
Sungsang Geni masih ditodong dengan pisau, dia dibawa pada sebuah gang kecil di antara bangunan. Setelah cukup sepi, gadis itu mengetuk salah satu dinding rumah. Rupanya itu bukan dinding, tapi sebuah pintu rahasia.
“Masuk!” perintahnya.
Sungsang Geni menghela nafas, kemudian sedikit membungkuk memasuki pintu yang cukup sempit untuk ukuran tubuhnya. Sementara itu pisau masih berada di lehernya. 'Jadi mereka belum mati? Tempat bersembunyi yang sangat baik' pikir pemuda itu.
Jalan yang mereka lalui sedikit menurun, dengan anak tangga dari tanah. Ketika hampir tiga atau empat menit meniti anak tangga itu, sekarang Sungsang Geni bisa melihat 6 orang berada di ruangan yang tidak terlalu luas.
“Ini adalah penjara bawah tanah?” tanya Sungsang Geni.
“Tempat kami membunuh penjahat.” Jawab gadis itu, mendorong Sungsang Geni ke tengah-tengah ruangan. “Sekarang katakan padaku, siapa kau sebenarnya? Kenapa kau memata-matai Istana Tumenang? Apa yang kau rencanakan?”
“Pertanyaan dirimu banyak sekali, mana yang harus aku jawab lebih dahulu.” Sungsang Geni tersenyum kecil, membuat 7 orang di dalam ruangan penjara itu menjadi kesal.
“Kau tidak takut dengan kami?” Salah satu dari teman gadis itu berujar.
“Tidak, kalian Telik Sandi Bukan?”Sungsang Geni tersenyum kecil. “Sudah satu bulan kalian tidak kembali lagi ke Kadipaten Ujung Lempung, Adipati Lingga mengira kalian sudah mati.”
Kening mereka mengernyit, alis sedikit naik dan mata menyipit. Jelas prajurit Ujung Lempung tidak seberapa, jadi mereka bisa mengingat semua wajah-wajah prajurit itu, tapi pemuda ini? mereka baru kali ini melihatnya.
Mungkinkah hanya utusan, penjahat atau rakyat jelata yang bertindak bodoh. Ingin jadi pahlawan nampaknya, atau bosan dengan hidup?
Ada banyak pemuda bosan hidup dan datang ke tempat ini menyerahkan nyawa, jadi mungkin pemuda ini adalah salah satunya.
__ADS_1
Untuk sesaat semua orang masih terdiam, larut dengan pikiran mereka masing-masing.
“Aku bukan pemuda yang ingin mengantarkan nyawa, atau rakyat jelata yang mencari kesenangan di tempat ini, bersama gadis-gadis penghibur...” Sungsang Geni hampir muntah jika mengingat ada nenek berbibir merah dengan dada besar baru saja menggodanya.
Gadis berbibir tipis di hadapannya masih belum percaya akan perkataan Sungsang Geni. Bagaimana mungkin pemuda itu bisa menebak pikiran dirinya?
Tapi satu hal yang dia yakini saat ini, pemuda di depannya pasti bukan orang sembarangan. Gadis itu bisa merasakan aura aneh yang keluar dari tubuh Sungsang Geni.
Memang gadis itu cukup cantik jika dibandingkan beberapa gadis penghibur yang ditemui Sungsang Geni di atas tadi, meskipun mereka sudah berdandan dan mengumbar aurat. Tapi Sungsang Geni sudah pernah melihat gadis yang lebih cantik dari wanita di depannya, Cempaka Ayu dan Wulandari misalnya, atau pula kakaknya di Swarnadwipa.
“Katakan sebenarnya apa tujuanmu?” gadis itu menyodorkan kursi kayu kepada Sungsang Geni, kemudian memberi isyarat kepada 6 Telik Sandi lainnya untuk menurunkan senjata mereka. “Aku yakin kau pendekar hebat, apakah Kakang Lingga yang mengirim dirimu kemari.”
“Jadi rupanya kau adalah saudarainya?” Sungsang Geni menggaruk dagunya beberapa kali, kemudian mencium secawan air yang disodorkan gadis itu untuknya.
“Bagaimana aku harus percaya? Kau tadi menodongkan pisau ke leherku.” Sungsang Geni terkekeh kecil, sehingga gadis itu merampas kembali cawan dan meminum airnya sampai habis.
“Berhentilah bersikap seperti anak kecil! Katakan padaku apa tujuanmu?”
Sungsang Geni memperhatikan gadis itu untuk beberapa saat, kemudian menatap 6 orang lain yang menggunakan penutup kepala dan topeng tergantung di pinggang. Belum pula menjawab, dia memperhatikan ruangan sempit ini yang bahkan hanya diterangi dengan satu pelita di atas meja. Jelas ini adalah penjara rahasia yang tidak lagi dipakai.
“Ehem...” Salah satu wanita kekar berdiri di dekat Sungsang Geni, luar biasa otot di tubuh wanita itu, bahkan jika dibandingkan dengan Mahesa masih kalah jauh dibanding dengan wanita ini. “Jawablah pertanyaannya, karena aku mulai bosan menunggu.”
“Oh...kau tidak sabaran sekali. Baiklah tujuanku hanya satu, membunuh tiga pendekar dari Negri Sembilan. Jika kau katakan aku adalah utusan dari Adipati Lingga, ku jawab benar. Dari mana asalku? Aku berasal dari Majangkara, tapi sekarang Kerajaan itu telah hilang, jadi bisa dikatakan aku berasal dari Surasena.”
__ADS_1
Mendengar hal itu, semua mata saling tatap. Jelas mereka tidak percaya jika ada orang yang berasal dari negri luar bisa masuk ke Negri Ini. Sehebat apapun ilmu kanuragan seseorang, tidak akan mampu menembus kabut ilusi.
“Kalian tidak percaya, tidak masalah,” ucap Sungsang Geni. “Tapi sekarang, katakan padaku dimana aku bisa menemukan tiga pendekar dari Negri Sembilan?”
“Kau terlalu sombong...ada banyak pendekar yang hanya membual seperti dirimu,” Timpal gadis itu. “Pada akhirnya mereka mati. Tapi jika kau memang ingin mati, akupun tidak peduli, sayang sekali tiga pendekar dan raja penghianat Prajamansara sedang tidak ada di Istana ini.”
Menurut informasi yang mereka kumpulkan, tiga pendekar beserta rajanya sedang melakukan pertemuan di markas Utama Kelelawar Iblis. Sesuatu telah terjadi, mungkin saja. Sungsang Geni yakin pertemuan mereka berkaitan dengan tiga Komandan yang sudah dikalahkan.
Jadi saat ini Istana sedang tidak berpenghuni, tapi menerobos masuk ke dalam Istana cukup sulit. Butuh kekuatan besar untuk masuk kedalam.
Jika masuk ke dalam Istana secara terang-terangan, bukan hanya prajurit akan menghadapi mereka tapi juga rakyat yang sudah kadung terlanjur memiliki paham Iblis. Semenjak Kelelawar Iblis menguasai tempat ini, negri ini jadi sarang pelacuran, perjudian dan juga tempat maksiat lainnya.
Bagi mereka yang berpikiran pendek, tentu saja hal ini menjadi kesenangan tersendiri. Satu satunya aturan yang ditegakan di Negri ini adalah, 'tidak ada aturan lagi.' Kau bebas melakukan apapun yang kau mau, membunuh adalah hal biasa. Budak seperti binatang peliharaan.
Ketika mendengar hal itu, darah mendidih di tubuh Sungsang Geni. Membuat percikan cahaya menyala dari lengan kanannya, membuat 7 orang di ruangan itu sontak mundur beberapa langkah.
“Inilah negri yang diinginkan Topeng Beracun?” tanya Sungsang Geni. “Jika seperti ini apa bedanya manusia dengan binatang, tidak ada! Yang membedakannya hanyalah, mereka bisa berbicara dan binatang tidak.”
“Tunggu...tunggu...” saudari Adipati Lingga mencoba menenangkan, karena suhu di ruangan ini mulai terasa pengap lagi panas. “Jika kau tidak main-main dengan niatmu, mungkin kami bisa membantu untuk masuk ke dalam Istana.”
“Tapi tenanglah sedikit...”
“Ya, ada banyak prajurit di dalam Istana bukan, karena hal itu kalian menjadi ragu.” Sungsang Geni membuka sarung tangan di lengan kanannya, memancarlah cahaya kuning terang dari lengan pemuda itu. “Malam ini kita akan memusnahkan semua prajurit yang ada di dalam Istana, seribu, dua ribu, bahkan jika puluhan ribu, aku tidak akan berbelas kasih untuk kali ini.”
__ADS_1
Tambahan capter kali ini di sponsori oleh Novel Immortal System karya Syafir Yahya, jangan lupa baca, seru pokonya udah banyak lagi capternya. Oh ya, bagi yang mau berbaik hati mendukung Novel Ini, Author ucapkan banyak terima kasih.