PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Sekelebat Bayangan


__ADS_3

Sudah mulai tengah hari, mentari nampak menggantung tepat di atas Istana Surasena. Suasana terasa panas, sebab tidak ada awan yang mau menutupi megahnya sang Surya. Angin semilir, menerpa bebunga yang terhias rapi di sekitar penginapan para Putra Mahkota.


Di bagian belakang penginapan Putra Mahkota Majangkara, 4 prajurit yang mengawal Dewangga sedang bersantai dengan arak yang menemani gelak canda tawa mereka.


Sebuah tempat yang dikhususkan bagi pengawal Dewangga memang tidak terlalau mewah seperti Sungsang Geni, tapi tempat itu sudah lebih dari cukup bagi mereka ber empat.


“Tempat ini sangat bagus, benarkan Tong?”


“Benar, dan arak ini, memang luar biasa. Aku tidak yakin sanggup meminumnya beberapa cawan lagi.”


Mereka kemudian tertawa terpingkal-pingkal, saling bergurau dan mengejek sesama mereka. Nampaknya efek dari arak mulai mempengaruhi otak mereka.


“Bolehkan kami bergabung?”


Sebuah pertanyaan tiba-tiba saja mengejutkan empat prajurit itu, mereka serentak menoleh kebelakang mendapati Durada, Muksir dan Kantu telah duduk di belakang mereka.


Sama seperti ke empat prajurit, Durada dan kedua temannya sedang menjinjing kendi berisi arak. Sekekali Muksir bersendawa keras, membuat aroma arak yang keluar dari mulutnya semakin menyengat.


“Ah, prajurit bayaran Durada, Muksir dan Kantu?” ucap salah seorang prajurit itu, suaranya terdengar lambat namun bernada tinggi, “Meski kita tidak memiliki paham yang sama, tapi jika berurusan dengan arak, kami sangat senang memiliki teman yang suka mabuk.”


Jika saja Durada saat ini sepenuhnya sadar, perkataan prajurit itu telah berbalas dengan pukulan. Semua orang tahu, prajurit inti Majangkara dan prajurit bayaran Majangkara tidak pernah akur dimanapun mereka berada. Namun sejauh ini, prajurit bayaran masih berada diatas angin sebab kekuatan mereka lebih tinggi dari prajurit inti Majangkara.


Ini adalah waktu luang, semua pengawal pangeran Dewangga kecuali Gadhing dan Mahesa sibuk menikmati hari santai dengan cara mereka masing-masing.


Tapi Gadhing nampakanya lebih memilih melanjutkan mimpinya yang tertunda oleh mentari yang telah bersinar kembali, sudah 4 jam dia mengorok di ruangannya. Sedangkan Mahesa, pemuda berkulit keras itu memilih meminum arak di dalam ruangannya. Dia adalah pemuda kaku yang sulit akrab dengan orang lain, jadi sendirian lebih disukainya.


Ketika Durada dan yang lainnya sibuk menegak arak, beberapa kelebat bayangan bergerak cepat mendekati kediaman Putra Mahkota Warkudara.

__ADS_1


Meski kondisi Durada antara sadar dan tidak, tapi pria itu masih dapat merasakan kedatangan orang-orang yang mencurigakan.


Ada 3 orang bergerak cepat, melompat dari banguan satu kebangunan yang lain. dari cara mereka datang, jelas mereka berada pada level pendekar kelas tanding atau mungkin pilih tanding. Ilmu meringankan tubuh mereka cukup baik, atau mungkin ada teknik lain sehingga kedatangan mereka tidak diketahui oleh petugas penjaga Surasena.


“Hust...diam! apa kalian tidak mengetahui kedatangan beberapa orang?” Durada menepuk pundak Muksir, berusaha menjagakan temannya itu, tetapi nampaknya semua orang telah larut bersama araknya.


Durada kemudian mengambil sekendi air, lalu menyiram seluruh tubuh prajurit pengawal itu. “Durada apa yang kau lakukan...?” Muksir sedikit geram, setelah kembali mendapatkan kesadarannya.


“Hust...kalian semua perhatikanlah!” Durada meletakan jari telunjuknya di bibir, berusaha menenangkan teman-temannya. “Beberapa orang baru saja telah memasuki kamar pangeran Warkudara.”


“Memangnya kenapa? Mungkin saja mereka pengawal Pangeran itu!” ucap Muksir lagi.


“Bagaimana jika bukan pengawal saja, aku merasakan kedatangan mereka sangat ganjil. Mereka datang secara diam-diam, kemudian masuk kedalam penginapan Warkudara. Bagaimana jika ternyata Karang Dalo merencanakan sesuatu, seperti pembunuhan kepada Pangeran Dewangga?”


Penjelasan Durada sangat masuk akal, Muksir dan Kantu sekarang memahami situasinya. Meski ke empat prajurit pengawal tidak begitu paham, tapi mereka sepakat untuk mengikuti Durada, Muksir dan Kantu menyelidiki kediaman Pangeran Warkudara.


Durada berjalan mengendap-ngendap berusaha memasuki wilayah penginapan Warkudara diiringi ke enam yang lainnya. Setelah melewati pagar pembatas antara bangunan yang tinggiya hanya 2 meter, mereka akhirnya tiba di halaman belakang penginapan Pangeran Warkudara.


Namun terdengar beberapa orang berbicara di dalam salah satu ruangan, “Kita akan menyelidikinya!”


Durada lebih dahulu mendatangi ruangan itu, dari celah jendela dia berusaha mengintip.


Terlihat 3 orang berpakaian serba putih, dua diantaranya masih mengenakan topeng sedangankan seorang lagi sedang berbicara dengan seseorang yang sudah dikenal Durada.


‘Karang Dalo!’ Durada sangat terkejut begitupun dengan teman-temannya.


Meski tidak begitu jelas terdengar, tapi mereka masih dapat menangkap pembicaraan yang Karang Dalo katakan kepada ketiga orang berpakaian putih.

__ADS_1


“Celaka, apa yang harus kita lakukan?” ucap Muksir, matanya tertuju kepada Durada dan teman-temannya, kemudian kembali mengintip dari celah jendela.


“Sebaiknya kita segera meninggalkan tempat ini! kita pikirkan nanti saja tindakan apa yang akan kita lakukan,” jawab Durada.


“Mungkin kita beri tahu Pangeran Dewangga mengenai masalah ini.” usul Kantu.


Perkataan Karang Dalo telah membuat jantung Durada dan teman-temannya nyaris saja pecah saking terkejutnya. Mereka saling tatap, kemudian serentak berbalik badan untuk mengatakan informasi ini kepada Dewangga.


Ketika mereka ber tujuh baru saja membalikan tubuh mereka, tiba-tiba sebuah pukulan tenaga dalam menghentak tubuh mereka melalui jendela yang kini pecah berhamburan.


Tubuh Durada dan teman-temannya mendarat kasar di halaman. Empat prajurit memuntahkan darah segar, kekuatan mereka tidak sanggup menahan pukulan tenaga dalam sekuat itu.


Karang Dalo keluar melalui pintu yang telah terbuka, diikuti oleh ketiga orang yang berpakaian serba putih. Wajah Karang Dalo nampak murka, tapi mendapati Durada dan teman-temannya masih terkapar ditanah, membuat senyuman menyungging dari bibirnya.


“Kalian telah mengetahui semuanya! Tidak ada alasan bagiku, untuk membiarkan kalian keluar hidup-hidup dari tempat ini,” ucap Karang Dalo tegas.


Durada sepenuhnya menyadari tidak akan mempu mengalahkan Karang Dalo meski dia menyerang bersama dengan Muksir dan Kantu. Belum lagi, ketiga orang berpakaian putih yang berada di belakang Karang Dalo nampakanya berada pada level pendekar kelas tanding.


Durada dan teman-temannya berusaha berdiri, dia tampak kesulitan mengatur napasnya. Setelah tenaganya cukup pulih, Durada memutuskan untuk melarikan diri.


“Tidak akan kubiarkan kalian pergi dari tempat ini!” Karang Dalo kemudian menoleh ketiga orang berpakaian putih. “Bunuh mereka semua, jangan biarkan satu orangpun keluar hidup-hidup!”


Setelah mendapat printah dari Karang Dalo, ketiga orang itu segera mengejar Durada beserta teman-temannya. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menghadang laju Durada dan teman-temannya.


“Tidak ada pilihan lain, selain bertarung.” ucap Durada, wajahnya terlihat tegang begitupun dengan yang lainnya. “Kita mungkin bisa mengalahkan ketiga orang itu.”


Akhirnya terjadi pertarungan di belakang kediaman Pangeran Warkudara antara ketiga orang yang berbaju putih melawan Durada dan ke enam temannya.

__ADS_1


Telah terjadi ratusan serangan antara kedua belah pihak, namun sejauh ini belum ada tanda-tanda dari kedua belah pihak untuk mengalah.


“Kalian cukup hebat, tapi tetap saja bukan tandingan kami!” ucap salah satu dari tiga orang yang berbaju putih, “Kami akan mengakhiri pertarungan ini!”


__ADS_2