PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Menguasai Istana4


__ADS_3

Setelah beberapa waktu, semua orang menyantap makanan, kecuali Sungsang Geni dan pria berambut putih yang masih belum sadarkan diri. Sementara itu, prajurit musuh yang tersisa tidak berani melakukan apapun saat ini, kecuali berkumpul bersama pelayan-pelayan lain di sudut ruangan dengan wajah tertunduk karena takut.


Tahanan yang dibebaskan Sungsang Geni adalah prajurit-prajurit hebat yang pernah di miliki oleh Tumenang. Orang-orang yang setia terhadap kerajaan dan berdiri tegak di jalan kebenaran.


“Dia adalah Patih yang setia,” salah satu tahanan mendekati Sungsang Geni sambil mengunyah daging ayam. “Dia menerima seratus cambuk dan belasan pukulan, tapi tidak ku sangka masih hidup.”


“Aku telah menyalurkan tenaga dalam untuknya, tapi mungkin masih membutuhkan beberapa hari agar dia sadar," ujar Sungsang Geni sambil melihat kondisi nadi pria itu.


“Anak muda, aku belum mengenal dirimu.” Pria itu mengelap telapak tangannya, berniat menjabat tangan Sungsang Geni. “Aku adalah Senopati, ah bukan tapi Mantan Senopati di Tumenang, orang memanggilku dengan nama Mangku Anom.”


“Namaku Geni, Sungsang Geni.”


“Jadi Geni, aku yakin kau adalah pendekar hebat, tidak perlu untuk membahas hal itu aku sudah mendengar cerita dari gadis di sana." Dia menunjuk ke arah Langgis. "Namun masalahnya..,..setelah membebaskan kami, apa lagi rencana yang kau miliki? Bagai mana cara kau membebaskan pikiran rakyat?”


Sungsang Geni belum menjawab, dia sendiri belum memiliki rencana. Dari awal dia hanya berniat mengintai Istana ini, dan kembali lagi ke Kadipaten Ujung Lempung untuk mengatur rencana. Tapi takdir malah berkata lain.


Sekarang prajurit Istana sudah tewas, kecuali beberapa penjaga di luar sana yang gelisah dan mungkin curiga, juga beberapa pelayan dan prajurit yang duduk berkumpul di sudut ruangan. Sungsang Geni belum memutuskan tindakan apa untuk mereka? atau langkah kedepannya?


“Tampaknya kau belum memiliki rencana.” Mangku Anom mengunyah potongan terakhir daging di tangannya, melemparkan tulang-tulang ke lantai. “Jadilah Raja di tempat ini, menjadi Prajamansara.”


“Apa?”


“Benar, hanya dengan itu kita bisa membebaskan pikiran rakyat yang sedang kacau. Hanya untuk sementara, aku punya rencana.”


***


Semua persiapan sudah dilakaukan Mangku Anom, mulai dari mengganti penjaga di tiang Istana dengan para prajurit dibawah komandonya. Dia juga sudah membereskan semua kekacauan di dalam istana, membuka pintu gerbang agar tidak dicurigai rakyat. Semua seperti tidak terjadi apapun, sadiwara yang apik.

__ADS_1


Sementara itu, dia sudah menyebarkan perintah rahasia kepada sisa-sisa prajurit setia yang bersembunyi di sudut Negri ini atau pula yang menyamar menjadi rakyat jelata.


Sungsang Geni diminta keluar dari Istana Tumenang bersama dengan ratusan prajurit yang berhasil dikumpulkannya. Tapi kepergian mereka tidaklah serentak, karena bisa menarik perhatian. Sungsang Geni pergi di malam hari, ketika suasana sangat sepi, melalui rute rahasia yang hanya diketahui oleh Mangku Anom dan prajurit setia.


“Aku tidak yakin rencana ini akan berhasil,” ucap Sungsang Geni kepada Langgis di luar kabut ilusi.


“Percayalah, hanya ini satu-satunya cara.” Langgis menepuk pundak pemuda itu.


Saat ini Sungsang Geni sedang berada di dalam kereta kencana mewah, mengenakan pakaian ala kerajaan Tumenang dan berhias emas dan permata. Di belakang kereta kencana, ada banyak prajurit mengenakan pakaian prajurit dengan lembang Kelelawar Iblis di bagian belakang pakaian mereka.


Mangku Anom membutuhkan usaha keras untuk menyelinapkan kuda-kuda dan pakaian perang keluar Kabut Ilusi. Sungsang Geni tidak begitu peduli bagaimana caranya, tapi menurut mantan Senopati itu, Kabut Ilusi memiliki banyak pintu rahasia lain.


Salah satu dari prajurit menunjukkan tanda pada pohon beringin tua yang berlubang, Sungsang Geni pernah melihat pohon beringin itu. Dan dia yakin, ini bukan pintu rahasia yang dimaksud oleh Mangku Anom.


Seketika kabut Ilusi mulai menipis dan membuka gerbang untuk dilewati. Kereta kencana berjalan lambat melewati kabut itu, membuat Sungsang Geni bisa memperhatikan dengan jelas pelindung negri ini.


Ketika kali pertama dia datang ke Negri ini, Pemuda matahari itu tidak sempat memperhatikan dan tidak pula terlalu peduli dengan bentuk atau keadaannya. Dia bergerak secepat mungkin, karena saking cepatnya melewati kabut ilusi hanya beberapa detik baginya.


“Yang mulia Raja Prajamansara telah kembali.” Prajurit di depan berteriak keras, membunyikan suara terompet dari tanduk binatang.


“Minggir kalian dari jalanan, berikan ruang untuk paduka Raja!” melecut cambuk pengawal Sungsang Geni.


“Lambaikan tanganmu! Dan ini akan menjadi penyamaran yang sempurna.” Langgis berbisik di telinga Sungsang Geni.


Dengan terpaksa pemuda itu melambaikan tangannya di balik tirai jendela yang terbuka sedikit tanpa menunjukan wajahnya. Teriakan para rakyat bergema di jalanan, membuat perasaan Sungsang Geni menjadi lebih gelisah lagi.


“Bertahanlah sebentar! Perjalanan ini hanya dua hari satu malam kau pasti bisa melakukannya.”

__ADS_1


Sungsang Geni menelan ludah, dia tidak begitu menyukai sandiwara ini jadi tidak butuh waktu lama dia menarik kembali tangannya, menutup tirai kereta kencana.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Langgis.


“Aku rasa, Prajamansara tidak akan seakrab ini terhadap rakyatnya,” timpal Sungsang Geni.


“Kau mungkin benar, dia adalah pria sombong, jadi penyamaran ini tidak harus membuatmu resah.” Langgis menyunggingkan senyum kecil, mengintip dari tirai jendela kereta kencana pada rakyat yang berteriak-teriak memanggil nama Prajamansara, menjijikan pikir gadis itu.


Sungsang Geni menghela nafas berat, dua hari satu malam berjalan hingga tiba di Istana Tumenang seperti setahun rasanya. Namun pada akhirnya usaha pemuda itu tidak sia-sia, setelah dua hari satu malam berlagak seperti Raja di dalam Kereta Kencana, pemuda itu tiba pula di dalam Istana.


Dibuang semua pakaian dan perhiasan yang menggantungi tubuhnya dengan kesal.


“Tidak ada yang curiga?” Mangku Anom tersenyum kecil ke arah Sungsang Geni, berdiri di salah satu tiang Istana di dekat Pintu masuk. Dia menjijing satu kendi labu berisi arak.


“Rencana awal berjalan lancar,” ucap Sungsang Geni. “Sekarang kita lanjutkan rencana kedua.”


“Tunggu dulu, rencana kedua akan dilaksanakan besok.” Mangku Anom kemudian memanggil Langgis, memberikan sepucuk surat rahasia yang di tujukan untuk Adipati Lingga dan prajuritnya.


“Berikan pesan ini hari ini juga! Adipati Lingga tahu akan melakukan apa."


Langgis menerima surat itu, kemudian pergi bersama satu Telik Sandi lain dengan buru-buru seolah tidak merasa letih. Dia menyelinap melalui jalan rahasia, mengenakan pakaian seperti rakyat pada umumnya dan pergi menuju Kadipaten Ujung Lempung menemui kakaknya.


“Semua rakyat harus memihak pada Adipati Lingga, dan merobohkan Istana ini,” ucap Mangku Anom.


“Ya, setelah hal ini terjadi, kita akan menghadang Prajamansara di luar kabut ilusi.”


“Benar, kau cerdas padahal aku belum memikirkan hal itu.” Mangku Anom menegak arak sekali lagi, membantingnya ke lantai hingga berhamburan. “Patih sudah siuman, ketika kekuatannya kembali dia akan menjadi singa yang kuat.”

__ADS_1


Sungsang Geni hanya tersenyum kecil, berjalan lebih dahulu meninggalkan Mangku Anom menuju lantai tertinggi Istana ini. Sementara itu, Mangku Anom tidak bergeming menatap sosok Sungsang Geni hingga hilang di balik tangga Istana.


“Bukan hanya Singa yang kuat, kali ini kami memiliki monster yang ganas.” Mangku Anom tersenyum kecil. "Kali ini kami memiliki harapan untuk menang."


__ADS_2