PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Menuju Swarnadwipa


__ADS_3

Sungsang Geni menghadap Raja Lakuning Banyu pada hari ini. Butuh beberapa menit untuk tiba ditempat itu, sebab Sungsang Geni harus melewati prosedur yang lumayan rumit. Tidak sembarangan orang bisa bertemu dengan Sang Raja saat ini.


Kedatangan Sungsang Geni tentu saja berkaitan dengan perjalanannya menuju dataran Swarnadwipa, yang akan dilakukannya ketika siang hari kelak.


“Geni, apa kau yakin akan pergi ke dataran Swarnadwipa seorang diri?” Lakuning Banyu terkejut setelah mendengar ucapan dari pemuda itu.


“Kita harus bertindak cepat Yang Mulia Raja. Kita tidak memiliki banyak waktu untuk memikirkan hal-hal buruk, situasi kita sangat mendesak.” Sungsang Geni meyakinkan Lakuning Banyu.


“Aku mengetahui kekuatanmu sangat hebat...tapi penghuni pegunungan Kerakatau....”


“Aku paham kegusaranmu, tapi seperti yang aku katakan kita harus bertindak cepat.” Sungsang Geni berkata mantap. “Para siluman kera itu tentu saja sebuah masalah, tapi itu tidak melunturkan niatku sedikitpun.”


Lakuning Banyu tampak berpikir beberapa saat, dia meminum arak lebih banyak dari sebelumnya kemudian mengelus dagunya beberapa kali. “Baiklah, kau boleh pergi. Tapi ingat, jika keadaan tiba-tiba tidak menguntungkan sebaiknya kau segera kembali lagi kesini!”


Sungsang Geni lantas pergi dari kediaman Raja Surasena itu. Tempat ini sebenarnya paling tinggi di banding tenda-tenda pengungsi yang lain. disepanjang perjalanannya, pemuda itu bertemu dengan orang-orang yang telah di kenal, menatapnya dengan heran.


Setelah beberapa jam kemudian, tepat matahari berada diatas kepala, Sungsang Geni akhirnya berpamitan dengan sang Guru untuk memulai perjalanannya.


“Semoga keberuntungan selalu memihakmu, muridku!” ucap Ki Alam Sakti.


“Terima kasih Eyang Guru.”


Setelah berpamitan dengan Guru dan teman-temannya, Sungsang Geni segera menuju tenda perguruan Lembah Ular. Dia melayang dengan cepat melintasi beberapa tenda pengungsi dan mendarat tepat diantara Tenda Lembah Ular dengan Macan Putih.


Ki Lodro Sukmo mengintip dari celah jendela ketika pemuda itu masuk kedalam tenda Sabdo Jagat dengan curiga.


“Apa yang akan dilakukan pemuda itu?” Sesepuh Bangau Putih dari Perguruan Macan Putih berkata setelah mengintip dari celah tenda yang berlubang. “Dia terlihat membawa beberapa perlengkapan, apa dia akan pergi dari tempat ini?”

__ADS_1


Ki Lodro Sukmo sekekalai memainkan janggutnya yang panjang, dia juga tampak mengira-ngira kemana arah perginya pemuda itu. “Sudahlah biarkan saja, tak ada untungnya pula kita memikirkan orang itu. Mau mammpus sekalian, aku tidak peduli.”


Bangau Putih terkekeh kecil. “Kau mungkin tidak peduli Sobat, tapi aku akan menyelidikinya.”


Setelah mengatakan hal itu, Bangau Putih keluar dari tenda tanpa meminta izin dari Ki Lodro Sukmo. Hubungan mereka berdua lebih dari sekedar teman, sebab itulah Bangau Putih tidak terlalu peduli dengan hubungan formal dan beradab seperti kebanyakan orang di perguruan lain.


Di sisi lain, Sabdo Jagat tersentak bukan kepalang mendengar ucapan Sungsang Geni yang sangat tiba-tiba itu.


Pria itu memang masih kesal setelah Sungsang Geni membuat masalah dengan Benggala Cokro, tapi mendengar bahwa pemuda itu akan pergi seorang diri ke Swarnadwipa membuat dia begitu khawatir.


“Niatmu membantu semua orang memang mulia Geni, tapi mempertaruhkan nyawa dengan pergi ke Swarnadwia adalah tindakan gegabah.”


“Paman Guru, hidupku ini seperti anak panah yang terlepas dari busurnya. Aku tidak memiliki waktu untuk berhenti, jika ini bisa membantu semua rakyat aku akan mempertaruhkan segalanya,” tegas pemuda itu.


“Kami tahu kau memiliki kemampuan yang hebat, tapi siluman kera di sana bukanlah lawan yang mudah, kami hanya tidak ingin kau membahayakan dirimu lagi. Perang ini tidak harus kau tanggung sendiri...” Guru Tiraka berkata lirih, wanita itu tampak paling khawatir dari semua orang yang berada di dalam tempat itu.


“Aku tidak sendiri Bibi Guru.” Sungsang Geni tersenyum kecil. “Aku memiliki teman, aku memiliki kalian, aku memiliki orang-orang yang membuat darahku bersemangat. Aku akan baik-baik saja selagi kalian mendukungku.”


Tindakan gila, dan rencana-rencana gila pemuda itu harusnya dapat dimaklumi mereka yang ada disana.


“Nampaknya Aku tidak bisa mencegahmu.” Sabdo Jagat menarik napas berat. “Tidak ada yang lebih baik selain nyawamu sendiri, kau harus memikirkan hal itu. Dan aku harap Cempaka Ayu tidak mengetahui rencanamu ini.”


Tenda itu memang dipenuhi dengan Sesepuh Lembah Ular, tapi Cempaka Ayu tidak ada disana, gadis itu telah pergi bersama dengan Sekar Arum untuk membantu pengobatan para pengungsi sejak dari pagi tadi.


“Jika begitu, aku akan pergi sekarang!” Sungsang Geni berkata, dia kemudian memberi hormat lalu pergi meninggalkan kediaman Lembah Ular.


“Dia tidak berubah!” Jelatang Biru baru membuka suara setelah pemuda itu pergi. “Dia seperti jelmaan para pejuang, tidak! Mungkin dia jelmaan dari dewa perang.”

__ADS_1


***


Sungsang Geni mulai berjalan mendaki pada cadas yang terlihat lebih landai dari yang lainnya tepat disebelah paling barat wilayah itu, kemiringan cadas itu mungkin sekitar 45 derajat, cukup mudah untuk dilewati manusia biasa.


Di belakang pemuda itu, mengiring Panglima Ireng dengan kuku-kuku hitam yang mencengkram kuat.


Keadaan medan tidak selalu landai, sekekali ada tanjakan yang sedikit lebih tinggi, sekitar 1 meter menghadang jalan mereka, tapi tentu saja itu bukan sebuah halangan bagi pemuda itu.


“Ireng, padahal aku sudah melarangmu untuk ikut, tapi kau menjadi keras kepala.” Sungsang Geni menatap Srigala itu yang tertinggal cukup jauh di belakangnya. “Ayo gunakan kukumu yang kuat, pegunungan ini belum apa-apanya dibanding puncak Mahameru, Bukan?”


“Gerr...gerr....” Suara Panglima Ireng terdengar kesal, sekarang dia mungkin sedang berpikir kenapa tidak terlahir sebagai burung saja, dengan begitu masalah seperti ini tidak akan menyulitkan dirinya.


Sungsang Geni duduk diatas batu paling besar, sambil memperhatikan tenda para pengungsi yang sekekali terhalang awan putih yang tipis. Padahal Ini belum berada pada dataran tinggi dia atas pegunungan, bisa dibilang ini baru setengah dari ketinggian.


Dari sini pemuda itu sudah bisa melihat lautan biru terhampar di ujung garis horizon dengan hiasan awan-awan putih yang bergerak perlahan. Pemuda itu juga masih dapat melihat beberapa orang sedang mengangkut air dari sungai kecil di tengah wilayah pengungsi.


Setelah beberapa saat kemudian, pemuda itu kembali melanjutkan langkah kakinya.


“Ireng apa kau haus?” Goda Sungsang Geni setelah srigala itu berhasil berjalan di sampinya.


“Gerrr...gerrr...” Panglima Ireng menggeleng kepala, kemudian dia berjalan lebih dahulu meninggalkan Sungsang Geni.


“Hem...sekarang kau berlagak lebih kuat dari padaku.” Sungsang Geni tersenyum kecil. “Kau harus mengirit tenagamu, perjalanan kita masih sangat panjang.”


“Gerr...”


Menurut informasi yang di peroleh dari Lakuning Banyu, hanya ada satu orang yang berhasil melintasi pegunungan kerakatau ini 800 tahun yang lalu. Seorang pemuda sakti yang konon menjadi guru paling bijak di dataran java, yang mengajarkan bahasa dan adat pada penduduknya.

__ADS_1


“Petapa Aji Saka?” Sungsang Geni bergumam pelan. “Apa dia berasal dari Kerajaan Swarnadwipa?”


Hai gimana capter kali ini, Serukah? Jangan lupa untuk mendukung PDM dengan like koment dan vote sabanyak-banyaknya. Camkoha.


__ADS_2