PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Melanjutkan Perjalanan


__ADS_3

Sungsang Geni disambut langsung oleh para penduduk yang menunggunya dengan harap-harap cemas. Wajah-wajah mereka sekejap menjadi sumringang ketika mengetahui pemuda itu kembali tanpa membawa luka.


Dari sini mereka masih dapat melihat pertarungan Sungsang Geni begitu sengit. Ketika muncul 5 ekor naga tadi, mereka tiba-tiba menjadi sangat berkecil hati. Tidak mungkin pemuda itu bisa mengalahkan naga itu, pikir mereka.


“Dia kembali, dia kembali!” teriak para penduduk.


“Sudah kubilang dia akan memenangkan pertarungan ini....”


“Halah, bukannya kau yang paling berkecil hati dan terlihat meragukan kemampuannya?”


“Si...siapa bilang? Aku mempercayai Tuanku pendekar?”


Panglima Ireng menghampiri lebih dahulu dengan moncong besar yang mengendus tubuh Sungsang Geni. Seakan sedang memeriksa kondisi tubuh temannya tersebut.


“Tenanglah! Aku tidak terluka sedikitpun.” Sungsang Geni mengelus kepala srigala hitam itu.


“Gerr...ger...” geram Panglima Ireng.


“Sekarang sebaiknya kita lanjutkan kembali perjalanan...”


“Tapi tuan pendekar, aku telah mengambil kelapa muda...” Brewok Hitam menunjuk setumpuk kelapa yang dia pungut setelah terjadi gempa kecil. Beberapa tangkai kelapa terlihat terpotong rapi, menandakan mereka juga baru saja memanjatnya.


Sungsang Geni menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sambil tersenyum kecil dia berjalan mendekati kumpulan kelapa. Masih sempat mengambil buah ini? Sungsang Geni tertawa kecil.


“Siapapun yang menginginkan kelapa muda, silahkan ambil sendiri!” Sungsang Geni mengambil 3 kelapa muda dan berjalan ke arah pohon yang berdaun lebat. “Kita akan melanjutkan perjalanan setelah selesai menyantap buah ini.”


“Tuanku pendekar, apa aku harus memainkan kecapi?”


Sungsang Geni tersenyum kecil, kemudian mengajak Bentara duduk di dekatnya yang diikuti oleh Panglima Ireng. Pemuda itu menggelengkan kepala, ini bukanlah waktunya bagi bocah itu untuk menghibur semua orang.


“Sekarang waktunya untuk makan, kau harus membuat perutmu selalu kenyang agar menjadi lebih kuat.” Sungsang Geni menyodorkan kelapa muda yang telah dia buka, kemudian membelah salah satu kelapa yang lain.


“Apa kau mau, Ireng?”


“Gerr...gerr..”


“Hemmm...kalau begitu berburulah, tapi jangan terlalu lama!”

__ADS_1


***


Sekitar 2 jam kemudian, semua orang sudah naik keatas gerobak dengan wajah-wajah riang. Riang karena perut yang sudah kenyang, juga riang karena menaiki gerobak itu. Tapi tidak dengan Sungsang Geni, wajah pemuda itu kembali kecut.


“Tuan pendekar, kau tidak perlu memaksakan diri untuk ikut menaiki gerobak. Gunakan saja kuda disana!” Brewok Hitam berkata.


“Paman, kau benar-benar baik. Aku akan menerima tawaranmu.” Sungsang Geni tersenyum kecil lalu naik ke atas punggung kuda. Baginya sudah sangat cukup menaiki gerobak buruk selama tiga hari lamanya.


Ketika semua rombongan sudah bersiap, Sungsang Geni bersama dengan Brewok Hitam memimpin perjalanan diiringi Panglima Ireng di belakangnya. Tugas Panglima Ireng tetap sama, mengatur tempo lari para binatang yang menarik gerobak-gerobak itu.


***


Nogo Sosro kembali menuju istana siluman ular di dalam lautan dalam, dia di papa oleh kedua orang putranya, salah satunya adalah Nagawira.


Ketika mereka tiba di depan gerbang istana, belasan tabib bergegas membawa Raja mereka untuk mendapatkan perawatan secepat mungkin.


“Cepat siapkan segala perlengkapan!” teriak kepala tabib wajahnya begitu tegang. “Bersyukur luka di bagian perut tidak sempat mengenai organ vitalmu, Yang Mulia.”


Beberapa orang prajurit benar-benar panik dibuatnya. Bagaimana tidak? 6 orang naga yang pergi ke permukaan, menyisakan Nagawira yang tidak mengalami luka.


Seorang pria tua dengan janggut teramat panjang yang dijalin sedemikian rupa, hingga sampai ujung perutnya mendekati Nogo Sosro dengan wajah khawatir.


Butuh cukup waktu sebelum akhirnya Nagawira yang masih sehat menjawab perkataan kakeknya. “Orang itu ternyata memiliki kemampuan yang sangat hebat, Eyang...”


“Orang yang melintas di atas Istana kita?” yang dimaksud dengan kekek naga adalah Pramudhita.


“Bukan, bukan dia Eyang,” sambung Nagawira. “Tapi teman manusianya.”


Dia kemudian menceritakan semuanya tanpa terkecuali, bahkan dia menjelaskan bagaimana tombak trisula kebanggaan keluarga itu hancur berkeping-keping ditangan pemuda itu.


Kakek naga sebenarnya tidak percaya, tidak ada yang percaya jika pusaka mereka hancur. Tapi itu benar adanya, kekuatan manusia yang ditemui lebih kuat dari siapapun yang pernah mereka hadapi sebelumnya.


Mendengar perkataan cucunya tersebut, laki-laki tua itu mengelus janggut panjangnya.


“Ceritamu sangat sulit dipercaya cucuku, tapi jika melihat semua luka yang diderita Nogo Sosro dan saudara-saudaramu...” kakek itu menarik napas berat, “sepertinya dia memang sangat kuat.”


“Beristirahatlah! Kalian akan membutuhkan satu hingga dua minggu agar pulih sepenuhnya.” Kakek naga kemudian beranjak, tapi pandangannya terhenti ketika melihat dua gadis yang sama-sama termenung seakan memiliki beban yang berat.

__ADS_1


“Lalu apa yang terjadi dengan kedua saudarimu itu?”


“Mereka bertingkah aneh setelah bertemu dengan dua orang itu.” Nagawira berkata dengan berat. “Wajah Sancani bahkan terlihat merah setelah bertemu dengan orang itu.”


“Manusia itu?”


“Bukan, tapi mahluk lelembut yang terbang melintasi istana kita. Pria itu mengatakan bahwa dia berasal dari Gunung Mahameru.”


“Itu adalah gunung para dewa...” Kakek itu kembali mengelus janggutnya, dia mencoba mengingat beberapa kejadian di alam lelembut ratus tahun yang lalu.


Informasi di alam lelembut sebenarnya lebih mudah tersebar daripada informasi di alam manusia. Karena itulah kakek naga itu, menjadi terkejut bukan kepalang, mengingat sesuatu yang disegel di atas puncak mahameru.


“Apa kau melihat seekor naga bayangan dari serangannya?”


“Benar Eyang, pemuda itu mengeluarkan seekor naga bayangan.”


“Kalau begitu tidak salah lagi, kitab pedang bayangan yang disegel di atas Gunung Semeru sudah diambil. Aku yakin itu adalah perbuatan manusia itu.”


Berita mengenai bangsa lelembut yang memiliki teknik bertarung dari bangsa manusia ratusan tahun yang lalu, membuat seluruh alam lelembut menjadi gempar. Hal itu tidak pernah disangka-sangka sebelumnya.


Semua bangsa lelembut mengetahui, bahwa Sri Jaya Nasa memiliki kemampuan setara dewa bahkan bisa menundukkan kedua alam dengan kekuatannya.


Hingga akhirnya, murid dari Srijaya Nasa malah menurunkan salah satu dari ilmunya pada seorang lelembut, yang bernama Irpanusa, atau Resi Irpanusa.


“Tabir lelembut dari gunung semeru sudah hilang. Mereka bisa menaklukkan setiap bangsa lelembut dengan kekuatan kitab pedang bayangan.” Terlihat kening kakek naga semakin berkerut.


“Jadi apa maksudnya itu, Ayahanda...uhuk...uhuk...” Nogo Sosro mulai tertarik dengan perkataan kakek naga itu.


“Sebaiknya kita membentuk hubungan baik dengan penghuni gunung Semeru selagi sempat,” ucap Kakek Naga.


“Bagaimana caranya?”


Kakek itu menatap dua gadis yang termenung seperti orang gila. Salah satu diantara mereka berdua akan menjadi kunci hubungan mereka. Dari cerita yang diucapkan Nagawira, bukan mustahil Sancani adalah orang yang tepat.


Semua orang saling tatap beberapa lama, mereka membuka mulut lebar-lebar seakan tidak percaya dengan rencana naga tua itu. Namun demikian, mereka semua tersenyum kecil lalu menatap ke arah Sancani.


“Apa kau mau menikah dengan pria itu, Sancani?”

__ADS_1


Ada yang kebanyakan point? Gih ngevote sana! Jiahahaha. Gerrrrrr.....


__ADS_2