PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Maha Senopati


__ADS_3

Sungsang Geni telah kembali lagi ke ruangannya. Di dalam ruangan itu, Wulandari tampak berjalan mondar-mandir dengan wajah khawatir memikirkan nasip Sungsang Geni. Namun raut wajah segera berseri, ketika pintu ruangan di buka, ada pemuda berdiri di tempat itu dengan keadaan baik-baik saja.


“Geni apa kau mendapat masalah dari Nini Sebalasa Tenung?” Wulandari hampir saja memeluk tubuh pemuda itu. “Kau tidak terluka bukan?”


Sungsang Geni tersenyum kecil kemudian menunjukkan botol giok kecil dari dalam saku bajunya. “Aku berhasil mendapatkan penawar racunnya.”


“Syukurlah kalau begitu.” Wulandari menepuk dada beberapa kali, namun ketenangan tidak berlangsung lama mana kala pintu ruangan terbuka lagi, kali ini Saraswati masuk dengan wajah gusar.


“Guru apa yang terjadi?” tanya Wulandari, segera menghampiri wanita itu, terlihat kesulitan untuk mengatakan informasi penting yang dibawanya.


“Celaka...”


“Celaka bagaimana?” Wulandari mengernyitkan kening, masih mencoba menenangkan Saraswati tapi tidak berhasil. Wajah wanita itu masih tegang. “Celaka, ini benar-benar celaka. Pasukan Kelelawar Iblis dan pihak kita baru saja dikalahkan oleh Surasena. Aku mendengar hal itu dari salah satu telik sandi yang baru saja datang melapor.”


Sungsang Geni menaikan alis, Wulandari memasang wajah gusar sementara sekarang di luar ruangan itu sudah terdengar riuh beberapa prajurit.


“Maha Senopati telah mendapat kabar mengenai hal itu.” Saraswati kembali melanjutkan ucapannya. “Ayahmu memutuskan untuk kembali ke sini, mungkin saja akan melakukan serangan besar-besaran.”


“Gawat!” Wulandari tersentak. “Kita harus pergi dari tempat ini, selekasnya! Jika tidak, kita akan mendapatkan masalah yang cukup sulit.”


Belum pula selesai informasi yang di jelaskan Saraswati, Wulandari segera menghambur keluar. Tidak beberapa lama dia kembali dengan buntelan perlengkapan. “Kita harus meninggalkan markas ini sekarang juga!”

__ADS_1


***


Di dalam perjalanan, di atas kereta kuda megah yang memiliki 3 obor menyala di bagian belakang dan ada 4 obor di bagian depan. Seorang pria yang usianya mungkin sekitar setengah abad, dengan kumis tebal dan janggut panjang berwarna gelap memasang wajah marah.


Maha Senopati julukan pria itu, merupakan ayah kandung Wulandari. Nama lengkapnya adalah Lemah Abang, atau juga Maha Senopati Lemah Abang. Dia menghisap sebatang cerutu kemudian menghembuskan asap tebal sekali, nyaris menutupi wajah yang dipenuhi dengan bulu-bulu itu.


Di sebelah dirinya duduk seorang pemuda yang usianya mungkin sekitar 25 tahun. Sama seperti Lemah Abang, pemuda itu memiliki kumis tebal dan janggut panjang hitam lebat. Dia mengenakan pakaian serba putih, mungkin terbuat dari perak atau besi putih. Ketika dia bergerak, suara bergemerincing terdengar dari pakaiannya.


Bukan hanya itu, pemuda itu juga mengenakan sarung tangan dari kulit buaya mungkin, di sisi bukul jari-jari sarung tangan itu dipasangi besi-besi runcing yang berwarna putih.


Tidak lain dia adalah putra angkat dari Lemah Abang, orang yang di gadang akan menggantikan posisi Maha Senopati di kerajaan Negri Sembilan. Tanjung Benawa, demikian nama pemuda itu.


Lemah Abang belum menjawab, melainkan kembali menghisap cerutu kemudian dari bibir yang dipenuhi bulu-bulu itu mengeupul asap putih tebal menutupi wajahnya. Orang itu tampak berpikir keras, dia tidak menduga pasukan Surasena berhasil mengalahkan pasukannya. Tentu ada kesalahan, pikir pria itu.


“Kita tidak bisa bergerak terburu-buru saat ini.” barulah Lemah Abang menjawab pertanyaan anak angkatnya. “Keberadaan kita di tempat ini adalah sebagai sekutu Kelelawar Iblis, tentu saja kebijakan ada ditangan mereka.”


“Tapi aku merasa geram bukan kepalang, Ayah.” Tanjung Benawa mengepal tinju beberapa kali, hendak berteriak mungkin saja. “Jika dibiarkan mereka akan semakin menjadi, harusnya Kelelawar Iblis mengambil sikap tegas mengenai hal ini.”


Yang dikatakan Tanjung Benawa ada benarnya, tapi Lemah Abang tidak bisa melakukan banyak hal saat ini. Setiap tindakan yang mereka lakukan harus berdasarkan persetujuan Kelelawar Iblis, inilah hal yang paling membuatnya merasa muak.


Malam ini kereta kuda berjalan cepat, namun tetap terjaga ketenangannya. Di belakang kereta kuda hampir 100 orang pendekar tanpa tanding mengiringi, di bagian depan hampir 50 orang.

__ADS_1


Derap langkah kuda memecah kesunyian malam, menembus jalan setapak memasuki hutan belantara. Suara-suara burung hantu atau pula jangkrik malam seketika berhenti ketika kelompok pasukan itu melewati mereka.


Tepat di paling depan pasukan itu, tiga orang penunggang kuda hitam dengan pakaian serba hitam bahkan gigi mereka juga hitam, memimpin rombongan. Mereka dikenal Sebagai Tiga Pendekar Iblis Malaka.


Dari semua orang di bawah Maha Senopati Lemah Abang, Tiga Pendekar Iblis Malaka adalah orang terkuat dan paling baik yang pernah ada. Mereka setidaknya setingkat dengan Sabdo Jagat, atau mungkin lebih baik darinya.


Tiga Pendekar Iblis Malaka bukan hanya isapan jempol belaka. Reputasi mereka di dunia bawah telah di kenal di Negri Sembilan sebagai pemimpin sebuah kelompok yang menjual perlengkapan perang untuk dipasarkan kepada Negri lain, atau para pemberontak.


Tiga Pendekar Iblis Malaka akhirnya bisa ditundukan oleh Maha Senopati Lemah Abang setelah bertarung selama tiga hari lamanya. Lemah Abang menjanjikan kedudukan tinggi menjadi prajurit Negri Sembilan asalkan tiga orang itu mau menjadi bawahannya yang setia.


Bak anjing yang sangat patuh, Tiga Pendekar Iblis Malaka menuruti semua perintah yang diberikan Lemah Abang kepada mereka.


Yang terkuat dari Tiga Orang itu bernama Malaka Tige, dialah yang paling kekar tubuhnya dan juga paling tinggi. Bukan hanya itu, pria itu juga memiliki gigi paling gelap diantara dua orang yang lain.


Senjatanya sebuah tombak panjang yang bermata dua. Tapi salah satu dari mata tombak miliknya memiliki ukuran yang lebih kecil. Orang-orang mengatakan mata tombak yang paling besar adalah yang paling tajam, tapi mata tombak kecil yang paling beracun.


Dia juga pria yang mampu menghabiskan satu kendi arak tanpa mabuk, bahkan untuk membuat pria itu mabuk setidaknya harus menghabiskan 5 kendi arak. Matanya paling tajam dibanding dua temannya karena itulah dia memimpin perjalanan rombongan ini dengan kuda berlari paling depan.


Tepat di belakang Malaka Tige, seorang pria dengan tubuh paling kecil dari kedua temannya. Malaka Due, Postur tubuhnya mungkin hanya setinggi punggung kuda. Tapi pria itu tentu bukan anak kecil, dia malah lebih tua dari tiga temannya. Umur pria itu sudah menginjak 40 tahun saat ini, dan 41 jika dia masih hidup selama satu minggu kedepan.


“Apa kau memiliki makanan?” Bertanya pria di belakang Malaka Due, dialah orang paling lemah diantara teman-temannya tapi rumor mengatakan dia adalah orang paling hebat dalam menguasai ilmu meringankan tubuh, meski tubuhnya paling gendut, Malaka Lime.

__ADS_1


__ADS_2