PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Izin Resi Irpanusa


__ADS_3

Teknik yang luar biasa, ini adalah kelebihan dari teknik pedang bayangan. Jika beberapa pendekar berhasil menghisap kristal siluman, teknik pedang bayangan berhasil menghisap energi kehidupan.


“Ternyata ada cara seperti itu untuk mendapatkan tenaga dalam? Aku kira hanya dengan melakukan tapa brata saja?” ucap Sungsang Geni


“Tempat ini menyediakan tumbuhan yang berusia ratusan tahun. Sumber energi kehidupan yang melimpah. Jika kau memang berniat melakukannya, maka aku akan membawamu ke telaga kehidupan.” Sambung Pramudhita, seraya menyapu pandangan ke setiap sudut wilayah ini


“Apa itu telaga kehidupan?” Sungsang Geni penasaran.


“Tempat dimana semua tumbuhan akan di rendam, dan kau berada didalamnya. Jika kau sanggup menahan sakit yang teramat sangat ketika energi itu memaksa masuk ke dalam tubuhmu, maka kau dinyatakan berhasil.” Jawab Pramudhita.


“Aku setuju, aku telah merasakan sakit yang teramat sangat," ujar Sungsang Geni.


“Belum! Kau belum merasakan sakit teramat sangat sebelum kau mencoba teknik berbahaya ini...” Pramudhita menepuk pundak Sungsang Geni kemudian menuruni anak tangga kayu, beberapa detik dia menoleh lagi pada pemuda itu, “Kau tidak ikut? Kita akan menghadap pada Resi Irpanusa, prihal permintaanmu itu!”


***


Sungsang Geni pada akhirnya dipertemukan kepada Resi Irpanusa, dia adalah pimpinan atau sepuh di tempat ini. Anak dari murid pertama Sri Jaya Nasa. Mendengar permintaan Sungsang Geni, Resi itu tersenyum pahit.


“Apa yang membuat orang dari dunia luar tiba-tiba meminta bantuan kami?” tanya pria tua itu.


Sungsang Geni belum menjawab, dia masih memandangi setiap sisi tempat sederhana ini, memang terlihat pantas bagi orang yang mendapat julukan Resi. Suasana yang tenang dan tentram, jika di ingat mungkin tidak pernah ada situasi setenang ini di Dunia Luar.


Sungsang Geni mendapati 6 garis di kening Resi Irpanusa, itu adalah tingkat paling tinggi di tempat ini. Sungsang Geni yakin, tenaga dalam Resi Irpanusa adalah paling besar yang pernah dia rasakan.


Jika saja dia ada di Dunia Luar, maka mungkin tidak akan ada lagi Kelelawar Iblis saat ini. Tapi Sungsang Geni menyadari, kehidupan seorang Resi tidak terikat lagi dengan dunia. Bisa dibilang, Resi Irpanusa sudah berada pada puncak spiritual, hubungan dengan dewa dan ingat dengan kematian.


“Ehem...apa kau mendengar perkataanku, anak muda?” Resi Irpanusa kembali menegur Sungsang Geni yang belum menjawab pertanyaannya, membuat pemuda itu menjadi sedikit salah tingkah, dan berkata berat.


“Jika kau berkenan membantuku, aku memiliki tawaran untukmu?” ucap Sungsang Geni.

__ADS_1


“Tawaran apa yang bisa kau berikan kepada kami semua?” Resi Irpanusa tertawa kecil, terdengar mustahil ada tawaran yang bisa menyenangkan dirinya dari manusia muda yang bahkan terluka parah ketika tiba di tempat ini.


“Aku akan membawa dunia ini keluar, aku yakin semua orang disini sangat menginginkan hal itu bukan?” jawab Susang Geni lugas.


Resi Irpanusa tertawa kecil, begitupun dengan puluhan pendekar yang bersama dirinya. Terlihat hanya Pramudhita yang tidak tertawa, dia merasa harapan itu harus diwujudkan.


“Kenapa kau mengatakan hal itu? Kami bisa keluar sesuai keinginan kami!” Ucap salah seorang dari murid Resi Irpanusa.


“Benar, kami tidak butuh bantuanmu!”


“Jangan kau besar kepala, anak muda!”


“Kau bahkan hampir mati setelah tiba ditempat ini, lalu kau berniat membawa kami...”


Sungsang Geni tersenyum kecil, ini sudah diduganya. Tidak akan mudah untuk mempelajari kitab pedang bayangan, meski sebenarnya orang-orang di tempat ini juga demikian.


“Kalian tidak bisa keluar dari tempat ini!"Sanggah Sungsang Geni, mendadak semua orang terdiam mendengar ucapannya, “Jika kalian keluar dari tempat ini kalian akan mati?”


“Benarkan Resi Irpanusa...” Sungsang Geni menundukan kepala memberi hormat, seolah hormatnya murid kepada gurunya, “Kecuali jika kalian tidak memiliki tenaga dalam, maka kalian akan dapat keluar hidup-hidup dari tempat ini.”


“Itulah kenapa Yunirda bisa keluar dari sini?” sambung Pramudhita.


Semua orang saling tatap, dengan gumaman kecil yang keluar dari mulut mereka. wajah penuh tidak kepercayaan jelas terlihat, selama ini Resi Irpanusa tidak pernah mengatakan hal itu. Dia beralasan bahwa Dunia Luar lebih buruk dari tempat ini.


Tentu saja tujuan Resi Irpanusa adalah menghilangkan ambisi muridnya untuk keluar dari tempat ini, agar bisa bertahan hidup. Namun tempat ini adalah dunia gaib bagi Sungsang Geni, bahkan cahaya matahari di atasnya adalah palsu.


Sungsang Geni tidak begitu paham, tapi dia sangat yakin semua orang ditempat ini selain Resi Irpanusa tidak pernah menyadarinya.


“Nampaknya waktu bagi kami akan tiba...” Resi Irpanusa kemudian menatap seluruh muridnya, “Yang dikatakan pemuda ini benar, kita tidak bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup kecuali tidak memiliki tenaga dalam. Lalu bagaimana caramu membebaskan kami dari tempat ini?”

__ADS_1


“Dengan mengambil kitab pedang bayangan dari goa kawah puncak semeru.” Ucap Sungsang Geni tegas.


Semua orang tersentak diam, mata-mata mereka melotot nyaris keluar dari kelopaknya. Pramudhita hanya tersenyum kecil melihat pemandangan itu, dia juga pernah berada di posisi yang sama seperti mereka.


“Kau berniat mengambilnya?” Tanya Resi Irpanusa.


“Aku berniat mempelajarinya, setelah aku menguasainya aku akan memberikan kitab itu kepada kalian.” Sungsang Geni menambahkan satu tawaran lagi.


Sungsang Geni hendak mengatakan bahwa dia pengguna teknik pedang awan berarak, tapi niat itu segera diurungkan menyadari bahwa kitab pedang bayangan disegel oleh pemilik teknik yang dipelajarinya.


“Tidak pernah ada yang berhasil memasuki goa yang dipenuhi dengan kawah berapi.” Ucap Resi Irpanusa sambil mengelus janggutnya yang panjang, “Meski aku yakin kau tidak akan berhasil, tapi baiklah aku mengizinkan dirimu menggunakan telaga kehidupan.”


“Guru, kenapa kau mengizinkannya?”


“Guru, bisa jadi dia adalah musuh!”


“Benar, kita tidak tahu latar belakang dirinya bukan?”


Ucapan dari puluhan muridnya nampaknya tidak ditanggapi oleh Resi Irpanusa, dia menoleh ke arah Sungsang Geni. Tatapannya tajam kerah lengan kanan, tapi tidak berniat menanyakan hal itu.


“Terima kasih banyak Resi, aku akan membalas kebaikanmu...”


“Pramudhita, temani bocah ini mengumpulkan seluruh sumber daya yang paling baik.” Printah Resi Irpanusa, “Sebaiknya kau lakukan dengan cepat, dan tanpa ragu anak muda. Karena keraguanmu akan membunuhmu di tempat ini.”


Sungsang Geni sujud cukup lama di kaki Resi Irpanusa, meski tidak terdengar ucapan doa dari pria tua itu, Sungsang Geni masih dapat tersenyum lega.


Dia akhirnya mengikuti Pramudhita keluar gerbang padepokan pedang bayangan, berjalan menuju sisi dari hutan kayu mati. Sungsang Geni mengetahui sekelompok mahluk jahat seperti asap putih berasal dari arah sana.


“Kemana kita akan pergi?” tanya Sungsang Geni, menatap Pramudhita yang berjalan lebih dahulu kemudian menatap Srigala Besar yang mengendus dirinya dari belakang.

__ADS_1


“Kita akan menuju hutan kehidupan, sisi lain dari hutan kayu mati.” Jawab Pramudhita tanpa menoleh ke arah Sungsang Geni, “Persiapkan dirimu, kita mungkin akan berhadapan dengan hasrat yang lebih kuat.”


__ADS_2