PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Kematian Banduwati


__ADS_3

Energi kuning membentuk satu sayap emas di bahu kanannya, meski terlihat belum sempurna dengan hanya satu sayap, tapi pergerakan Sungsang Geni dapat mengikuti kecepatan Banduwati yang berniat melarikan diri.


Banduwati menyadari tidak akan sanggup menghadapi Sungsang Geni dengan kekuatan barunya. Jadi dia melempar pedang kecilnya untuk membuat pengalihan perhatian, lalu terbang secepat mungkin dari tempat itu.


Dengan matanya yang telah buta karena bertatap pandang dengan mata Sungsang Geni yang terlalu tajam dan menyilaukan, Banduwati harusnya tidak dapat melihat. Tapi meski tidak dapat melihat, dia tahu persis kemana tujuan terbangnya.


Energi Sungsang Geni dapat dirasakan olehnya meski berjarak 1 mil, jadi dia bisa menggunakan indra perasa untuk menjauhi Sungsang Geni.


Niat ingin melarikan diri, tapi dia malah merasakan energi Sungsang Geni tidak pernah jauh darinya, karena memang pemuda itu berada di belakang, dan setiap detik semakin mendekat.


Mereka saling kejar di udara, menuju ke timur reruntuhan. Dari bawah, Cempaka Ayu dan beberapa puluh orang melihat Sungsang Geni seperti bintang jatuh di malam hari, yang bergerak horizontal melintasi langit di atas kepala mereka


Cempaka Ayu berusaha mengikuti Sungsang Geni, hingga dia berkumpul dengan Guru Tiraka dan yang lainnya.


“Jangan dikejar!” ucap Guru Tiraka, “Kau tidak memiliki cukup tenaga untuk melakukan itu, hal yang terpenting sekarang, pulihkan kondisimu! Dan bantu aku merawat yang terluka!”


Cempaka Ayu sebenarnya tidak ingin menuruti perkataan Guru Tiraka, tapi benar yang perempuan itu katakan, sekarang dirinya tidak memiliki tenaga. Lebih-lebih mungkin juga keberadaan Sungsang Geni sudah sangat jauh dari Lembah Ular. Gadis itu tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya.


Sungsang Geni melepaskan pedang di tangannya, pedang bercahaya kuning melesat lebih cepat dari laju terbangnya dan berhasil mengganggu pergerakan Banduwati.


Tidak ada pilihan lain menurut komandan kelelawar itu, dia harus bertarung. Jadi dia menghentikan niatnya untuk melarikan diri.


Namun sebelum sempat dia menoleh kearah Sungsang Geni, pemuda itu telah mendaratkan tendangan keras tepat di batang lehernya. Banduwati melayang cepat menuju dataran dan terhempas di permukaan tanah yang dipenuhi dengan rumput ilalang.


Sekarang di tengah padang rumput ilalang membentuk siring lebar, karena tubuh Banduwati yang terseret keras dan cepat. Banduwati baru terhenti setelah tubuhnya hampir menyentuh danau luas.


Sungsang Geni tidak mengetahui nama danau di depan matanya, ini adalah kali pertama dirinya melihat danau seluas ini. Dan dia berpikir, tempat ini sekarang pasti sudah sangat jauh dari Lembah Ular.

__ADS_1


“Dalam keadaan buta seperti itu, apa kau bisa mengalahkan aku?” tanya Sungsang Geni.


Banduwati menggigit bibirnya, dia menyadari kemampuan Sungsang Geni tidak masuk akal. Dia beberapa kali mengupat serapah roh pedang watu kencana yang bergabung dengan pemuda itu. Jika bukan karena itu, dia pasti telah membunuh Sungsang Geni sejak 1 jam yang lalu.


Banduwati menyunggingkan senyum pahit, dia berharap serangan yang akan datang mampu melukai Sungsang Geni tapi ternyata tidak.


Sungsang Geni berhasil menangkap pedang kutukan milik Banduwati yang menyerangnya dari belakang. Sebelumnya pedang itu sempat dilempar oleh Banduwati sebagai peralihan, tidak di sangka Sungsang Geni, pedang itu bisa kembali lagi.


Senjata itu lekas dikembalikan lagi kepada Banduwati dengan kuat. Banduwati tidak sempat menghindar lemparan Sungsang Geni sangat cepat, apa lagi dia tidak dapat berbuat banyak dengan matanya yang buta. Pedang itu tertancap tepat di tengah perut dirinya.


“Tidak mungkin?” Banduwati bahkan belum bisa terima jika dia mati oleh seorang pemuda yang sebelumnya hampir dia bunuh.


“Benar, tidak mungkin.” Sambung Sungsang Geni tersenyum sinis, “Tidak mungkin kau bisa mengalahkan aku!”


Sungsang Geni mengeluarkan sebuah pedang dari telapak tangan kanan, pedang yang lebih besar dari sebelumnya. Kemudian secepat kilat, menghujam jantung banduwati. Wanita itu berteriak histeris, dia mencoba melakukan hal yang sama pada jarak sedekat ini terhadap Sungsang Geni.


Tapi sekali lagi serangan wanita itu tidak mencapai tubuh lawannya, tangannya tidak bisa menembus prisai bening yang mengelilingi Sungsang Geni.


Air danau mulai memasuki cekungan yang tercipta dari ledakan tadi, terus mengalir hingga memenuhi siring panjang di padang rumput ilalang.


“Aku harus kembali, tapi....” suara Sungsang Geni terhenti setelah tiba-tiba dia merasakan energi yang begitu besar dan tenang, berangsur angsur lenyap dari tubuhnya. “Tunggu, aku masih harus kembali ke Lembah Ular, bertahan...tunggu sebentar....”


Tubuh Sungsang Geni mendarat kasar di padang rumput, bersamaan sayap emas dan seluruh energi yang lenyap seketika. Pandangan Sungsang Geni berubah menjadi gelap, dan entah mengapa dia kembali merasakan seluruh tubuhnya terasa sakit.


“Apakah aku baru saja bermimpi?” gumam Sungsang Geni. sebelum pada akhirnya pemuda itu kehilangan kesadarannya.


***

__ADS_1


Sudah satu jam mereka menunggu kedatangan Sungsang Geni, tapi seperti yang diduga Guru Tiraka, pemuda itu mungkin tidak akan kembali. Cempaka Ayu menjadi bersedih menyadari hal itu.


“Tapi dia pasti baik-baik saja...” ucap Guru Tiraka mencoba menghibur gadis itu. “Aku yakin dia juga ingin kembali ke tempat ini, tapi kau harus tahu tidak semua berjalan sesuai dengan keinginan kita. Jika kalian berjodoh, suatu saat kalian akan bertemu lagi.”


Cempaka Ayu meraba keningnya, dimana segel yang diciptakan Sungsang Geni masih terasa. “Aku mengerti, bibi Guru...”


Sementara Cempaka Ayu sedang ditemani Guru Tiraka, beberapa orang yang lainnya mengobati luka-luka mereka. Empu Pelak terlihat baik-baik saja, dia sama sekali tidak menyangka pertempuran ini selesai lebih cepat dari yang dia bayangkan.


Tapi Empu itu juga menyesalkan tidak dapat membuat senjata yang lebih mudah digunakan, sehingga mungkin korban dari Lembah Ular bisa di minimalisir.


“Senjata yang paman buat sangat luar bisa!” Siko Danur Jaya mendekati Empu Pelak yang sedang termenung dengan banyak pikiran, “Ma'afkan aku karena telah menghina dirimu tempo hari! Sekarang aku sangat menyesal...”


Empu Pelak tersenyum kecil lalu menepuk pundak pemuda itu, “Aku dengar kau membunuh hampir 300 orang sendirian? Itu adalah pencapaian yang luar biasa.”


“Tapi senjata yang kau ciptakan telah menghabisi hampir 2500 orang lebih, pencapaianku belum sebanding denganmu...” Sambung Pemuda itu pelan.


“Tidak, ini adalah pencapaian semua orang. Aku hanya pembuat senjata, tapi aku tidak bisa bertarung, kalian yang bertarung di barisan depan memberi perlindungan kepada rongsokan ini . Jika tidak ada kalian, maka senjata ini tidak akan ada gunanya.”


Siko Danur Jaya tidak berkata lebih jauh, dia memalingkan wajahnya pada Lembah Ular yang hampir rata dengan tanah. Dan dia yakin untuk mengembalikan Lembah Ular seperti sedia kala akan butuh waktu belasan tahun bahkan mungkin puluhan tahun.


Seseorang tiba-tiba datang menunggang kuda dengan wajah tegang dan ketakutan, Guru Tiraka tahu pria itu salah satu dari dua puluh yang bertugas menjaga sisi hutan.


“Apa yang terjadi?” Tanya Guru Tiraka, dia menjadi panik melihat kedatangan pria itu dipenuhi dengan luka yang cukup serius.


“Celaka, guru! Celaka!”


“Celaka? Celaka bagaimana?” Semua Orang mendekati pria itu, “Dia datang, orang itu datang ke sini...”

__ADS_1


“Orang itu, siapa yang kau maksud? berkatalah dengan jelas!”


“Komandan ketiga Kelelawar Iblis, Asura!”


__ADS_2