
Sementara Mahesa dan teman-temannya masih berkemelut di dalam hutan, Sungsang Geni sudah mengamankan 300 budak. Dia menyembunyikan mereka di tempat yang cukup tersembunyi, tapi masih didalam lokasi tembok Petarangan.
Sekarang markas itu begitu sepi, hanya mungkin tertinggal 300 prajurit yang memiliki kemampuan sangat lemah, setingkat kelas tanding.
Sungsang Geni melepas aura membunuh kepada ratusan prajurit itu, beberapa dari mereka segera tidak sadarkan diri karena takutnya. Sungsang Geni melesat dengan sangat cepat, dia tidak ingin terlalu menunggu lama.
Sementara beberapa pendekar yang telah dikurung di dalam Markas ini menjadi lawan sepadan bagi 300 prajurit itu. "Tuan pendekar, serahkan hal ini kepada kami! Kau bantulah temanmu!"
Pemuda itu kemudian melayang ke sisi selatan, dimana pertarungan Pramudhita sudah terjadi sejak dari awal penyerangan ini. Entah bagaimana nasip temannya itu, tapi yang jelas lawan Pramudhita cukup kuat.
Ketika dia sedang melayang, sosok Wulandari terlihat di salah satu bangunan bertingkat, menatapnya dengan sejuta makna.
Di dekat gadis itu masih berdiri pula Saraswati yang mencoba menarik tangan gadis itu, mungkin untuk mengajaknya melarikan diri.
Sungsang Geni berhenti sebentar di atas atap rumah. Wulandari tersenyum kecil melihatnya, Sungsang Geni tidak mengerti apa arti senyuman itu, jadi dia segera melayang lebih cepat.
2 menit kemudian, dia bisa melihat pertarungan Pramudhita melawan 9 orang sekaligus. Temannya itu sudah mendapatkan luka di bagian lengan kiri, tapi masih cukup kuat untuk bertahan hingga beberapa menit lagi.
“Kami akui, dengan level tenaga dalam yang sama, kau memiliki teknik bertarung yang lebih baik dari pada kami.” Salah satu dari 9 orang itu yang bernama Branjang Musti berkata datar, dia adalah orang yang paling kuat.
Senjata Branjang Musti adalah sebuah tombak yang memiliki 2 mata, berwarna biru dan beraura berat. Tombak itu pasti beracun lagi tajam.
“Tapi, meski teknik pedangmu sangat hebat, kau bukan tandingan kami ber-sembilan.” Sambung Branjang Musti. “Aku akan menghormatimu sebagai lawan paling hebat yang pernah aku lawan di Dataran Java, jadi hari ini kau akan mati dengan tombak Wunjung Biru.”
Pramudhita terkekeh kecil. “ Kalian tidak akan membunuhku hari ini.”
Pada saat yang sama, kelebatan pedang bercahaya terang meluncur dengan kecepatan tinggi menyerang Branjang Musti dan teman-temannya. Jika satu detik saja mereka tidak bergerak mundur, maka pedang itu sudah memenggal kepala mereka.
__ADS_1
“Siapa itu...?”
Belum habis kalimat yang keluar dari mulut Branjang Musti, sosok pemuda sudah berdiri tepat di hadapannya, hanya satu jengkal wajah pria itu dengan Sungsang Geni.
Branjang Musti cemas bukan kepalang, jadi dia segera melompat 4 langkah mundur dan mendarat pada atap rumah.
Sungsang Geni melompat pula di dekat Pramudhita, pemuda itu bisa melihat ada beberapa luka di lengan kiri sahabatnya itu. “Apa kau terkena tombak pria itu?”
“Tidak!” Pramudhita menjawab. “Aku bisa menghindari senjata itu, tapi sebagai gantinya senjata teman-temannya yang kudapatkan.”
“Apa kau masih sanggup bertarung, Paman?” Sungsang Geni terkekeh kecil. “Jika tidak sebaiknya....”
“Jangan merendahkan aku, bagaimanapun aku adalah kakak seperguruanmu. Aku lebih tua dan....sudahlah kita akan bertarung bersama.” Pramudhita menghela napas berat, menyadari tidak akan menang berdebat dengan bocah tengik di depannya.
Sungsang Geni lalu melakukan gerakan di ikuti oleh Pramudhita, gerakan itu tentu saja teknik pedang bayangan. Beberapa saat kemudian, 7 bayangan Sungsang Geni tersebar di 7 penjuru membentuk lingkaran yang mengepung lawannya.
Tapi sayangnya Pramudhita tidak berhasil melakukan hal yang serupa, dia sudah cukup banyak menguras tenaga dalam selam pertarungan ini. Tapi pria itu mungkin masih bisa melakukan serangan terakhir yaitu murka naga bayangan, dengan semua tenaga dalamnya yang hanya kurang dari 2 jule.
“Anak muda? Siapa sebenarnya kau ini?” Salah satu dari teman Branjang Musti bertanya keheranan. “Kenapa kau tidak muncul di perang besar 8 bulan yang lalu, apa mungkin kau bukan dari dataran ini? Jika bukan, kenapa kau harus repot-repot membantu Surasena?”
“Aku yakin kau sudah salah menduga.” Sungsang Geni menatap pria itu dengan tajam. “Tidak penting siapa aku sebenarnya, tapi malam ini tidak ada satupun dari kalian akan bisa melihat matahari besok pagi.”
“Jangan mimpi anak muda, meski kau memiliki tenaga dalam yang lebih besar dari kami, tapi aku yakin kau memiliki kelemahan...”
“Paman, Bersiaplah!” Sungsang Geni menyerang Branjang Musti lebih dahulu, dengan melepas pedang energi.
Satu serangan cepat itu bisa dihindari Branjang Musti dengan cukup mudah, tapi ada serangan-serangan lain yang melesat lebih cepat lagi dari sebelumnya, hingga akhirnya serangan ke 5 berhasil menggores tipis wajah pria itu.
__ADS_1
“Panas!” Brangjang Musti menekan lukanya dengan telapak tangan. “Kau akan...”
Sungsang Geni sudah menutup mulut pria itu dengan serangan jarak dekat. Teknik Awan Berarak dan Teknik Pedang Emas bergabung menjadi satu, menciptakan pola berbeda dari cara bertarung yang biasanya.
Sungsang Geni seakan menciptakan jurus baru dengan bergabungnya dua teknik itu, meski dia menyadari teknik Pedang Emasnya masih jauh dari kata sempurna.
8 orang teman Branjang Musti hendak membantu, tapi segera di cegat oleh bayangan Sungsang Geni.
Nomor dua paling kuat setelah Branjang Musti adalah bagian Pramudhita, pria gondrong di depannyalah yang berhasil membuat luka di lengan kiri Pramudhita.
Jadi sudah selayaknya, sahabat Sungsang Geni itu menuntut balas.
“Meski tenaga dalamku hanya tersisa sedikit lagi,” ucap Pramudhita, “tapi untuk mengalahkan dirimu bukanlah hal yang sulit.”
Pramudhita menciptakan pedang energi berwarna hitam, kemudian dia segera melakukan perlawanan. Dalam gelap malam, serangan dari Teknik Pedang Bayangan lebih efektif untuk digunakan, sebab teknik itu terkadang seperti sebuah ilusi yang menipu.
Berpura-pura menyerang dari arah kiri, tapi pada dasarnya menyerang dari arah kanan. Dan benar saja, baru beberapa kali melakukan serangan Pramudhita sudah berhasil mendaratkan tebasan di lengan kanan lawannya. Lukanya lebih dalam dari yang Pramudhita terima.
“Kurang ajar, tidak akan aku biarkan kau hidup!” pria itu mengancam Pramduhita.
Dalam beberapa menit kemudian, pertarungan antara Pramudhita menjadi lebih sengit dari sebelumnya. Senjata mereka saling bertemu dan menciptakan suara dentingan.
Sejauh ini Pramudhita masih berada di posisi menyerang, pria itu tidak memberikan satu kesempatan bagi lawannya untuk membalas.
Jika saja saat ini Pramudhita dalam keadaan prima dengan 4 jule tenaga dalamnya, dia tidak keberatan untuk menghadapi 3 atau 4 orang lawan di depannya meski kemungkinan terluka juga sangat besar.
Rupanya 9 orang itu meski memang memiliki tenaga dalam sejumlah 4 jule, tapi teknik bela diri mereka tidak sehebat teknik Pedang Bayangan, bahkan tidak mencapai setengah dari teknik pedang bayangan.
__ADS_1
“Apa kau pikir dalam pertarungan, cukup hanya mengandalkan tenaga dalam saja?” Pramudhita tersenyum kecil. “Meski harimau itu sangat kuat, tapi tanpa kuku dan taring percuma saja. Teknik bela diri dan tenaga dalam harus serasi, karena itu kau akan kalah di tanganku.”
Semoga kalian suka....