bercampur dengan darah. Dadanya terasa panas untuk beberapa saat, sementara itu dua larik cahaya ungu melesat lebih cepat dari gerakan mata.

__ADS_1


Bomm...bomm...dua ledakan berhasil menghancurkan setengah tembok Markas Petarangan. Sungsang Geni terpental cukup jauh, menghantam ratusan bangunan di dalam sana. Butuh waktu tiga detik bagi pemuda itu untuk bergerak lagi.


Dia melayang diatas bangunan paling tinggi, menemukan dua komandan telah berada sepuluh depa darinya. Lemah Abang dan Mungkarna menyeringai, gigi taring mereka menyembul keluar seperti binatang buas.


Tangan Mungkarna telah hilang satu, tapi kekuatannya sekarang kembali seperti sedia kala. Bukan hanya dirinya, Lemah Abang juga terlihat sangat sehat. Topeng Beracun telah mengobati dua orang komandannya, lebih cepat dari pendekar medis dari perguruan bukit emas.


“Kita lanjutkan kembali pertarungan,” ucap Mungkarna, menyerang lebih dahulu dengan pedang hitam. Sungsang Geni menghindar ke samping ketika tebasan hampir membelah kepalanya.


Pada saat yang sama, Lemah Abang melepaskan pukulan energi sedingin es ke arah pemuda itu. Sungsang Geni dapat menangkis tiga kilatan energi yang berusaha menerjang ke arahnya, tapi pada saat yang sama dia juga harus menghindari serangan Mungkarna yang secepat kilat.


Dalam waktu tiga menit saja, mereka sudah bertukar seratus serangan. Sungsang Geni dipaksa berada pada posisi bertahan, bahkan tampaknya dua orang musuhnya tidak akan memberi kesempatan bagi pemuda itu untuk menghirup nafas.


Ada satu kilatan energi keluar dari telapak tangan Lemah Abang, memaksa Sungsang Geni berjungkir balik di udara. Hampir saja energi itu mengenai dadanya, jika satu detik saja dia tidak menghindar.


Teng...terdengar suara benturan dua senjata jauh di atas bangunan Markas petarangan. Kilatan energi berwarna ungu dan merah bercampur aduk, menciptakan gelombang energi bertekanan tinggi.


Atap-atap rumah berhamburan, angin puyuh tercipta sesaat.


“Apa, kau memiliki pedang yang lain?” Mungkarna terkejut melihat satu pedang berwarna hijau keluar dari telapak tangan kiri Sungsang Geni.


Pedang itu tercipta dari tenaga dalam dan energi alam, bukan energi matahari seperti pedang yang berasal dari telapak tangan kanannya.


Sama seperti pendekar Pedang Bayangan, setiap mengeluarkan sebilah pedang, akan menguras tenaga dalam yang cukup besar. semakin keras pedang yang di ciptakan, semakin banyak tenaga dalam yang diperlukan.

__ADS_1


Sungsang Geni menelan senyum pahit. Pedang itu jelas tidak sekuat pedang energi yang dia ciptakan dari energi panas. Sebelum Mungkarna menyadari hal itu, dia melepaskan satu tebasan cepat dan mundur beberapa depa dari mereka berdua.


***


Di bawah, lima pendekar terkuat di Surasena berniat membantu Sungsang Geni. Mereka tahu kekuatan Lemah Abang cukup merepotkan. Namun demikian, bagi mereka berlima tidak ada celah untuk melarikan diri dari 30 prajurit Kelelawar Iblis.


Belum lagi, 10 wakil komandan yang berada pada level pendekar iblis masih menunggu perintah Topeng Beracun. Tidak mungkin 10 orang itu membiarkan satu orangpun membantu Sungsang Geni.


Pertarungan 6 ribu pasukan Surasena menghadapi 20 ribu pasukan Kelelawar Iblis mulai berlangsung sengit. Kuda-kuda musuh meringkih, menerjang kuat dan berlari kencang. Ini adalah pasukan yang sangat kuat, mereka datang dengan pergi membawa dua hingga tiga kepala.


Di sisi berbeda ada dua puluh prajurit kuda datang dari sisi depan, incaran mereka sepertinya gadis cantik yang membawa kapak besar, Ratih Perindu. Gadis itu sedang berusaha melawan puluhan musuh, jadi kedatangan para penunggang kuda tidak sempat diketahuinya.


“Ratih!”Pekik Siko Danur Jaya.


Pemuda itu berada cukup jauh dari Ratih Perindu. Siko Danur Jaya mencabut dua puluh jarum beracun, tapi dia tidak yakin serangannya akan akurat. Para penunggang kuda menutupi semua tubuh mereka dengan zirah perang yang keras dan tebal. Jikapun berhasil mengenai mereka semua, butuh waktu 20 detik agar racun bereaksi.


Dalam waktu 20 detik itu, musuh sudah mencapai tubuh Ratih Perindu. Dan mungkin sudah berhasil membunuhnya.


“AHKKK!” terdengar teriakan di tempat lain. Selang beberapa detik kemudian, tanah merekah besar membuat garis lurus sepanjang 20 depa. Akibat rekahan itu, para penunggang kuda yang berniat mencelakai Ratih Perindu, terkubur di dalamnya.


“Guru Gentar Bumi!” ucap Siko Danur Jaya. Begitu lega karena pria dengan kapak besar itu baru saja menyelamatkan kekasihnya. “Terima kasih banyak...”


Gentar Bumi menganggukkan kepala, kemudian memberi isyarat agar Siko Danur Jaya segera menjaga Ratih Perindu apapun yang terjadi.

__ADS_1


“Guru, terima kasih...” ucapan Ratih Perindu tidak dijawab oleh Gentar Bumi, tapi pria itu segera memberi isyarat agar muridnya tetap berhati-hati. Isyarat itu segera dijawab dengan anggukkan kepala.


__ADS_2