PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Awalan


__ADS_3

Sungsang Geni dan pasukannya, pada akhirnya pergi menuju ke persembunyian Jaka Sewu dan para pemanah handal.


Dari tempat ini, markas itu melewati 2 bukit kecil berwarna kuning dan satu bukit kecil berwarna hitam.


Kuda-kuda berjalan menyisir lereng-lereng bukit yang kadang kala sedikit terjal. Panglima Ireng berjalan melompat-lompat di beberapa batu besar, membuat para pendekar pemanah itu sangat terpukau.


Jika Panglima Ireng mau, dia bisa saja meninggalkan para penunggang kuda. Dia sangat yakin dan berpengalaman. Menaklukkan dua pegunungan membuat otot-otot kakinya 5 kali lebih kuat dari para kuda biasa.


Beberapa jam kemudian, mereka tiba di sebuah tempat di balik bukit. Tempat itu sangat terpencil, tapi dipenuhi dengan orang yang ternyata cukup banyak.


Setidaknya ada sekitar 100 orang menyambut kedatangan Joko Sewu.


Sungsang Geni memperhatikan, beberapa di antara mereka adalah anak-anak, perempuan tua bahkan ada pula yang pesakitan.


“Ini adalah orang-orang yang berhasil kami selamatkan dari tawanan Kelelawar Iblis. Tidak banyak yang bisa di bawa, kami tidak memiliki cukup kekuatan.” Joko Sewu menyerahkan 5 ekor tupai yang berhasil dia tangkap, pada salah satu anak. Itu akan menjadi makanan mereka hari ini.


Tempat ini cukup gersang, hanya dipenuhi dengan batu-batu hitam yang ringan. Gubuk-gubuk reot yang dibangun dengan perlengkapan seadanya, memenuhi dataran kecil di pinggir bukit itu.


Dari tempat ini, akan butuh waktu satu hari perjalanan lagi untuk tiba di desa pertama. Tapi medannya sedikit lebih sulit, itulah kenapa tempat ini tidak pernah ditemukan oleh Kelelawar Iblis.


Sedikit ke sisi barat, ada beberapa kayu boneka yang dibuat dari ranting berdiri seadanya. Rupanya itu tempat latihan bagi para pendekar di sini, atau mungkin para rakyat yang ingin menguasai ilmu panah.


Benar tempat ini dulunya adalah padepokan kecil. Semua orang pendekar di tempat ini hanya berlatih satu cara beladiri, yaitu memanah. Mereka adalah pemanah handal, meski memang tidak pernah terdengar di dunia persilatan.


Mereka tidak menyukai ketenaran, barangkali Joko Sewu mampu untuk berdiri sejajar dengan para Sesepuh Perguruan Lembah Ular tapi pria itu menolak untuk bergabung dengan Serikat Pendekar.


Orang-orang disini gemar bekerja sendiri, menggunakan ilmu bela dirinya untuk mencari makan bukan untuk mencari lawan.


Berburu adalah hal yang paling mereka senangi, hampir tidak pernah makan sayur dan makan roti kering.

__ADS_1


Berburu? Mengetahui hal itu, Panglima Ireng menyipitkan mata. Dia mungkin sedang berpikir sekarang memiliki saingan dalam hal menyantap daging.


Cempaka Ayu berjalan mendekati salah satu gadis kecil yang terlihat seumuran dengan Sekar Arum. Dari tadi yang dilakukan gadis kecil itu, menutup mulut untuk mencegah suara dari -batuknya- mengusik telinga orang lain.


“Geni! Anak ini sakit!” Cempaka Ayu buru-buru mengeluarkan sesuatu dari buntelan besar yang tergantung di punggung kudanya. Ratih perindu bergegas membantu.


Sebuah ramuan yang sudah di tumbuk dikeluarkan dari dalam bambu kuning. “Ada yang punya air hangat?” Gadis itu bertanya kepada orang-orang di sana.


Kemudian seorang wanita tua berjalan tertatih keluar dari gubuk reotnya, membawa air dengan wadah tempurung kelapa.


“Terima kasih,” Cempaka Ayu menyunggingkan senyum, tapi orang itu tidak membalas, dua detik kemudian Cempaka Ayu mengetahui bahwa wanita tua itu buta.


“Tadi kau mengatakan akan merebut kembali wilayah mereka. Bahkan kau akan merebut pula markasnya, apa yang membuatmu begitu yakin bisa melakukannya?” Joko Sewu bertanya pada Sungsang Geni penuh arti. “Meski seluruh pendekar milikku bergabung dengan pasukannmu, apa kemungkinan kita menang cukup besar?”


“Menang dan kalah bukan persoalan saat ini , anak muda!” Empu Pelak batuk kecil di belakang Sungsang Geni. “Tapi jika kita tidak mencobanya, bagaimana hasil bisa diketahui.”


“Kami memiliki orang-orang yang hebat, meski hanya sedikit, kesempatan kita tidak pernah nol.” Sungsang Geni tersenyum kecil. “Jadi Joko Sewu, apa kau akan bergabung dengan kami atau akan tetap tinggal di tempat ini?”


***


Ketika malam hari, Sungsang Geni membawa pasukannya berjalan menuju desa kecil yang paling dekat dari tempat ini. Juga paling subur.


Ini adalah awalan bagus untuk menaklukkan musuh. Sekarang ada 140 kuda berjalan melewati medan terjal. Pemimpin jalan adalah Joko Sewu.


Setelah berhasil tiba di jalan yang sedikit landai, mereka sudah bisa melihat lampu-lampu obor bersinar terang hampir di setiap sisi desa itu. Tapi ada lebih banyak lampu obor berada mengelilingi bangunan yang sekarang di jaga sekitar 20 atau mungkin 25 prajurit.


Sedikit ke sisi barat desa itu, padi-padi sudah hampir siap panen, tidak! Tapi memang sudah mulai dipanen, terbukti ada beberapa tumpukan jerami setinggi rumah di tengah-tengah ladang uma itu.


“Aku ingin kalian semua membakar uma ini!” Sungsang Geni memberi perintah pada beberapa orang prajurit.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan?” Joko Sewu membantah. “Jika kita bisa menguasai perkebunan ini, semua rakyat akan makan nasi.”


Mpu Pelak terkekeh kecil, dia berjalan gontai ke arah Joko Sewu. “Semua tanaman ini harus habis, dengan begitu mereka akan kehilangan satu-satunya sumber makanan di wilayah ini. Menurutmu, bagaimana nasip prajurit tanpa makanan?”


“Mati!” Mahesa menyahut. “Kita akan melihat reaksi mereka ketika ladang ini habis dilalap jago merah. Rakyat sudah biasa tidak memakan nasi, sejauh ini masih baik-baik saja. Tapi bagaimana jika mereka yang kekurangan nasi? Mati, hahaha, aku yakin itu.” Tawa Mahesa sedikit membuat bulu kuduk berdiri, seperti orang gila.


Gila? Joko Sewu nyaris muntah darah mendengar orang-orang ini berkata seolah sudah pernah merasakan mati. Dia menelan ludahnya beberapa kali, hampir tidak percaya akan membakar ladang padi seluas ini.


“Joko Sewu aku ingin kau membumi hanguskan ladang ini, empu pelak dan beberapa prajurit lain akan bersamamu di sini.” Sungsang Geni kemudian menaiki Panglima Ireng. “Jika kita ingin makanan, maka satu-satunya cara adalah mengambil gudang beras mereka.”


"Kita tetap akan makan, teman!" Mahesa kembali terkekeh kecil. "Tapi tidak dengan mereka."


Setelah membagi tugas masing-masing, Sungsang Geni melaju dengan cepat di ikuti Mahesa dan 100 prajurit lainnya.


Tidak akan sulit untuk mengalahkan penjagaan mereka, Sungsang Geni yakin itu. Tapi malam ini sejarah harus mencatat perjuangan mereka.


Di banyak negara, perang seperti permainan darah, kejam dan penuh kelicikan. Berpura pura mengincar pohon mangga pak tani, tapi tujuannya adalah buah anggur di lahan belakangnya.


Bomm...Bomm...suara ledakan dari bubuk setan terdengar memekakkan. Para pendekar pemanah memang bisa diandalkan. Tidak hanya cekatan, jangkauan panah mereka juga sangat jauh.


Sekarang api sudah mulai membumbung tinggi membakar uma padi.


Di sisi lain, puluhan prajurit yang menjaga desa itu terkejut bukan kepalang, mendapati lahan padi mereka terbakar. Ledakan bubuk setan juga memaksa raut wajah mereka setegang patung.


“Apa yang terjadi?”


“Lahan padinya terbakar, ambilkan air! Dasar bodoh, tidak usah membawa pedangmu, kau pikir api akan mati dengan di babat menggunakan pedang!” terdengar suara perintah dari pemimpin pasukan di tempat ini.


Tapi pada saat yang sama, ketika kepanikan melanda mereka -nyaris tidak tahu apa yang akan dilakukan- kepala sang pemimpin sudah tanggal dari tubuhnya.

__ADS_1


Ada yang tidak ingat menarik nafas? Ada, kita sama.


__ADS_2