PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Kerajaan Surasena


__ADS_3

“Hujan Panah Angin!”wanita itu kembali mengerahkan puluhan anak panah yang tercipta dari angin,membidik  seluruh penumpang kapal.


Dia berniat menenggelamkan kapal itu, beserta seluruh penumpangnya. Sungsang Geni berpikir,wanita itu sedang mengincar seseorang di kapal ini, mungkin Dewangga.


Hanya ada dua kelompok yang pasti, Kelelawar Iblis atau bandit yang diketuai Senopati Karang Dalo.


Wanita itu tertawa kegirangan, wajah-wajah penumpang yang dilihatnya nampak putus asa, seakan sudah siap menerima kematian.


Salah satu anak panah yang paling cepat mengarah tepat di dada Dewangga, pangeran itu tidak bisa mengantisipasi serangan seperti itu.


Sejatinya cara bertarungnya adalah jarak dekat, mendapat serangan jarak jauh seperti itu membuat Dewangga tidak berkutik.


Sebelum sempat anak panah itu menembus jantung Dewangga seperti lima pendekar tadi, Mahesa telah


memasang badan, membuat anak panah itu pecah berkeping-keping di dadanya.


“Kenapa kau melakukan itu?” Dewangga terkejut melihat tindakan Mahesa, “kau akan mat...i”


Kekhawatiran Dewangga mendadak sirna, menyadari tubuh Mahesa tidak terluka sedikitpun.


Segera senyum dan tawa di wajah wanita angin menghilang, bersamaan sekelabat energi melesat mengarah


kewajahnya dengan cepat, meski dia dapat bergerak sedikit, tapi energi itu masih dapat menggores wajahnya.


Wanita itu semakin terkejut, melihat seluruh serangan yang dilancarkannya sama sekali tidak mengenai penumpang kapal.


“Anak muda siapa dirimu?” Ucap wanita itu, menyeka darah yang menetes dipipinya. Melihat darah, tawanya berganti dengan teriakan.


‘Ternyata dugaanku benar, wanita ini mengincar Dewangga. Sepertinya seseorang telah mengutus


wanita gila ini’ Pikir Sungsang Geni. Keyakinannya tentu beralasan, melihat kejadian yang telah dialami oleh pangeran Miksan Jaya beberapa tempo hari yang lalu.


“Hahaha.” Dewangga tertawa di atas kapal, wajahnya terlihat angkuh. “Dimana senyummu tadi wanita angin, bukankah kau cukup percaya diri bisa membunuh semua orang dikapal ini?”


“Diam kau bocah laknat!” Wanita itu mengeraskan rahangnya, kemudian menggerakan seluruh jarinya, lalu


terbentuk tombak-tombak angin, “Jangan panggil aku Badria jika tidak dapat menghancurkan kapal ini!”


Belasan tombak angin dikerahkannya, melesat dengan cepat menuju kapal, namun Sungsang Geni berhasil


mematahkan serangannya dengan sangat mudah.


“Bagaiman bisa, kau menangkis semua seranganku?” Wanita yang menyebut namanya Badria semakin kesal,


dia menggerakan jari, maka semakin banyak jenis senjata yang diciptakannya.


“Tusukan angin.”


“Cambuk Angin.”


“Pukulan Angin.”

__ADS_1


Dia telah mengeluarkan seluruh kemampuan yang dia punya, namun tak satupun yang mengenai sasarannya.


“Kau terlalu banyak menamai jurusmu.” Sungsang Geni berucap, “Tapi pada dasarnya semuanya sama


saja, tidak ada bedanya kekuatan mu yang pertama dengan yang sekarang.”


“Kalau begitu, dia hanya memberi nama agar terlihat mengerikan.” Dewangga kembali mengejeknya,


“Dasar lemah!”.


“Kalian semua akan mati ditangan ku, tidak terkecuali dirimu.” Ucap Badria, seraya menunjuk Dewangga.


Namun sebelum dia sempat mengeluarkan jurus terkuatnya, Sungsang Geni telah berada dibelakangnya.


“Bagaimana bisa kau melakukan itu?” Badria terlihat sangat terkejut, kemudian segera memutuskan


untuk mundur, “Kecepatanmu diluar akal.”


Namun sebelum wanita itu terbang lebih jauh, Sungsang Geni telah menusukan pedangnya menembus jantung


Badria.


Wanita itu terjelit, darah segar keluar dari mulutnya. Sepertinya tak pernah disangkanya, akan mati


secepat ini di tangan seorang pendekar muda.


Semua orang yang berada di atas kapal juga berprilaku sama, mematung dengan wajah-wajah tegang. Mahesa


tersenyum kecil, melihat wajah-wajah mereka.


layar mulai mengembang, membawa kapal kembali melaju.


Sungsang Geni mendarat di atas kapal, wajahnya kemudian tersenyum menatap teman-temannya tidak ada


yang terluka.


“Tuan pendekar!” Pemilik kapal buru-buru menghampiri Sungsang Geni, wajahnya yang tadi merah sekarang


sedikit tenang, “terima kasih karena telah menyelamatkan kapal dan seluruh penumpangku.”


“Tidak masalah,” Ucap Sungsang Geni, “Saya melakukan ini karena pengeran Dewangga berada di kapal


ini.”


Mendengarnya, Petugas kapal menjadi tegang, “Ma’afkan saya yang tidak melayani anda dengan baik


pangeran, dan memberikan tempat duduk yang tidak layak.”


“Ah, sudah-sudah, saya telah terbiasa seperti ini.” Ucap Dewangga, kemudian melirik kearah Sungsang


Geni, lalu kembali menatap pemilik kapal dengan sinis. “Sebaiknya kau membawa arak kesini! Bukankah kau sudah diselamatkan oleh penjagaku, dimana letak terima kasihmu?”

__ADS_1


“Tentu saja Pangeran.” Pria itu segera bergegas pergi lalu membawa sekendi arak, “Ini adalah arak terbaik yang kami punya, Pangeran pasti menyukainya.”


Sungsang Geni hanya tersenyum melihat perbuatan Dewangga, namun dia tidak berniat meminum sesuatu


yang terasa pahit.


“Paman Pendekar hebat.” Bisik bocah di depan Sungsang Geni, “Ibu, aku akan menjadi seperti dirinya.”


“Kau harus berlatih keras agar seperti paman pendekar,” sang ibu kemudian menoleh ke Arah Sungsang Geni, lalu menundukan wajahnya memberi hormat.


Setelah kejadian itu, tidak ada lagi serangan dari orang yang berniat mencelakakan, sekarang kapal tinggal menunggu berlabuh di Dermaga Kerajaan Surasena.


Setelah cukup lama, akhirnya Sungsang Geni sudah dapat melihat daratan yang terdapat bangunan-bangunan megah yang berdiri dengan ukiran-ukiran dan desain yang menarik.


“Sebenatar lagi kita akan tiba di Surasena!” ucap Durada.


Setelah berlabuh, Sungsang Geni terkagum-kagum dengan Kerajaan itu.  Sangat berbeda jauh dengan Kerajaan


Majangkara, peradaban di kerajaan ini begitu maju dengan budayanya yang sangat menarik.


“Aku baru dua kali ketempat ini, namun tempat ini tidak pernah membuatku merasa bosan?” Dewagga berdecak kagum


“Sebaiknya kita segera turun dari kapal ini Dewangga?” Gadhing menepuk pundak Dewangga lalu dia menunjuk sekumpulan orang yang sedang berkumpul, “Sepertinya akan ada bidadari menari ditempat itu”


Tidak dengan teman-temannya, ini adalah kali pertama Sungsang Geni memijakan kakinya di Negri paling kaya dan paling kuat.


Meskipun dia tidak begitu paham dengan urusan politik dan peradaban, Sungsang Geni cukup mengerti bahwa salah satu penunjang kemajuan kerajaan ini adalah dari upeti yang dikumpulkan.


“Geni, kenapa kau cuman diam?” Dewangga menyeret tubuh Sungsang Geni masuk kedalam kereta kuda, “Istana


Kerajaan Surasena masih jauh, kita akan tiba sore hari disana. Jadi sisahkan keterpukauan dirimu di istana Surasena.”


Sungsang Geni hanya menyengirkan bibirnya, untuk orang yang setiap harinya hidup sendirian, melihat Negri semegah ini tentu membuat matanya terbelak.


Meski begitu ramai, namun semua rakyatnya sangat tertib dan ter-atur, kereta kuda tidak terhambat


saat melewati jalan.


Sungsang Geni dapat merasakan banyak pendekar di Negri ini, meskipun mereka lebih memilih menjadi


pedagang.


Beberapa pendekar hanya kelas 1 dan 2 namun tidak jarang Sungsang Geni merasakan tenaga dalam yang


cukup besar, setingkat pendekar pilih tanding.


“Geni, apa kau menyukai tempat ini?” tanya Dewangga


Sungsang Geni tidak menjawabnya, dia hanya pokus menatap orang-orang  berjualan dipinggir jalan, dan merasakan energi yang mereka miliki.


‘seluruh rakyat adalah pendekar, tentu sangat sulit bagi negri lain menghancurkan negri ini.’ Pikir Sungsang Geni.

__ADS_1


masih sibuk authornya, maaf ya tulisannya sedikit berantakan. mana hp ilang, jadi terpaksa menyempatkan ngetik ulang lagi capter ini.


jangan lupa untuk memberikan dukungannya, apapun bentuknya akan berharga bagi author.


__ADS_2