PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Perang Besar 8


__ADS_3

Parit yang membeku karena ulah Lemah Abang sekarang memercikkan api. Gesekan yang terjadi antara tubuh Mungkarana di dalam mulut naga bayangan telah menyulut si jago merah. Jerami, kayu kering dan minyak terbakar. Menciptakan pagar api yang menyala-nyala.


Naga bayangan pada akhirnya melewati tubuh Mungkarna dan melesat ke arah langit. Komandan pertama Kelelawar Iblis itu kehilangan satu tangannya karena menahan serangan Sungsang Geni.


Dia memang harus memilih kehilangan satu tangan, karena jika tidak serangan naga bayangan bisa saja menghilangkan setengah badannya.


Dari mulut Mungkarna keluar cairan hitam, jelas itu adalah darah. Lengan kanannya sudah lenyap bersama dengan naga bayangan.


Sekarang dia melihat darah menetes ke tanah, berbau busuk keluar dari tubuhnya sendiri. Hal yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Belum ada satu orangpun yang berhasil melukai Mungkarna selama karirnya menjadi Komandan Pertama Kelelawar Iblis, belum pernah! Hingga hari ini pemuda yang sempat dihajarnya beberapa bulan yang lalu memecahkan rekor itu.


Ringisan keluar dari mulutnya yang bertaring tajam. Serangan Sungsang Geni bukan hanya kuat tapi terasa sangat panas. Mungkarna butuh lebih banyak energi kegelapan untuk menghentikan pendarahan di lengan kanannya.


"Manusia itu, sejak kapan dia memiliki energi sebesar ini?" Mungkarna mendesah berat, suara nafasnya mirip seperti geraman hewan buas.


Beberapa saat kemudian, Sungsang Geni tiba di bawah tembok Markas Petarangan. Kehadiran pemuda itu membuat ribuan orang terkejut bukan kepalang. Kenapa pemuda itu tidak hinggap di atas tembok, kenapa malah di bawah tembok?


Sungsang Geni mengangkat pedangnya setengah badan, kemudian membawa pedang itu ke samping. Dalam sekali tebasan, energi yang keluar dari pedang menyapu dataran itu, membuat musuh berhamburan karena tekanan yang ditimbulkan.


Beberapa ratus orang yang berada di dekatnya, mati dengan tubuh terpotong sementara setelah 30 depa mereka hanya mengalami luka-luka parah. Tapi pada intinya tidak ada prajurit musuh yang tidak terkena dampak dari tebasan pemuda itu.


Angin menderu beberapa saat, mayat-mayat musuh berhamburan dan bertumpuk di tengah parit yang berkobar. Seketika situasi di depan tembok Markas Petarangan hening karena musuh sudah mati, dan sebagian terpukul mundur hingga ke parit.

__ADS_1


“Kekuatan yang mengerikan!” ucap Benggala Cokro, menelan ludah beberapa kali melihat kekuatan Sungsang Geni. “Ini belum satu tahun ketika aku menantang dirinya, kekuatannya memang besar tapi tidak sebesar ini. Darah seperti apa yang mengalir di dalam tubuh dirinya?”


“Darah seorang dewa,” jawab Cawang Wulan.


Akibat tindakan Sungsang Geni, sekarang tidak ada lagi panah yang datang. Barang kali musuh sedang berhenti sejenak untuk membuat strategi ulang. Sungsang Geni melirik ke atas, bangunan tinggi sudah banyak rusak karena pertarungan Lemah Abang menghadapi lima pendekar Surasena.


Tidak menunggu lama, pemuda itu melesat menuju pertarungan mereka.


Lemah Abang terkejut bukan kepalang setelah sosok pemuda itu berada tepat di hadapannya dengan tekanan pedang yang panas dan tatapan tajam.


Bukan hanya Lemah Abang, lima pendekar Surasena juga terkejut melihat kedatangan pemuda itu. Sebelum tubuh Lemah Abang beraksi, Sungsang Geni sudah mendaratkan satu sarangan tepat di tengah dadanya.


Ledakan tenaga dalam keluar dari telapak tangan pemuda itu, menerobos organ dalam Lemah Abang hingga tembus ke tulang belakang. Serangan itu memang tidak terlihat mencidrai, tapi sebenarnya luka dalam yang dihasilkan sangat parah.


Tenaga dalam Sungsang Geni bukan milik manusia lagi, itu sudah berada pada level yang berbeda pikir Darma Cokro.


Sebelumnya Lemah Abang meski hanya sendiri cukup yakin bisa mengalahkan lima orang pendekar Surasana di hadapannya. Tapi pemuda dengan aura panas ini, adalah sesuatu yang berbeda. Lima pendekar Surasena, barangkali hanya hanya setengah dari kekuatan Sungsang Geni.


Lima kali Lemah Abang memuntahkan darah. Mata hitam terbuka lebar seolah keluar dari kelopaknya. Belum lagi dia bereaksi setelah mendapat serangan itu, Sungsang Geni bergerak cepat untuk menebas kepalanya.


Hanya berjarak setipis rambut sebelum pedang Sungsang Geni menanggalkan lehernya, tiba-tiba dari dalam hutan aura kegelapan mendadak muncul dan menekan seisi dunia. Lemah Abang tiba-tiba hilang dari pandangan, seolah lenyap begitu saja. Serangan Sungsang Geni hanya menderu menebas angin.

__ADS_1


Langit yang sebelumnya terbagi antara gelap dan terang kali ini benar-benar diselimuti awan hitam yang mencekam. Kilatan ungu menyambar-nyambar di udara. Dari dalam hutan, dua puluh ribu pasukan inti Kelelawar Iblis mulai bergerak pelan.


Rumput-rumput segera layu dan kering ketika aura itu menjalar, bahkan sekarang hutan belantara mulai layu. Topeng Beracun benar-benar menunjukkan energinya kali ini. Seolah dia adalah pembawa malam dan kekeringan di dunia ini.


“Pasukan musuh dipenuhi dengan prajurit berkuda, dan sisanya pengguna ilmu meringankan tubuh.” Gumam Lakuning Banyu. “Jika hampir semua prajurit musuh bisa menggunakan ilmu meringankan tubuh, maka tembok ini tiada artinya lagi.”


Darma Cokro setuju dengan perkataan Lakuning Banyu.


Sebagian prajurit Surasena menjadi pucat pasi setelah mendapatkan tekanan besar. udara saat ini seperti lenyap, dan pandangan mereka menjadi sedikit terbatas. Awan hitam telah menutupi matahari, sehingga kondisi saat ini sedikit remang-remang. Tidak terlalu gelap seperti malam, tapi juga tidak seterang ketika siang.


Sebagai orang terkuat di pasukan ini, Sungsang Geni turun dan berdiri tepat di tengah gerbang Markas. Topeng beracun sudah menunjukkan dirinya, dengan berdiri di atas gajah hitam besar dan berbulu panjang. Dari bibirnya tersungging senyum sinis, seolah mengatakan bahwa dunia ini tidak akan memiliki cahaya lagi.


Sungsang Geni menoleh ke atas, menatap setiap prajurit yang terpaku di atas tembok dengan wajah kecut tanpa nyali. Dari tangan pemuda itu keluar beberapa pedang. Pedang itu di lepaskan pada setiap menara tertinggi, sehingga cahaya emas dari pedang menjadi pengganti obor.


Ada 9 pedang yang tertancap di puncak menara, menjadi satu-satunya penerang bagi prajuritnya. Rasa dingin yang mencekam tiba-tiba hilang setelah aura hangat dari pedang menjalar di sekujur tubuh prajurit Surasena.


Darma Cokro, Lakuning Banyu dan Ki Alam Sakti adalah orang-orang yang berdiri di samping Sungsang Geni. Kemudian disusul oleh Ki Lodro Sukmo dan juga Bangau Putih.


“Mahapatih, berikan sedikit semangat untuk kami!” tiba-tiba Mahesa melompat dari atas tembok bersama dengan Sabdo Jagat.


Sungsang Geni tersenyum kecil, terdiam sesaat baru kemudian berbicara lantang. “Hari ini kegelapan datang menyelimuti kita, mereka menekan dan berusaha menguasai. Keraskan rahang kalian! bulatkan tekat kalian! Satu-satunya yang harus kalian ketahui, hidup adalah perjalanan menuju kematian. Dimanapun berada kita melangkah menuju kematian. Tapi, MATILAH DENGAN BANGGA SEBAGAI CAHAYA!”

__ADS_1


“Mati dengan bangga!” teriak ribuan prajurit Surasena, suara mereka bergemuruh seperti hujan dan badai.


“SERANG!”


__ADS_2