PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Gerobak Makanan


__ADS_3

Selepas makan, ketika Ki Demang sedang menyiapkan perjalanan menuju Kadipaten Ujung Lempung, Sungsang Geni segera mencegah niat pak tua renta itu.


“Tunggulah hingga hari sedikit petang.” Sungsang Geni memberikan saran. “Aku akan ikut dalam perjalananmu, menemui Adipati Lingga.”


“Tapi...”


“Ada sesuatu yang harus aku lakukan.”


Sungsang Geni mendekati salah satu tawanan yang masih terikat di batang besar. Ketika pemuda itu datang mendekat, semua wajah mereka terlihat sangat takut. Salah satu dari mereka yang berbadan gendut hampir jatuh pingsan.


“Aku tidak akan melukai kalian...” ucap Sungsang Geni. “Sekarang apakah kalian bisa melihat penderitaan rakyat di sini.”


“Kami...kami melihatnya.”


“Lalu kenapa kalian berlaku buruk kepada mereka?”


9 orang itu saling pandang untuk beberapa waktu, wajah-wajah mereka masih diliputi rasa khawatir. Hingga kemudian, salah satu dari mereka kembali memberanikan diri untuk berkata.


“Paduka Raja, mengatakan bahwa mereka semua adalah penjahat yang akan menghancurkan Negri ini.”


Sungsang Geni mengangguk beberapa kali, menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal. Jika dipikirkan lagi, musuh dia kali bukanlah semata-mata kekuatan Kelelawar Iblis, tapi juga politik mereka.


Semua rakyat meyakini bahwa Kelelawar Iblis adalah dewa penyelamat, penolong dan pemberi kebaikan. Bagi yang tidak mempercayai hal itu, sama halnya dengan menjadi musuh bagi Kelelawar Iblis, dan itu artinya musuh bagi Kerajaan Tumenang.


'Mereka tidak bisa dikalahkan hanya dengan kekuatan saja, Kerajaan Tumenang tidak akan bebas dengan begitu saja, ini benar-benar merepotkan.'


“Kau...apa kau tahu gudang makanan Kerajaan Tumenang?” tanya Sungsang Geni.


“Apa?”


Sontak saja semua orang ditempat itu menjadi terkejut, beberapa pasang mata terbelalak seperti akan keluar dari kelopaknya.

__ADS_1


“Apa jangan-jangan kau akan?” Ki Demang tidak sanggup melanjutkan ucapannya, dia menelan ludah pahit beberapa kali.


Sungsang Geni hanya tersenyum kecil. Beberapa saat kemudian, dia membawa salah satu dari tawanan pergi meninggalkan kampung kecil. Semua mata sekali lagi hampir keluar dari kelopaknya, melihat hal gila yang barang kali akan terjadi di Kerajaan Tumenang.


Setibanya di kawasan yang subur, Sungsang Geni meminta tawananya untuk mencari satu gerobak besar yang akan digunakan untuk mengangkut makanan kelak.


“Kau pasti memiliki jabatan cukup tinggi, satu gerobak tidak akan sulit untuk didapatkan.” Bentak Sungsang Geni kepada pria kekar yang selalu pucat pasi setiap saat melihat wajahnya.


Tidak beberapa lama, mereka sudah mendapatkan satu gerobak yang ditarik dengan sapi putih. Sungsang Geni berniat menaiki gerobak itu, tapi tidak jadi. Kendaraan itu selalu memberi hal buruk bagi dirinya. Jadi Sungsang Geni hanya berjalan perlahan, sambil menarik tambang sapi.


Baru beberapa waktu, mereka tiba di salah satu kadipaten kecil yang sangat berbeda tampilannya dibandingkan kadipaten Ujung Lempung. Rumah-rumah tersusun rapi, meski tidak ada bangunan bertingkat, tapi Kadipaten ini cukup makmur.


Ada pagar pendek yang mengelilingi Kadipaten itu, sebuah pintu gerbang yang terbuka lebar tanpa pengawalan. Puluhan orang melewati pintu itu, membawa banyak barang dalam gerobak sapi mereka.


“Ini adalah Kadipaten Burularang...” ucap sang tawanan. “Gudang makanan berada di tengah Kadipaten, letaknya tepat di tengah kota ini.”


Sungsang Geni memperhatikan tempat itu beberapa lama, diperkirakan dari Kadipaten ini butuh waktu satu hari untuk benar-benar tiba di pusat Kerajaan Tumenang.


Rakyatnya juga tidak terlalu ramai atau padat, tata letak rumah juga lebih rapi dari Kadipaten lain yang pernah disinggahi Sungsang Geni. Hanya saja, tepat di atas bukit kecil, berdiri pula altar pemujaan bagi Dewa Kegelapan.


“Bawa aku ke tempat gudang makanan, sekarang!”


Dengan berat hati, sang tawanan berjalan lebih dahulu membimbing sapi menuju gudang makanan. Beberapa prajurit lain memberi hormat kepada pria itu. Tentu saja, tawanan yang dibawa Sungsang Geni adalah prajurit kerajaan, memiliki kemampuan level kelas tanding, sementara prajurit di wilayah Kadipaten hanya level satu.


Sungsang Geni tiba di pintu gerbang utama, sebuah lokasi yang kini dijaga oleh belasan prajurit level satu. Di dalam gerbang itu, berdiri beberapa bangunan mewah dan tentu saja rumah Adipati dan pejabat Kadipaten.


“Saya membawa titah untuk mengambil persediaan makanan!” berkata sang tawanan dengan nada bergetar.


Belasan prajurit penjaga gerbang mengernyitkan keningnya. “Bukankah ini belum waktunya untuk membayar upeti? Bukankah dua minggu yang lalu, kami baru saja mengirimkan 10 gerobak upeti ke Istana?”


Sang Tawanan menoleh ke arah Sungsang Geni dengan raut wajah kecut, ketika melihat kerlitan mata tajam pendekar itu, dia segera memalingkan wajah.

__ADS_1


“Paduka Raja meminta kenaikan upeti untuk bulan ini, jadi kalian harus memberi satu gerobak lagi!”


Belasan prajurit itu terlihat ragu, tapi mereka tidak berniat membantah sang tawanan yang merupakan prajurit Istana. Jadi dengan berat hati, mereka membuka gerbang Kadipaten.


Sungsang Geni dibawa oleh beberapa prajurit lain menuju Gudang Makanan. Untuk beberapa saat, didalam gudang itu dia mengambil segala makanan mulai dari beras, jagung, kacang dan bahkan telur.


Cukup lama, akhirnya mereka berdua keluar dengan setumpuk makanan di atas gerobak. Sungsang Geni terpaksa membantu sapi menarik gerobak itu, karena terlalu berat.


Beberapa langkah ketika mereka meninggalkan Kadipaten, Sungsang Geni melepaskan dua pisau kecil dan berhasil menangkap 4 ekor kelinci. “Kelinci ini untuk Ireng, dia akan makan enak untuk hari ini.”


Perbuatan Sungsang Geni tidak mendapatkan kesulitan berarti, dia berjalan santai melewati jalan lebar yang membelah persawahan penduduk. Hingga akhirnya dia mendengar derap langkah kaki belasan kuda mendekat dari arah belakang.


Tidak butuh waktu lama, sekitar 15 orang menghadang jalan Sungsang Geni beserta gerobak makanannya.


“Berhenti!” Salah satu dari pemimpin rombongan itu mengangkat tangannya. “Hendak kemana kalian membawa persediaan makanan ini? Ini bukan jalan menuju Istana, jangan-jangan kalian adalah penjahat?”


Sang Tawanan terlihat pucat pasi, kali ini dari raut wajahnya Sungsang Geni bisa menangkap bahwa rombongan penunggang kuda di depannya memiliki jabatan dan kekuatan lebih baik dari sang tawanan.


“Kau! Bukankah prajurit yang bertugas mengurusi ritual persembahan, kenapa membawa makanan ini yang jelas bukan tugasmu?”


Semakin pucat pasi wajah sang Tawanan, sementara Sungsang Geni tersenyum kecil.


“Apa yang lucu, kau berani melawan kami?”


“Hemm...”Sungsang Geni menggaruk kepalanya, terlihat seperti sedang berpikir tapi kemudian dia terkekeh kecil. “Kenapa aku harus takut kepada kalian?”


Baru saja dua orang dari belasan prajurit itu melompat dari atas kuda, Sungsang Geni melepaskan aura membunuh yang sangat pekat. Saking takutnya, sang tawanan sekarang jatuh pingsan lagi, sementara 15 kuda berlari tunggang langganan, menyeret tubuh para penunggangnya.


Dua orang yang baru saja melompat menjadi linglung untuk beberapa waktu, dia melihat teman-temannya berlari sementara tepat dihadapan mereka, pemuda matahari menghunuskan pedang.


“Jangan...jangan bunuh kami.”

__ADS_1


__ADS_2