
Setelah seharian berjalan, Sungsang Geni mulai melihat sebuah benteng kecil di ujung matanya. Benteng yang dibangun dengan pagar-pagar kayu besar yang dipasak ke dalam tanah. Besar dan cukup kokoh.
Diatas menara paling tinggi, berkibar bendera kelelawar berwarna hitam.
Ada sekitar 100 orang berjaga diluar pagar, memerintahkan hampir 200 tawanan yang terdiri dari banyak latar belakang. Rakyat, prajurit dan juga pendekar. Rumah-rumah reot tentu saja mengelilingi tempat itu.
Besok adalah jadwal pengiriman beras, pemuda itu telah membawa 3 karung beras dan selebihnya adalah abu jerami yang mereka karungi.
Ketika jarak mereka benar-benar dekat dengan tempat itu, laju Panglima Ireng berhenti. Ada para prajurit Kelelawar Iblis yang sedang berpatroli, mungkin saja.
“Aku tidak percaya jika para tahanan atau rakyat jelata bisa membunuh 100 orang prajurit kita di Desa Buna.” Seorang dari penjaga itu berkata kepada temannya.
“Pasti dari prajurit Surasena, aku yakin itu. Mereka mulai berani melawan kita, padahal selama ini kita bisa menekan mereka.” jawab temanya.
Tunggu? Mereka sudah tahu desa kecil bernama Bunja diserang. Sungsang Geni tidak percaya itu. Pasti ada pihak musuh yang berhasil melarikan diri pada saat Bayangkara menyerang.
Atau mungkin mereka mengirimkan mata-mata tersembunyi, yang memiliki kemampuan cukup hebat, sampai pemuda matahari itu tidak menyadarinya.
“Kita tidak bisa menggunakan taktik mengirim beras ke dalam markas mereka.” Mahesa berkata sedikit berbisik. “Mereka pasti sudah mengantisipasi kedatangan kita, aku yakin itu.”
Ucapan Mahesa ada benarnya, dengan penjagaan ketat seperti ini pastilah musuh sedang menjalankan sebuah rencana untuk menyambut kedatangan mereka.
“Geni kita akan bermalam di sini.” Cempaka Ayu memberi solusi. “Kita akan mempelajari situasinya.”
Sungsang Geni setuju, jadi mereka kembali menarik mundur sekitar 500 meter dari wilayah Markas kecil Kelelawar Iblis.
“Malam ini tidak ada yang boleh tidur, kita sudah sangat dekat dengan markas itu.”Mahesa memberi peringatan.
Sungsang Geni pergi menyendiri, dia tidak ingin diganggu. Kemudian dia merapalkan ajian ciung wanara.
__ADS_1
“Paman Pramudhita, ma'afkan aku mengganggu waktumu.” Sungsang Geni tersenyum kecil pada pria kekar yang sekarang mengenakan pakaian ala kerajaan Laut Dalam. “Tapi aku membutuhkan bantuanmu.”
“Tidak masalah, sekarang apa yang harus aku lakukan?” Pramudhita menoleh ke kiri, pada prajurit yang sedang mengasah pedang atau membuat busur panah. “Apa kau sudah memulainya, Geni?”
“Ya, kami berhasil menguasai satu desa kecil.” Jawab Pemuda itu. “Di sana berdiri markas kecil Kelelawar Iblis, aku ingin Paman menyelidikinya.”
Pramudhita mengerti, dia lantas melayang dengan cepat.
Kedatangan Pramudhita membuat bulu kuduk beberapa prajurit kelelawar iblis berdiri. Dia melayang melewati tembok, kemudian meluncur pada markas yang cukup besar. Seperti hantu.
Markas itu terdiri dari 3 lantai. Bagian bawah terbuat dari beton dan batu tapi bagian paling tinggi hanya terbuat dari papan-papan tebal.
Tapi dia menjadi sedikit waspada, ada dua orang, tidak! Tapi mungkin ada 5 orang pendekar dengan tenaga dalam sebesar 2 jule, dan salah satunya sebesar 3 jule dirasakannya dari dalam lantai 3.
Ketika dia memasuki pintu markas itu, pemandangan pertama yang menyambut Pramudhita adalah 400 prajurit sedang mengumpulkan senjata dan baju perang. Mereka akan bergerak memeriksa desa yang telah direbut Bayangkara.
Dari 400 orang itu, sekitar 100 orang adalah pendekar pilih tanding. Ini diluar dugaan, mereka ternyata memiliki prajurit yang cukup hebat.
Pimpinan itu dipanggil dengan nama, Buyung Upiak. Orangnya sudah tua, berjanggut sangat lebat dan panjang serta alis yang hampir menutupi biji matanya.
“Apa orang telik sandi belum kembali?” Buyung Upiak memandang rendah ke empat bawahannya.
“Sepertinya belum ada kabar mengenai siapa orang dibalik penyerangan desa itu.” Salah satu dari empat orang bawahannya menjawab.
“Kurang ajar, jika dia tidak bisa mendapatkan satu informasi, aku sendiri yang akan membunuhnya.” Buyung Upiak semakin geram.
Orang tua itu tidak pernah bangga memimpin sebuah markas kecil seperti ini. Bersama dengan 4 orang bawahannya yang bodoh. Dia harus memikirkan segala hal sendirian, lebih-lebih jika berurusan dengan jabatan.
Sebenarnya dia bukan orang yang mudah percaya, setiap hari orang tua itu selalu curiga jika saja 4 orang bawahannya mungkin akan menjatuhkan posisinya.
__ADS_1
Jadi dia memiliki kamar tersendiri, dengan memesan gembok kamar yang paling kokoh di dataran ini.
Buyung Upiak adalah sekutu Kelelawar Iblis, tapi dia tidak peduli dengan status itu. satu-satunya yang dia pedulikan adalah harta dan emas. Itulah alasannya kenapa orang tua itu benar-benar berambisi memiliki jabatan yang lebih tinggi lagi.
Sementara itu, 4 orang bawahannya yang bodoh bukanlah orang yang mudah di arahkan. Mereka cendrung keras kepala dan menganggap semua orang di tempat ini lemah, tentu saja Buyung Upiak pengecualian.
Keempat orang itu mendapatkan wewenang yang berbeda. Ada yang bertugas untuk mengawasi desa, ada pula yang menjadi telik sandi, kemudian menjaga benteng dan terakhir bertugas sebagai algojo.
Kismojoyo adalah pendekar yang ditugaskan mengawasi 5 desa dibawah naungan markas kecil. Dia memiliki pasukan paling banyak diantara 3 orang lainnya, sekitar 400 prajurit.
Setiap hari prajurit itu semakin berkurang, Kismojoyo bertangan besi dan sedikit kejam. Jadi dia tidak akan segan membunuh anak buahnya yang menurutnya bodoh. Padahal dia sendiri yang paling bodoh diantara yang lainnya.
Cukup lama Pramudhita menyelidiki petinggi markas kecil ini. hingga akhirnya dia memutuskan untuk kembali lagi menemui Sungsang Geni.
***
Pemuda matahari itu masih duduk di tempat semula, menunggu informasi yang akan dibawa oleh Pramudhita.
Tidak lama kemudian, suara batuk kecil mulai mengisi ruang kepalanya.
“Apa kau menemukan informasi penting, Paman?” Sungsang Geni segera bertanya.
“Ya,” jawab Pramudhita kemudian menceritakan semua hal yang dia dapatkan di dalam markas kecil Kelelawar Iblis.
Sungsang Geni hanya manggut-manggut selama mendengar perkataan Pramudhita. Hingga beberapa saat dia bisa menyimpulkan, bahwa musuh memiliki pendekar yang cukup kuat.
“3 jule, itu setara dengan kekuatan Benggala Cokro atau sesepuh perguruan di dalam Serikat pendekar.” Sungsang Geni bergumam pelan. “Mereka memiliki orang-orang hebat rupanya, kita tidak bisa gegabah dalam bertindak.”
Jika dalam markas kecil memiliki 5 orang hebat, lalu bagaimana dengan markas cabang atau bahkan markas utama yang dipimpin oleh komandan Kelelawar Iblis?
__ADS_1
“Tapi mereka memiliki kelemahan.” Pramudhita melanjutkan ucapannya. “Buyung Upiak tidak pernah percaya dengan 4 orang bawahannya, kita bisa menggunakan hal itu untuk membuat mereka bertarung satu sama lain.”
Sungsang Geni berpikir sejenak, yang diucapkan Pramudhita ada benarnya. Sekarang dia harus memikirkan bagaimana caranya agar bisa bertemu dengan Buyung Upiak.