PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Prahara Swarnadwipa 9


__ADS_3

Ketika pagi hari, matahari benar-benar bersinar lebih terang dari pagi biasanya. Ini tandanya ritual yang akan diadakan Saylendra mendapat dukungan dari alam semesta.


Sungsang Geni sudah sejak subuh membersihkan tubuhnya, pada pemandian hangat yang paling dia sukai. Pemuda itu mengenakan pakaian ganti yang terdapat pada lemari besar yang dipenuhi sekitar 100 pakaian ganti.


Dia memilah yang paling terlihat sederhana dan murahan, pakaian yang paling nyaman untuk di kenakan. Sementara itu, Panglima Ireng masih mendengkur tepat di pintu keluar kamar.


Sejak kembali dari penjara, pemuda itu tidak bisa duduk dengan tenang. Dia berjalan mondar-mandir, duduk dan berdiri sambil sekekali mengacak-acak rambutnya yang di getang dengan kain berwarna kuning kemerahan.


Tidak lama kemudian, terdengar ketukan pintu kamarnya, menjagakan Panglima Ireng dengan tiba-tiba. Srigala itu terlihat begitu kesal, mengendus hidung beberapa kali pada celah kecil di bawah pintu, kemudian menggeram.


“Pangeran Geni...” Lima pelayan cantik telah berada di depan pintu, dua diantara pelayan itu selalu saja menunjukkan wajah paling manis yang dia punya. Mencoba untuk menggoda, cukup berani karena Cempaka Ayu tidak ikut bersama mereka.


“Yang Mulia Raja mengajak anda untuk makan pagi, di meja makan.”


“Ruang makan!” Temanya menambahkan.


“Tunggu sebentar.” Sungsang Geni kemudian masuk ke dalam kamar untuk beberapa saat, kemudian kembali keluar dengan membawa Panglima Ireng.


Dua pelayan tadi yang mencoba menggoda sekejab berubah ketakutan dan berwajah pucat. Dia berjalan mundur, menghindari tatapan Panglima Ireng yang tajam.


“Jangan takut, dia tidak akan memangsa manusia.” Sungsang Geni tersenyum kecil.


Beberapa menit kemudian, pemuda itu telah berada di ruang makan baru. Bukan ruang makan yang pernah mengukir kisah sedikit menakutkan. Ruang makan itu tidak seluas ruang makan sebelumnya, tapi terlihat lebih nyaman karena menghadap pada jendela Istana yang terbuka lebar.


Sudah ada Cempaka Ayu di sana, duduk di apit oleh Rindang Sari dan Windur Hati. Kali ini baju yang gadis itu kenakan berwarna jingga, tidak tapi memang semua pakaian anggota kerajaan berwarna jingga, selain Sungsang Geni berwarna kehitaman.


“Silahkan duduk Putraku...!” Rindang Sari berkata.


Sungsang Geni memilih tempat duduk yang paling dekat dengan jendela. Tepat di sebelahnya, Wira Mangkubumi sedang menimang putranya dengan riang. Kemudian satu pelayan diminta untuk meletakkan putranya pada keranjang bayi berwarna emas dan berkain sutra.

__ADS_1


Bayi itu terlihat jengkel sekali berada di dalam keranjangnya.


Mereka menyantap makanan, sementara keadaan cukup hening dari kali pertama Sungsang Geni makan bersama kedua orang tuanya. Belum ada cerita-cerita yang keluar dari mulut mereka.


Barulah setelah semuanya selesai makan, Sungsang Geni mengatakan niatnya untuk kembali ke Dataran Java hari ini juga. Tidak baik menunda lebih lama lagi, mungkin perang sudah dimulai.


Wajah Rindang Sari yang pertama kali sedih mendengar niat putranya itu. Tentu saja, belum habis rasanya kebersamaan dengan Sungsang Geni, tapi sekarang malah akan berpisah.


“Apa tidak sebaiknya kau berada ditempat ini beberapa hari lagi, Putraku?”


“Tidak Ibu, mereka sedang menunggu kepulanganku. Kami memiliki masalah besar yang harus diselesaikan, jadi tidak ada waktu lagi untuk bersantai.”


Rindang Sari semakin sedih, jikalah kepergian Sungsang Geni hanya sebagai pengembaraan biasa, tidak menjadi persoalan. Namun Sungsang Geni akan pergi dengan perang di tangannya, tidak ada jaminan dia akan kembali dengan selamat.


Perang tidak pernah berlangsung dalam hitungan hari, semua hal bisa saja terjadi.


“Tenanglah Ibu, aku hanya butuh restu darimu. Tidak ada yang lebih baik selain dari restu dirimu.” Sungsang Geni tersenyum kecil kearah wanita itu, tapi tetap saja tidak bisa menenangkan hatinya.


Sedangkan Hulubalang yang telah berkhianat mendapatkan ganjaran yang setimpal, di campakkan dari wilayah Swarnadwipa. Tidak ada tempat yang bisa menerima pria itu di tanah ini.


Saylendra cukup berbelas kasih kepadanya, karena dia sudah mengambdi hampir selama 20 tahun sebagai Hulubalang yang menjaga Saylendra.


Hulubalang itu bisa menghilang, atau juga membuat apapun yang disentuhnya hilang. Alasan itulah, kenapa tidak ada yang mengetahui bahwa dia adalah penghianat yang membawa Salendra melewati kerumunan orang banyak.


Tapi Sungsang Geni sudah melumpuhkan semua aliran tenaga dalamnya, tidak ada yang bisa dia lakukan selain penyesalan.


Sungsang Geni mendapatai dua benda di dalam kotak itu, satu sebuah surat yang di segel diperuntukan untuk Lakuning Banyu, dan satu lagi sebuah lencana berwarna merah.


“Swarnadwipa akan membuka tangan menerima rakyat dataran Java dalam pengungsian, bukan hanya itu, kami akan mencukupi semua kebutuhan para pengungsi.” Saylendra kemudian terdiam sejenak, menoleh kearah Wira Mangkubumi. “Aku akan meminta, Wira Mangkubumi memimpin 10000 prajurit terbaik yang kami miliki, untuk membantu kalian.”

__ADS_1


“Sebuah kejutan yang tidak terduga.” Sungsang Geni begitu senang mendengar perkataan Ayahnya barusan. “Ini akan sangat membantu, pasukan sebanyak itu memberi sedikit harapan bagi kami.”


“Jangan terlalu berharap, prajurit yang kami miliki mungkin tidak sekuat prajurit yang ada di dataran Java,” tukas Wira Mangkubumi. “Kami sudah lama tidak berperang, beberapa prajurit mungkin belum pernah terjun ke medan perang.”


Sungsang Geni mengerti hal itu, tapi bukan sebuah masalah, toh beberapa orang di Surasena juga ada yang belum pernah terjun ke medan perang.


Kemudian Saylendra mengeluarkan sebuah kitab berwarna hitam dari kotak hitam yang baru saja diserahkan oleh Hulubalang. Kitab itu tidak begitu tebal seperti buku-buku yang dia baca di perpustakaan. Mungkin hanya ada 100 atau 120 halaman.


“Ini adalah kitab strategi perang yang sudah disimpan selama lebih 100 tahun, dibuat oleh leluhur ibumu.”


Sungsang Geni beranjak dari kursi kayu, dan mendekati Ayahnya dengan mata berbinar-binar.


“Di dalamnya terdapat 60 strategi dalam berperang, Swarnadwipa tidak pernah menggunakan kitab ini. Tapi sepertinya takdir dari kitab ini menjadi milikmu, gunakanlah dengan bijak dan ambilah apa yang telah diambil dari negrimu. Aku yakin kau mampu membawa kedamaian, karena kau adalah yang terpilih.”


Sungsang Geni hampir menangis ketika mendengar perkataan Saylendra, dia tidak bisa menahan diri untuk menyembah kaki pria itu. “Terima kasih banyak, Ayah”


Rindang Sari kemudian berdiri, mengangkat tubuh Sungsang Geni dan meletakkan sesuatu di telapak tangannya. “Ibu tidak memiliki sesuatu yang pantas untukmu, tapi...”


Rindang Sari lantas berbisik kecil di telinga Sungsang Geni, membuat semua orang terlihat begitu penasaran. Sementara itu Sungsang Geni menjadi sedikit tegang, lalu menoleh ke arah Cempaka Ayu sesaat dan balik menatap ibunya.


“Jaga benda itu baik-baik,” Rindang Sari kemudian menyeka air mata di wajahnya. "Aku ingin memberikannya padamu, di waktu yang paling baik, tapi ku rasa..."


“Kapan kau akan kembali?” Wira Mangkubumi bertanya.


“Siang ini.” ucap Sungsang Geni.


“Syukurlah, kau bisa menyaksikan ritual pemberian nama kepada ponakanmu.” Windur Hati menjadi lega.


“Dan juga semua orang harus tahu bahwa kau adalah putraku.” Rindang Sari menambahkan ritual selanjutnya.

__ADS_1


semoga ada yg suka...


__ADS_2