
Puntura meraung, Sungsang Geni melihat lima bayangan naga bergerak-gerak di kepala Puntura. Mereka terlihat kesakitan, rintihan mereka membuat telinga Sungsang Geni terasa nyilu.
Udara di sekitar tidak beraturan, terkadang hangat dan terkadang dingin. Tekanan uara yang terpancar dari tubuh Puntura semakin lama semakin redup.
Puntura terangakat beberapa depa dari tanah, Sungsang Geni melihatnya sekarang ditengah-tengah dinding cadas yang hancur. Mahluk itu, menggeliat seakan kesulitan keluar dari tubuh Puntura.
Setelah cukup lama, akhirnya lima cahaya biru keluar dari tubuh Puntura dengan diikuti ledakan energi yang cukup dahsayat. Sungsang Geni tidak menyangka, tubuh Puntura sekarang menjadi abu.
Kelima cahya itu kemudian bersatu kembali, menciptakan cahaya terang. Sinarnya yang tajam membuat Sungsang Geni meras silau. Beberapa saat kemudian, cahaya itu meredup berganti sebilah keris yang Sungsang Geni mengenalinya dengan baik.
“Keris panca dewa.” Gumam Sungsang Geni.
Aura dingin tiba-tiba muncul kembali dari keris itu, tapi tidak beberapa lama hingga aura itu menghilang.
Keris itu jatuh ketanah tepat di hadapan Sungsang Geni, dengan posisi berdiri. “Bahkan ketika menjadi keris, kalian berlima masih berprilaku sombong.” Gumam Sungsang Geni.
Setelah berkata demikian, keris itu merebah padanya, seakan memberi hormat. Membuat Sungsang Geni menyunggingkan senyum di bibirnya yang penuh dengan darah.
Sungsang Geni memperhatikan mustika hijau di tangannya, mustika yang terasa sangat dingin.
“Jika mustika ini membuat pikiran kalian menjadi angkuh, maka apa gunanya benda ini?” tanya Sungsang Geni.
Tanpa diduga Sungsang Geni, sebuah suara berbicara di dalam kepalanya, menjawab pertanyaan Sungsang Geni, “Ma’afkan kami yang tidak mengerti akan derajat kami, setelah tercabutnya mustika itu, membuat pikiran kami menjadi tenang, tentu saja kekuatan kami akan berkurang setengahnya.”
Sungsang Geni tersenyum sendiri, “Bukankah lemah itu lebih baik, dibandingkan kuat yang tak terkendali?”
“Benar, anak Surya.”
“Benar...”
Kemudian terdengar suara beberapa orang mengucapkan hal sama, lalu terdengar lagi ucapan terima kasih, dan beberapa pujian.
__ADS_1
Setelah cukup lama mereka berkomunikasi secar telepati, suara mereka akhirnya menghilang dari kepala Sungsang Geni.
Pemuda itu menatap keris panca dewa sekali lagi, aura yang keluar dari keris itu sekarang lebih tenang dari sebelumnya.
Sungsang Geni memperhatikan mustika naga di telapak tangannya, kemudian membakarnya.
Bagi sebagian orang, tindakan Sungsang Geni dianggap bodoh. Mustika naga yang berumur ribuan tahun, dapat digunakan sebagai sumber kekuatan jika seseorang mampu menyerap energinya.
“Tapi meleburnya juga bukan tindakan bodoh,” Sungsang Geni menyadari perbuatannya, “Sipat negtif dari naga juga akan terserap bagi siapapun yang menyerapnya, lalu apa gunanya kuat jika mendatangkan bencana? Lebih baik hancur saja mustika ini.”
Dengan meleburnya mustika itu menjadi abu, Sungsang Geni berniat kembali ke Istana Surasena. Ada sesuatu yang mengganjal dipikirannya.
Namun sebelum sempat dia berbalik badan, Sungsang Geni melihat sebongkah batu sepanjang satu meter lebih, atau mungkin kurang, sebab Sungsang Geni tidak begitu pasti dengan ukurannya, menancap di dinding cadas.
Batu itu berwarna hitam, tapi setelah diperhatikan beberapa lama dan sangat teliti ada warna merah tua di setiap urat-uratnya. Sungsang Geni yakin, Puntura tadi dihajarnya tepat dibatu itu.
“Aneh sekali, semua batu melebur ketika terkena api matahari, tapi tidak dengan batu itu.” Sugsang Geni menjadi penasaran, dia akhirnya mendekati batu itu dan berusaha mencabutnya, “Sial, berapa dalam batu ini tertancap di dinding cadas.”
Setelah berusaha hampir setengah jam, akhirnya Sungsang Geni berhasil mencabut batu itu. tidak terlalu dalam tertancap, tapi entah kenapa Sungsang Geni kesulitan mencabutnya. Keseluruhan panjang batu itu, sekitar satu depa Sungsang Geni, 1,8 meter. Besarnya hanya sebesar betis Sungsang Geni, tapi menciut dibagian ujung.
“Menyerap panas, batu ini menyerap panas!” Sungsang Geni terpukau melihatnya, dia berniat membuat senjata dengan batu ini, “Tapi bagaimana caranya? Tukang tempa tidak akan sanggup membuat senjata dari batu ini, jika api matahariku saja tidak bisa meleburnya.”
Cukup berat untuk batu seukuran itu, Sungsang Geni bersusah payah meletakan batu hitam itu pada bahunya, lalu segera melangkah pergi.
Sungsang Geni disambut oleh Darma Guru di tepi hutan Surasena, wajahnya yang diliputi kekhawatiran segera berbinar mendapati Sungsang Geni keluar dalam keadaan baik-baik saja.
“Dia baru saja menyelamatkan Kerajaan Surasena,” gumam Darma Guru, “Dia telah melampauiku, dan sebentar lagi akan melampaui dirimu, Tua Bangka Alam Sakti.”
Darma Guru cukup yakin raja Tombok Tebing Puntura telah dikalahkan oleh Sungsang Geni, jika tidak, mana mungkin pemuda itu menjinjing keris panca dewa. Lagi pula, Darma Guru tidak merasakan lagi, aura dan tenaga dalam dari raja Puntura.
“Nampaknya sudah berkahir?” Darma Guru berucap, seraya tersenyum.
__ADS_1
“Aki Darma Guru...” Sungsang Geni menyerahkan keris panca dewa kepadanya, ketika melihat wajah Darma Guru yang sedikit tegang Sungsang Geni berkata, “Lima naga di dalam keris ini telah dijinakan, dia tidak akan keluar dan mengambil tubuhmu, Ki.”
“Dijinakan?” Darma Guru merasa ragu.
“Benar, dia tidak akan lagi mengambil tubuh tuannya. Percayalah padaku!” Sungsang Geni memahami keraguan Darma Guru.
Dengan tenaga dalamnya yang sudah terkuras, Darma Guru pikir keris panca dewa juga akan menguasai tubuhnya.
Mendengar ucapan Sungsang Geni, membuat Darma Guru memberanikan diri untuk mengambilanya. “Aura keris ini menjadi tenang...” ucap Darma Guru.
“Lalu apa yang kau bawa itu, Geni?” tanya Darma Guru yang merasa aneh dengan batu yang dipikul Sungsang Geni.
“Apakah ada tukang pandai batu di istana Surasena Ki?” tanya Sungsang Geni.
“Ya, ada seseorang yang memiliki keahlian memahat batu, tapi usianya mungkin sudah cukup tua, aku tidak tahu dia masih bekerja sebagi tukang pahat batu atau tidak.” Darma Guru mengelus janggut putihnya, sambil mengingat-ingat.
“Apa kau ingin membuat sesuatu dengan batu itu?” tanya Darma Guru lagi, wajahnya semakin terlihat penasaran.
Sungsang Geni tersenyum penuh makna, dia tidak ingin mengatakan rencanaya lebih dahulu sebelum batu yang dipikulnya berubah bentuk menjadi senjata.
“Tapi, aku kehilangan pedangmu...” Sungsang Geni berkata pelan, takut jika Mahapatih itu meminta gantinya.
Darma Guru terkekeh, kemudian memainkan jari-jemarinya, seketika sebilah pedang meluncur dari dalam hutan menuju dirinya. “Aku telah terhubung dengan pedang ini,” ucap Darma Guru, lalu pedang itu kembali terpecah menjadi dua bilah.
‘Hebat, aku ingin mempelajari ilmu pedang emas juga, tapi aku harus belajar meringankan tubuh. Heh... ada banyak yang harus kupelajari.’ Wajah Sungsang Geni terlihat lesu, lalu jatuh ketanah.
“Geni, apa kau yakin baik-baik saja?” tanya Darma Guru lagi.
“Aku merasakan seluruh tubuhku sakit, Ki.”
Mahapatih Darma Guru menggelengkan kepalanya, “jika begitu kau tidak dalam keadaan baik-baik saja, bocah. Aku kan menggendongmu, naiklah!”
__ADS_1
Darma Guru membungkukan tubuhnya, “Cepatlah, tidak usah malu!”
Jangan lupa dukung terus author, agar semakin semangat menulisnya. Dukungan apapun itu, author ucapkan terima kasih banyak.