
Pintu telah terbuka lebar tanpa disadari oleh Surjadi, mungkin karena begitu bernafsunya terhadap temannya sendiri, hingga tidak sadar ada orang yang memasuki ruangan.
Surjadi berusaha berdiri dengan susah payah. Dia meraba batok kepalanya, tapi ada beberapa bagian seketika menjadi licin. Dia mengalihkan pandangan pada sosok pemuda yang berdiri di depan Saraswati. Di telapak tangan pemuda itu ada segenggam rambut miliknya.
“Jahanam keparat, siapa kau berani sekali menggangguku!” Surjadi berteriak beringasan. “Akan ku kirim kau ke neraka!”
Sungsang Geni hanya tersenyum kecil, kemudian mengibaskan telapak tangannya membuat rambut Surjadi yang di genggam melayang-layang di udara beberapa saat.
“Pria hidung belang seperti dirimu yang layaknya masuk Neraka Jahanam.”
Merasa begitu tertantang, Surjadi menyerang Sungsang Geni dengan jurus mabuk yang sudah dipelajarinya dari Pendekar Pemabuk alias Kakek Segala tahu. Gerakannya penuh dengan tipuan, mengandalkan kepalan tinju sebagai serangan utama.
Dua tiga kali dia mengarahkan tinju pada wajah pemuda mata hari itu, tapi hanya mengena angin lalu. Dia kemudian berguliang dilantai, maksud hati ingin mengunci kaki Sungsang Geni tapi tidak berhasil.
Sungsang Geni melompat ke atas meja, kaki Surjadi menghantam tiang meja hingga hancur berkeping-keping. Tidak berhasil dengan cara itu, Surjadi kembali berputar di udara, lalu mengerahkan kepalan tinjunnya yang mengandung tenaga dalam cukup besar.
Pada saat itu, Sungsang Geni tidak bisa menghindari serangan itu, karena tubuhnya sudah mentok di dinding ruangan, jikapun dia melompat kepalanya akan membentur langit-langit, tiada jalan lain kecuali menerima pukulan itu pula.
Ledakan energi terjadi, ketika dua tinju beradu. Sungsang Geni menekan kaki sebelah kanannya pada dinding ruangan, hingga ada retakan sedikit di telapak kakinya, sementara Surjadi terhempas 5 meter di ruangan itu menghantam beberapa kursi dan ranjang tempat tidur hingga hancur berantakan.
Pria itu memperhatikan kepalan tinjunya yang berwarna merah, seperti baru saja memukul baja tebal dia merasa sakit dan panas yang teramat sangat.
Sungsang Geni melompat dari atas meja, meniup beberapa kali tinjunya yang berasap. Ini baru pukulan dengan menggunakan 2 jule tenaga dalam, cukup mengejutkan pria itu bisa menahannya dan tidak menimbulkan retakan yang berarti.
__ADS_1
“Aku adalah murid dari Pendekar Pemabuk, mana mungkin bisa dikalahkan oleh pemuda seperti dirimu.” Surjadi lantas melepaskan jurus Mabuk Memutar Angkasa, dua lesat cahaya berwarna kuning menghantam dinding ruangan hingga hancur.
Besarnya lobang melebihi ukuran kepala gajah, membuat semua orang langsung berhamburan untuk menyaksikan apa yang terjadi di dalam ruangan itu. 50 pendekar tanpa tanding sudah berada di sana dalam seketika, kemudian Pendekar Pemabuk datang pula bersama Jambon Barat dan Jambon timur.
Sementara itu, 10 ribu prjurit memang letaknya di luar dinding beton jadi tidak mungkin datang ke tempat ini.
“Guru, guru!” Surjadi segera merangkak mendekati Pendekar Pemabuk. “Pemuda itu, dia berniat menodai Saraswati, aku berniat menolongnya tapi dia menjadikan Saraswati sebagai sandra dan hampir membunuhku.”
Mendengar hal itu Sungsang Geni tersenyum kecil, kemudian menarik kursi dan duduk di atasnya dengan wajah datar. Di sebelah kirinya, Saraswati hampir mengupat serapah mendengar fintah keji yang dilontarkan Surjadi.
“Orang asing siapa dirimu?” Pendekar Pemabuk menegak beberapa kali arak dalam bumbung bambunya, kemudian melemparkan bumbung itu ke samping. Tenaga dalam yang sangat besar, bumbung bambu menancap dalam pada dinding.
Di sebelah Surjadi, Jambon Barat bergegas memberikan secawan arak untuk diminum Surjadi. Menurutnya, Surjadi hanya butuh minum beberapa tegak arak untuk membuatnya imbang bertarung dengan pemuda asing itu.
Sungsang Geni masih duduk dengan wajah datar, melihat tingkah Surjadi seperti orang gila, begitu berani dan pecicilan. 'Hanya karena berada di dekat sang guru, dia bertingkah seperti orang kuat saja.'
“Pemuda ini tidak berniat menodaiku.” Saraswati berkata pula setelah berhasil menguasai dirinya. “Yang ingin menodaiku adalah Surjadi.”
Pendekar Pemabuk melihat Surjadi sekilas, tapi muridnya segera memasang wajah memilukan. “Dia pasti telah di ancam oleh pemuda itu, untuk memfintahku.”
“Sudahlah!” Sungsang Geni mendera nafas berat. “Tidak penting siapa yang salah, kedatanganku ke tempat ini ingin menantang Pendekar Pemabuk untuk bertarung.”
“Kurang ajar, setan jahanam berani sekali kau berkata seperti itu.” Jambon Barat dan Timur segera menghempaskan cawan arak yang ada ditangannya. “ Guru, izinkan kami berdua untuk membunuh pemuda tak tahu diri ini.”
__ADS_1
“Tunggu!” Pendekar Pemabuk melintangankan tangan, mencegah kedua muridnya untuk bertarung. “Anak muda, kenapa kau ingin bertarung denganku. Ini adalah Markas Utama Kelelawar Iblis, kau nampaknya berada di tempat yang salah. Melawan seluruh anak buahku saja, kau belum tentu mampu, lalu kenapa kau berniat melawanku? Siapa sebenarnya dirimu?”
“Pak tua pemabuk yang tidak bisa menggunakan ilmu meringankan tubuh.” Sungsang Geni menggaruk kepalanya. “Berusaha mengejar Lesung Batu yang bisa terbang. Nampaknya lesung itu sudah kau dapatkan?”
Pendekar Pemabuk mengernyitkan keningnya beberapa kali, pemuda di depannya mengetahui banyak hal mengenai dia, dan ini membuatnya menjadi curiga. Dia berusaha mengingat-ingat wajah pemuda itu, tapi sayangnya tidak ada ingatan mengenai wajah dengan 3 luka itu.
“Guru, jangan banyak berpikir panjang.” Surjadi tanpa meminta izin lagi segera menyerang Sungsang Geni dengan jurus mabuk miliknya.
Sungsang Geni masih berdiri diatas kursi, dia menghindari setiap serangan yang dilontarkan Surjadi. Pada ketika murid Pendekar Pemabuk itu mendaratkan sebuah cakaran, Sungsang Geni membalik tubuhnya beserta kursi kayu, dan kembali pada posisi semula tapi dengan tiang kursi menginjak kaki Surjadi.
“Ahkk.” Surjadi terpekik tertahan, dia segera menyerang Sungsang Geni yang kini berada di samping kirinya dengan hantaman siku. Sungsang Geni terpaksa meninggalkan kursi kayunya, lalu melayang ke udara beberapa saat.
Pada saat yang sama, Surjadi melepaskan pukulan energi yang cukup untuk membuat langit-langit berlubang sebesar kepalan tinju, tapi pukulan itu berhasil dihindari Sungsang Geni dengan sedikit menggeliat ke kiri.
Ketika berada di ketinggian tertentu, Sungsang Geni menjejakan kakinya di langit langit-langit ruangan, lalu menukik dengan cepat dan berhasil mendaratkan telapak tangannya tepat di ubun-ubun batok kepala Surjadi yang tiada lagi berambut.
Pada saat yang sama, sentilan kecil energi keluar dai telapak tangannya membuat tubuh Surjadi mendadak terasa berat. Kaki pria itu tertanam beberapa jengkal ke dalam lantai ruangan.
Sungsang Geni melayang lagi beberapa saat ke udara, kembali duduk pada kursi kayu seperti sedia kala. Sementara itu Surjadi masih berusaha menggerakkan kakinya yang tertanam di lantai ruangan.
“Surjadi apa yang kau lakukan?” Jambon Timur Angkat bicara. “Kau ingin mempermalukan guru kita?”
Mendengar hal itu, Surjadi melepaskan tenaga dalam pada bagian kakinya, membuat ledakan kecil dan berhasil keluar dari dalam lantai. “Beri aku sedikit lebih banyak arak!” Pria itu berteriak. “Akan aku tunjukkan jurus mabuk yang telah aku latih beberapa bulan terakhir.”
__ADS_1