PENDEKAR DEWA MATAHARI

PENDEKAR DEWA MATAHARI
Perang Besar 30


__ADS_3

Pada akhirnya Ki Alam Sakti dan dua temannya tiba di ruang bawah tanah, sebuah ruangan yang luar biasa luas dan juga angker. Ya, ruangan itu penuh dengan tanaman rambat yang berlendir,dan di penuhi hampir 30 mahluk ganas yang telah keluar dari sebuah gerbang.


Gerbang itu mirip seperti cermin, namun di bingkai dengan batu yang menyerupai mulut goa dengan banyak simbol yang tidak di mengerti oleh mereka bertiga. Akar-akar tumbuhan rambat berlendir dan berduri, tampaknya berasal dari gerbang berwarna ungu tersebut. Jika bukan, memangnya dari mana lagi?


Satu dari mahluk itu memiliki tubuh luar biasa besar, mirip seperti gorila tanpa bulu. Matanya yang merah menatap tiga orang pendekar Surasena secara bergantian, seolah sedang memilah siapa gerangan yang layak di bunuh lebih dahulu.


Satu menit setelah itu, teriakan mahluk tinggi besar membuat dinding nyaris retak saking kerasnya. Setelah teriakan itu usai, puluhan mahluk kecil mulai berlarian menyerang dari segala sisi.


Ki Alam Sakti melompat mundur tiga depa, kemudian melepaskan satu tebasan kuat yang berhasil memotong satu di antara mereka menjadi dua bagian. Setelah itu, dia kembali menghindar ke samping, menebaskan pedang sekali lagi, tapi tidak berhasil mengenai targetnya.


Sial sekali, semakin lama gerakan mahluk ini semakin cepat saja. Ki Lodro Sukmo kali ini hampir tertikam kuku tajam, jika bukan Lakuning Banyu berhasil melepaskan serangan energi untuk membunuh mahluk itu.


“Jangan lengah!” ucap Lakuning Banyu.


Ki Lodro Sukmo menelan senyum pahit, dia tentu saja bisa melihat kuku sang mahluk berjarak satu jari lagi dari dadanya.


Sementara itu Ki Alam Sakti mulai menggunakan jurus tingkat tinggi untuk melawan puluhan mahluk kegelapan itu.


Namun.


“Mereka kembali keluar dari dalam gerbang!” Ki Alam Sakti berseru, seketika dua temannya menoleh ke arah yang sama.


Hampir sepuluh mahluk bertubuh kerdil dengan mata tajam dan kuku tajam keluar dari gerbang kegelapan. Terlihat energi yang mereka miliki lebih kuat dari mahluk yang sedang mereka lawan.


“Tidak ada cara lain.” Ki Alam Sakti melompat ke depan. “Kita harus menghancurkan gerbang ini apapun yang terjadi, karena jika tidak dunia ini akan dikuasai oleh mereka.”

__ADS_1


Ki Alam Sakti melepaskan satu serangan kuat pada mahluk besar yang mirip seperti gorila. Tidak berhasil, serangan Ki Alam Sakti memang mengenai tubuh bagian bawah mahluk itu tapi rupanya kulit sang mahluk lebih keras dari yang diduga.


“Hanya tergores tipis!” Ki Alam Sakti mengernyitkan kening.


“Berhati-hatilah!” Ki Lodro Sukmo berteriak.


Sementara itu, Lakuning Banyu hampir saja terpukul mundur jika dia tidak sempat menghindar. Bersyukur dia bisa melepaskan serangan kuat dari telapak tangannya,yang berhasil melubangi tubuh lawannya hingga tewas.


Dalam beberapa menit saja, situasi ruangan bawah tanah menjadi gempar karena pertarungan mereka. Jurus-jurus tingkat tinggi mulai di gunakan. Banyak mahluk kegelapan yang mati, tapi ada lebih banyak lagi yang keluar dari dalam gerbang.


Ledakan-ledakan energi yang diciptakan oleh Lakuning Banyu cukup membahayakan keselamatan mereka. Alasannya karena dinding mulai bergetar hebat saat ini, dan jika diteruskan mungkin saja akan runtuh.


Sekarang Ki Alam Sakti berhasil melepaskan serangan kuat yang membelah perut lawannya. Nyaris terburai. Jikalah pak tua itu memiliki tenaga dalam yang lebih kuat, tentulah mahluk itu sudah terbunuh saat ini. Hanya saja,tidak ada satupun dari mereka bertiga memiliki tenaga dalam yang banyak.


Sementara itu, tubuh Sungsang Geni sudah dipenuhi dengan belasan luka. Pemuda itu terangkat beberapa depa dari tanah, setelah sebuah energi berbentuk kabut mencekik batang lehernya.


Dengan seringai tajam dari bibirnya, Asura melempar tubuh Sungsang Geni dengan amat keras hingga membentuk telaga besar di pinggir Gunung Merapi.


Sungsang Geni merasakan pandangannya mulai terasa kabur, dadanya terasa sempit dan tubuhnya mati rasa. Untuk beberapa detik kemudian, pemuda itu bahkan kehilangan kesadaran.


Namun berkat serangan itu, Magma panas malah masuk kedalam telaga kering dimana tubuh Sungsang Geni berada tepat di tengah-tengahnya.


Dengan perlahan, cairan panas menyentuh tubuh pemuda itu. Panas sekali terasa, tapi untuk beberapa saat rasa panas itu tiba-tiba lenyap. Lengan kanan pemuda itu menunjukkan reaksi setelah tubuh Sungsang Geni benar-benar terbenam ke dalam cairan magma.


Asura mengernyitkan keningnya, barangkali menyadari kesalahannya menghempaskan tubuh pemuda itu terlalu kuat. Jelas mahluk itu tidak akan membiarkan Sungsang Geni menyerap energi panas, jadi dia segera melaju dengan cepat untuk menarik tubuh pemuda itu, tapi tidak berhasil.

__ADS_1


Kilatan energi kuning menghalangi Asura mendekati telaga kering yang saat ini telah dipenuhi dengan cairan magma.


Aliran magma yang sebelumnya membabat hutan dan dataran rendah, sekarang berubah haluan, masuk ke dalam telaga besar hingga memenuhinya. Sementara itu tubuh Sungsang Geni masih berada di dalamnya.


“Kau tidak akan berhasil!” pekik Asura melepaskan beberapa banyak serangan, menciptakan banyak cekungan pada tanah untuk menghadang magma masuk ke dalam telaga kering. “Percuma saja! Meski kau bisa menyerap seluruh energi panas, kau tidak akan bisa mengalahkan diriku.”


Asura menghentikan tindakannya,dan malah menunggu Sungsang Geni bangkit dari dalam telaga. Dia sangat percaya diri bisa mengalahkan Sungsang Geni meski pemuda itu berhasil menyerap energi panas.


Sementara itu Sungsang Geni tidak bisa melakukan apapun saat ini, kecuali perasaan seperti sedang tenggelam di dalam gumpalan energi yang menyelimuti tubuhnya. Bahkan pemuda itu tidak sadar, jika saat ini dia masih bisa bernafas di dalam luapan magma.


Sebagian pakaiannya telah lenyap, kecuali celana. Lengan kanannya terasa berdenyut lebih kuat dari sebelumnya, lebih kuat lagi dan lagi. Sungsang Geni bahkan mulai khawatir saat ini, apakah dia bisa menyerap semua energi panas. Jika tidak, maka magma benar-benar bisa membuat dirinya mati seketika.


Ketika dia sibuk memikirkan kemungkinan terburuk yang terjadi, entah kenapa tiba-tiba kesadarannya mulai tersedot ke alam lain. Sebuah lorong cahaya membawa dirinya pada tempat luas yang dipenuhi dengan cahaya berwarna putih kemerahan.


Tempat itu mirip seperti sebuah kaca, sementara itu Sungsang Geni berdiri tepat di tengah kaca tersebut. Bukan hanya itu, yang membuat pemuda itu terpana adalah bola matahari yang bersinar terang tepat menggantung di atas kepalanya.


Ukuran mata hari itu 5 kali lebih besar dari matahari yang ada dibumi. Kemudian...dia berbicara.


“Siapa kau?” Sungsang Geni merasakan tubuhnya menjadi lunglai.


Matahari itu terus mendekat, mendekat dan mendekat hingga membentuk sesosok mahluk setinggi Sungsang Geni. Tepat di belakang mahluk itu sebuah sayap yang panjangnya dua kali panjang tubuhnya.


Sungsang Geni tidak bisa melihat siapa gerangan mahluk di depannya, tapi beberapa menit kemudian dia segera sadar bahwa ini adalah perwujudan lain dari ruh api yang sebenarnya.


“Ya, kita telah bertemu di banyak kesempatan,” ucap Ruh api.

__ADS_1


__ADS_2