PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Bawahan Yang Setia


__ADS_3

Sungsang Geni dan


Mahesa akhirnya menemukan sebuah rumah makan yang terletak cukup jauh dan juga


sedikit kecil, Rumah Makan Bakudo.


Rumah Makan itu hanya


bratap daun ilalang, dengan dinding dari bambu yang dibelah. Meski sederhana,


namun cukup nyaman untuk disinggahi, terbukti banyak orang yang baru saja


keluar dari rumah makan itu.


“Bibi pelayan, berikan


kami makannan, dan arak!” Sungsang Geni menyodorkan 10 keping perak, melihat uang


yang diserahkan Sungsang Geni, pelayan itu mengeryitkan kening, Sungsang Geni


langsung menambah 20 keping perak lagi.


Sungsang Geni menarik


bangku kayu, lalu merebahkan punggungnya dengan lesu, beberapa kali dia menarik


napas dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan. Huss...


“Katakanlah! Sebenarnya


apa yang terjadi di Kerajaan Tomobok Tebing kemarin malam?” tanya Mahesa, dia


sudah tidak sabar ingin mengetahui masalah apa yang sedang dipikirkan


sahabatnya itu.


“Pangeran Dewangga


bukanlah satu-satunya yang diberi surat perihal lamaran putri Kerajaan Surasena.”


Sungsang Geni berbisik, “Tapi setiap putra mahkota dibawah kekuasaan Kerajaan Surasena,


mendapatkan surat yang sama, aku mengetahuinya karena bertemu dengan Pangeran


Widura dari Pancala, dan Nyai Bidara yang bertugas mengawal pangeran Miksan


Jaya. Apa menurutmu ini tidak cukup aneh?”


“Aneh sekali, tidak


mungkin satu putri menikahi 10 putra mahkota?” jawab Mahesa, dia menggaruk


kepalanya yang tidak gatal. “Mungkin Raja Cakra Mandala, sedang merencanakan


sesuatu, yang sangat rahasia, demi kebaikan Para Putra Mahkota.”


Sungsang Geni mengelus


dagunya. “Semoga saja pikiranmu benar, karena yang aku takutkan adalah,


bagaimana jika Kelelawa...”


“Tuan ini pesanannya?”


tiba-tiba saja pelayan rumah makan datang membawa pesanan, menghentikan ucapan


Sungsang Geni.


“Trima kasih bibi,”


Jawab Sungsang Geni.


Setelah pelayan itu


kembali ketempanya, Mahesa kembali berbisik. “Jadi, apa rencanamu sekarang?”


“Aku akan pergi ke


Surasena sekarang.” Jawab Sungsang Geni.


Mahesa tersedak arak


yang diminumnya, matanya melotot karena tidak percaya mendengar ucapan Sungsang


Geni.


“Apa kau yakin? Lalu


bagaimana caranya?”Mahesa mulai menatap Sungsang Geni dengan rasa penasaran.


“Jubahku ini dinamakan


kilatan Naga, aku bisa terbang secepat kilat, meskipun sebenarnya aku belum


pernah mencobanya.” Sungsang Geni kemudian tersenyum, lalu menuangkaan arak


kedalam gelasnya, “Sial, diamanapun tempatnya, kenapa arak rasanya selalu


pahit.”


“Sebenarnya aku tidak


begitu setuju.” Ucap Mahesa, kemudian menegak arak didalam gelasnya, “Ini arak


yang cukup nikmat.

__ADS_1


“Kita masih punya waktu


3 hari lagi sebelum Pangeran Dewangga menginjakan kakinya di Surasana. Sebelum itu


terjadi, bukankah lebih baik aku kesana lebih dahulu? Mengetahui kebenaranya. Jika


ternyata Kerajaan Surasena berniat jahat, kita bisa mencegah Putra Mahkota


Majangkara untuk tidak pergi kesana.” Sungsang Geni menjelaskan.


“Setelah itu menurutmu


apa yang harus kita lakukan?”


“Tentu saja kembali Ke


Majangkara. Lalu kita pikirkan lagi langkah tepat, untuk menyelesaikan masalah


ini.”


“TOLONG TOLONG SAYA!”


seorang pemuda berlari dari dalam hutan, dengan menggendong seorang yang


terluka parah.


Pria itu segera masuk


kedalam toko, “siapapun tolong saya...”


Sungsang Geni segera


menghampiri pemuda itu, “Apa yang terjadi dengan anda?”


Pemuda itu kesulitan


mengatur napasnya yang tersengkal, “Kami telah dirampok, dan dia terluka parah


karena melindungiku.”


“Nyai Bidara?” Sungsang


Geni langsung mengenal wanita yang terluka parah itu, wanita yang bertemu


dengannya dipenginapan Cempaka Putih. “Apakah anda pangeran Miksan Jaya?”


“Betul, apakah tuan


mengenal Nyai Bidara?” Miksan Jaya masih diliputi rasa ketakutan.


“Itu dia, kita habisi


dia sebelum buka suara.” Lima orang pria bertopeng keluar dari dalam hutan


Mereka merupakan level


pendekar  Pilih tanding, dan seorang lagi hanya kelas tanding.


“Tuan tolong kami...


mereka akan membunuh kami berdua.” Miksan Jaya tiba-tiba saja bersujud dikaki


Sungsang Geni.


“Pangeran apa yang kau


lakukan, tidak pantas anda seperti ni?”. Namun ucapan Sungsang Geni tidak


dihiraukan Miksan Jaya, dia tetap bersujud hingga Sungsang Geni bersedia


membantu dirinya.


“Geni, Biara aku saja!”


Mahesa melangkah keluar rumah makan, “Mereka hanya cecunguk kecil, tidak perlu


kau menarik pedangmu.”


“Minggir! kami tidak


ada urusan dengan dirimu.” Salah seorang pria itu berkata bengis, “Jika tidak,


jangan salahkan kami, jika lehermu terpenggal disini.”


“Jangan banyak bicara,


seranglah aku dengan segenap kemampuan kalian.” Ucap Mahesa.


Salah satu diantara


mereka maju dengan percaya diri, dia melakukan beberapa gerakan, kemudian


bersegera melayangkan goloknya tepat dileher Mahesa.


Ting... golok itu patah


menjadi dua, membuat wajah dibalik topeng seketika menjadi pucat dengan mata


terjelit.


Mahesa tidak menunggu


lama, dia segera mendaratkan kepalan tangannya tepat di ulu hati, membuat orang


itu terpental jauh dan mendarat pada batang pohon. Darah segar keluar dari

__ADS_1


mulutnya.


“Sial, Bunuh dia!”


seorang memberi aba-aba kepada temannya, untuk menyerang Mahesa dengan


bersamaan.


Terjadi pertarungan di depan


halaman Rumah Makan. Mahesa terlihat santai menghadapi mereka semua, beberapa


pedang yang mengarah ketubuhnya ditahan hanya dengan jari telunjuknya.


“Orang ini bukan sembarangan,


kita serang dengan jurus terkuat kita!”


Cahaya berkilauan


melesat kearah Mahesa dengan cepat. Terdengar suara ledakan dari tubuh Mahesa. Asap


putih menutupi tubuh Mahesa dari pandangan semua orang.


“Mampus kau!” ucap


salah sat orang bertopeng.


“Kenapa rasanya geli


seperti ini?” tiba-tiba angin kencang menepiskan asap putih yang menutupi


Mahesa. Tubuhnya sama sekali tidak terluka sedikit pun.


Mahesa sekarang mulai


menyerang mereka, mematahkan tangan dan tulang belulang, serta melumpuhkan


aliran tenaga dalam mereka.


Raungan kesakitan


menggema di halaman Rumah Makan, bagaimanapun melumpuhkan aliran tenaga dalam


sama saja dengan membunuh mereka dengan kejam. Setelah ini, mereka semua tidak


akan bisa bertarung lagi.


“Pergilah, aku tidak


akan membunuh kalian!” ucap Mahesa, setelah selesai menghajar orang-orang


bertopeng.


Mereka semua segera


beranjak dengan kesakitan, mencoba sekuat tenaga untuk menjauhi Mahesa.


Hingga akhinya salah


satu dari mereka dihadang Sungsang Geni. “Sebelum kau pergi, ceritakan padaku,


siapa yang menyuruh kalian!”


“Aku tidak akan


menceritakannya, meskipun kalian membunuhku.” Pria itu berkata terbata-bata. “Kami


bukanlah orang yang bisa kau paksa begitu saja, dan kami bukanlah pengecut.”


“Sial, kalau begitu aku


akan menyiksamu!” Tiba-tiba mahesa mematahkan tulang bahunya, membuat pria itu


merintih kesakitan.


“Katakanlah!” bentak


Mahesa.


“Sampai kalian mencabik


tubuhku, aku tidak akan memberi tahu kalian tentang tuanku.” Setelah mengatakan


itu, pria itu segera membungkuk menusuk lehernya sendiri dengan pisau kecil


diujung kakinya.


Darah kental mengucur


deras dari luka dileher orang bertopeng itu.


Melihatnya mata


Sungsang Geni menjadi merah, “Siapa tuannya ini,  sepertinya dia tidak hanya kuat, tapi


memiliki bawahan yang sangat setia.”


Sungsang Geni segera


melesat kedalam hutan, dan benar, semua orang yang dilepaskan Mahesa, bunuh


diri dengan cara yang sama.


“Apa mereka pikir, sebuah nyawa berharga  murah?”

__ADS_1


__ADS_2