
Empu Pelak bilang dia akan membuat senjata hebat, tapi entah kenapa banyak orang yang tidak tahu dengan apa yang dia lakukan sekarang. Bahkan kegilaan sekarang lebih parah lagi dari ketika mereka melihatnya 2 tahun yang lalu.
Dia membawa tong besar, berjalan bersama 4 orang bawahannya menuju sekumpulan mayat yang mati dikalahkan oleh Sabdo Jagat, Gentar Bumi dan Sungsang Geni beberapa minggu yang lalu. Beberapa mayat yang dibakar Sungsang Geni tampak hitam dan gosong, namun ada lebih banyak mayat dalam keadaan terurai menjadi tanah.
“Jika ketika hidup orang-orang ini tidak ada gunanya dihadapan Kelelawar Iblis, maka setidaknya biarkan aku menggunakan jasad kalian. Tenang saja, aku akan menguburkan seluruh kepalanya dan memberi penghormatan kepada arwah mereka.” Gumaman kecil Empu Pelak sembari bekerja.
Pria itu mengambil bagian mayat yang telah mengurai, beserta tanahnya. Sebanyak mungkin, dia tidak meninggalkan satu mayat yang telah membusuk itu. Ketika dia melewati kem pengungsian, semua orang menutup hidung karena bau bangkai.
“Hei, apa yang akan kau lakukan dengan semua mayat itu?” salah satu dari mereka tidak tahan lagi dengan tingkah Empu Pelak, “apa kau sudah gila?”
“Benar! Aku akan membuat sesuatu yang lebih gila dari biasanya.” Ucap Empu Pelak, lalu berlu tanpa peduli ratusan orang sedang menggunjingnya.
Hampir dua jam dia melakukan hal itu, membawa puluhan mayat ke bukit tandus. Di atas bukit, dia membuat tong-tong lebih besar lagi, dan membuat lubang-lubang didalam tanah, lalu meletakkan puluhan mayat itu ke dalamnya.
Setelah selesai, kali ini hal gila yang lainnya sedang dia lakukan. Dia mengambil kotoran manusia di dalam ******, dan mengeringkan tanpa tersisa.
“Lihatlah, apa yang akan dia lakukan dengan semua kotoran itu?” semua pendekar kembali menggunjingnya, “Astaga, apa kita akan menaruhkan perang ini pada pria gila itu?”
“Jika kau tidak bisa membuat senjata lebih baik berterus terang?”
“Benar, dari pada kau melakukan hal gila semacam ini.”
Empu Pelak malah tertawa terbahak-bahak, “ Hei kau, cepat bantu akau membawa semua ini keatas bukit!”
Empu Pelak memerintahkan Siko Danur Jaya, pemuda itu memiliki ilmu meringankan tubuh cukup baik, tapi pemuda itu malah menolaknya dengan tegas.
__ADS_1
“Paman, aku yang akan membawa semua itu!” ucap Sungsang Geni.
Semua orang tiba-tiba terperanjat, bukan hanya karena Sungsang Geni lebih dahulu selesai melakukan meditasi dari pada yang lainnya, tapi juga karena pemuda itu malah mendukung perbuatan gila dari Empu Pelak.
“Apa kau yakin, anak muda?” tanya Empu Pelak, menaikan alisnya seakan tidak percaya. Semua orang sedang menggunakan penutup hidung karena kotoran ini, tapi tidak dengan Sungsang Geni.
“Jadi paman, semua kotoran ini...hem, ini adalah air seni dan tinja.” Ucap Sungsang Geni, “kemana aku akan membawanya?”
“Diatas bukit, bawahanku yang lainnya sedang melakukan sesuatu disana, mereka tahu harus melakukan apa.” Jawa Empu Pelak.
Tanpa berpikir panjang, Sungsang Geni membawa dua tong besar terbang keatas bukit. Dan banyak orang berpikir, kali ini Sungsang Geni ketularan gila dari Empu Pelak.
Sungsang Geni dapat melihat, dua utas tali besar tergulung, dia tidak pernah melihat ada tali seperti ini, biasanya hanya ada akar atau rotan yang dijadikan tali. Kemudian ada 8 buah roda gerobak besar di sana, yang sedang mereka buat.
“Paman, dimana aku harus meletakan benda ini?” ucap Sungsang Geni.
Sungsang Geni tidak memahami benda apa yang akan digunakan dengan bahan kotoran dan mayat, tidak pernah terbayangkan olehnya rencana Empu Pelak. Namun saat ini, Sungsang Geni tidak akan meragukannya, tidak pula akan menghalangi rencana Empu Gila.
Empu Pelak datang dengan napas memburu, dia telah membawa potongan besar kayu bakar. Dan begitu pula nampaknya dengan 4 bawahannya yang lain.
“Paman Empu?” tanya Sungsang Geni, “ Apa yang akan kita buat sebenarnya? aku sangat penasaran, jelaskan sedikit padaku!”
Empu Pelak tersenyum kecil, dia masih takjub atas tindakan Sungsang Geni. Sifat pemuda itu tidak sama dengan orang lain pada umumnya, tentu saja itu adalah kekuatan dari pemuda itu, atau mungkin kelemahannya.
Pada akhirnya Empu Pelak menjelaskan semuanya. Bahan kayu akan membuat arang, dan arang akan menjadi salah satu bahan yang penting untuk membuat benda ini. Semua bahan itu akan mereka campur menjadi satu, sebenarnya ini baru percobaan Empu Pelak dari banyaknya buku yang dia baca dari hasil penelitian sarjana-sarjana kerajaan.
__ADS_1
Campuran dari Mayat, kotoran dan air seni serta tanah dan rerumputan akan menciptakan garam. Tentu saja bukan garam yang sering digunakan sebagai bumbu gulai, tapi garam yang lebih mengerikan dari itu. Para sarjana kerajaan menyebutnya, bubuk sendawa.
Semua bahan sudah ada, tinggal satu lagi. Yaitu hasil dari ledakan gunung merapi yang umumnya berwarna kuning keputihan dan mengeluarkan bau busuk, belerang sulfur.
“Hoi Geni, apa kau pernah berpikir kenapa tempat ini gersang dan tidak ditumbuhi tanaman?” tanya Empu Pelak.
“Karena air tidak mengalir ke tempat ini paman!”
“Benar, tapi tidak semuanya. Ini adalah bekas gunung yang meledak ratusan tahun yang lalu, jika kau perhatikan maka tempat kalian tidur selaman ini adalah kawah yang sangat besar. Dan kau tahu benda apa yang dapat merusak tanah dari dalam gunung?”
“Belerang Paman!”
“Benar, para sarjana kerajaan menyebutnya sulfur, dan ada banyak sulfur di tanah ini.” Empu Pelak tersenyum kecil, memandangi Sungsang Geni yang tidak meragukannya sedikitpun, “ Kita akan membuat bubuk setan dengan mecampur belerang kedalam adonan, ini adalah senjata yang bisa menghancurkan Kelompok Kelelawar Iblis, yang hebat itu. Tidak ada cara lain Geni, misalkan aku membuat pusaka, hanya orang-orang tertentu bisa menggunakannya.”
Sekarang sudah ada belerang, mayat dan kotoran manusia dan juga arang. Semua bahan itu akan menjadi adonan mengerikan, karena itulah Empu Pelak membuatnya diatas bukit tinggi.
“Geni apa kau menganggap diriku keterlaluan, dengan memanfaatkan mayat-mayat ini?”
“Entahlah, aku tidak yakin dengan penilaianku sendiri.”
“Jika dipikirkan lagi, semua orang akan mati lalu dimakan cacing dan terurai menjadi tanah. Mereka akan menjadi roh dan tidak berguna, tapi aku berusaha memanfaatkan tubuh mereka. Aku telah meberi penghormatan, dengan menguburkan hanya kepala mereka saja. menurutmu, apakan roh akan tinggal di tubuh yang sudah jadi bangkai ini?”
“Mungkin kau benar paman, jika kau merobek perutmu yang ada hanya kotoran. Mana ada jiwa yang mau tinggal di dalam tubuh penuh kotoran?”
Empu Pelak tertawa terkekeh, tidak menyangka ada orang yang memahami jalan pikirannya yang aneh. Bahkan bawahannya saja tidak memiliki kepercayaan terhadapnya melebihi Sungsang Geni.
__ADS_1
'Pemuda ini memiliki sesuatu yang bisa membuatnya menjadi pemimpin seluruh negri. Dia bisa mendorong semua orang untuk pergi berperang, atau mempercayai semua rencananya. Dia bahkan sangat mudah mempercayai seseorang yang bisa diajak bekerja sama, mungkin ini adalah kelemahannya tapi juga kekuatan pemuda ini. Dan satu hal yang membuat dia istimewa, pemuda ini tidak takut bertaruh dengan takdir.'