PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Menguasai Istana2


__ADS_3

Ketika malam hampir berlalu, dan subuh mulai datang. Pemuda itu sudah berada di lantai tiga yang keadaannya lebih sepi lagi dari lantai sebelumnya. Tidak ada tanda-tanda prajurit sedang berpatroli saat ini, atau pula sedang tidur.


Lampu-lampu lilin menghiasi setiap sudut ruangan di sana. Sungsang Geni berjalan pelan dari balik tiang-ketingan lain. Terkadang dia berdiri di balik bayangan, memperhatikan kondisi dan situasi di lantai ini.


Beberapa waktu berlalu, terdengar para pelayan sedang bersiap melakukan tuga-tugas mereka.


Sungsang Geni masih menyelinap dari bayangan ke bayangan lain, hingga menemukan sebuah pintu besar dan megah.


Ukuran pintu itu dua kali lebih besar dari pintu-pintu ruangan yang di temui sebelumnya. Bermotif indah dengan warna emas yang memantulkan sinar cerah. Di antara dua pintu itu, ada dua laki-laki tinggi besar bertelanjang badan.


Mereka berkumis lebat, dengan cahaya lilin redup Sungsang Geni masih bisa melihat ke dua orang itu bertindik telinga. Mereka mencengkram tombak dengan dua mata, satu mata runcing dan tajam, satu lagi berbentuk kapak.


Tidak ada yang tertidur, mata mereka tajam dan dalam.


“Ruang harta karun?” Sungsang Geni bergumam pelan, menggaruk kepalanya beberapa kali.


Terlihat tidak begitu tertarik dengan ruang harta karun, tapi Sungsang Geni masih pula melemparkan dua pisau kecil ke arah mereka.


Dentingan senjata terdengar, dua penjaga itu berhasil menangkis serangan Sungsang Geni dengan cukup mudah. Nampaknya mereka sudah berada pada level tanpa tanding saat ini, reflek tubuh yang sangat bagus.


“Siapa di sana?!” berteriak salah satu dari penjaga itu. “Jangan bersembunyi wahai kau bandit kecil, kau mau mencuri harta milik Raja Prajamansara?”


Sungsang Geni keluar dari balik bayang-bayang dengan senyum kecil tapi dengan sorot mata tajam.


“Kedatanganku ke sini tidak berniat mengambil harta di dalam ruangan itu tapi,” Sungsang Geni menghunuskan sebilah pedang ke arah lawannya, “aku ingin nyawa kalian berdua.”

__ADS_1


“Jahanam laknat, terkutuk kau!”


Dua tombak sekaligus menyerang Sungsang Geni, mengandung tenaga dalam yang cukup kuat. Sungsang Geni berkerlit ke samping, kemudian memutar tubuhnya sekali serta menyisipkan satu tusukan. Tapi lawannya berhasil menghindari tusukan tersebut, malah balik melancarkan tusukan pula.


Tombak lebih panjang jangkauan serangannya, tapi Sungsang Geni berhasil menghindari serangan dengan cara melentikan tubuh, sehingga mata tombak hanya lewat dua jari dari wajahnya.


Bersamaan dengan serangan itu, satu tombak lagi akan menebas badannya. Sungsang Geni terpaksa menghentakan kaki, sehingga tubuh pemuda itu mundur beberapa depa dari posisi semula dan berhenti di dinding istana.


Teknik bertarung yang cukup hebat, pikir Sungsang Geni. Dia yakin mereka berdua sudah sering bertarung berpasangan, sehingga bisa saling melengkapi dan menutupi kelemahan masing-masing.


Belum lama Sungsang Geni tersandar di dinding, satu tombak melesat cepat dan mendarat satu jengkal dari kepala pemuda itu. Tombak tertanam cukup dalam pada dinding.


Belum berhenti, salah satu dari mereka melompat dengan tombak terangkat tinggi seolah mau membelah tubuh pemuda itu menjadi dua. Sungsang Geni berkelit dua langkah, sehingga sekali lagi tombak pria itu menghantam dasar ruangan hingga pecah.


“Kau licin seperti belut?!” ucap pria itu sambil menyerang Sungsang Geni dari samping.


“Setan alas...” Meringis wajah pria itu, dia mencengkram luka di dadanya.


“Pemuda ini bukan sembarangan, siapa dia sebenarnya?” tanya temannya yang lain.


“Siapa yang peduli, luka dari pedang aneh itu terasa sangat panas, akan kupastikan dia mati dengan kepala buntung.”


“Tunggu jangan gegabah!”


Tidak mempedulikan peringatan dari temannya, pria itu menyerang Sungsang Geni dengan membabi buta. Serangan dia lebih cepat dari sebelumnya, tapi Sungsang Geni masih cukup cepat untuk menghindar.

__ADS_1


Sekekali tombak pria itu tertanam di dinding ruangan, lalu ditariknya ke samping sehingga tercipta garis lurus di dinding tersebut. Dua tiga kali dia nyaris mendaratkan mata tombaknya ke arah leher pemuda itu, beberapa helai rambut Sungsang Geni terpotong karena serangannya.


Tapi sejauh ini, belum ada satu seranganpun yang tidak bisa dihindari. Membuat pria itu menjadi muak dan kesal. Dia berhenti sesaat untuk menyerang, terlihat mengatur nafasnya yang berantakan.


Temannya yang tadi bergantian menyerang Sungsang Geni. Dia cukup percaya diri bisa mengalahkan pemuda itu, beranggapan bahwa stamina lawannya mulai terkuras. Tapi tentu saja belum, Sungsang Geni memiliki jumlah tenaga dalam besar yang membantu pergerakannya.


Jadi ketika pria itu mulai menunjukkan celah, Sungsang Geni secepat kilat masuk dan menembus perutnya. Mata pria itu terbelalak tidak percaya, dia cukup yakin mata tombaknya akan lebih dahulu menikam leher Sungsang Geni, tapi dugaan pria itu salah, tangkai tombak hanya lewat di atas bahu pemuda itu.


Darah merah keluar dari dalam mulutnya, perutnya terasa ditusuk dengan besi panas. Seisi perut mungkin sudah terbakar saat dia mencoba menelaah serangan pemuda itu.


Sungsang Geni meletakkan telapak tangan di pundaknya, kemudian dengan tenaga dalam pria itu terdorong beberapa depa dan terhempas di pintu penyimpanan harta.


Tidak selang beberapa lama, pria itu menghembuskan nafas dengan mata terbuka lebar dan gagang tombak yang lepas.


“Kau...kau telah...telah membunuh temanku?!” berteriak marah pria yang tersisa, di depan matan temannya sudah terkujur dengan perut berlubang dan darah berceceran. “Aku pastikan, aku pastikan kematianmu tidak sia-sia, pemuda ini akan membayarnya.”


Jika saja mereka berdua masih bekerja sama untuk melawan Sungsang Geni, mungkin ceritanya akan berbeda. Temannya tadi mungkin akan bertahan cukup lama, mungkin juga bisa melarikan diri tapi semua itu hanya, mungkin. Pikiran penjaga itu bercampur aduk saat ini.


Ketika dia berbalik menatap kearah Sungsang Geni, tiada hal lain yang dia temukan. Pemuda itu sudah hilang dari tempatnya. Menyapukan pandangan beberapa kali, tapi tidak ada jejak pemuda berpedang cahaya itu.


Murka bukan kepalang penjaga harta itu, jadi dia mengumpulkan sisa-sisa tenaga dalam pada mata tombaknya. Melepaskan cahaya berkilau menghantam tempat-tempat yang dipikirnya terdapat pemuda itu.


Ledakan terjadi dimana-mana, debu dan kerikil dari dinding dan lantai berhamburan. Asap tipis mengepul, dan bau sangit mulai tercium. Pria itu menyerang ke segala arah, dengan sumpah serapah sampai tidak sadar tenaga dalamnya mulai habis.


Ketika dia hendak melakukan serangan sekali lagi, tiada yang muncul dari ujung mata tombaknya kecuali gelombang energi yang bertekanan sangat rendah. Hanya bisa mematikan satu lilin saja, serangan itu.

__ADS_1


Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba cahaya dari pisau terang muncul lagi menyerang dirinya. Pria itu berhasil menghindar, tapi satu pisau kecil lagi malah tertanam di perutnya.


“Matahari mulai terbit dari ufuk timur, Tumenang akan hancur dan kebenaran akan tegak di Negri ini.” berkata pemuda dengan pedang bercahaya kuning di hadapannya.


__ADS_2