
Sungsang Geni dan
Mahesa akhirnya menemukan sebuah rumah makan yang terletak cukup jauh dan juga
sedikit kecil, Rumah Makan Bakudo.
Rumah Makan itu hanya
bratap daun ilalang, dengan dinding dari bambu yang dibelah. Meski sederhana,
namun cukup nyaman untuk disinggahi, terbukti banyak orang yang baru saja
keluar dari rumah makan itu.
“Bibi pelayan, berikan
kami makannan, dan arak!” Sungsang Geni menyodorkan 10 keping perak, melihat uang
yang diserahkan Sungsang Geni, pelayan itu mengeryitkan kening, Sungsang Geni
langsung menambah 20 keping perak lagi.
Sungsang Geni menarik
bangku kayu, lalu merebahkan punggungnya dengan lesu, beberapa kali dia menarik
napas dalam-dalam lalu menghembuskan secara perlahan. Huss...
“Katakanlah! Sebenarnya
apa yang terjadi di Kerajaan Tomobok Tebing kemarin malam?” tanya Mahesa, dia
sudah tidak sabar ingin mengetahui masalah apa yang sedang dipikirkan
sahabatnya itu.
“Pangeran Dewangga
bukanlah satu-satunya yang diberi surat perihal lamaran putri Kerajaan Surasena.”
Sungsang Geni berbisik, “Tapi setiap putra mahkota dibawah kekuasaan Kerajaan Surasena,
mendapatkan surat yang sama, aku mengetahuinya karena bertemu dengan Pangeran
Widura dari Pancala, dan Nyai Bidara yang bertugas mengawal pangeran Miksan
Jaya. Apa menurutmu ini tidak cukup aneh?”
“Aneh sekali, tidak
mungkin satu putri menikahi 10 putra mahkota?” jawab Mahesa, dia menggaruk
kepalanya yang tidak gatal. “Mungkin Raja Cakra Mandala, sedang merencanakan
sesuatu, yang sangat rahasia, demi kebaikan Para Putra Mahkota.”
Sungsang Geni mengelus
dagunya. “Semoga saja pikiranmu benar, karena yang aku takutkan adalah,
bagaimana jika Kelelawa...”
“Tuan ini pesanannya?”
tiba-tiba saja pelayan rumah makan datang membawa pesanan, menghentikan ucapan
Sungsang Geni.
“Trima kasih bibi,”
Jawab Sungsang Geni.
Setelah pelayan itu
kembali ketempanya, Mahesa kembali berbisik. “Jadi, apa rencanamu sekarang?”
“Aku akan pergi ke
Surasena sekarang.” Jawab Sungsang Geni.
Mahesa tersedak arak
yang diminumnya, matanya melotot karena tidak percaya mendengar ucapan Sungsang
Geni.
“Apa kau yakin? Lalu
bagaimana caranya?”Mahesa mulai menatap Sungsang Geni dengan rasa penasaran.
“Jubahku ini dinamakan
kilatan Naga, aku bisa terbang secepat kilat, meskipun sebenarnya aku belum
pernah mencobanya.” Sungsang Geni kemudian tersenyum, lalu menuangkaan arak
kedalam gelasnya, “Sial, diamanapun tempatnya, kenapa arak rasanya selalu
pahit.”
“Sebenarnya aku tidak
begitu setuju.” Ucap Mahesa, kemudian menegak arak didalam gelasnya, “Ini arak
yang cukup nikmat.
__ADS_1
“Kita masih punya waktu
3 hari lagi sebelum Pangeran Dewangga menginjakan kakinya di Surasana. Sebelum itu
terjadi, bukankah lebih baik aku kesana lebih dahulu? Mengetahui kebenaranya. Jika
ternyata Kerajaan Surasena berniat jahat, kita bisa mencegah Putra Mahkota
Majangkara untuk tidak pergi kesana.” Sungsang Geni menjelaskan.
“Setelah itu menurutmu
apa yang harus kita lakukan?”
“Tentu saja kembali Ke
Majangkara. Lalu kita pikirkan lagi langkah tepat, untuk menyelesaikan masalah
ini.”
“TOLONG TOLONG SAYA!”
seorang pemuda berlari dari dalam hutan, dengan menggendong seorang yang
terluka parah.
Pria itu segera masuk
kedalam toko, “siapapun tolong saya...”
Sungsang Geni segera
menghampiri pemuda itu, “Apa yang terjadi dengan anda?”
Pemuda itu kesulitan
mengatur napasnya yang tersengkal, “Kami telah dirampok, dan dia terluka parah
karena melindungiku.”
“Nyai Bidara?” Sungsang
Geni langsung mengenal wanita yang terluka parah itu, wanita yang bertemu
dengannya dipenginapan Cempaka Putih. “Apakah anda pangeran Miksan Jaya?”
“Betul, apakah tuan
mengenal Nyai Bidara?” Miksan Jaya masih diliputi rasa ketakutan.
“Itu dia, kita habisi
dia sebelum buka suara.” Lima orang pria bertopeng keluar dari dalam hutan
Mereka merupakan level
pendekar Pilih tanding, dan seorang lagi hanya kelas tanding.
“Tuan tolong kami...
mereka akan membunuh kami berdua.” Miksan Jaya tiba-tiba saja bersujud dikaki
Sungsang Geni.
“Pangeran apa yang kau
lakukan, tidak pantas anda seperti ni?”. Namun ucapan Sungsang Geni tidak
dihiraukan Miksan Jaya, dia tetap bersujud hingga Sungsang Geni bersedia
membantu dirinya.
“Geni, Biara aku saja!”
Mahesa melangkah keluar rumah makan, “Mereka hanya cecunguk kecil, tidak perlu
kau menarik pedangmu.”
“Minggir! kami tidak
ada urusan dengan dirimu.” Salah seorang pria itu berkata bengis, “Jika tidak,
jangan salahkan kami, jika lehermu terpenggal disini.”
“Jangan banyak bicara,
seranglah aku dengan segenap kemampuan kalian.” Ucap Mahesa.
Salah satu diantara
mereka maju dengan percaya diri, dia melakukan beberapa gerakan, kemudian
bersegera melayangkan goloknya tepat dileher Mahesa.
Ting... golok itu patah
menjadi dua, membuat wajah dibalik topeng seketika menjadi pucat dengan mata
terjelit.
Mahesa tidak menunggu
lama, dia segera mendaratkan kepalan tangannya tepat di ulu hati, membuat orang
itu terpental jauh dan mendarat pada batang pohon. Darah segar keluar dari
__ADS_1
mulutnya.
“Sial, Bunuh dia!”
seorang memberi aba-aba kepada temannya, untuk menyerang Mahesa dengan
bersamaan.
Terjadi pertarungan di depan
halaman Rumah Makan. Mahesa terlihat santai menghadapi mereka semua, beberapa
pedang yang mengarah ketubuhnya ditahan hanya dengan jari telunjuknya.
“Orang ini bukan sembarangan,
kita serang dengan jurus terkuat kita!”
Cahaya berkilauan
melesat kearah Mahesa dengan cepat. Terdengar suara ledakan dari tubuh Mahesa. Asap
putih menutupi tubuh Mahesa dari pandangan semua orang.
“Mampus kau!” ucap
salah sat orang bertopeng.
“Kenapa rasanya geli
seperti ini?” tiba-tiba angin kencang menepiskan asap putih yang menutupi
Mahesa. Tubuhnya sama sekali tidak terluka sedikit pun.
Mahesa sekarang mulai
menyerang mereka, mematahkan tangan dan tulang belulang, serta melumpuhkan
aliran tenaga dalam mereka.
Raungan kesakitan
menggema di halaman Rumah Makan, bagaimanapun melumpuhkan aliran tenaga dalam
sama saja dengan membunuh mereka dengan kejam. Setelah ini, mereka semua tidak
akan bisa bertarung lagi.
“Pergilah, aku tidak
akan membunuh kalian!” ucap Mahesa, setelah selesai menghajar orang-orang
bertopeng.
Mereka semua segera
beranjak dengan kesakitan, mencoba sekuat tenaga untuk menjauhi Mahesa.
Hingga akhinya salah
satu dari mereka dihadang Sungsang Geni. “Sebelum kau pergi, ceritakan padaku,
siapa yang menyuruh kalian!”
“Aku tidak akan
menceritakannya, meskipun kalian membunuhku.” Pria itu berkata terbata-bata. “Kami
bukanlah orang yang bisa kau paksa begitu saja, dan kami bukanlah pengecut.”
“Sial, kalau begitu aku
akan menyiksamu!” Tiba-tiba mahesa mematahkan tulang bahunya, membuat pria itu
merintih kesakitan.
“Katakanlah!” bentak
Mahesa.
“Sampai kalian mencabik
tubuhku, aku tidak akan memberi tahu kalian tentang tuanku.” Setelah mengatakan
itu, pria itu segera membungkuk menusuk lehernya sendiri dengan pisau kecil
diujung kakinya.
Darah kental mengucur
deras dari luka dileher orang bertopeng itu.
Melihatnya mata
Sungsang Geni menjadi merah, “Siapa tuannya ini, sepertinya dia tidak hanya kuat, tapi
memiliki bawahan yang sangat setia.”
Sungsang Geni segera
melesat kedalam hutan, dan benar, semua orang yang dilepaskan Mahesa, bunuh
diri dengan cara yang sama.
“Apa mereka pikir, sebuah nyawa berharga murah?”
__ADS_1