PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Jangan Tinggalkan Aku


__ADS_3

“Bibi! Apa maksudmu?” Sekar Arum menarik tangan Cempaka Ayu.


Namun tidak selang beberapa lama, seorang penduduk menghampiri Cempaka Ayu dengan napas yang tersengkal-sengkal. Dia menepuk dadanya beberapa kali, kemudian baru berkata.


“Benggala Cokro sedang bertarung menghadapi pemuda asing di atas tenda pengungsian Surasena!” ucap wanita itu.


Cempaka Ayu mendengar perkataan wanita itu bersegera keluar tenda dan meninggalkan peralatan obat-obatan yang biasa dia bawa untuk membantu para pengungsi. Hal ini membuat Sekar Arum juga mengikutinya.


Memang selama pengungsian Cempaka Ayu menghabiskan waktu dengan para rakyat di sela-sela latihan keras yang dia lakukan. Gadis itu enggan masuk ke dalam Serikat Pendekar, bagginya itu tidak perlu, dengan alasan akan fokus mengendalikan tenaga dalamnya.


***


“Pedang energi?” Darma Cokro tersentak tidak percaya, setelah melihat kilauan kuning pedang yang di genggam Sungsang Geni. “Pemuda itu memiliki tenaga dalam lebih besar dari Benggala Cokro, ini bahaya!”


Sementara itu Benggala Cokro tersenyum kecil, seakan memang menantikan pertarungan ini. dia sangat percaya diri, tidak ada orang yang bisa mengalahkan dirinya, lebih-lebih untuk orang-orang seusia dirinya.


“Kau memiliki kemampuan yang menarik!” ketus Benggala Cokro. “Aku harap kau bisa...”


Perkataan pemuda itu terhenti, ketika Sungsang Geni hilang dari pandangannya. Dia tidak sempat melihat pergerakan pemuda itu, tapi setelah beberapa detik Sungsang Geni telah berada tepat di sampingnya dengan jarak yang sangat dekat.


Benggala Cokro bereaksi dengan cepat, dia menoleh ke samping sambil mencoba menangkis serangan yang sesaat lagi mendarat di batang lehernya.


Pedang energi Sungsang Geni beradu dengan pedang miliki Benggala Cokro tepat di tepi leher pemuda pedang emas tersebut. Momentum serangan Sungsang Geni tidak bisa dihentikan, membuat tubuh Darma Cokro melaju dengan cepat menuju dinding cadas.


Tapi pada saat yang sama, kilatan pedang bercahaya kuning menyerang Sungsang Geni. Ledakan energi terdengar memekakkan, sementara Sungsang Geni tidak bergeming dari tempatnya semula.


“Rasakan itu!” Benggala Cokro tertawa kecil ketika serangannya mendarat tepat di tubuh Sungsang Geni, sedangkan dia terpaksa terbentur di dinding cadas.


Semua orang menunggu nasip pemuda yang barus saja menerima serangan Benggala Cokro. Asap tebal masih menyelimutinya, membuat semua orang tidak bisa melihat dengan pasti bagaimana keadaan pemuda itu.


Namun beberapa detik kemudian, aura panas tiba-tiba merayap dengan sangat cepat, menepiskan asap tipis yang menyelimuti Sungsang Geni.

__ADS_1


“A'apa yang terjadi?” salah seorang pendekar dari Perguruan Bukit Emas tercengang. “Dia tidak terluka sedikitpun, dia bahkan sangat baik-baik saja.”


Baik Darma Cokro, dan Sesepuh yang lain mulai terlihat sangat khawatir, sementara Sabdo Jagat dan Sesepuh Perguruan Lembah Ular mulai mengenal aura panas yang mereka rasakan.


“Apa yang terjadi, kenapa dia memiliki aura yang sama dengan pemuda itu?” Guru Tiraka berkata dengan Sabdo Jagat, tapi pimpinan Lembah Ular itu tidak menjawab perkataannya.


“Apakah dia itu Geni? Tapi kenapa wajahnya tidak mirip dengan...” Jelatang Biru berhenti berkata, tampak ada kerutan di kening pria itu, “apa dia mencuri kekuatan Sungsang Geni?”


Tapi tentu saja tidak, setiap Sesepuh Lembah Ular mengetahui bahwa kekuatan panas yang dimiliki Sungsang Geni bukan didapat dari sebuah ritual. Itu adalah berkah yang didapat dari dewa matahari, tidak mungkin bisa dicuri atau diambil begitu saja.


“Jika kita lakukan kembali pertarungan ini?” Sungsang Geni berkata diatas sana. “Maka salah satu diantara kita berdua pasti akan mati.”


Mendengar perkataan itu Benggala Cokro melayang ke udara sambil menyelimuti dirinya dengan tenaga dalam.


“Ku akui kau memiliki aura panas yang mengerikan, tapi aku tidak akan bisa dikalahkan oleh aura panas seperti itu!” Benggala Cokro meludah.


Pedang yang digenggam Benggala Cokro mulai terbelah kembali, dua diantara pedang itu melayang tepat di samping pundaknya sedangkan salah satu dari pedang masih dia genggam.


Setidaknya mereka akan kehilangan tenaga dalam sebesar 60% setelah melakukan jurus terkuat itu, bahkan jika mereka tidak bisa menguasainya dengan benar maka kemungkinan kehilangan tenaga dalam lebih besar lagi.


Namun tidak pernah terpikirkan oleh semua orang, rupanya Sungsang Geni sudah sangat menunggu jurus terkuat dari pedang emas. Mungkin akan lebih lama untuk menguasainya, tapi setidaknya Sungsang Geni bisa menghapal gerakan dari jurus tersebut.


Benggala Cokro melakukan beberapa gerakan, setelah itu cahaya keemasan keluar dari pedang yang dia genggam lalu cahaya biru keluar dari dua pedang yang melayang di atas kepalanya.


“Dia serius dengan hal itu?” Sabdo Jagat berkata tergagap.


Pada saat yang sama, Sungsang Geni melakukan gerakan yang pasti semua orang ketahui. Teknik pedang awan berarak, tarian dewa angin. Sungsang Geni menyalurkan 2 jule dari tenaga dalamnya pada jurus tersebut.


Dua jule tenaga dalam yang disalurkan bahkan sudah membuat pedang energi yang dia genggam menjadi sangat berat. Tenaga dalam sebesar itu memadat pada mata pedangnya, dan karena inilah Darma Cokro menjadi sangat panik.


“Pedang Cahaya Dari Surga!” Benggala Cokro melepaskan serangan.

__ADS_1


Sungsang Geni mengeraskan rahang. Ketika serangan itu datang dengan cepat pemuda itu menghela napas sangat berat. “Tarian dewa angin.”


Kemudian yang terjadi?


“APA?! Pemuda itu berhasil menahan serangan terkuat dari Benggala Cokro?!” perguruan Bukit Emas menjadi heboh melihat kekuatan Sungsang Geni.


Selama mereka melihat pertarungan Benggala Cokro, tidak perah ada musuhnya yang bisa menahan jurus terkuat tersebut. Bahkan pemuda itu bisa mengalahkan 2 wakil komandan sekaligus ketika Pasukan Kelelawar Iblis mencoba mengepung Serikat Pendekar.


Sementara Sadbo Jagat tidak meragukan lagi, bahwa itu adalah Sungsang Geni. Dia memandangi 'tarian dewa angin' yang menahan 'pedang emas dari surga' dia atas sana. Kemudian pria itu tersenyum kecil.


“Pemuda itu, masih menahan serangannya!” ucap Sabdo Jagat.


Belum kering air liur Sabdo Jagat mengatakan kalimatnya, ledakan energi terdengar. Cahaya pedang yang dikeluarkan Benggala Cokro terlihat menjadi serpihan-serpihan berkilaun, sementara Benggala Cokro terhempas ke permukaan tanah dengan kasar.


Pemuda itu memuntahkan darah segar, sementara pedangnya tertancap tepat di pinggir wajahnya. Darma Cokro dengan perasaan panik segera menghampiri anaknya. Namun gerakan pria itu masih kalah cepat dari Sungsang Geni.


“Jika aku mau kau sudah mati sekarang!” Sungsang Geni meletakkan ujung pedangnya, tepat di wajah Benggala Cokro yang meringis menahan sakit.


Pada saat yang sama, Sungsang Geni merasakan dua energi kuat yang mengarah kepadanya secara bersamaan. Pemuda itu menahan senyum pahit, nampaknya pertarungan ini tidak bisa dihindari.


Namun apa yang terjadi, ketika dia membalikkan badan seorang gadis berdiri tepat di depannya menghalau dua energi kuat yang mengarah pada Sungsang Geni.


“Cempaka Ayu?” Sungsang Geni tersentak, lalu menarik tubuh gadis itu dan memeluknya sangat erat, hingga dua energi berhasil menghantam bagian belakang Sungsang Geni dengan sangat keras.


Sungsang Geni terpaksa terpental sangat jauh, tapi dia tetap memeluk Cempaka Ayu sangat erat. Waktu seperti berjalan lambat ketika tubuh mereka berdua melayang di udara.


Pemuda itu bisa melihat wajah cantik Cempaka Ayu dalam pelukannya sedang beruraian air mata, ketika setiap tetes mutiara itu jatuh, Sungsang Geni merasakan sakit di dalam relung dadanya.


Sedangkan Cempaka Ayu menyeka darah yang keluar dari ujung bibir Sungsang Geni dengan tangannya yang lembut, kemudian dia berkata lirih. “Meskipun hingga ke neraka, jangan pernah tinggalkan aku lagi.”


Kayaknya gak adil kalo teman-teman like hanya di capter terakhir saja, capter keduanya malah lebih sedikit. Apa harus author up satu capter ajak kali ya?

__ADS_1


__ADS_2