
Yunirda sama sekali tidak merasa takut. Dia lalu mengeluarkan jurus terkuat yang dia miliki sekarang.
“Murka Naga Bayangan.” Ucap Yunirda.
Kemudian pedang pria itu mengeluarkan energi berwarna hitam berbentuk ular besar yang memiliki kumis. Jika energi yang digunakan Yunirda adalah tenaga dalam miliknya sendiri, naga itu akan berwarna bening dan berbentuk seperti riak ari.
Sungsang Geni sedikit terkejut, jika ini adalah kekuatan dari 60% yang diajarkan pemilik jurus bayangan, lalu seperti apa kekuatan dari 100%nya?
Di bawah sana, Cempaka Ayu segera berlindung di balik tembok-tembok tebal. Energi panas dan tekanan kuat dari naga milik Yunirda membuat dirinya kesulitan bernapas.
Gadis itu hanya memiliki 5 % dari tenaga dalamnya untuk digunakannya jika sesuatu hal buruk terjadi, tapi nampaknya sekarang adalah waktu untuk melindungi tubuhnya agar tidak hancur.
“Tarian Dewa Angin, Neraka Penyucian!” Sungsang Geni secepat kilat menyerang lebih dahulu.
Yunirda mengeraskan rahangnya, kemudian mendorong energi berbentuk ular besar dengan pedang. Naga itu menggeliat membuka mulutnya lebar-lebar lalu menahan serangan Sungsang Geni dengan seluruh taringnya.
Tekanan dari benturan kedua jurus mematikan, menghempaskan seluruh benda-benda yang berada di sekitar. Naga itu berusaha menekan api yang dimiliki Sungsang Geni, tapi nampaknya juga demikian dengan Sungsang Geni, pemuda itu ingin membakar habis naga itu.
Dari kejauhan, sisi timur reruntuhan, tepatnya Jelatang Biru dan yang lainnya, melihat pemandangan itu dengan wajah-wajah tegang. Benturan dua energi besar di awang-awang, menjadi sebuah pemandangan yang mengerikan.
Energi panas dan berat memenuhi tanah Lembah Ular, meretakkan beberapa gedung dan membakar beberapa rumah. Bahkan terasa getaran kecil saat ini.
Sungsang Geni masih berusaha membakar Naga itu, tapi nampaknya akan menjadi sulit. Jadi dia, terpaksa menarik semua energi panas pada pedang watu kencana. Dan seketika, api yang keluar dari tubuh Sungsang Geni menjadi bergelora.
Perlahan-lahan, sedetik demi sedetik, Sungsang Geni meretakkan taring dari naga bayangan. Dan pada akhirnya, naga itu bisa ditembus dan terus melaju memasuki perut naga itu dengan api yang membara hingga terhenti pada seseorang.
“AGHKKKK!” dia berteriak kerasa sambil terus melaju kedepan.
“A’Apa?” Yunirda tidak menduga jurus miliknya terbakar habis oleh Sungsang Geni. Pedang watu kencana, tertancap tepat di tengah dadanya, dengan api yang masih bergelora.
“Kau menang, anak muda!” Gumam Yunirda dengan terbata-bata, “Jika... kau sempat, bertandanglah ke perguruan Pedang Bayangan, dan sempurnakan ilmu pedangmu.”
“MA'afkan aku paman, aku terpaksa melakukan ini.” Sungsang Geni berkata pelan, dengan wajah sayu.
__ADS_1
“Ti...tidak perlu merasa bersalah. Lagipula...aku juga berniat membunuhmu tadi.”
Kemudian Yunirda mengeluarkan sesuatu dari dalam saku bajunya, sebuah lencana hitam yang bertuliskan Pedang Bayangan dan juga, ketika dibalik ada sebuah peta.
“Setelah kau tiba di kaki bukit Semeru. Peta...ini akan membawamu ke Perguruan Pedang Bayangan...”
Setelah mengatakan hal demikian, seluruh tubuh Yunirda seketika raib menjadi butiran debu halus, dan terbang ditiup angin malam.
Sungsang Geni memperhatikan lencana itu sekali lagi, kemudian segera menyimpannya kedalam Saku bajunya. “Tentu saja, aku akan pergi kesana, perguruan Pedang Bayangan.”
***
Semenjak pertarungan Sungsang Geni dengan Yunirda dimulai, pada saat yang sama pertarungan Sabdo Jagat dan Giantoro hampir mencapai puncaknya.
Mereka berdua telah bertarung seimbang selama hampir 10 menit terakhir. Semenjak tongkat penghancur gunung kembali ke tangan Sabdo Jagat, kekuatan pria itu bertambah berkali-kali lipat. Giantoro bahkan tidak percaya dengan level kekuatan Sabdo Jagat saat ini.
“Jurus Batara Kala meremuk gunung.” Sabdo Jagat melepaskan energi kuning kearah Giantoro, tapi pria itu masih bisa menghindari serangan mematikan itu cukup mudah.
Tongkat penghancur gunung adalah senjata yang cukup berat, berbeda dengan tongkat pada umumnya. Sabdo Jagat belum terbiasa menggunakan tongkat ini, itulah kenapa setiap serangan yang di keluarkannya sangat lambat, meski berdaya hancur besar.
Sedangkan di sisi lain Giantoro berniat membuat Sabdo Jagat kehabisan seluruh tenaga dalamnya, dengan begitu dia bisa membunuh pria itu setelahnya.
"Tongkat ini menyerap tenaga dalamku sangat besar." gumam Sabdo Jagat. Apalagi dia selalu terus menerus mengeluarkan jurus-jurus tingkat tinggi.
“Apa kau sudah mulai lelah?” ucap Giantoro
“Tentu saja belum, ini baru saja pemanasan!” jawab Sabdo Jagat.
Giantoro melepas selusin energi hitam berbentuk tengkorak, menyerang Sabdo Jagat. Dan seperti dugaan Sabdo Jagat, pria itu tidak memiliki banyak energi yang tersisa. Buktinya setiap energi yang dilepaskan selalu saja berkurang jumlahnya setiap waktu.
Selusin energi tengkorak itu segera dihancurkan Sabdo Jagat dengan cukup cepat. Tapi setelahnya, napas Sabdo Jagat terdengar tak beraturan.
Mereka berdua kembali melakukan pertarungan jarak dekat, beberapa kali Sabdo Jagat menerima tendangan dari Ginatoro tapi tidak berlangsung lama, posisi segera berubah.
__ADS_1
Sabdo Jagat menghantam Giantoro dengan tongkat untuk beberapa kali, membuat pria itu merasakan beberapa tulang rusuknya terasa patah.
Jika saja ada cukup tenaga dalam, pada serangan itu Sabdo Jagat pasti sudah berhasil membunuh Giantoro.
Giantoro berdiri tertatih-tatih, telapak tangannya memegangi tulang rusuk bagian kirinya. Rasanya pasti sangat sakit. Sabdo Jagat juga melakukan hal yang sama, energi tengkorak telah membuat kulitnya terluka parah.
Sabdo Jagat menopang seluruh tubuhnya dengan tongkat penghancur gunung, jika tidak mungkin dia akan kehilangan keseimbangannya.
Mereka berdua akhirnya kembali melakukan pertarungan, saling jotos dan tendang serta beberapa kali saling menghempas.
“Hah...hah...kau, akan mati ditangaku sialan!” Ucap Ginatoro dengan napas tersengkal-sengkal.
“Tidak, kaulah yang akan mati di tanganku!” tukas Sabdo Jagat, kemudian menyerang perut Ginatoro dengan ujung tongkat, membuat pria itu terbungkuk namun pada saat yang sama berhasil mendaratkan kepalan tinju membuat keduanya sama-sama jatuh ke tanah.
Sabdo Jagat berdiri lebih dahulu, dia memandangi Giantoro dengan sayu. Diangkatnya tongkat penghancur gunung tinggi-tinggi, tentu saja serangan setandar itu bisa dihindari Giantoro.
Wakil komandan itu berniat berguling ke samping, tetapi entah mengapa tiba-tiba saja tubuhnya tidak bisa bergerak. Dia mencoba berkali-kali, tapi percuma saja, bahkan dia kesulitan menggerakkan satu jari tangannya.
“Tunggu apa lagi!”teriak seorang wanita dari belakang Sabdo Jagat, “Aku juga tidak memiliki banyak tenaga tersisa, sekarang lakukanlah! dasar Pimpinan bodoh menyedihkan!”
“Heh? Tiraka?” ucap Sabdo Jagat ketika menoleh ke belakang, menemukan wanita itu berwajah merah karena menahan pergerakan Giantoro dengan jurus penguncen miliknya.
Guru Tiraka berteriak keras, “Lakukan sialan! Lakukan cepat!”
Sabdo Jagat segera menyunggingkan senyum ke arah Giantoro yang menatapnya melotot.
“Meminta bantuan itu bukan pertarungan yang adil!” ucap Giantoro terbata-bata
“Benar, kalian tadi juga menyerangku bersamaan!” Sabdo Jagat tersenyum lebar penuh kemenangan, kemudian dia menyalurkan seluruh tenaga dalam yang dia miliki pada tongkat penghancur gunung. Cahaya kuning menyinari tongkat itu, dengan terang dan menyilaukan mata.
Senjata itu akhirnya mendarat di tubuh Giantoro, dan meretakan belasan bangunan dan juga membelah tanah cukup dalam.
“Sial, aku akan pingsan...” gumam kecil Sabdo Jagat. “Rasakanlah itu pria tengkorak...”
__ADS_1