
Sungsang Geni duduk sambil memeriksa banyak buku dan catatan yang terletak di ruangan administrasi.
Di ruangan ini pula di bisa melihat lukisan seorang pria berwajah angker. Sungsang Geni tidak pernah melihat wajah itu, tapi kemudian salah satu budak yang bertugas menemaninya memberi penjelasan.
Rupanya itu adalah lukisan Topeng Beracun, terlihat aneh sebab tidak ada topeng yang terpasang di wajah pria itu. Sungsang Geni memperhatikan beberapa saat, kemudian kembali membaca banyak buku yang sekarang berserakan di atas meja.
“Apa kalian juga menghadapi musuh seperti kami?” Sungsang Geni bertanya heran, ada catatan yang menuliskan Perguruan Rajawali Hitam.
“Be-benar tuan.” Budak itu terlihat ragu. “Mereka adalah sekelompok orang yang sering kali membunuh Prajurit Kelelawar Iblis ketika sedang melakukan patroli. Mereka- mereka datang dan pergi begitu saja.”
Menurut keterangan budak itu. Perguruan Rajawali Hitam sangat merepotkan, mereka menjadi daftar pencarian di setiap markas kecil di wilayah ini. Perguruan itu berjumlah sekitar 30 orang, mungkin juga 40 orang, tidak ada yang tahu pasti jumlah mereka semuanya.
Rajawali Hitam dikatakan perguruan aliran hitam, mungkin saja. Mereka menggunakan senjata rahasia untuk membunuh lawannya.
“Senjata rahasia seperti apa?” Sungsang Geni bertanya.
“Sumpit!” jawab Budak itu. “Mereka menggunakan sumpit yang berlumuran racun. Rumor mengatakan, mereka tidak perlu mengarahkan jarum sumpitnya kearah musuh, cukup dengan mengarahkan mata sumpit ke langit, maka senjata itu akan membunuh sendiri lawannya.”
“Membunuh sendiri lawannya?”
“Benar tuan, aku melihat sendiri mereka melepaskan serangan ke langit, lalu jarum sumpitnya bergerak menikam jantung dipihak kami. Anehnya meski kami menghindar mata sumpit itu akan berbalik arah, tidak berhenti sebelum mengenai sasaran.”
Sungsang Geni menarik napas berat, tidak menduga ada senjata seperti itu di dunia persilatan. Jurus yang benar-benar aneh, tapi pemuda itu bisa menduga dari senjata mereka pasti mereka suku pedalaman.
Sungsang Geni kembali memeriksa beberapa catatan yang lain, tidak ada yang begitu menarik hatinya kecuali Perguruan Rajawali Hitam.
Selang satu jam kemudian, Empu Pelak datang menemui pemuda itu. Dia melirik sesaat budak yang bersama Sungsang Geni, membuat budak itu menjadi sedikit ketakutan.
“Aku meminta semua orang memenggal kepala mereka, dan sudah aku kuburkan dengan layak.” Empu Pelak membicarakan hampir seribu mayat yang dikumpulkan di padang rumput di belakang Markas ini. “Aku sudah kehabisan bubuk setan, aku dengar ada banyak sufur di sebelah utara.”
__ADS_1
Sungsang Geni memahami maksud orang tua itu, dia meminta Sungsang Geni untuk mengerahkan beberapa orang prajurit untuk mengambil belerang sebagai campuran pembuatan bubuk setan.
“Berapa lama waktu yang diperlukan untuk tiba di gunung itu?” Sungsang Geni bertanya pada budak di depannya.
“Dua hari jika menunggang kuda tuan.”
“Kalau begitu biar aku sendiri yang pergi mengambil benda itu.”
Sungsang Geni memutuskan untuk membiarkan pasukannya tinggal di dalam Markas ini dalam waktu beberapa hari kedepan.
Menurut informasi yang dijelaskan budak di depannya, akan ada prajurit dari Markas Cabang yang akan mengunjungi markas kecil setiap 2 minggu satu kali, hanya untuk memastikan kinerja setiap markas kecil.
Tujuan Markas kecil sebenarnya bukan hanya menjadi penguasa di wilayah tertentu, tapi juga menjadi alat untuk meluaskan kekuasaan serta bertugas mencari setiap Perguruan dan sisa-sisa dari perajurit Surasena.
Ada banyak Markas Kecil yang berhasil menguasai 8 hingga 10 desa, dan juga berhasil menangkap perguruan-perguruan kecil yang berkeliaran untuk dijadikan budak atau juga bergabung dengan Kelelawar Iblis.
Di sisi lain, Mahesa beserta Dirga dibantu dengan belasan prajurit yang lain, mengumpulkan semua perlengkapan perang. Sangat banyak sekali, ada sekitar 900 baju perang serta tombak dan pedang.
"Senjata ini cukup kuat." Mahesa memperatikan tombak emas yang pernah digunakan oleh Chandrak serta pedang yang digunakan Buyung Upiak. "Pakailah pedang ini, sayang sekali aku bukan pendekar pedang."
Salah satu prajurit yang cukup kuat menerima pedang itu dengan ragu, pedang itu sangat tajam dibanding pedang yang tersandang di pinggangnya.
"Jangan malu, ambillah untukmu!" Mahesa tersenyum kecil.
"Terimakasih Patih."
"Ah, jangan memanggilku Patih, kita sudah bukan bagian dari Tombok Tebing."
Perlengkapa ini akan berguna. Umumnya Bayangkara dan prajurit Surasena mengenakan pakaian tempur ala kadarnya. Tapi dengan mengenakan perlengkapan ini, maka akan menambah sedikit pertahanan tubuh mereka. Tidak semua orang memiliki tubuh kuat seperti Mahesa.
__ADS_1
Sedangkan semua wanita berada di dapur, mereka menggunakan semua bahan makanan yang ada untuk dimasak. Mereka akan merayakan pesta kecil karena telah berhasil menaklukkan 2 Markas kecil sekaligus.
Ketika malam hari tiba, semua orang berkumpul tepat di depan Markas kecil. Budak, prajurit dan juga tahanan menjadi satu. Para gadis membagikan daging dan sup, kemudian berkendi-kendi arak.
Sungsang Geni tidak melarang, meski sebenarnya dia tidak menyukai hal semacam itu. Pemuda itu melayang ke atas menara pengintai, memperhatikan ratusan bawahannya yang sedang bersulang arak.
“Aku membawakanmu bubur kacang...” Cempaka Ayu menyusul pemuda matahari itu. “Mereka sangat kelaparan dan juga lemah.” Cempaka Ayu memperhatikan beberapa tawanan yang baru saja dibebaskan, begitu lahapnya menyantap makanan. “Apa yang akan kita lakukan terhadap mereka?”
“Kita akan mengirimnya kembali ke persembunyian paman Joko Sewu, mereka akan berkumpul di sana.” Sungsang Geni kemudian menyantap bubur kacang di tangannya.
“Apa mereka akan baik-baik saja?” Cempaka Ayu mulai khawatir. “Aku tidak ingin kita seperti memberi harapan kosong.”
Sungsang Geni terdiam sesaat, yang dikatakan Cempaka Ayu ada benarnya. “Jika begitu menurutmu apa yang harus kita lakukan?”
“Entahlah, tapi aku pikir lebih baik kita menyapu wilayah di tempat ini sebelum pergi. Kita akan membawa mereka ke seberang Sungai, meletakkan beberapa orang pasukan kita untuk berjaga. Sungai akan menjadi benteng paling baik untuk saat ini.” Cempaka Ayu memberikan solusi, meski memang terdengar sederhana tapi mungkin patut untuk dicoba.
Pemuda itu hanya tersenyum kecil tanda setuju, mereka adalah Bayangkara bergerak dan berpindah-pindah jadi tidak mungkin selalu mengawasi para rakyat dan juga para budak. Harus ada yang tinggal di markas kecil yang dikuasai Buyung Upiak, menciptakan pertahanan baru sambil menumbangkan musuh.
“Setelah aku mengambil beberapa karung sufur, kita akan kembali lagi, membuat pertahanan disana.” Sungsang Geni lantas menyantap satu sendok terakhir bubur kacang.
Bagi para tahanan yang baru saja dibebaskan, malam itu benar-benar berkesan di hati mereka. Tidak ada yang menduga mereka akan menikmati malam dengan gemerlap bintang dan bulan yang menggantung di ufuk timur.
Terkadang beberapa budak tahanan mulai membenarkan tindakan Sungsang Geni dan bawahannya, mereka mulai sedikit menyesal telah menjadi sekutu Kelelawar Iblis. Tidak ada malam seperti ini jika Sungsang Geni adalah Topeng Beracun.
Cempaka Ayu menyenderkan kepalanya di pundak Sungsang Geni, menatap bulan yang bersinar. Sungsang Geni hanya tersenyum kecil, meski ada banyak pasang mata yang melihat mereka berdua.
“Kalau aku punya kekasih secantik Cempaka Ayu aku akan sangat bahagia.” Salah satu prajurit berceletuk.
“Gundulmu, mana ada wanita yang mau sama kamu? Kecuali Pok Ila, wanita gendut tempat kamu ngutang makanan.” Timpal temannya, kemudian disusul dengan gelak tawa teman-temannya.
__ADS_1