PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Kedatangan TOPENG BERACUN


__ADS_3

Sudah tujuh hari lamanya Wulandari meraga sukma, ini benar-benar waktu yang cukup lama. Sementara itu, tubuh kasar Cempaka Ayu mulai mengalami memar di bagian lengan. Ini akan terjadi lagi setelah energi panas di dalam tubuhnya lenyap.


“Sudah tujuh hari lamanya, dua gadis ini belum menunjukkan tanda-tanda sadar...” Saraswati berujar, wajahnya terlihat cukup risau. “Sepertinya ada banyak halangan, Semoga saja Wulandari bisa bertemu dengan Cempaka Ayu.”


Sungsang Geni hanya tersenyum pahit, setiap malam dia menyalurkan energi api matahari ke tubuh Wulandari, tapi menyadari kondisi Cempaka Ayu yang mulai memburuk, dia terpaksa membagi kekuatan itu untuk mereka berdua.


“Kau terlalu banyak menguras energi, wajahmu sedikit pucat...” Saraswati memperhatikan keadaan pemuda matahari itu beberapa hari terakhir. Tidak banyak hal yang dilakukannya selain menyalurkan energi untuk dua gadis itu, atau bersemadi mengumpulkan energi panas.


Sungsang Geni menyadari sepenuhnya, lebih banyak mengeluarkan energi panas daripada menghimpunnya. Bahkan setelah energi itu mulai menipis, dia terpaksa mengalirkan tenaga dalamnya.


“Uhuk...uhuk...” Sungsang Geni terbatuk kecil, menyudahi ritualnya kemudian beranjak dari pembaringan. Pemuda itu turun ke bawah, mencuci wajahnya yang mulai terlihat letih.


Baru saja hendak menaiki tangga gubuk, tiba-tiba dia merasakan sesuatu yang sangat dingin menjalar keluar dari dalam gubuk.


“Geni!” Pekik Saraswati.


Pemuda itu bergegas naik, buru-buru memeriksa tubuh Cempaka Ayu tapi sesuatu kemudian datang merayap dari arah lain.


“Ini, jangan-jangan?” Sungsang Geni segera berpaling ke sisi timur, sedetik kemudian mata pemuda itu terbebalak tak percaya. Ini benar-benar mustahil, disaat seperti ini tiba-tiba kegelapan datang menghampiri mereka.


Awan hitam bergumpal-gumpal, kabut gelap mulai merayapi dataran tinggi. Sementara itu bunga-bunga indah di taman mendadak layu dan mati. Di mata Sungsang Geni ada tiga orang melayang di antara langit dan bumi.


Diantara tiga orang itu, seorang pria dengan jubah hitam dan mengenakan topeng yang juga berwarna hitam. Topeng Beracun. Sungsang Geni hampir tidak percaya pada saat seperti ini akan bertemu dengan musuh paling kuat.


Firasat pemuda itu mengatakan, energi Dewi Bulan yang telah mengundang mereka bertiga.


Bergumpal kabut gelap mengiringi ujung jubah Topeng Beracun, seolah dia tidak menutupi lagi kekuatannya dihadapan pemuda itu. Hanya dalam hitungan menit, dataran tinggi seperti sedang terbagi dua, antar cahaya dan juga kegelapan.


“Geni, mereka adalah petinggi Kelelawar Iblis...” Saraswati bergetar bukan main, seluruh sendinya seolah lepas, tubuhnya berkeringat dingin bahkan untuk mengambil pedang hijau saja rasanya begitu sulit.

__ADS_1


“Lindungi mereka berdua...” bisik Sungsang Geni, kemudian melompat dari atas gubuk menuju halaman.


“Gerr...gerr...” Panglima Ireng menggeram tepat disamping Sungsang Geni, tapi raut wajah binatang itu sedikit takut. Tentu saja dia bisa merasakan kekuatan tiga orang di depannya, dan yakin ini akan menjadi hari yang buruk.


“Ireng...” ucap Sungsang Geni. “Pergilah, lindungi Cempaka Ayu dan Wulandari!”


“Gerr...gerr...”


“Sekarang!” perintah Sungsang Geni. Binatang itu bergegas naik ke atas gubuk, kemudian bergabung dengan Saraswati .Perasaannya takut bukan kepalang.


“Putra Surya, ya...? Aku bisa merasakan kekuatan panas di lengan kananmu.”bergema suara Topeng Beracun. “Kedatanganku ke sini mungkin sedikit membuatmu terkejut. Bagaimana pun, aku sudah cukup bersabar ketika kau menghabisi semua pasukanku.”


“Kalian membawa kehancuran di tanah ini, sudah sepatutnya pasukanmu habis dari muka bumi.”


“Hahaha...ya...ya...mungkin saja.” Suara Topeng Beracun menggelegar seperti guruh, memekakkan Saraswati dan Panglima Ireng.


“Gila sekali orang ini, energi yang dimilikinya memang sangat besar...” batin Sungsang Geni, mau tidak mau dia harus menyadari kekuatan pria bertopeng di depannya jauh lebih tinggi dari miliknya.


Benar yang diduga Sungsang Geni, mahluk ini benar-benar mengincar kekuatan Cempaka Ayu.


“Sayang sekali, jika itu keinginanmu, aku tidak akan menyerahkannya.”


Setelah berucap seperti itu, Sungsang Geni melepas aura luar bisa panas. Sebilah pedang keluar dari telapak tangan kanannya.


“Paduka, biarkan kami yang menghadapi pemuda ini!” Komandan Pertama berujar.


“Tidak, aku ingin mencoba kekuatannya!”


Masih terdengar gema suara Topeng Beracun di udara, Sungsang Geni sudah terpental puluhan depa jauhnya. Begitu cepat serangan pemimpi Kelelawar Iblis itu, tidak bisa dilihat dengan mata.

__ADS_1


Berjungkir balik tubuh Sungsang Geni membelah dataran tinggi, menciptakan siring yang besar lagi dalam. Dia baru berhenti setelah sepuluh kali menghantam batu seukuran gerobak sapi.


“Uhuk...uhuk...” Pandangan pemuda itu sedikit buram, jelas dia sudah menyalurkan tenaga dalam untuk melindungi tubuhnya, tapi hal itu masih belum cukup untuk menahan serangan Topeng Beracun.


Tidak ada pilihan lain nampaknya, Sungsang Geni segera menggunakan energi alam untuk mengimbangi kekuatan Topeng Beracun. Ketika sebuah tendangan cepat mengenai tubuhnya sekali lagi, dia terpental sekitar dua puluh depa. Lebih pendek dari tendangan pertama.


Topeng Beracun menaikkan alisnya, “ Sebaiknya seperti itu, jika kau tidak memiliki banyak kekuatan tentu saja dengan mudah dapat dibunuh oleh para komandanku.”


“Tidak mungkin...” gumam Sungsang Geni. “Ini adalah semua energi yang kupunya, tendangan pria itu...Uhuk...uhuk...”


Keadaan Sungsang Geni pada saat ini tidak berada pada puncak maksimalnya, banyak energi yang telah disalurkan pemuda itu untuk dua orang gadis di atas gubuk. Namun, mustahil pula dengan 10 jule seluruh energinya saat ini, tidak bisa menahan tendangan Topeng Beracun.


“Jadi ini adalah kekuatan dari manusia terkuat di dataran java?” Saraswati hampir tidak percaya, Sungsang Geni dibuat seperti mainan oleh pria itu.


“Tarian Dewang Angin, neraka Penyucian!”


Sungsang Geni bergerak secepat kilat, menebaskan pedang cahayanya tepat di leher Topeng Beracun. Kecepatan pemuda itu tiada terkira, dan dia yakin berhasil mendaratkan serangan.


Tapi siapa yang menduga, pedang bercahaya terang berhenti tepat satu jari dari leher Topeng Beracun. Sungsang Geni sedikit terkejut, dia mencoba menekan pedangnya tapi tidak bisa, seolah tubuh lawannya ada penghalang yang sangat kuat.


“Kau membuatku sedikit muak!” ucap Topeng Beracun, mencengkram pedang bercahaya terang dengan tangan-tangan penuh kuku hitam. Seketika kabut gelap merayap dari tangannya, menyelimuti pedang bercahaya terang hingga redup dan padam.


“Tidak cukup panas, tidak cukup kuat.”


Sebelum kabut gelap melahap tangannya, Sungsang Geni segera melompat tiga depa menjauhi Topeng Beracun, bersamaan dengan itu dia melepaskan dua pisau kecil kearah lawannya.


Sama seperti pedang energi, pisau kecil itu lenyap ditelan kegelapan.


Berniat menyerang kembali, Leher pemuda itu telah berada didalam cengkraman Topeng Beracun, begitu cepatnya sampai Sungsang Geni tidak bisa merasakan pergerakan pria itu.

__ADS_1


“Matilah dengan tenang!” ucap topeng beracun, mengangkat tubuh Sungsang Geni kemudian dihempaskan ke tanah hingga dataran tinggi bergoncang keras. Tercipta seribu retakan di dataran itu, sementara Sungsang Geni berada di pusat retakan yang membentuk seperti telaga kering yang dalam.


__ADS_2